Kehebohan

1050 Words
"Ya ampun kamu kenapa dek?" Tanya mama melihat Anes digendong Javin, belum sempat Anes menjawab mama udah heboh. "Ya ampun ini juga kenapa?" Mama teriak heboh melihat Anan berjalan dibelakang Javin dengan wajah babak belur. "Gak apa ma" jawab Anan memegang wajahnya. "Gak apa gimana muka babak belur gitu" kesal mama sambil menekan salah satu memar Anan. "Aduh ma sakit" rintih Anan. "Makanya jangan sok, pasti kamu habis berantem kan" ucap mama mendudukan Anan disamping Anes. "Udah jujur aja, kan kamu suka berantem tonjok-tonjokan begitu" ucap mama mengambil kotak obat. "Iya ma, ditonjok anak kesayanganmu" batin Anan, melirik Anes yang ada disampingnya. "Ya udah sini mama obatin" ucap mama membuat Anan menoleh kearah mamanya. "Ma Javin anter adek ke kamarnya ya" ucap Javin membantu Anes berdiri. Anes begitu lemas karena kejadian tadi siang jadi dari tadi cuma merhatikan tingkah mama dan kedua abangnya. "Eh itu yakin adeknya gak apa Vin?" Tanya mama cemas. "Iya ma Anes gak apa kok, cuma lemes aja" saut Anes. "Hem pasti ini gara-gara Anan terluka ya" ucap mama menganggukkan kepala sudah tau. Plakkk "Aduh ma" eluh Anan, udah dipukul oleh adeknya ini ditambah lagi tamparan mama walau pun pelan kalau ngenanya tepat diluka ya sakit. "Awas aja kalau kamu berantem lagi mama potong uang saku kamu dan mama sita semua fasilitasmu itu" ucap mama berlalu pergi. Anan hanya menghela nafas memikirkan kejadian waktu siang bener-bener berubah adeknya itu seperti bukan diri adeknya. "Dari pada pusing mikirin dia mending gue tidur" gumam Anan sambil menuju kamarnya. Dilain sisi Javin telah merebahkan dan menyelimuti Anes dikasurnya. "Bang" panggil Anes, Javin pun menoleh. "Ya dek, ada apa?" Tanya Javin, Anes menepuk sisi sampingnya Javin paham maksud adeknya dan duduk. "Ada apa hem" Javin mengusap rambut anes. "Abang malam ini temenin Anes ya" pinta Anes. "Iya abang temenin sampai Anes tidur" jawab Javin. Perlahan Anes tertidur Javin yang melihat adeknya sudah terlelap pun ikut tertidur disamping adeknya. Matahari sudah menyingsing sedari tadi tapi kedua orang itu abang dan adek perempuannya tak kunjung bangun. Dimeja makan papa, mama dan Anan sudah berkumpul menunggu Javin dan Anes yang tak kunjung muncul jadi bingung biasanya mereka berdua bangun paling awal tapi sekarang matahari sudah bersinar terang mereka belum terlihat juga. Mama memutuskan dirinya memanggil javin dan Anes tapi dicegah oleh Anan. Anan mengajukkan dirinya untuk memanggil mereka mama pun mengangguk. Sesampainya dikamar Javin, Anan bingung kemana abangnya, dia coba mencari kekamar adeknya. Saat membuka kamar Anes, Anan tercengang melihat abang dan adeknya masih tertidur dengan berpelukan. Anan menghampiri mereka dengan perlahan dan membangunkan Javin. "Bang, bang Javin" Anan mengguncang tubuh Javin. "Emmm" javin terbangun dan melihat Anes masih tertidur pulas kemudian menengok kebelakang disana ada Anan yang membangunkannya. "Kenapa lu" sewot Javin. "Gue disuruh mama buat bangunin kalian" ucap Anan dan berlalu keluar. "Gue bener-bener bodoh memarahi Anes, niatnya mau memperbaiki malah jadi semakin menjauh" gumam Anan frustasi mengacak rambutnya. Javin melihat Anan diam diambang pintu yang mengacak rambutnya pun heran kenapa dengan adek yang satunya itu tanpa ambil pusing melihat kelakuan anan Javin pun membangunkan Anes. "Dek, dek bangun yuk" Javin mengguncang pelan tubuh Anes. "Egg, abang dah bangun?, jam berapa sekarang?" Tanya Anes menyesuaikan penglihatannya. "Jam 8.15 dek" ucap Javin menengok jam. "Hah, kenapa abang baru bangunin gue sih, jadi telatkan sekolahnya" panik Anes berlari kesana kemari kemudian dihentikan Javin. "Dek ini hari libur masa iya kamu mau sekolah" "Hah yang bener bang?" Tanya Anes memastikan. "Iya dek, ini hari sabtu kan sabtu minggu libur" jawab Javin menyenderkan dirinya. "Kenapa abang baru bilang sih" Anes sebal melemparkan bantal kearah Javin. "Ya gimana mau bilang, tiba-tiba saja kamu panik sambil berlarian seperti orang gila" ucap Javin tak mau disalahkan. "Ihhh abang masa iya adek cantik gini dikatain orgil sih" Anes kesal sambil menghentakkan kaki. "Ya udah abang mau kekamar dulu mau mandi, kamu juga mandi ya" ucap Javin. "Iya" Anes cemberut. "Jangan cemberut gitu dong, nanti siang abang traktir belanja deh kita ke mall" ucap Javin, langsung saja raut Anes kembali ceria. "Beneran, janji ya" ucap Anes mengacungkan jari kelingking. "Iya janji" balas Javin. Anes berjingkrak senang saat memasuki kamar mandi karena bisa belanja sepuasnya tanpa mengeluarkan uang sepeser pun, siapa sih yang mau nolak diajak belanja di bayarin pula, enakkan. Sesampainya Anan dibawah mengasih tau pada mamanya bahwa mereka baru bangun tidur dan sedang mandi, mama ber oh ria menyuruh Anan untuk sarapan duluan. Ditempat lain lebih tepatnya sebuah cafe Inaka sedang berduaan dengan seorang lelaki tapi bukan Edward. "Yang gimana dengan rencana kamu?" Tanya Max lelaki itu. "Masih berjalan dengan lancar yang, siang nanti juga Edward akan ngajak aku kemall" ucap Inaka senang. "Bagus, tapi kamu gak bener suka sama dia kan" ucap Max tak yakin. "Enggalah sayang kan dihatiku cuma ada kamu, dia cuma atm berjalan buat ku" ucap Inaka meyakinkan. "Oke, terus masalah dengan cewek itu?" Tanya Max. "Gak ada masalah dia masih bungkam tentang kejadian pas kemping mungkin dia lupa, tapi dia selalu membuat aku kesal dan marah saat disekolah" ucap Inaka sebal. "Ya kamu juga harus hati-hati takutnya cewek itu masih ingat dan memberi tahu ke semua orang" ucap Max. "Tenang gak akan mungkin kok" ucap Inaka meyakinkan. "Ya gimana kalau cewek itu sedang merencanakan sesuatu?" Tanya Max. "Tenang urusan itu gampang, aku gak mungkin kalah dengannya lagian Edward dkk lebih percaya sama aku dari padanya" jawab Inaka yakin. Padahal hati Inaka jadi gelisah, benar kata Max gimana kalau Anes itu sedang mengatur rencana untuk menjatuhkannya. Tapi Inaka menepis semua itu, "mana mungkin cewek ceroboh seperti Anes itu dapat menyusun rencana kan difikirannya cuma ada Edward" batin Inaka. "Itu terserah kamu, tapi awas kamu harus sabar jangan mudah terpancing emosi nanti bisa gagal semua rencana kita" ucap Max mengusap bahu inaka. "Pasti dong" ucap inaka sambil bersandar dibahu max. "Hem gue gak sesabar itu, kalau ngadepin anes" batin inaka. "Tapi, kalau ngadepin Anes aku selalu kebawa emosi tau yang, soalnya kata-katanya selalu nyudutin aku" ucap Inaka cemberut. "Maka dari itu kamu harus sabar, tahan emosi, kalau tersudutkan kamu bisa akting" "Iya gampang aktingma buat aku, lagian akukan orangnya paling sabar dari siapa pun" ucap Inaka membanggakan diri dan Max hanya terkekeh mendengarnya. Max belum tau aja kau Inaka orangnya emosional sangat mudah untuk dipancing amarahnya. "Yaudah lanjutin makannya" ucap Max. Tak jauh dari mereka ada seseorang yang tengah tersenyum sinis setelah mendengar percakapan mereka berdua.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD