Bab 19: Kenangan terakhir

1160 Words
Jika pertengkaran adalah kenangan sebelum engkau pergi aku pasti akan menyesalinya, apalagi jika kenangan itu sangat kelam untuk dikenang. *** Mereka mengerutkan dahi mencoba berpikir antara merasa aneh dan mencari jawaban dari pertanyaan Vina. Cina bertompang dagu menunggu mereka membawa. Raka mengangkat tangannya, "Iya, silakan Raka jawab duluan," ucap Vina mempersilakan. "Aku mau bilang sama Ayah buat gak selingkuh, jadi keluarga kami jadi gak berantakan," jawab Raka. Raka melihat ke arah Rangga dan Rangga mengangguk pertanda dia setuju dengan Raka. "Yang lain?" tanya Vina menatap yang lainnya. "Gue," Amira mengangkat tangannya. "Silakan, Kak Amira," ujar Vina mempersilakan lagi. "Kalau gue pengen Bokap ganti kerjaannya, biar Nyokap gak dibunuh," jawab Amira. "Kalau aku si pengen pindah keluarga aja, aku mau minta sama Tuhan keluarga yang sayang sama aku," tutur Revan. "Yerina cuma mau Mama sama Ayah gak berhenti usaha walau sulit dan selalu berdoa sama Allah." "Aku pengen Ibu gak ngelahirin aku," ucap Rai. "Aku want nya si gak nuruti kata my mother waktu itu," ujar Fina kemudian setelah Rai. "Kalau loe mau apa, Vin?" tanya Amira pada Vina. Semua mata tertuju pada Vina. "Sama kayak Rai, aku gak mau terlahir di dunia ini. Mungkin dengan begitu keluargaku gak akan ada yang terluka." Vina mencoba menyembunyikan nada suara sedihnya. Amira kemudian merangkul semuanya "Menurut gue gak ada yang perlu disesali karena sekarang kita jadi keluarga, teman, sahabat, pokoknya segalanya. Dan kita harus menjaga satu sama lain," kata Amira. Semua mengangguk sambil tersenyum. Tiba-tiba Aisyah memeluk mereka semua sambil menangis sesenggukan. "Lho, Bunda kenapa?" tanya Vina. "Gak, Bunda cuma ... cuma ...." Aisyah tidak mampu meneruskan kata-katanya dan malah menangis semakin kencang, membuat Amira, Fina, Yerina ikut menangis juga. Para anak lelaki menahan air mata mereka agar tidak keluar, Vina hanya tersenyum sudah lama dia tidak merasakan pelukan dan suasana sehangat ini. Sesudah semua tangisan berhenti mereka lalu tertawa entahla apa yang lucu atau yang ditertawakan yang pasti mereka bahagia untuk saat ini, karena berada di sini dan punya keluarga yang baru. Merasakan banyak kehangatan, dan limpahan kasih sayang yang belum mereka dapatkan di masa lalu kelam mereka. *** Raka terlonjak kaget saat ponselnya berdering menandakan adanya pesan yang masuk. Raka langsung menyambar ponsel miliknya yang ada di atas kepalanya, nomor penerima tidak dikenal mengirimkannya sebuah pesan. "Horeee, asyik!!!" teriak Raka heboh karena sangat senang saat melihat membaca pesan itu dia meloncat-loncat kegirangan membuat Rangga terbangun. "Kenapa?" tanya Rangga sambil mengucek matanya, Stabi yang tidur bersama Rangga tidak merasa terganggu dengan kehebohan Raka dan masih saja tertidur lelap. "Aku dapat pesan lolos masuk SMA Langgar Jaya!" jawabnya dengan berseru heboh. Mata Rangga membulat sempurna dia mslihat ponselnya tapi tidak ada pesan apapun di sana. Di kamar para anak perempuan semua melompat sambil menari-nari membentuk lingkaran setelah membaca pesan itu. Tidak lama ponsel Revan juga ikut berdering dan menerima berita yang sama yaitu dia lolos masuk SMA Langgar Jaya. Semua keluar dari kamar dan bersorak senang, lain halnya dengan Rangga yang tidak menerima pesan apapun. Dia hanya melihat dari pintu kamar yang terbuka. "Eeh, gue baru nyadar personil kita kurang satu," ujar Amira saat mereka mau memulia sarapan mereka pagi itu. "oh iya, si Rangga ke mana?" Amira melihat ke arah Raka. "Dia sedih karena gak dapet pesan yang menandakan dia lolos katanya," jawab Raka dengan nada sedih. Semua yang awalnya senang jadi ikut sedih mendengarnya. "Ayo, kita hibur Rangga," ujar Amira memberikan saran, semuanya mengangguk dan mengambil piring mereka yang belum mereka sentuh beserta air dan cangkir mereka. Mereka berencana pindah makan di kamar para anak lelaki bersama Rangga, setelah Aisyah mengizinkannya. "Rangga, sarapan bareng." Revan membuka pintu kemudian meletakkan piring dan cangkirnya di lantai kamar disusul yang lainnya, mereka membentuk lingkaran. Rangga hanya melihat mereka tanpa bergerak sedikit pun dari tempat tidur. Amira kemudian kembali lagi ke dapur dan membawa makanan Stabi, kemudian kembali lagi dan meletakkannya di lantai berdekatan dengan makanan mereka. Stabi yang awalnya berada di pangkuan Rangga langsung turun dan memakan makannya dengan lahap. "Noh, Stabi aja makan banyak. Masa loe gak," ejek Amira bermaksud membuat Rangga turun dari ranjangnya. Akhirnya Rangga turun dan bergabung bersama yang lainnya karena perutnya juga sudah lapar. Mereka kemudian makan dalam diam, "Jangan sedih dong, Ngga masa gitu doang sedih. Belum rezeki kali," tutur Revan setelah mereka membersihkan piring dan cangkir mereka selesai makan kemudian kembali ke kamar para anak laki-laki lagi. "Ya, gue tau loe sedih tapi kita kan masih bisa ketemu di rumah." Semua saling berpelukan. "Iya, gak masalah yang penting kalian lolos aku juga udah seneng," kata Rangga walaupun dia masih agak sedih. Mereka kemudian bersiap menuju ke sekolah untuk memastikan di papan pengumuman nama-nama mereka. Setelah sampai di sana ternyata sudah banyak orang yang juga melihat lolos tidaknya mereka, delaoan s*****n ikut berdesak-desakan melihat nama mereka. Mata Raka terbelakak saat ada nama Rangga di atas namanya, Raka kemudian menarik tangan Rangga yang tidak jauh darinya. "Lihat, Ngga ada nama kamu," ucap Raka sambil menunjuk nama Rangga yang ada di kertas pengumuman. Rangga melihatnya,dia berkerut dahi. "Mungkin nama Rangga yang lain kali, kan nama Rangga bukan cuma aku aja," jawab Rangga pesimis. Setelahnya Raka memberitahukan pada Amira dan Amira memastikannya di meja panitia, dia menanyakan kepada Bu Indah tentang hal itu. Yang lainnya menunggu dengan harap-harap cemas. Amira kemudian berlari menuju ke arah mereka sambil tersenyum lebar dan mengangguk menandakan bahwa memang benar itu nama Rangga, Rangganya mereka. Rangga Narendra. Mereka bersorak senang dan membentuk lingkaran sambil menari-nari membuat banyak pasang mata melihat ke arah mereka. "Ih, malu tuh diliatin," ungkap Amira menghentikan tarian gembira mereka, mereka kemudian menertawakan kekonyolan mereka sendiri. Mereka sangat gembira hari ini. *** Amira hendak masuk ke dalam kamar, tapi dia terhenti saat memperhatikan Vina yang tengah berjongkok. Baru saja Amira mau menanyakannya tiba-tiba Stabi menyelonong keluar saat Vina berdiri. "Loe sama Stabi ...." "Iya, kita udah akrab," jawab Vina memotong ucapan Amira sambil memperlihatkan gigi putihnya, Amira melongo. Selesai sarapan dan membersihkan kamar para anak perempuan membantu Aisyah mencuci dan menjemur pakaian di halaman belakang, sedangkan para anak laki-laki masih sibuk membersihkan kebun di halaman depan. Vina tidak membantu Aisyah dan lainnya menjemur pakaian dia sibuk bermain dengan Stabi. "Wah, Stabi sama Vina dah akrab tuh ceritanya?" tanya Aisyah merasa senang melihatnya. "Iya, Bunda. Amira juga heran tapi ya seneng juga Bunda kalau memang Stabi dah bisa diterima Vina," jawab Amira sambil mengibas-ngibaskan pakaian yang dia bawa. Setelah beberapa saat bermain dengan Stabi Vina ikut membantu menjemur pakaian, dia memeras pakaian agar sisa airnya keluar seperti Yerina dan memberikannya pada Aisyah untuk dijemur, "Terimakasih, Vina cantik," puji Aisyah menerima pakaian dari Vina. "Eeh, si Stabi kok can di atas tree tadi perasaan masih di bawah." Tunjuk Fina. "Lha, iya apa dia manjat ya," sahut Amira. "duh, kayaknya gak bisa turun tuh si Stabi." Amira dan lainnya jadi merasa cemas. Vina langsung memanjat pohon tanpa ragu dan berhasil sampai di tempat Stabi yang cukup tinggi. "Aduh, hati-hati ya, Sayang!" jerit Aisyah yang sudah berada di bawah bersama Fina, dan Yerina. Vina mengangguk. Selanjutnya: Kematian
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD