"Bang ayok kesana" ucap Anes senang sambil menarik lengan Javin.
"Bener-bener dikuras habis duit gue" gumam Javin sambil menenteng banyak belanjaan di kanan dan kirinya mengikuti Anes dari belakang.
Jelas itu semua bukan punya Javin melainkan adeknya, dia hanya mengikuti dan membayar semua yang adeknya itu beli.
Anes sengaja membeli banyak barang mau melihat seberapa banyak uang abangnya itu, yang katanya gak pernah habis, jadi Anes mencoba untuk menghabiskan.
"Dek kita makan dulu yuk" ucap Javin.
"Nanti bang, ayuk kesana dulu" ucap Anes menunjuk salah satu toko Javin pun mengikutinya dengan lesu.
Masalahnya sedari tadi mereka sudah muter-muter keliling mall selama 4 jam masa iya adeknya itu gak capek-capek.
"Bang kenapa sih lu?, loyo banget" tanya Anes melihat Javin seperti gak ada tenaga.
"Abang laper tau dek" jawab Javin.
"Lah kan tadi pagi dah makan masa iya mau makan lagi" ucap Anes.
"Ya itu kan tadi pagi dek, sekarang belum"
"Nanti ya bang baru juga bentar liat-liatnya, masih banyak yang belum aku beli" ucap Anes berjalan meninggalkan Javin.
Javin melongo apa tadi adeknya bilang baru sebentar masa iya 4 jam keliling dibilang sebentar.
Pikir Javin sih mengajak adeknya belanja buat refreshing agar tak jenuh dirumah tapi adeknya malah menguras uangnya.
Kalau tau mengajak cewek belanja akan selama dan seribet ini dia gak akan pernah mengajaknya berbelanja.
Javin belum tau aja kalau cewek belanja gimana?, lamanya minta ampun, biasanya cewek kalau belanja muter-muter dulu belinya cuma satu ada yang sudah muter-muter lama tapi gak jadi beli, masih mending nemenin anes belanja walau pun muter-muter banyak yang dibelinya.
Javin menyesal telah mengajak adeknya itu ke mall, bukan karena takut uangnya habis tapi saat menemaninya itu loh javin gak suka, karena belinya cuma satu tapi harus memutari seluruh isi toko bener-bener ribet.
Baru juga Javin sampai disamping Anes, adeknya itu sudah menariknya lagi.
"Dek mau kemana lagi" tanya Javin tak bersemangat.
"Lah katanya mau makan, kita cari tempat makan lah" ucap Anes.
Javin pun seketika langsung bersemangat setelah mendengarnya.
"Tapi setelah itu kita lanjut belanja" lanjut Anes.
Javin lagi-lagi dibuat melongo oleh ucapan adeknya itu.
"Gak apa lah yang penting makan dulu" gumam Javin, Anes hanya tersenyum mendengar gumaman Javin.
Setelah menemukan tempat makan mereka memesan makan dan beberapa saat kemudian mmakanan mereka dateng.
"Bang" panggil Anes.
"Iya dek" saut Javin.
"Gimana?, apa uang abang udah habis?" Tanya Anes sambil makan Javin menggeleng.
"Uang abang masih banyak kok" jawab Javin.
"Kalau gitu, boleh kan gue belanja lagi?, soalnya mau habisin uang abang" ucap Anes santai.
"Lu niat banget morotin gue dek, silahkan deh kalau lu bisa ngabisin uang gue" tantang Javin.
"Oke siapa takut, itung-itung refreshing sambil ngabisin uang bang Javin, yang katanya gak pernah habis" ucap Anes semangat.
"Bisa aja kamu dek"
Disaat anes dan Javin sedang makan dengan tenang sambil bercanda gurau tetapi ada saja pengganggu.
"Ngapain kalian disini?" Tanya Anes datar.
"Ya makan lah, lagian ini kan tempat umum siapa saja boleh" saut Inaka.
Ya saat anes dan Javin sedang makan tiba-tiba Inaka dan Edward menghampiri mereka dan tanpa permisi duduk didepan mereka berdua.
"Oh, yaudah sana, ngapain disini" usir Anes.
"Kita kesini mau makan bareng sama kalian soalnya semua meja sudah penuh" ucap Edward yang sedari tadi diam.
"Lagian kalau ada meja lain gak mungkin kita kesini" timpal Inaka.
"Lah kan meja lain banyak, emangnya cuma meja ini doang, tuh meja" ucap Anes menunjuk meja disekitarnya.
Karena Inaka bilang gak ada meja lain jadi Anes tunjuk meja disekitarnya.
"Meja lain sudah penuh, jadi boleh kami gabung?" Tanya Edward.
"Gak boleh/boleh" ucap Anes dan Javin bersamaan.
"Apaan sih bang biarin lah mereka cari meja lain" sinis Anes melihat Edward dan Inaka.
"Dek mereka udah duduk didepan kita masa iya diusir, lagian gak ada meja lain yang kosong, biarin mereka gabung, kan kasian gak ada tempat duduk" ucap Javin.
"Lah bodoh amat, mau mereka duduk dibawah juga gue gak peduli" ucap Anes datar.
"Dek jangan kayak gitu, mereka juga teman kita"
"Lu aja kali gue engga" ucap Anes kembali santai.
"Dek" tegur javin.
"Apa sih bang?, kenapa abang belain mereka" marah Anes lalu pergi meninggalkan mereka.
"Dek tunggu dek" javin mengejar Anes.
Anes pun berlari keluar tak memperdulikan teriak Javin sampai Anes berbelok dan bersembunyi dari Javin.
"Cepet banget ngilangnya, paling dia keliling lagi di mall" gumam Javin.
Javin pun kembali memasuki mall dan mencari adeknya didalam mall yang sangat besar itu.
Sekarang Anes sedang berada dijalan besar dan tak tau mau kemana, kalau pulang pun tak inget arahnya jadi ya jalan saja Anes tak tau kalau jalan yang dia lewati malah semakin menjauh dari mall apa lagi rumah.
"Dek kamu dimana sih" Javin cemas, sudah keliling mall dan memutari jalan tapi adeknya itu belum ketemu.
Malah sedari tadi mamanya sudah terus-terusan menelfon jadi mau tak mau Javin pun pulang terlebih dahulu.
Sesampainya dirumah Javin megucap salam dan masuk sambil menenteng belanjaan adeknya.
"Akhirnya kalian sudah pulang" ucap mama lega, tapi melihat anak kesayangannya gak ada mama kembali panik.
"Bang kemana adeknya?" Tanya mama cemas Javin terdiam dan menggeng.
"Adek hilang mah" jawab lirih Javin.
Bugggh
"Lu gak becus tau jadi abang" marah Anan yang tiba-tiba saja datang langsung memukul Javin.
"Emang lu becus?, lu juga gak becus" ucap Javin meninggi.
"Malahan lu lebih gak becus dari pada gue, karena lu selalu menyakitinya" lanjut Javin menunjuk Anan.
"Udah kenapa kalian malah berantem, sekarang lebih baik kita cari adek kalian" ucap papa menengahi.
Mereka berdua langsung belari keluar dan mengendarai mobil masing-masing karena hari sudah mulai gelap.
Disisi lain Anes sedang duduk ditepi jalan mau naik angkutan gak ada uang mau pesan gojek hp lowbet.
Menyesal sudah karena pergi dari mall, "seharusnya dia belanja lagi ini malah nyasar gatau ada dimana" batin Anes.
"Aduh gimana ya, udah peteng lagi" gumam Anes.
Hari sudah mulai malam cuaca pun semakin dingin Anes tak tau harus gimana lagi, "semoga saja abangnya itu mencari dan menemukannya" batin Anes.
Anes yang tak kuat dengan dingin pun hanya memeluk dirinya sambil menenggelamkan kepala di kedua lututnya.
Tiba-tiba saja ada mobil yang berhenti didepannya, Anes tak peduli sebab tubuhnya sudah menggigil karena kedinginan.
"Woy ngapain lu disitu" teriak seseorang dari dalam mobilnya.
Tak ada sautan dari Anes orang tersebut turun dari mobilnya dan menghampiri Anes.