Days 5

2331 Words
Pembunuhan Axton duduk di sisi ranjang yang ditaburi mawar-mawar indah. Ia berada di sebuah hotel megah di Los Angeles. Sengaja wajahnya ia tutup menggunakan topeng silver. Ketika pintu terbuka, kepalanya langsung menoleh. Clara Kincaid. Wanita yang pernah dilihatnya bercumbu liar bersama Ayahnya. Lewat topengnya itu Axton mengamati penampilan wanita itu dari atas sampai bawah. Dress ketat yang sukses mempertontonkan keseluruhan lekuk tubuh. Juga hampir tidak bisa menutupi bokong. “Kau suka honey?” Clara menggoda dengan suara merdunya. Axton tidak menjawab hanya menyeringai. Clara kemudian mendekatinya. Duduk di sebelahnya, memangku satu kakinya, menampakkan paha mulusnya. Axton sempat meliriknya sekilas tanpa minat. Ia masih waras. Ia tidak suka dan tidak tertarik pada wanita berumur. Lagi pula saat ini ia sedang menyamar menjadi Otis Bardrolf. Dan beruntung wanita itu tidak menyadarinya. Itu dikarenakan lampu yang sengaja dibiarkan remang-remang oleh Axton. “Tunggu.” Clara mendekatkan wajahnya kepada Axton. “Kau memakai topeng?” Sebelum kecurigaan Clara muncul, Axton dengan cepat menarik wanita itu. “Oh,” Clara tertawa kemudian begitu berada di pangkuan Axton. “Kau ingin menjadi sosok misterius untukku malam ini Otis?” Lagi-lagi di dalam suasana remang-remang itu, sudut bibir Axton tertarik ke atas. Ia pura-pura memejam menikmati sentuhan Clara di pipinya, turun ke jambang tipisnya lalu lehernya. “Malam ini ada banyak hal yang ingin aku bicarakan padamu Otis. Seperti janjimu,” bisik Clara serak. “Ini tentang kita.” Kedua lengan Clara kemudian merangkul mesra leher Axton. Wanita ini… Axton tidak tahan ingin membunuhnya segera. Namun ia perlu untuk berusaha tidak buru-buru melakukannya. Mengulur waktu sejenak tidak ada salahnya. “Hei, Otis. Kenapa kau menjadi sangat pendiam sekarang hm?” Jemari Clara meremas rambut Axton. Detik selanjutnya Clara tertawa lagi ketika ia merasakan tangan itu membuka resleting dressnya di belakang. Dengan sukarela, ia turun dari pangkuan itu, menjatuhkan dressnya. “Kau suka?” godanya lagi. Axton hanya diam lalu menengadahkan tangannya dan tanpa ragu Clara menyambutnya. Kali ini berada di pangkuan Axton. Mengangkang dan sengaja menyentuhkan miliknya pada Axton. “Kau… ingin melakukan pemanasan sebelum membicarakan hal serius padaku,” bisik Clara nakal, memegang kedua pipi Axton. Dengan pelan Axton mengangguk, mengikuti arah pembicaraan Clara. “Kau memang pria nakal Otis.” Nakal? Axton memang berniat menjadi anak nakal untuk sesaat. Kenakalan ini adalah wujud dari sosok Otis Bardrolf yang ia contoh pada malam itu, tepatnya di suasana kegelapan malam kala ia menemukannya dengan wanita itu. Dan itu semua terekam jelas di benak Axton. Kaitan bra Clara terbuka karena jemari Axton. Ia sengaja mengusap punggung wanita itu yang kini menjatuhkan dahi di pundaknya. Sementara jemari Clara hendak membuka kancing kemeja Axton tapi dicegah Axton. “Kau kenapa Otis?” Clara menatap bola mata Axton dari balik topeng sambil mengigit bibir merasakan jamahan tangan Axton yang menelusuri pahanya. Spontan mata Clara terpejam saat Axton membuat gerakan memutar di sekitar pahanya. Tiba-tiba jemari Axton telah berada di ujung dalaman Clara, membuat Clara peka dan lekas melucutinya. Lalu kembali duduk di antara atas paha Axton. Tapi kali ini ia membelakangi lelaki itu. “Oh, Otis… aku tidak tahu kau bertindak aneh malam ini. Rasanya tidak adil…” Nafas Clara memburu ketika tangan Axton mengelus perutnya. Sangat kasar. Seperti ada bekas luka di sana. Itu membuat Axton mengernyit sejenak. Axton memajukan dagunya, bertumpu pada bahu Clara. “Apa kau sedang mengalami masalah Otis? Bersuaralah…” Axton hanya meniupkan nafas hangat di leher wanita itu, membuat Clara merasa geli. Tertawa kemudian. “Baiklah. Aku tidak akan bertanya lagi. Kita akan selesaikan ini secepatnya hm…” Clara lalu meraih tangan Otis. Sejenak ia merasa aneh. Rasanya berbeda dari sebelumnya. Tapi ia menepis keganjalan itu dan menuntun menyentuh dadanya, lalu turun menelusuri inti dirinya. “Kau bilang kau sangat suka bagian ini bukan?” Clara sengaja mendesah menggoda Axton. Satu tangannya meremas rambut Axton. Matanya terpejam dan tubuhnya sengaja ia liuk-liukan dengan sensual. “Kau sangat menjijikan.” “Apa?” Clara terkejut mendengar suara asing itu. Satu hal yang ia tahu, lelaki yang bersamanya saat ini bukanlah Otis Bardrolf. Sebelum sempat Clara berbalik tali telah melilit lehernya. Bola mata Clara keluar secara spontan. Tangannya pun memegang tali itu, ingin melepaskan. Mencoba berontak sekuat tenaga. “To..to…long.” “Aku tidak dengar? Kau meminta tolong pada siapa hm?” desis Axton menyentak tali itu tanpa perasaan, membuat lingkaran itu makin ketat mencekik leher Clara. Makin menipiskan oksigen wanita itu. “Ka…kau…” Axton tersenyum miring waktu Clara dapat melihat wajahnya. Topengnya mendadak telah terlepas begitu saja. Itu karena tangan Clara tidak sengaja menyenggolnya akibat rontaan wanita itu. “Senang bertemu denganmu, wanita jalang.” Clara berusaha menggapai apapun untuk melukai Axton di nakas. Seperti yang diprediksi Axton, tas wanita itu pun tergelincir hingga isi di dalamnnya berserakan. Obat penenang tumpah dari sana, tapi Clara masih bersikeras melakukan perlawanan. Tidak sadar benda yang diselipkan Thomas tadi-ketika menjemput-di dalam tasnya demi memenuhi rencana kematian wanita itu. “Le… le…pas.” “Kau ingin aku melepasmu?” Axton makin mencondongkan wajahnya di samping wajah Clara. Menoleh sekilas lalu melanjutkan, “Baiklah. Aku akan melepasmu.” Setelah itu, dalam sekali sentak Axton mengencangkan belitan tali itu di leher Clara dua kali lipat dari sebelumnya hingga nafas Clara sukses kandas seketika. Rontaan berhenti dalam sekejap. Bola mata wanita itu tampak merangsek keluar. Mulutnya terbuka lebar. Dan Axton lekas berdiri, membiarkan tubuh Clara terkapar begitu saja di ranjang. Terlentang tanpa busana. “Kau seharusnya berterima kasih padaku karena sekarang kau akhirnya bisa hidup bahagia bersama Otis Bardrolf, cinta sejatimu,” tukas Axton dingin, menatap jijik tubuh Clara. Ia mengeluarkan sapu tangan dari kantong, lalu melap tangannya seakan habis memegang benda kotor. Kembali ia menatap wajah Clara yang telah menjadi mayat. Senyum miring tersungging di bibirnya. “Dan kalian berdua… akan menyatu bersama di dalam tanah.” Lalu detik berikutnya Axton telah keluar dari kamar itu. Sebab sisanya Thomas yang akan mengurus segalanya. *** Tangisan Kehilangan Kelopak mata Milly terbuka. Hari sudah pagi, itu terlihat dari cahaya yang menelusup di balik tirai di ruangan keluarga. Ia tertidur di sofa, menunggu kepulangan Clara. Merenggangkan tangannya ke atas, ia kemudian beranjak. Matanya menatap di setiap penjuru rumah, tampak sepi. Sepertinya semalam Ibunya tidak pulang. “Mom sepertinya kau telah lupa padaku,” gumam Milly cemberut. Lalu tanpa merasa keanehan apapun ia menjalankan aktifitasnya seperti biasa. Menarik nafas singkat dan menuju dapur. Membuka lemari kecil di atas, mengambil sekotak sereal, juga mangkok kemudian meletakkannya di meja bar. Namun tidak lama suara ketukan pintu mengagetkannya, sangat heboh. “Milly. Apa kau ada di dalam?” Itu adalah suara Bibi Rachel, terdengar rentan dan rapuh. Bergegas, Milly melangkah menuju pintu, tapi sebelum itu ia menggeser sedikit tirai, memastikan sejenak sebelum membuka pintu itu. “Ada apa Bibi?” “Kau harus lihat ini Milly,” Rachel yang telah menua dengan garis keriput yang tampak jelas di wajahnya itu memandang sedih ke arah Milly. “Lihat? Tentang apa?” “Oh, Clara. Bibi tidak tahu kenapa Ibumu tidak menyediakan TV di rumahmu,” dengus Rachel bersandiwara, padahal ia tahu jelas alasan di balik semua itu. Tentu saja agar tidak ada sesuatu yang menghubungkan kembali ingatan Milly dengan masa lalu. Apalagi waktu itu pemberitaan tentang seorang gadis hilang bernama Evelyn Blossom sempat marak di seluruh media. “Ayo. Ikutlah ke rumahku, Milly.” Kemudian tergopoh-gopoh wanita tua itu membawa Milly menuju rumahnya, sementara Milly hanya menampilkan raut penasaran di sela derap langkahnnya mengikuti Rachel di belakang. Setiba di sana, Rachel terdiam dan sejenak Milly mengernyit. Sebelum matanya terfokus pada layar TV yang memuat sebuah berita, “Kami ingin memberitahukan bahwa pagi ini telah ditemukan seorang wanita di tempat tidur di salah satu hotel di Los Angeles yang meninggal tanpa busana. Dari identitas yang diperoleh melalui dompet korban, wanita itu bernama Clara Kincaid. Berusia 40 tahun. “Selain itu ditemukan juga obat penenang berserakan sehingga diduga wanita ini meninggal karena mengalami overdosis—” Telinga Milly tidak lagi memusingkan suara reporter di sana. Ia begitu shock. Wajahnya memucat dan matanya memanas. Tangannya membekap mulut. “Tidak…” bisiknya menolak kenyataan. Namun mata Milly masih terpaku pada layar itu, dimana kini sebuah kantong jenazah sedang dimasukkan ke dalam ambulans. “Bibi juga tidak percaya ini, Milly.” Perlahan Milly memandang Rachel dan wanita tua itu berkata lagi dengan getir. Wajahnya menampilkan kesedihan yang pekat. “Bibi sudah menghubungi nomor ponselnya. Tidak ada apapun.” “Ponselnya mati.” *** “Aku harus menemuinya…” isak Milly pada Rachel karena wanita tua itu bersikeras melarang Milly menemui Clara. Biar bagaimanapun Rachel cemas jikalau kematian Clara bisa saja terselip rencana jahat yang tersembunyi. Entah untuk apa maksudnya, tapi instingnya menunjukkan kewaspadaan yang begitu kuat. Mengingat seberapa pelik masalah Clara semasa hidup. Milly meraih gelas berisi air yang diberikan Rachel, meletakkannya di meja, tidak berniat meminumnya. “Tolong Bibi. Mengertilah…” Saat ini ia masih berada di rumah Rachel dan wanita tua itu tengah duduk di sebelahnya. Sesekali Milly menyeka air mata di pipi. “Aku tidak mengerti mengapa kau melarangku Bibi? Atau mungkin kau tahu sesuatu tentang kematian Mom?” “Tidak. Bibi tidak tahu apapun.” Rachel menggeleng dengan gurat kesedihan. “Semasa hidup, Bibi sangat mengenal Ibumu. Ia adalah sosok yang tegar dan kuat.” Milly menangis sesegukan. “Jika kau yakin Mom bukan sosok lemah yang akhirnya memutuskan bunuh diri dengan obat-obatan, maka kau harus mengijinkanku melihatnya, Bibi…” Rachel membelai rambut Milly, mencoba memberi penghiburan sebisanya. “Milly, sejujurnya Bibi takut. Ibumu begitu melindungimu. Jika benar kematiannya ini bukan karena keinginannya, maka kau bisa jadi dalam bahaya.” Seketika Milly memandang Rachel. Sendu juga terselip sebuah tuntutan penjelasan di sana. “Apa maksudmu?” lirihnya. Rachel balik menatap tak kalah sendu. “Kau adalah putrinya. Banyak sesuatu jahat di luar sana yang tidak kau ketahui. Apalagi kau tahu seperti apa pekerjaan Ibumu bukan?” “Dan mungkin semua ini terjadi karena Ibumu telah melakukan kesalahan pada kliennya,” lanjut Rachel prihatin. “Mom tidak bertemu kliennya semalam Bibi.” Tiba-tiba pandangan Milly menerawang dan obrolan terakhirnya dengan Clara menjadi tergiang di benaknya,membuat buliran air matanya terus mengalir. “Mom bertemu pria yang sangat mencintainya.” “Apa?” “Dan sepertinya…” Sorot mata Milly kemudian terpusat pada Rachel yang balas menatapnya tak percaya. “Pria itu tidak mencintai Mom. Ia yang melakukan hal ini pada Mom.” “Oh, Milly…” Spontan Rachel membekap mulutnya sejenak sebelum membawa Milly ke dalam dekapannya. Membelai lembut rambut gadis itu. Hingga tangisan itu menjadi teredam, tapi tetap terdengar memilukan. Hati Rachel menjadi tersentuh seakan bisa merasakan kedukaan yang begitu dalam dari isakan Milly atas kepergian Clara. Hingga akhirnya ia mengalah, “Baiklah. Jika kau ingin menemuinya, apa boleh buat. Bibi akan menemanimu melihatnya untuk terakhir kali.” “Tapi dengan satu syarat.” Rachel mengingatkan, “Kau harus menyembunyikan identitasmu. Tidak ada yang boleh mengetahui bahwa kau adalah putrinya.” Kepala Milly seketika terangkat. Bola matanya menatap penuh terimakasih pada Rachel. Tapi tetap rasa kehilangan itu begitu kentara terukir di wajah Milly. “Aku janji,” ujarnya dengan senyum pedih. *** Derap langkah Milly begitu cepat di lorong rumah sakit. Rambutnya coklatnya terurai. Masker menutupi sebagian wajahnya. Sementara Rachel di belakangnya mengikuti, sesekali mengedarkan pandangan ke sekitar. Ketika tiba di ruang jenazah, sekujur tubuh Milly bergetar waktu melangkah mendekati mayat Clara yang telah ditertutup kain. Rachel turut masuk. Sebelumnya mereka memang sempat ditanyai perihal kedekatan apa yang terjalin dengan Clara dari pihak rumah sakit dan Rachel mengatakan mereka adalah tetangga Clara. Kemudian membeberkan bahwa tidak ada satupun keluarga yang dimiliki oleh Clara. Tapi ia bisa memastikan bahwa mereka cukup dekat sebab sewaktu hidup Clara kerap bertamu ke rumahnya. “Milly…” bisik Rachel memegang pundak Milly. Gadis itu sungguh terguncang. Menangis dalam diam, berusaha agar isakannya tidak diketahui siapapun. “Bibi ada bekas belitan di lehernya…” lirihnya ketika membuka kain jenazah itu dan menampilkan bibir pucat Clara. Tidak ada aliran darah lagi di sana. Tubuhnya kaku. Wajahnya tidak lagi bersinar. Meredup sebab nyawa telah tiada. “Bibi tahu ini sungguh berat untukmu…” usapan Rachel di pundaknya tidak juga mampu menghilangkan rasa kesedihan mendalamnya. “Milly…” Rachel agak terkejut ketika tiba-tiba Milly berjongkok, menutup kedua wajahnya dengan tangan. Menangis keras walau agak teredam di balik masker. Ia sudah tidak tahan. Siapapun yang melakukan hal ini, pria itu sungguh tidak berprikemanusiaan. Apa membunuh adalah hal yang sangat sederhana baginya? Apa pria itu tidak memikirkan rasa kehilangan yang akan dirasakan orang-orang terdekat dari kematian seseorang yang dimusnahkannya? “Kau sudah berjanji Milly. Jangan seperti ini. Tangisanmu menunjukkan bahwa kau sangat terpukul. Seolah kau sangat dekat dengannya…” bujuk Rachel yang kemudian menarik tubuh Milly bangkit dan memeluk gadis itu. Mengusap punggungnya, memberikan ketenangan sesaat. Isakan Milly perlahan mulai mereda. Tidak kencang seperti sebelumnya. Ia berusaha mengontrol perasaannya sebisanya. Balas mendekap Rachel. Lalu berbisik, “Kenapa ada pria jahat seperti itu di dunia ini Bibi?” Kepala Milly menggeleng dalam dekapan Rachel. “Pria itu menutupi kematian Mom dengan baik. Bagaimana bisa tenaga medis juga berita malah menyiarkan fakta kebohongan?” “Milly…” “Semua orang awam pun pasti menyadari bekas pembunuhan itu Bibi. Tapi mereka menutupinya,” racau Milly sesengukan. “Semua itu bisa terjadi Milly. Di dunia ini ada banyak orang berkuasa. Mereka punya banyak uang dan apapun bisa mereka lakukan. Dan kita… orang yang biasa tidak akan sanggup melawan mereka.” Detik berikutnya Rachel menghapus cepat air mata di pipi Milly, lalu mengandeng jemari gadis itu. Menariknya, membawa jauh dari Clara walau dari tatapan Milly terlihat jelas bahwa ia belum rela berpisah dengan jenazah Clara. “Kita harus pergi sekarang Milly.” Tangannya Milly seolah ingin menjangkau Clara di sana ketika dirinya hendak mencapai pintu keluar ruangan itu. “Mom…” Itu adalah kata lirih terakhir yang sarat kesedihan yang lolos dari bibir Milly dan disahuti Rachel dengan agak panik, “Ssstt. Kau tidak boleh menyebut apapun di sini Milly.” Lalu Rachel mulai membuka pintu itu hingga pemandangan Clara yang terbaring kaku di sana mulai lenyap dari pandangan Milly sebab perlahan pintu itu mulai menutup. *** Bersambung
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD