Kebenaran harus dibuktikan sendiri, walau terkadang berwarna pekat.
***
"Ayang, Rai!!!" Sela langsung masuk dan bergelayut manja di lengan Rai, Rai langsung melepaskannya karena risih.
"Ntar, aja deh ada perusuh," bisik Ratna sambil melihat Sela, Amira hanya tertawa kecil kemudian mengangguk.
"Ih, kenapa si Ayang Rai." Sela menggembungkan pipinya. "pas piket juga Ayang Rai gak dateng, kenapa tuh?" Rai hanya diam saja sambil terus fokus membaca bukunya, dia benci cewek berisik dan serampangan.
"Kan, beda hari piketnya," celetuk Ratna menjawab pertanyaan yang tadi Sela lontarkan.
"Ish, kan bukan nanya loe," cibir Sela.
"Lha, kan Ratna mau jawab," celetuk Amira membela Ratna, Ranta menjulurkan lidahnya. Sedangkan Sela berusngut-sungut merasa kesal.
"Lha, kalian kenapa di sini?" tanya Amira baru menyadarinya.
"Kita, kan jadi panitia buat bantuin Ibu dan Bapak guru menerima pendaftaran murid di sini, biasalah anak anak OSIS," jelas Ratna, Amira hanya mengangguk singkat.
"Yaudah, kalau gitu gue sama Sela mau ke sana dulu mau bantu-bantu." Ratna menunjuk sebuah meja yang banyak sekali orang mengantre untuk mengambil formulir pendaftaran disusul Sela.
Selesai mengambil formulir pendaftaran mereka menuju tempat Amira yang semula dan mengisinya bersama-sama di sana secara mandiri, mereka menulis data diri mereka masing-masing. Harusnya hari ini Aisyah dan Yusuf ikut menemani mereka, tapi mereka menolak karena ingin mandiri kali ini, lagipula ada Amira dan Rai yang sudah tau pendaftarannya bagaimana.
"I finish," ujar Fina. "Yaudah, mau nunggu semuanya terus ngumpul bareng-bareng atau mau kumpul sendiri?" tanya Amira pada Fina. "wait kalian semua aja, terus kita kumpul together," jawab Fina. Amira mengangguk, dan yang lain saling menunggu satu sama lain dan mengumpulkan formulir yang sudah diisi kembali ke panitia. "Ini, Kak formulirnya udah kita isi. Semua dokumennya juga udah lengkap," ujar Raka kemudian menyerahkan map berwarna biru kepada Ratna. "Siap." Ratna mengambil map itu dan meletakkannya di tumpukan map lainnya.
"Kita makan siang yuk, di kantin," ajak Ratna saat jam makan siang.
"Kita bawa bekal, nih." Amira memperlihatkan bekal yang dia bawa.
"Wih, asyik kayaknya. Yaudah kalau gitu kita beli makanan dulu di kantin entar gabung sama kalian," celetuks Sela ikut nimbrung.
"Alah, bilang aja modus mau sama Rai." Ratna menyenggol bahu Sela, Sela hanya melotot dan meletakkan telunjuknya di bibir mengisyaratkan untuk Ratna diam saja. Mereka kemudian pergi untuk membeli makanan di kantin.
"Tuh, cewek vain banget deh," komentar Fina saat Ratna dan Sela sudah pergi jauh.
"Emang si, Sela genit," ujar Amira membenarkan. "tapi dia baik kok anaknya," tambahnya lagi.
Tidak lama Sela dan Ratna kembali dengan membawa beberapa bungkus roti di sebuah plastik berwarna bening. Mereka kemudian ikut duduk di kursi taman yang panjang, "Kalau kalian mau ambil aja," tawar Ratna.
"Nih, kalian mau juga bekal yang kuta bawa," tawar Amira menyodorkan bekalnya.
"Boleh, gue pengen coba rasa masakan kalian." Ratna sedikit mengicipi bekal Ratna. "enak," pujinya. "Siapa nih yang masak?"
"Kita together sama Bunda," jawab Fina.
"Wah, enaknya yang bisa masak bareng." Ratna tersenyum.
"Jangn ganggu aku mau makan." Semua mata teralihkan karena suara itu, ternyata itu suara Rai yang merasa risih digelayuti Sela sedari tadi. Sela cemberut dan bibirnya maju lima senti, kemudian dia pindah ke tempat lain.
"Haduh, tuh bocah maafin ya semuanya dia jadi merusak suasana." Ratna merasa tidak enak.
"Santai, ntar juga dia baikan lagi. Kayak gak tau Sela aja," ujar Amira mencoba mencairkan suasana, mereka kembali melanjutkan makan mereka.
"Oke, berkas kalian semua udah aman dan lengkap," ucap Ratna memberitahukan.
"Alhamdulillah," jawab Yerina.
"Jadi, kita bisa go home?" tanya Fina.
"Boleh, lusa kalian datang lagi ke sini buat ikut ujian masuk ke sekolah ini, ya," jelas Ratna lagi.
"Siap," jawab Raka.
"Oh, iya tapi Amira jangan suruh pulang dulu ada yang mau gue omongin sama dia," kata Ratna lagi saat mereka hendak pergi.
"Oke, kita sampaikan," jawab Raka kemudian pergi berlalu bersama yang lainnya.
***
"Mau ngomongin apa?" tanya Amira saat suasana sudah sepi karena sebagian besar pendaftar telah pulang, hanya tersisa beberapa orang yang merupakan para guru sedang membereskan semua map yang bertumpuk.
"Kan, kebiasaan lupa. Itu soal yang sepuluh misteri." Ratna memukul tangan Amira.
"Oh, iya ya. Gue lupa." Amira nyegir kuda. "tapi Sela?" tanya Amira sambil celingukan mencari Sela.
"Dah pulang duluan, ngambek beneran dia," ujar Ratna. "dia si juga salah udah tau si Rai gak mau dideketi masih aja batu, eeh kok jadi ngomongin si Sela. Oke back to topic."
"Jadi, ni sepuluh misteri yang gue dapet infonya itu adalah, pertama ada makhluk penjaga _rooftop_." Ratna mulai menjelaskan. Saat Ratna berkata makhluk di _rooftop_ dia jadi ingat kejadian aneh yang menimpa Rangga tempo hari, "Apa mungkin itu makhluk yang hampir celakai Rangga ya?" tanya Amira dalam hati.
"Kedua, pas tengah malem akan ada ufo yang katanya kendaraan menuju alam lain." Ratna melihat ke arah lapangan yang ada di seberang sana. "ketiga, pohon beringin belakang sekolah yang angker banget, sampai katanya ada yang gila karena liat sosok di sana, terus ...."
"Ratna bisa tolong Ibu sebentar bawa kardu sini," panggil Bu Indah--guru Bahasa Indonesia memotong penjelasan Ratna.
"Iya, Bu sebentar ya, Bu," jawab Amira. "gue cabut dulu, dan lain kali aja kita lanjutin soalnya pasti lama nih pulangnya kasian kalau loe nungguin gak ada temennya berasa bener jomlonya," celetuk Ratna sambil cengengesan.
"Yeee, kurang ajar ngatai gue jomlo gak sadar diri," balas Amira tidak mau kalah. "padahalkan gue masih kepo," gumam Amira sambil melihat kepergian Ratna ke tempat Bu Indah.
Amira pun memutuskan untuk pulang, percuma juga dia di sana karena dirinya bukan bagian dari OSIS. Amira mengayuh sepedanya sambil memikirkan yang dikatakan Ratna, "Banyak juga ya, ada sepuluh misteri," gumamnya pada dirinya sendiri.
***
Malamnya selesai mengerjakan sholat Amira mencoba menelepon Ratna tapi tidak diangat, "Ish, padahal gue udah penasaran setengah mati," ujarnya jengkel.
"Kenapa you?" tanya Fina yang tidak biasanya melihat Amira muram.
"Gue lagi kepo tentang sekolah kita," jawab Amira. "eh, loe kok makan kue bagi dong." Amira mencomot kue jahe yang Fina bawa.
"Ish, jangan banyak-banyak," protes Fina mencoba menjauhkan kue jahe dari jangkauan tangan Amira.
Saat acara rebut-merebut kue jahe berlangsung tidak lama ponsel Amira berdering, membuat perhatiannya teralihakan. Fina yang melihat adanya kesempatan langsung kabur menuju ruang keluarga tempat yang lainnya berkumpul, mengurungkan niatnya yang semula mau memanggil Amira agar ikut berkumpul.
"Lha, Kak Fina mana, katanya mau dipanggil?" tanya Raka begitu Fina duduk.
"Auk, again galau dia," jawab Fina.
"Halo, Ratna," ujar Amira dengan nada senang yang tidak dapat disembunyikan. "ih, ke mana aja si kok gak angkat teleponnya dari tadi?" tanya Amira.
"Hehe, sori tadi ponselnya gue mati karena belum makan," jawab Ratna. "gue tebak, pasti loe telepon gue karena loe masih penasaran soal misteri sekolah kita kan?" tanya Ratna seperti tau apa yang dipikirkan Amira.
"Nah, bagus kalau udah tau gak capek-capek lagi gue buat jelasin, cepetan dilanjutin!" titah Amira tidak sabar.
"Oke, nah yang keempat itu katanya kalau tengah malam kolam renang sekolah kita berubah jadi warna merah kayak darah gitu, yang kelima apa ya? Bentar gue lupa." Ratna mengambil buku catatan kecil. "nah, ini dia kelima itu hantu di perpus, terus keenam kalau loe kasih sesajen di tempat tertentu keinginan loe akan terkabul, banyak hantu gentanyangan di aula pas malam jum'at." Ratna menghentikan sejenak penjelasnnya dan menarik napas panjang kemudian mengeluarkannya lagi.
"Kedelapan hantu di ruang musik, kesembilan anak tangga menuju ke rooftop akan bertambah pas bulan purnama, dan siapapun yang nginjek itu anak tangga bakal mati besoknya. Buat yang ke sepuluh gak ada yang tau apa misterinya karena kalau kita tau kesepuluhnya kita bakal mati." Ratna mengakhiri penjelasnnya.
"Udah gue catet nih, makasih infonya," jawab Amira.
"Buat apaan loe catet?" tanya Ratna heran.
"Buat diceritain, biar seru," jawab Amira.
"Dih, horor iya seru mah kagak. Yaudah gue matiin ya gue mau bocan alias bobok cantik." Ratna memutuskan sambungan telepon tanpa menunggu jawaban dari Amira, kemudian pergi tidur.
"Eh, ada yang gue lupa bilang dari kesepuluh misteri tadi katanya si cuma tujuh yang terbukti bener." Amira membaca pesan itu, kebiasaan Ratna selalu memberikan informasi setengah-setengah.
Selanjutnya: Berbeda dari biasanya