Days 6

2303 Words
Kericuhan Seminggu kemudian… “Kemana Elena?” tanya Fernandez kepada gadis yang melayaninya. Bola mata gadis itu terasa familiar di matanya, tapi ia tidak yakin mirip siapa hingga tidak terlalu memusingkan. Terlebih wajahnya sebagian tertutup masker. “Elena?” suara gadis itu agak teredam karena masker yang dikenakannya. Ekspresinya tampak bingung. Ekor matanya sekilas melirik ke arah pintu yang tertutup tidak jauh dari posisinya berdiri, tepat di sebelah kanan. “Ya. Ia bekerja di sini dan hanya ia yang tahu jelas seperti apa pesananku.” Alis Fernandez terangkat sebelah dan kedua tangannya berada di saku. “Aku ingin ia yang berdiri di depanku sekarang.” “Untuk sementara kau bisa—” Kalimat gadis itu tidak selesai karena pintu itu terbuka lebar dan memunculkan sosok Elena Corrigan yang beruraian air mata. Menarik ingusnya dan menyeka kasar air matanya. Ketika Elena melewati Fernandez, lelaki itu segera mencegatnya. “Elena ada apa?” tanyanya. Tapi Elena tidak menjawab dan hanya mengukir senyum pahit singkat. Tidak lama kemudian kepala Fernandez terfokus pada seorang lelaki gendut yang keluar dari pintu yang sama dilalui Elena. Terlihat kesal dan menatap penuh pengusiran pada Elena. Fernandez menyipitkan matanya. Lalu bertanya pada Elena tanpa melepaskan tatapan dari lelaki gendut itu. “Ia adalah Bosmu?” “Kau ingin satu coffee seperti biasanya?” tanya Elena sekedar mengalihkan, membuat Fernandez menatapnya sekilas. Elena kemudian berseru pada Milly dan memberitahu pesanan biasa yang diorder oleh Fernandez. “Tidak. Aku tidak ingin minum apapun,” sela Fernandez dingin kepada gadis masker yang bernama Milly itu agar tidak jadi menyiapkan pesanannya. “Kau dipecat?” tebak Fernandez pada Elena, tapi tatapannya tertuju pada lelaki gendut yang menyorot sinis ke arah mereka. “Andez. Aku…” Elena seketika terbelalak memandang Fernandez menggeram. Juga tangan lelaki itu yang terkepal kuat. Sebelum sempat Elena mencegahnya, Fernandez telah menyerang Bosnya, melayangkan tinju tepat di muka hingga lelaki gendut itu tersungkur. Mengakibatkan kehebohan di kedai kopi itu. Para pengunjung yang sedang bersantai mendadak berdiri dari kursi, menyingkir dengan wajah terkejut. Termasuk Milly yang berdiri di meja kasir membulatkan mata kaget. “Andez. Apa yang kau lakukan?” bisik Elena panik menarik menjauh Fernandez dari Bosnya yang menjadi tampak marah. “Kau anak muda sialan. Apa kau sudah gila memukulku?!” murka Bos Elena yang bangkit dan mencengkram kemeja Fernandez tapi hanya tatapan datar yang dilayangkan Fernandez. “Itu hukuman untukmu karena kau memecat kekasihku. Dan kupastikan besok kedaimu sudah jadi milikku. Jadi kau harus tunduk padaku setelahnya.” “A-apa?” Fernandez mengeluarkan kartu namanya dengan santai dari dompet. Menunjukkannya kepada Bos Elena. Membuat cekalan di kerah kemeja itu seketika terlepas. Wajah lelaki gendut itu terkesiap juga begitu cemas. Lalu tiba-tiba lelaki gendut itu bertanya kepada Elena dengan nyali menciut. “Kau adalah kekasih pria ini Elena?” “Aku…” Elena seketika menjadi gugup sendiri. Pasalnya seluruh mata tertuju padanya, memerhatikan dengan seksama. Termasuk Bosnya dan teman baiknya yaitu Milly. Gadis yang selalu mengenakan masker dan berada di balik mesin kasir. Fernandez ikut menatap Elena. Ia berdeham, membuat Elena melanjutkan, “Sejujurnya ya. Tapi entahlah.” “Dan tiga hari lagi kita akan menikah,” cetus Fernandez menyambung, mengunci bola mata Elena. Sorakan dan siulan seketika menggema di kedai itu. Suara bisik-bisik terpana juga turut menghiasi ruangan yang cukup luas itu. Sedangkan Milly bola matanya mengerjap mendengar kata-kata lelaki yang mengaku sebagai kekasih Elena itu. Lalu pandangannya tertuju pada Elena yang ternganga dengan sisa air mata di wajah. “Kalau begitu… aku minta maaf,” cicit lelaki