Berdiam diri dikamar seusai pulang sekolah adalah rutinitas harianku. Bukan karena malas atau tak ada teman tapi memang pekerjaan sampinganku yang mengharuskan aku duduk di depan monitor. Aku tinggal dengan kakakku Deni dan istrinya Rissa, di suatu kompleks perumahan. Sedang ortu berada di kampung halaman ibu. Di rumah hanya kami bertiga. Pagi hari aku berangkat sekolah, kak Deni berangkat bekerja ke toko bersama istrinya kak Rissa. Pada suatu sore saat aku asik menyirami tanaman hias kakak iparku di halaman samping. Aku melihat secercah cahaya kemilau dari balik gorden lantai dua tetangga seberang rumahku. Kilauan cahaya itu menusuk ke sela-sela mataku yang tidak sepenuhnya terbuka. “Cahaya apa itu?” gumamku pelan. Karena rasa penasaran yang membuncah di hati, aku berjalan mendekati

