“Ini. Surat pengunduran diri.” “Pengunduran diri dari apaan?” “Ngejar Dila." Selama beberapa saat, Dila tertegun di tempat. Matanya menatap lurus ke dalam manik hitam milik Delo. Cewek itu mencoba menemukan, setitik saja, keseriusan yang tersimpan dari balik bola mata itu. Namun hasilnya nihil. Sejak dulu, sekeras apa pun Dila mencoba menyelami iris cokelat Delo, yang Dila temukan hanyalah kekosongan. Delo terlalu sulit untuk ditebak. Meskipun cowok itu memang sering bercerita dan mengatakan hal-hal tidak penting, tapi entah kenapa Dila tetap merasa jauh dari Delo. Bagaikan awan, ia nyata namun tak benar-benar bisa disentuh. Layaknya bulan, ia dekat di pandangan namun tak dapat digapai. Seperti bintang, ia mudah untuk diraih namun kosong di genggaman. Jika diibaratkan dengan warna,