gendut itu. Ia mendekati Elena dan menjabat tangan. Senyum lebar penuh tekanan terukir di bibir Bosnya itu. “Kau bisa tetap bekerja di sini. Lupakan semua kemarahanku padamu tadi Elena.” Matanya melirik gentar pada Fernandez, sebelum menatap Elena lagi, melanjutkan dengan suara gemetar. “Dan khusus hari ini, kau kuliburkan. Jadi berkencanlah bersama kekasihmu.” *** Sore harinya Milly berada di depan apartemen Elena. Masker masih setia menutupi sebagian wajahnya. Tadi seusai keributan di kedai, Elena tiba-tiba ditarik begitu saja oleh kekasihnya itu dari sana. Kemudian ketika hendak mencapai jam pulang, Elena menghubungi nomor kedai dan memintanya untuk datang. Entah untuk apa, tapi di sini-lah Milly berdiri. Mengetuk pelan pintu dan memanggil, “Elena.” Dahi Milly berkerut karena suara grasak-grusuk di balik pintu. Seperti ada perkelahian di dalam sana. Itu membuat kecemasan meliputi wajah Milly. “Elena… kau baik-baik saja?” seru Milly memastikan walau suaranya agak teredam masker. Tapi tidak ada jawaban selain suaran benturan keras disusul suara erangan kemudian membuat Milly melotot panik. Apa temannya terluka di dalam sana? “Elena!” Tangan Milly lantas menggedor pintu heboh itu. “Apa terjadi sesuatu padamu?!” *** “Andez, menyingkirlah!” Elena berusaha menyingkirkan Fernandez yang berada di atas tubuhnya di sofa yang sedang mencumbu lehernya. Panas dan liar. Ia mendengar ketukan serta panggilan Milly, “Elena.” “Andez!” dorong Elena sekuat tenaga hingga Fernandez terguling, menghasilkan dentuman lembut karena tubuh lelaki itu menghantam karpet. Lalu Elena mulai berdiri, merapikan pakaiannya segera, sementara Fernandez menatapnya datar. Tepat ketika Elena hendak berjalan mencapai pintu, Fernandez mendadak memeluk pinggangnya, membuatnya terkejut dan makin terkejut ketika jemari lelaki itu menyelinap di bawah rok hitam lipit pendeknya, masuk ke dalamannya lalu menyentuh area pribadinya. Ia mendongak spontan. “And—” Tapi ucapan Elena terputus sebab Fernandez menutup mulutnya dengan satu tangannya yang bebas. Mata Elena hendak berair akibat gairah karena permainan jemari Fernandez yang melesak di dalam sana. Bergerak dengan tempo cepat. Elena menggeleng. Fernandez mencumbu telinganya. “Ahh…” desah Elena saat telapak tangan Fernandez tidak menghalangi mulutnya lagi melainkan menelusup, meremas buah dadanya di balik blouse pink. “Andez hentikan…” cegah Elena hendak mengeluarkan tangan Fernandez di intinya dan Fernandez menurut membuat Elena bisa lega sedetik walau nafasnya tampak kacau. “Elena… kau baik-baik saja?” seruan Milly terdengar. Tapi di detik selanjutnya dengan cepat Fernandez memutar tubuh Elena, mengangkat kedua paha gadis itu melingkarkan di pinggangnya lalu menabrakkan ke dinding menghasilkan dentuman cukup keras. Elena mengerang. Apalagi tanpa permisi bibir Fernandez telah melahap buah dadanya. Mengulumnya dengan sensual. Entah kapan Fernandez melakukannya, Elena tidak sadar bahwa blouse pinknya telah terangkat ke atas, branya terlepas dan terjatuh di lantai. Ia menjambak rambut Fernandez begitu merasakan lidah lelaki itu memutari putingnya. “Ah…” desahnya, mengangkat kepalanya terbuai sejenak. “Elena! Apa terjadi sesuatu padamu?!” Gedoran juga teriakan cemas Milly membuat Elena seketika menoleh ke arah pintu. Namun tidak dengan Fernandez yang justru sibuk melumat buah dadanya. Bahkan Elena bisa merasakan tonjolan yang digesekkan Fernandez di balik celana pria itu pada miliknya. “Aku… aku… baik-baik saja Milly!” seru Elena di sisa nafasnya yang tidak teratur. Kemudian Fernandez mulai menyatukan tubuh mereka usai melucuti pakaian dalam Elena dengan cepat. Elena tersentak dibuatnya. Fernandez lantas menggerakkan pinggulnya dengan pelan yang berubah cepat. Elena hanya pasrah mengikuti ritme itu, dia dia semakin kuat menjambak rambut