"Woy lu lagi ngapain duduk disini?, sendirian lagi, kemana bang Javinnya?" Tanya Edward pada Anes.
"Ceek, woy Nes" kesal Edward sambil berdecak dan membentak, Anes pun mendongak.
"Dingin" ucap Anes lirih dan bergetar.
Edward pun seketika langsung panik melihat muka Anes yang sudah pucat pasi dengan bibir yang sudah membiru.
"Astaga" buru-buru Edward melepas jaket dan mengenakannya pada Anes.
"Lu kenapa bisa sampe kayak gini?" Tanya Edward cemas sambil menggendong Anes menuju mobil dan mendudukannya.
Edward langsung memasuki mobil dan menyalakan penghangat ruangan.
"Sebenernya kenapa lu bisa ada disini?, bahkan ini jauh banget dari rumah lu" ucap Adward melirik Anes yang sudah tak sadarkan diri.
Edward yang melihat tubuh Anes bergetar pun tak tega dia menepikan mobilnya seketika.
Edward menggenggam kedua tangan Anes yang dingin dan menggosok dengan tangannya sambil ditiup beberapa kali masih dingin tidak ada perubah tanpa ragu Edward pun memeluk tubuh Anes.
"Lu begitu menggemaskan kalau saat tertidur kayak gini" gumam Edward.
Setelah tubuh Anes dirasa cukup membaik Edward pun melepas pelukannya dan kembali menjalankan mobil mengantar Anes kerumahnya.
Tokkk,,, tokkk,,, tokkk
Masuklah Javin dan Anan kerumah setelah mengetuk pintu dan mengucap salam.
"Bang mana adeknya?" Tanya mama cepat.
Mereka hanya menggelengkan kepala tanda tidak tau, tak berselang lama pintu rumah ada yang menendang dengan keras.
Semua kaget langsung belari melihat siapa yang membuat keributan malam-malam begini.
Mereka mau marah tapi gak jadi setelah melihat Anes berada digendongan seseorang.
"Astaga adek" teriak mama.
"Ayo nak masuk" ajak papa masuk.
Edward datang membawa Anes yang ada digendongannya karena kedua tangan Edward menggendong Anes, Edward pun menendang pintu.
Saat Javin ingin mengambil alih tubuh Anes tak dibolehkan oleh Edward.
"Biar gue aja yang bawa bang, tunjukin dimana kamar Anes" ucap Edward, Javin mengangguk lalu menuntun Edward kasih tau dimana letak kamar Anes.
Setelah membaringkan Anes, Edward pun keluar lalu menghampiri orang tua Anes dan kedua abangnya.
"Makasih ya nak" ucap mama dan papa.
"Makasih Ward" ucap Javin dan Anan.
"Ayo duduk dulu" suruh mama.
"Ward gimana lu bisa sama Anes?" Tanya Javin.
"Jadi gini ceritanya gue habis nganter Inaka pulang pas lewat jalan biasa, jalannya ditutup karena ada perbaikan jadi mau gak mau gue harus muter walaupun semakin jauh sama rumah, pas dijalan x gue melihat Anes yang sedang duduk terus gue menghampirinya dan gue panggil berkali-kali gak ada sautan gue cuma denger dia bilang dingin saat gue melihat wajahnya sudah pucat gue pakaikan jaket terus bawa pulang" cerita Edward mereka mengangguk, dia tak menceritakan soal kejadian dimobil.
"Kenapa dia gak sama lu bang?" Tanya Edward.
"Pas waktu kalian nyamperin kita kan waktu itu Anes marah dan langsung pergi" Edward mengangguk "nah gue kejar dan gue kehilangan jejaknya, gue kira Anes kembali berbelanja tapi gue dah keliling gak ketemu" cerita Javin.
"Berarti Anes kesasar jauh sampe sana" ucap Edward.
"Bisa jadi" ucap papa.
"Sekali lagi makasih ya nak Edward" ucap mama.
"Iya sama-sama tante" balas Edward terssnyum.
"Inikan sudah malam mendingan gimana kalau nak Edward nginep dirumah tante aja ya" tawar mama.
"Iya ward mending lu nginep disini biar tidur sama gue lagian dah larut malam" ucap Anan.
Edward melihat jam tangannya ternyata sudah pukul 11.30 malam, Edward pun mengiakan ajakan Anan karena sudah mengantuk dan tidak memungkinkan untuk mengendarai mobil.
Dipagi hari Anes sudah terbangun dengan kondisi yang lumayan baik, Anes memikirkan kejadian malam tadi saat Edward menolongnya apa itu mimpi atau nyata, kalau mimpi masa iya terbangun sudah ada dirumah tapi kalau nyata tumben Edward menolongnya.
Tak mau memikirkan kejadian itu Anes pun berlalu menuju ruang makan disana semuanya sudah berkumpul.
"Pagi semuanya" sapa Anes saat sampai dimeja makan.
"Pagi" jawab mereka bersamaan.
Anes yang mendengar ada suara asing pun menoleh mencari tau suara siapa itu.
"Lu, ngapain ada disini" ucap Anes tak bersahabat.
"Sarapan" ucap Edward.
"Lu itu ada keperluan apa disini?" Tanya Anes sewot.
"Hus dek gak boleh gitu, nak Edward ini yang nolongin kamu tadi malem" ucap mama.
"Oh" ucap Anes.
"Kok oh doang sih, bukannya berterima kasih" ucap mama.
"Makasih Edward" ucap Anes terpaksa.
"Sama-sama" ucap Edward.
berarti tadi malem dia nyelametin gue itu gak mimpi?, ternyata nyata, berarti saat Edward peluk gue itu nyata dong batin Anes dan menggeleng-gelengkan kepala "gak mungkin" gumam Anes.
Walau pun malam tadi Anes gak sadarkan diri tapi dia masih bisa mendengar dan merasakan hawa sekitarnya.
"Kenapa dek kok geleng-geleng kamu masih sakit?" Tanya Javin cemas.
"Eh nggak kok bang gue dah enakan" jawab Anes.
"Yaudah cepat makan gih" ucap papa menengahi.
"Bang habis ini kita ketaman yuk" ajak Anes pada Javin.
"Emangnya kamu udah sehat?" Tanya Javin memastikan.
"Udah bang gue gak sakit, gue sehat" ucap Anes sambil berdiri memutar tubuhnya menunjukkan pada Javin bahwa dia sehat.
"Di iyain aja lah bang biar cepat" ucap Anan.
"Apa sih lu main ikut campur aja" sinis Anes, Anan pun langsung terdiam.
Niatnya mau deket sama Anes agar dapat memperbaiki hubungan dengannya tapi respon dari adeknya itu membuat hati anan ngilu.
"Udah, iya nanti abang temenin kok, apa sih yang nggak buat adek cewek tercinta abang ini" ucap Javin sambil menoel pipi Anes.
"Uhh makasih abang, abang baik deh" senang Anes.
Mama dan papa hanya menggelengkan kepala melihat kelakuan dari anak-anaknya.
"Oh ya om, tante aku mau pamit pulang dulu" ucap Edward.
"Yakin mau pulang sekarang ini masih pagi, apa gak main dulu sama Anan gitu?" Tanya mama.
"Iya tante, lagian udah disuruh cepat pulang sama mama, buat jagain adek soalnya mama mau kepasar" ucap Edward meyakinkan.
"Oh yaudah kalau gitu, hati-hati dijalan" ucap mama dan di iyakan oleh Edward.
Lalu mama menyuruh Anes supaya mengantar Edward sampai depan awalnya Anes menolak tapi kerena mama terus menyuruhnya mau gak mau Anes mengantar Edward sampai depan rumahnya.
Anes pun berjalan dengan kaki yang dihentakkan karena kesal. Edward melihatnya pun hanya kerkekeh dalam hatinya, 'lucu' batin Edward.
"Tuh udah sampe depan, sana pulang" ucap Anes sambil mengusir Edward.
"Lu ngusir gue?" Tanya Edward.
"Nggak kok, katanya lu mau pulang?, yaudah sana gih cepet pulang, kan udah gue anterin sampe depan rumah" ucap Anes kesal.
"Percuma nganterin juga kalau gak ikhlas" sindir Edward.
"Lu itu banyak bacot, udah cepet sana pergi" ucap Anes sambil mendorong Edward agar segera pergi dari rumahnya.
"Oke, gue pulang dulu" ucap Edward dan dibalas deheman oleh Anes.
Edward pun berjalan menuju mobilnya lalu pergi meninggalkan pekarangan rumah keluarga Andra.