"Abang" panggil Anes.
"Iya kenapa dek?, dari tadi kamu manggil-manggil terus, kenapa kangen sama abang?" Tanya Javin soalnya dari tadi adeknya itu hanya terus memanggilnya tak tau apa yang mau diucapkannya.
"Ihss abang masa iya tinggal seatap, ketemu tiap hari, dibilang kangen" kesal Anes.
"Ya terus kenapa hem?" Tanya Javin lagi memajukan wajahnya didepan Anes.
"Ih jangan deket-deket mukanya, nafas abang bau tau" kesal Anes sambil mendorong tubuh Javin menjauh.
"Masa iya nafas bau, yang ada kalau bau itu mulut dan kalau nafas panas" ucap Javin santai.
"Sama aja" saut Anes.
Mereka berdua sedang asik berbincang satu sama lain tiba-tiba anan datang menghampiri mereka dan membuat mood Anes berubah.
"Ngapain lu kesini" ucap Anes datar.
"Gue mau gabung boleh" ucap Anan ragu melihat raut Anes.
"Duduk aja nan" ucap Javin.
"Apaan sih bang" kesal anes pada Javin pasalnya Anes tak suka dengan kelakuan apa lagi sifat dari saudara kembarnya itu.
"Ya udah kalau gak boleh, gue masuk rumah aja" ucap Anan sedih dan berlalu, Javin langsung mencegah Anan dengan menarik tangannya.
"Udah disini aja, ngobrol-ngobrol biar tambah jadi akrab sama saudara sendri" ucap Javin.
"Apaan sih bang" bentak Anes marah lalu berdiri dan akan berlalu.
Sebelum aAnes menjauh Javin menarik lengan Anes untuk membali duduk, karena menurut Javin masalah harus diselesaikan agar tak berlarut-larut dan Javin juga sudah kangen dengan kekompakan kedua adek kembarnya.
"Jangan kayak gini terus dong, kita kan saudara masa iya saling menghindar dan menjauh terus, kalau ada masalah kita selesakan baik-baik jangan sampai masalah itu terus berlanjut dan menimbulkan perpecahan dikeluarga ini" ucap Javin bijak.
"Bisa bijak juga lu bang" ucap Anes santai melupakan amarahnya.
"Bisa dong abang siapa dulu?" Tanya Javin menaikkan alisnya.
"Anes/Anan" jawab Anes dan Anan bersamaan mereka berdua saling bersitatap dengan canggung.
"Nah gitu dong kompak, ini baru kedua adek kembarnya abang" ucap Javin merangkul pundak mereka berdua.
"Nes gue minta maaf ya" ucap aMAnan memandang Anes dengan serius.
Anes pun terdiam apa mau iya memaafkan orang yang sudah membuanya beberapa kali hampir celaka tapi bagaimana pun Anan saudaranya Anes gak mau menyebabkan perpecahan di keluarganya itu.
Anan pun menundukkan kepalanya saat tak ada respon dari Anes, Javin yang melihat itu pun angkat bicara.
"Dek gimana terima nggak tuh, jawab sekarang jangan lama-lama nungu gak enak tau" ucap Javin menyenggol lengan Anes.
"Eh, terima apanya bang dia kan gak ngasih apa-apa pun" ucap Anes polos.
"Ya maafnya lah dek, kamu mau maafin Anan nggak" ucap Javin kesal melihat tingkah adeknya yang ragu-ragu.
"Iya gue maafin kok" ucap Anes ragu, Anan pun mendongakkan kepalanya.
"Lu yakin dek?, kok ragu gitu jawabnya" Javin memastikan.
"Emang dia gak mau dimaafin?" Tanya Anes melihat Anan.
"Mau lah, mau banget malah" ucap Anan dengan semangat.
"Oke, gue sebagai saudara kembar lu yang baik hati dan tidak sombong, gue maafin lu" ucap Anes mantap menunjuk Anan.
Anan pun langsung memeluk Anes dan mengucapkan banyak terima kasih.
"Makasih" ucap Anan senang.
"Iya, udah lepasin dong ini gue gak bisa napas" ucap Anes gelagapan.
"Eh, sorry, sory gue terlalu senang soalnya" ucap Anan melepaskan pelukannya sambil cengengesan.
"Nah gitu dong akur, apa kata dunia nanti masa iya adek kembarnya bang Javin gak akur" ucap Javin.
"Iya bang" ucap mereka barengan.
"Cie barengan" ucap Javin menggoda kedua adeknya yang sudah akur itu.
"Apaan sih bang" ucap mereka barengan lagi.
"Iya, iya sini peluk" Javin pun merentangkan tangannya mereka melirik satu sama lain dan menggangguk menerima pelukan Javin.
"Abang kangen tau suasana kaya gini, akur, bareng-bareng terus, ngelindungin satu sama lain, canda bareng" ucap Javin terharu.
"Oh, abang jangan sedih dong kan abang udah gede" ucap Anes.
"Abang gak sedih kok cuma terharu abang seneng banget kita bisa akur kaya gini" ucap Javin menghapus air mata yang jatuh.
"Hahaha" tiba-tiba saja Anes tertawa lepas Javin bingung kenapa adeknya itu tertawa.
"Hahaha, muka abang bagus loh, kalau kayak gini" ucap Anes masih sambil tertawa.
"Iss merusak suasana tau" ucap Javin memukul lengan Anes.
"Beneran deh bang, ya kan nan?" Ucap Anes sambil meredakan tawanya.
"Iya loh bang lu seperti tikus kejepit" ucap Anan sambil mengatai Javin dan mereka berdua tertawa lagi.
Sebelum mendapat amukan dari Javin, Anes dan Anan sudah ngacir terlebih dahulu memasuki rumah.
"ANES, ANAN AWAS KALIAN" teriak Javin dari luar.
Anes dan Anan sudah sampai diruang keluarga dengan kondisi yang masih tertawa mereka bertos ria didepan mama dan papa.
"Wih ada apa nih, kok seneng bener?" Tanya papa.
"Iya pa, papa sama mama tau gak tadi bang Javin nangis loh, mukanya seperti tikus terjepit" ucap Anan dengan tertawa papa dan mama hanya menggelengkan kepala.
"ANAN" teriak Javin saat sampai didepan mereka.
"Tuh kan pa, ma" Anan menujuk Javin.
"Kemari lu" teriak Javin lagi.
"Nggak wleee" Anan menjulurkan lidahnya pada Javin.
"Iya loh bang muka abang itu persis seperti..." ucap Anes terpotong.
"Anes, Anan kemari kalian berdua" mereka berdua sudah berlari dan terjadilan saling kejar mengerjar antara javin dan kedua adek kembarnya.
"Udah-udah nanti capek" ucap mama menghentikan mereka bertiga.
"Iya ma" ucap mereka barengan dengan napas masih tak beraturan lalu duduk disofa.
"Gini dong akur, mama sama papa yang liatnya kan enak" ucap mama.
"Iya ma" ucap mereka barsama dan tertawa.
"Yaudah nih minum dulu" ucap mama menyodorkan tiga minuman pada mereka.
"Makasih ma, mama tau aja kalau Anes lagi haus" ucap Anes mengambil minuman.
"Huh lelah juga ya, padahal lari cuma sebentar" ucap Anes.
"Makannya banyakin olahraga biar ada tenaga gak lembek" ucap Javin.
"Ihhss abang enak aja ngatain aku lembek, aku tuh kuat" Anes tak terima dikatai gak ada tenaga dan lembek.
"Ngeles aja"
"Mau bukti?, sini maju biar aku tunjukin" ucap Anes sambil berdiri dengan kuda-kuda dan mengepalkan kedua tangannya.
"Heheh, nggak deh dek lain kali aja" ucap Javin.
"Alah bilang aja takut" ucap Anan mulai memprovokasi Javin.
"Gak ya, aku tuh cuma gak mau berantem didepan mama dan papa" ucap Javin ngeles.
"Ohh, kalau gitu diluar aja yuk" ajak Anes.
"Heheh gak deh dek, abang ngalah aja deh, dari pada babak belur seperti Anan kayak waktu itu" ucap Javin sambil bicara dalam hati diakhir kalimatnya.
"Bilang aja gak berani, kebanyakan ngeles lu bang" ucap Anan sambil menaikkan alisnya, Javin pun langsung menatap Anan dengan tajam.
"Udah, udah jangan ribut" ucap mama dan diiyakan oleh anak-anaknya.
Javin pun menghela napas lega, gak tau apa jadinya kalau dia dan adeknya itu berkelahi.