Fernandez. Itu sukses memicu kenikmatan yang tak tertandingi bagi Fernandez hingga mengerang puas. “Milly… tunggu…” ucapan Elena tidak selesai sebab Fernandez langsung membungkam bibir ranumnya itu. Menciumnya dengan gairah di sela aksi bercinta mereka. *** Sebuah Kesepakatan Hal pertama yang didapati Milly ketika pintu itu telah terbuka adalah penampilan Elena yang tampak agak berantakan. Rambutnya dicepol sembarangan. Blouse pinknya terlihat compang-camping. Muka temannya itu memerah. “Maaf aku baru bisa membuka pintu sekarang. Tadi aku sedikit mengatasi sesuatu hal,” jelas Elena ngos-ngosan, membuat Milly mengernyit. “Apa kau terjatuh?” Elena tertawa. “Tidak Milly.” “Aku mendengar suara-” “Tidak. Tidak ada apa-apa Milly,” potong Elena cepat. Kemudian melebarkan pintunya dan mempersilahkan Milly. “Masuklah.” Milly pun masuk ke dalam aparteman sederhana Elena. Ia lalu bertanya pada Elena. “Jadi untuk apa kau memanggilku?” Pandangannya kemudian berhenti pada satu titik. Kepada lelaki yang tadi dilihatnya di kedai. Lelaki itu sedang duduk di sofa. Membungkukkan punggungnya dengan kedua siku menumpu lulut dan tangan saling bertautan, memandangnya dengan dingin. Rambutnya terlihat awut-awutan. Kemeja merahnya tampak lusuh dan berantakan. Milly mengerjap bingung. Kenapa penampilan Elena dan lelaki itu sama-sama terlihat kacau? Apa yang baru saja mereka lakukan? Apa Elena habis mengamuk hebat dengan kekasihnya? Mungkinkah ini ada kaitannya dengan persoalan heboh di kedai? “Aku ingin mengenalkanmu pada Andez. Kau tadi tidak sempat berkenalan dengannya bukan?” “Kau akan menikah dengannya?” bisik Milly bertanya pada Elena membuat gadis itu tertawa lagi. Ia mengibaskan tangan di udara. “Tentu saja tidak Milly. Aku tidak menikah dengannya. Ia hanya membuat lelucon di kedai tadi,” balas Elena berbisik, tapi dapat didengar Fernandez hingga lelaki itu mengangkat sebelah alisnya. Lalu detik selanjutnya Milly sudah duduk di sofa bersama Elena, berseberangan dengan Fernandez. Tangan Fernandez terangkat lebih dahulu menjabat sebagai awal perkenalan dengan Milly dan langsung disambut ramah oleh Milly. Tapi Fernandez hanya memasang wajah datar. Mereka kemudian menyebutkan nama lengkap masing-masing setelah itu Elena tersenyum sumringah. “Aku sering melihatmu di kedai. Kau selalu memakai masker. Apa penyakitmu tidak sembuh-sembuh?” tanya Fernandez tanpa emosi dan sangat tidak sopan di mata Elena hingga Elena memberikan pelototan peringatan padanya. Berusaha tampak biasa, Milly menjawab dengan alasan yang terpikir di benaknya. “Aku tidak bisa terkena debu.” Setelah itu Fernandez tidak bertanya lagi. Namun matanya memerhatikan dengan seksama wajah Milly. Bola mata itu sekali lagi memaksanya menerka perihal kemiripan seseorang yang tadi sempat diabaikannya. Tidak butuh waktu lama, di detik Fernandez tersadar, di detik itu pula bola matanya agak terkejut. Evelyn Blossom. Apa mungkin? Tapi tunggu… Fernandez perlu mencari bukti lain lagi. Lalu tiba-tiba otaknya teringat pada satu hal yang disembunyikan Evelyn dari Axton dengan sangat rapat beberapa tahun lalu tepatnya saat mereka masih remaja. Semua itu terbongkar oleh Fernandez karena dirinya tidak sengaja menyaksikan Evelyn dan Chloe berlomba menghabiskan dua piring udang di sebuah restoran. Gadis itu pemenangnya tapi keselamatannya hampir terancam usai bubarnya acara. “Kau bodoh,” desis Fernandez. Evelyn yang terbaring di ranjang rumah sakit menatap sayu Fernandez. “Jika kau sudah tahu ini, kumohon rahasiakan dari Aro.” “Jadi selama ini kau menutupinya darinya?” sinis Fernandez yang berdiri di sisi ranjang. “Aku hanya ingin menyukai apa yang Aro sukai. Jadi tolong Andez, jangan beritahu tentang hal ini pada Aro. Lagi pula aku menerima tantangan Chloe karena aku tidak ingin gadis itu terus menganggu hidupku. Kali ini