Hari ini aku ingin berbeda, tidak lagi menakutkan untuk mereka agar kelak mereka menyadari siapa aku sebenarnya.
***
Amira kemudian meletakkan ponselnya di laci meja belajar dan keluar kamar untuk berkumpul bersama yang lainnya. "Nah, nih dia yang mau dipanggil tapi galau," celetuk Raka saat melihat Amira.
"Hah, apaan gue galau?" tanya Amira menunjuk dirinya sendiri.
"Tuh, si Fina yang bilang." Raka menunjuk Fina dengan dagunya.
"Dih, sok tau loe Fin. Gue tuh bukan galau cuma lagi kepo aja, soalnya temen gue itu nemu info sepuluh misteri di sekolah kita gitu," jelas Amira panjang lebar. Semua ber-oh secara serentak.
"Jadi, ceritain dong sama kita," tuntut Raka.
"Nanti aja, kalian harus foksu dulu buat ujian masuk biar kita bisa masuk SMA yang sama dan bareng-bareng lagi," jawab Amira membuat berberapa di antara mereka terlihat kecewa. "gak usah kecewa gitu mukanya, gak enak diliat. Udah ayo kita mulai sesi belajar kita lagi." Amira langsung menyambar buku yang ada di sebelah Yerina, membukanya kemudian memulai tes dadakan.
***
Hari ini adalah hari ujian untuk bisa masuk ke SMA Langgar Jaya, karena di SMA ini nilai tinggi dari SMP sebelumnya saja tidaklah cukup. Harus ada pembuktian berupa tes sebelum mereka resmi diterima dan menjadi bagian dari SMA ini, seleksi masuknya juga cukup ketat karena banyak yang mendaftar di SMA ini.
Sekali lagi delapan s*****n terlihat terpukau memandangi megahnya sekolah yang kini ada di hadapan mereka. "Sebelum kita masuk alangkah baiknya kita berdoa terlebih dahulu," tutur Raka saat mereka sudah sampai di depan gerbang sekolah. "berdoa menurut agama dan kepercayaan masing-masing dimulai." Raka memberikan instruksi, semua berdoa menurut agama dan kepercayaan mereka masing-masing dengan menundukkan kepala, menadahkan tangan dan juga mengepalkan kedua telapak tangan menjadi satu. Beberapa pasang mata yang hendak masuk dari gerbang sekolah menuju ke dalam melihat hal itu, dan mereka hanya cuek saja. "Berdoa selesai." Mereka menegakkan kembali kepala mereka.
"Ayo, kita masuk," ujar Amira yang disahuti anggukan dari semuanya.
"Semua peserta untuk ujian seleksi masuk harap menuju ruangan masing-masing yang telah tertera di depan papam pengumuman nama dan juga tempat duduknya." Pemberitahuan dari speaker sekolah terdengar.
"Kalian pasti lulus karena kalian sudah belajar dengan sungguh-sungguh," kata Rai menyemangati. Mereka tersenyum kemudian mengangguk dengan mantap, Raka mengepalkan tangannya tanda menunjukkan semangatnya "Bismillah." Kemudian mereka berlalu ke ruangan ujian masing-masing setelah melihat nama mereka yang tertera di papan pengumuman.
Amira dan Rai menunggu di kursi yang ada di sebelah pos satpam sambil tidak henti-hentinya memanjatkan doa kepada Sang Pemilik Jagat Raya. "Santai aja, gue yakin mereka semua akan lolos." Ratna menepuk pundak Amira kemudian duduk di sampingnya. Sela merasa ragu-ragu untuk ikut duduk juga, jadi dia memutuskan untuk berdiri saja di sebelah Ratna.
"Aamiin, makasih ya," sahut Amira sambil tersenyum, Ratna juga balas tersenyum. Kemudian suasana menjadi hening kembali.
"Rai ...." panggil Sela setelah hening menyelimuti beberapa saat. Yang dipanggil melihat ke arah sumber suara, "mau minta maaf soal yang kemarin dan kemarinnya lagi, maaf kalau risih dengan sikap gue selama ini." Akhirnya Sela mengatakan apa yang mau dia katakan sedari tadi. Rai menangguk kecil, dia tidak pernah mempermasalahkan hal itu, dia hanya merasa risih tanpa dendam itu saja.
"Amir, gue juga mau minta maaf udah ngerusak suasana kemarin." Kali ini pandangan Sela tertuju pada Amira.
"Amir, Amir loe kira gue cowok apa, Amira ya bukan Amir. A-m-i-r-a," protes Amira tidak terima namanya dipotong sambil mengeja namanya sendiri.
Ratna cengengesan, "Kocak banget emang kalian ini udah," ucapnya.
"Ehe, iya udah gak usah protes kurang huruf a doang." Sela ikut cengengesan. Amira hanya memajukan bibirnya menjadi lima senti.
"Terimakasih, telah mengikuti ujian seleksi masuk kali ini. Pengumuman penerimaan akan diumumkan lusa, silakan meninggalkan ruang ujian dan pastikan jangan ada barang yang tertinggal." Pemberitahuan itu menandakan bahwa ujian telah selesai. Amira berdiri menunggu kedatangan delapan s*****n lainnya.
"Gimana ujiannya?" tanya Amira begitu melihat mereka.
"Alhamdulillah lancar," jawab Raka.
"Alhamdulillah." Amira mengadahkan tangannya kemudian mengusapkan kedua telapak tangannya ke wajah.
"Pasti kita lolos, aku yakin!" seru Vina dengan semangatnya. Semua mata teralih pada Vina, Raka terpelongo melihat Vina.
"Bentar, bentar kok kayak ada yang beda," ujar Raka sembari memutari tubuh Vina dan melihatnya dengan teliti.
"Iya, dong. Kan hari ini aku berbeda dari biasanya," jawab Vina sembari tersenyum.
"Nah, iya gue baru sadar kalau hari ini loe beda," komentar Amira jujur. "kulit loe dah gak pucet lagi, kantong mata udah gak ada, terus gak ada rambut yang menutupi sebagian wajah loe juga. Loe jadi makin cantik," puji Amira membuat senyum Vina semakin mengembang. "Lha, emang aku cantik kaliannya aja yang gak nyadar," ucapnya sambil mengibaskan rambutnya.
"Oh, iya hari ini aku mau diboncengin Kak Amira ya, boleh kan Yerina?" tanya Vina pada Yerina. Yerina mengangguk "Tentu," jawabnya singkat. Rasa merinding dan takut yang selama ini dia rasakan tidak ada lagi hari ini, entahlah mungkin karena Vina berbeda hari ini. Lagi pula dia ingin sesekali mengendarai sepeda sendiri tanpa dibonceng dan membonceng juga.
"Yaudah, kita beli es krim dulu yuk buat ngerayain kerja keras kalian," usul Amira. "Setuju!" jawab semuanya kompak dan penuh semangat.
"Kita, ikutan ya, boleh kan?" tanya Ratna.
"Boleh aja gak masalah, tapi apa kalian gak ada kerjaan hari ini?" tanya Amira takutnya mengganggu.
"Eh, iya ya kita di sini suruh bantui koreksi ujiannya." Ratna baru ingat dan menepuk jidatnya. Setelah itu tidak lama Bu Indah melambai ke arah Ratna dan Sela, "Kita pergi dulu ya, padahal pengen ikut kalian," ujar Sela dengan mata seperti anak kucing.
"Gapapa lain kali kita ikutannnya, apalagi kalau mereka udah satu sekolah sama kita, ya kan Mir?" tanya Ratna.
"Yoi," jawab Amira sambil menaikkan alisnya.
"Dah, semuanya." Ratna dan Sela melambaikan tangan kemudian pergi berlalu.
"Yaudah kita berangkat, yuk." Setelah menerima anggukan dari semuanya mereka semua pergi ke warung yang ada di dekat mereka untuk membeli es krim.
***
"Nah, ini baru namanya hadiah setelah kerja keras," ujar Raka sambil m******t es krim miliknya. Mereka duduk di bangku yang ada di warung itu, walau harga es krim tidak seberapa tapi kalau bersama mereka merasa sangat senang. "Vina, kok tidur aja dari tadi?" tanya Revan.
"Iya, nih. Pas gue bonceng dia udah tidur sampai sekarang," jawab Amira.
"Apa gak sebaiknya kita bangunin aja?" usul Raka.
"Jangan, kasian. Mungkin dia kecapean dan sangking semangatnya sampai dia beda hari ini," sahut Yerina. Jujur Yerina merasa senang dengan perubahan Vina hari ini.
"Iya, dia dandan kali makannya beda har ini," ujar Raka sambil nyengir.
"Yaudah, kita beliin aja satu es krim buat dia nanti pas udah di rumah dia bisa makan." Revan langsung berdiri membuang stik es krim milinya dan membelikan satu lagi es krim rasa vanila untuk Vina.
"Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh, Bunda kita pulang!" semuanya memberikan salam sambil masuk ke dalam.
"Wa'alaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh, eh anak-anak Bunda udah pulang. Gimana ujiannya?"
"Alhamdulillah lancar, Bunda," jawab Raka senang.
"Alhamdulillah kalau gitu, yaudah kalian siap-siap sholat terus nanti kita makan siang ya."
"Siap, Bunda!" Semua bubar dan bersiap-siap. Vina berjalan agak sempoyongan menuju ke kamar karena masih mengantuk, dia kemudian melanjutkan tidurnya di kasur.
"Bunda, Vina izin tidur lagi ya siap makan siang. Vina ngantuk banget Bunda," tutur Vina kepada Aisyah saat dia sudah menghabiskan makanannya, Aisyah merasa heran karena Vina jarang bahkan tidak pernah memanggilnya dengan sebutan Bunda. Tapi Aisyah juga merasa sangat senang, berpikir bahwa Vina sudah sedikit demi sedikit terbuka padanya dan yang lainnya.
"Boleh, tapi jangan sampai sore banget tidurnya ya gak baik," ujar Aisyah. Vina menggangguk kemudian kembali ke kamar dengan mata yang masih mengantuk.
"Seandainya kalian bisa ke masa lalu hal apa yang mau kalian ubah?" tanya Vina tiba-tiba saat mereka berkumpul di ruang keluarga.
Selanjutnya: Kenangan terakhir