aku melakukannya untuk diriku. Bukan untuk Aro.” “Kau akan mati jika aku tidak menolongmu,” dengus Fernandez, tapi Evelyn memamerkan senyum lembut dan membalas Fernandez, “Terimakasih, Andez.” Tersadar dari lamunan, Fernandez lantas menatap lurus Milly, sementara Elena tengah menepuk pundak gadis itu sambil berkata, “Kurasa aku langsung mengatakannya saja. Aku sudah menceritakan segala hal tentangmu kepada Andez. Ia bisa membantumu mencari siapa pembunuh Ibumu, Milly.” Dari manik matanya, Fernandez terus mengamati interaksi dua gadis di hadapannya. Terlihat Milly menoleh cepat ke arah Elena yang mengumbar senyum lebar. “Semua akan baik-baik saja Milly. Tidakkah kau ingin menghukum pria kejam itu?” Fernandez berdeham membuat dua gadis itu menatap padanya. “Apa kau alergi udang?” tanyanya pada Milly. Gadis itu mengerjap dan spontan bertanya, “Kau tahu dari mana?” Karena sebelumnya Clara memang pernah membawa dirinya ke rumah sakit setelah memakan makanan laut itu. Sedangkan Elena mengernyit pada Fernandez. “Apa maksud pertanyaanmu Andez? Kita sedang berbicara serius tapi kau malah bertanya tentang hal yang—” “Lupakan kalau begitu,” sela Fernandez masa bodoh. Kemudian samar, senyum sinis terbit di bibirnya. Pandangannya tidak terbaca. “Kembali ke topik. Aku akan membantumu.” Milly yang tadi diliputi perasaan heran langsung melengkungkan bibirnya, membentuk senyuman ketika mendengar kata-kata Fernandez. “Terimakasih Andez,” kata Milly tulus. Elena kemudian merangkul pundak Milly, mengusap pelan lengannya sambil tersenyum senang. “Tapi dengan satu syarat.” Bagai tersambar petir tubuh Milly menjadi kaku. Sedangkan Elena segera memelototi Fernandez dan mengulang, “Syarat?” Fernandez mengangguk. “Kau sudah menyetujui akan membantunya Andez,” bantah Elena. “Elena…” bisik Milly kemudian. Seketika ia diliputi perasaan tidak enak. “Tidak susah.” Pandangan Fernandez hanya terfokus pada Elena, menyeringai. “Kau menikah denganku. Tiga hari lagi.” Milly melirik Elena yang tampak menahan kekesalan. “Andez. Kau tahu aku tidak siap dengan pernikahan. Lagi pula belum tentu aku satu-satunya wanita yang kau rasa tepat,” sindir Elena. “Aku menginginkanmu. Di sisiku. Selamanya.” “Elena kurasa…” Milly hendak menengahi tapi suara Elena lebih dulu angkat bicara. Terdengar mencemooh dan tertawa sinis, “Itu tidak mungkin. Kau terdengar seperti pria pembual.” “Jika kau tidak siap tiga hari lagi. Aku bisa mengundurkannya,” tawar Fernandez namun tersirat nada pemaksaan di sana membuat Elena memejamkan mata sejenak. “Fine. Tapi kita akan menikah dua tahun lagi. Kau harus membantu temanku,” tegas Elena dengan mantap kepada Fernandez membuat lelaki itu tersenyum tipis.2 “1 bulan lagi,” ralat Fernandez membuat Elena mengepalkan tangan. Sementara Milly lagi-lagi ingin menyudahi, merasa Elena tidak perlu melakukan keinginan lelaki itu jika tidak ingin cuma demi dirinya. Ia menghargai niat tulus Elena, tapi Milly rasa ini terlalu berlebihan. “8 bulan,” ketus Elena bernegosiasi, membatalkan suara Milly keluar. “2 bulan.” Fernandez tidak mau kalah. “7 bulan lebih 1 minggu.” Fernandez menggeleng. “2 bulan lebih 1 minggu.” “7 bulan pas.” “Tidak. 2 bulan pas kalau begitu.” “6 bulan!” tandas Elena beranjak. Kesal. Fernandez masih tampak tenang di sofa. Menengadah menatap Elena dengan senyum geli. “Deal. 6 bulan.” Elena terduduk di sofa lemas. Tapi masih dongkol dengan Fernandez. “Apa kau sedang mengerjaiku?” “Nope. Hanya sedang mengetes batas kesabaranmu.” Milly yang berada di situasi itu sedari tadi terpaksa cuma bisa terdiam. Tidak tahu harus mengatakan apa. Terlebih ketika Fernandez kini menatapnya, ia hanya bisa memberikan senyum tipis kikuk walau lelaki itu tidak dapat melihatnya sebab mulutnya tertutup masker. *** Bersambung
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD