Bab 16: Sepuluh Misteri

1491 Words
Misteri adalah suatu hal yang kebenarannya nyata dan tidak. *** "Gila, makhluk apa itu tadi!" heran Rangga. Mereka memberhentikan sepedanya setelah agak jauh dari sekolah itu, "Makhluk apaan? Gue gak liat apapun," ujar Amira. "Iya, aku juga, yang aku lihat cuma kamu melayang sambil kesakitan megangi leher kamu gitu," timpal Raka. Rangga tidak menjawab dia hanya diam saja, mereka kemudian meminum air dari botol minum yang mereka bawa. "Kita bershini dulu, yuk luka kita, takutnya kalau Bunda lihat dia bisa khawatir," usul Amira Raka dan Rangga mengangguk setuju, mereka kemudian membersihkan luka mereka di taman yang pernah mereka kunjungi untuk acara piknik. Kebetulan di sana ada keran. Setelah mereka membersihkan diri dan hari semakin larut mereka akhirnya memutuskan untuk kembali. Di rumah Asiyah sudah cemas, dia sudah berusaha menghubungi ponsel, Rangga, Amira, dan Raka tapi tidak ada satu pun yang diangkat. "Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh, Bunda kami pulang," ujar Raka dan Amira beriringan, Aisyah langsung berlari ke arah mereka kemudian memeluk mereka satu per satu. "Alhamdulillah, ya Allah kalian baik-baik aja. Bunda khawatir banget." Aisyah sampai meneteskan air mata. "Dari mana aja kalian lama banget pulangnya?" tanya Asiyah saat sudah merasa sedikit tenang, "terus itu kenapa bajunya tadi basah? Kenapa ponselnya gak diangkat? Padahal Bunda udah telepon ke ponsel kalian bertiga," tanya Asiyah bertubi-tubi. Raka menggaruk kepalanya yang sebenarnya tidak gatal, "Satu-satu dong, Bunda. Raka berasa artis ni jadinya," sahut Raka. "Jadi, tadi itu Amira kekunci di kamar mandi dan gak bisa keluar, Bunda. Terus tas Amira yang ada ponselnya Amira titipin ke temen-temen sekelas Amira eh gak taunya mereka pulang duluan dan ninggalin tas Amira gitu aja." Amira mulai menceritakan apa yang terjadi. "terus pas udah keluar itu ponsel kita mati, Bunda lupa kita isi batrenya soalnya tadi malam kita main game bareng, Bunda. Ehe," tambah Amira lagi. "Astagfirullah, kok bisa kamu kekunci. Tapi gapapa yang penting Alhamdullilah kalian baik-baik aja." Asiyah tersenyum sembari mengelus rambut Amira. Selesai mereka makan, mereka membereskan semuanya dan menuju ke arah kamar para anak perempuan. "You bisa aja bohongin, Bunda but gak bisa bohongi kita," celetuk Fina tiba-tiba saat mereka sudah masuk ke dalam kamar, memang semua berkumpul karena masih penasaran. "Emang keliatan, ya?" tanya Amira. "iyalah kan kita ini can tau karena kita peka." Fina mengerucutkan bibirnya. "ada juga kok yang enggak." Amira melihat ke arah Rai, yang dipandang malah cuek saja. Mereka akhirnya duduk bersama di lantai yang dilapisi tikar, mereka membentuk sebuah lingkaran kecil. Kali ini Rai menutup buku yang sedang dia baca. "Emang, si pas gue ke kunci di kamar mandi banyak kejadian yang buat merinding terjadi," ujar Amira memulai menceritakan apa yang terjadi. Fina sudah mendekatkan tubuhnya ke Yerina yang mulai takut, begitu juga dengan Revan yang menyembunyikan wajahnya di bahu Rai. Berbeda dengan Vina yang matanya biasanya redup menjadi berbinar-binar, Raka dan Rangga yang juga ikut mengalami hanya bersikap biasa saja. "Jadi, pas gue kekunci di kamar mandi itu, gue ngedenger suara orang nangis di salah satu bilik kamar mandi. Gue cek kan rupanya gak ada siapa pun, terus kayak ada yang dorong gue sampai muka gue masuk ke lobang kloset." Amira memperagakan apa yang terjadi. "Iih, jorok," sahut Fina membayangkan apa yang diceritakan Amira. "terus gak sampai di situ aja, ada yang nyiram gue pakai air bekas pelan dari atas. Dan pas gue liat itu tongnya dia melayang sendiri, gue dah ketakutan tuh. Nah, akhirnya gue keluar dari bilik itu dan ngaca, terus di kaca itu gue liat orang pakai baju putih gitu sama rambutnya hitam panjang. Pas gue liat ke belakang gak ada siapapun, gue liat lagi kacanya, kacanya udah berubah jadi item dan ada tangan yang keluar dari sana disusul sama kuku jari yang panjaaang banget. Untunglah sehabis itu gue denger suara Raka dari luar toilet." Amira mengakhiri ceritanya. Fina memeluk Yerina dengan gemetar, Yerina juga ikut memeluk Fina dengan gemetar. Revan juga ikut memeluk Rai, Rai hanya diam saja. "Menarik, hihi," komentar Vina. Dia kemudian melotot saat melihat belakang Rangga, dia melihat sosok mata bolong yang ada di rooftop tadi yang ditemui Rangga. Tidak lama, Stabi melompat dari jendela masuk ke dalam dan mengelus punggung Rangga membuat makhluk itu pergi dan seperti membuat Rangga tersadar. "Eh, kok kita di sini bukannya kita masih di sekolah tadi? Kapan pulangnya?" tanya Rangga bingung sendiri. "Hah, loe sangking takutnya sampai jadi aneh gitu, ya," jawab Amira. Raka memeriksa jidat Rangga tapi tidak panas. "Kenapa? Emang aku salah?" tanya Rangga tambah bingung, semuanya juga ikut bingung sampai tidak ada yang bisa menjawab. Tapi, semua teralihkan saat Rangga sadar ada sesuatu di belakang punggungnya yang ternyata adalah Stabi, Rangga mengambil Stabi kemudian memeluknya tapi agak menjauh begitu melihat tatapan tajam Vina. "Teru, terus, how kejadian si twins ini?" tanya Fina penasaran tapi takut. "Yee, loe mah penasaran tapi takut," cibir Amira. Fina hanya nyengir kuda. "cerita, gih Rangga." Amira menunjuk Rangga dengan dagunya. Rangga menggeleng menolak menceritakan yang dia alami di rooftop dia tidak mau mengingat lagi sosok yang mengerikan itu. "Ya, pokoknya pas gue sama Kak Amira ke rooftop Rangga udah melayang aja gitu sambil memegangi lehernya kayak kesakitan gitu," tandas Raka mengakhiri cerita yang mereka alami. Setelah itu mereka terdiam sejenak, dan kemudian bubar tanpa bersuara hanya ucapan selamat malam yang terlontar dan bersiap tidur. Semua sudah tidur, di kamar para anak lelaki Raka masih heran dengan sikap Rangga barusan. Rangga melihat ke bawah dan menatap wajah Rangga yang sudah terlelap, Raka menghembuskan napas mencoba menenangkan pikirannya dan mencoba untuk tidur. Sama halnya di tempat kamar para anak perempuan, Amira masih mencoba mencerna peristiwa hari ini dan dia baru menyadari bahwa saat dia ke sana tidak ada satpam yang menjaga pintu gerbang seperti hari-hari biasanya bahkan hari libur dan pintu itu terbuka begitu saja. Tapi, yang paling membuatnya kesal adalah Ratna dan Sela yang tega meninggalkannya bahkan meletakkan tasnya di tanah. Dengan perasaan dongkol Amira mencoba tidur dan akan menanyakan perihal ini besok kepada Ratna atau Sela. *** Amira duduk di rerumputan setelah sarapan pagi bersama, dia mengambil ponselnya dari dalam saku bajunya kemudian menelepon Ratna. Suara dering telepon berbunyi dan setelah deringan ketiga telepon itu diangkat, "Halo," jawab Ratna di seberang sana. "Halo Ratna, gue mau nanya kemarin kenapa loe sama Sela ninggalin gue pas gue lagi ke kamar mandi? Dan yang lebih parahnya lagi kalian buang tas gue di tanah." Amira mengeluarkan semua unek-uneknya. "Hah, apaan maksud loe, bukannya kemarin loe udah keluar dari kamar mandi? Terus ya udah Sela kasih tas loe, habis itu gue sama Sela cabut, " jawab Ratna jujur. Amira terdiam sejenak mencoba mencerna semua kata-kata yang terlontar dari mulut ratna. "Seriusan loe!?" tanya amira lagi memastikan dengan nada agak terkejut. "Ya iyalah ngapain gue bohong, bohong itu dosa. Kalau banyak dosa masuk neraka." "Yaudah kalau gitu gue minta maaf ya, gue udah nuduh kalian yang enggak-enggak," tutur Amira menyesal. "Santai aja, kayak sama siapa aja loe." "Yaudah, gue tutup teleponnya." "Iya," jawab Ratna. Amira pun mematikan sambungan teleponnya. Pikiran Amira jadi semakin kalut, dan ini jadi semakin aneh. Tapi, percuma juga Amira memikirkannya tidak akan ada hal logis yang bisa menjelaskan semua ini yang bisa dia dapatkan. "Hah." Amira menghela napas, dia melihat ayunan yang tidak jauh darinya di sana ada Fina yang sedang mendorong Yerina. Mereka secara bergantian menaiki ayunan dan mendorongnya, "Buat apa pula gue pusing, mungkin kemarin lagi apes aja. Yang penting keluarga gue semua sehat dan bahagia." Amira tersenyum senang melihat mereka yang sibuk sendiri-sendiri, Amira kemudian beranjak dan ikut bermain ayunan bersama Yerina dan Fina. "Nah, karena besok kita akan daftar sekolah jadi gue buat jadwal khusus." Amira membagikan selembaran berupa jadwal yang telah dia susun tadi malam. "jadi, kita kan dah pada siap-siap nih mau sholat subuh berjamaah, habis itu nanti kita akan senam. Yang jadi instruksinya adalah Revan." Amira menunjuk Revan, dan Revan melambaikan tangan seperti artis baru eksis. Dan benar saja selesai sholat semua orang dikumpulkan Amira termasuk Yusuf yang hari ini libur dan hanya ingin bermalas-malasan, mereka senam bersama dengan Revan sebagai instruktur. Dengan semangat Revan menjadi memberikan instruksi senam. Setelah itu mereka bermain sepuasnya, malamnya mereka mengulang pelajaran yang sudah mereka pelajari kemudian menyiapkan semua keperluan untuk pendaftaran besok. *** Panginya semua berangkat dengan semangat menuju ke sekolah, walaupun peristiwa beberapa hari lalu masih membekas tapi hidup harus terus berjalan. Biarkanlah hal itu sebagai pelajaran. Sesampainya di sekolah mereka menuju ke ruang aula untuk mengambil formulir pendaftaran, "Kalian ambil terus isi, ya formulirnya," jelas Amira semua mengangguk. "Amira!" panggil Ratna heboh yang bisa memekakkan telinga. Amira dan Rai menutup telinga mereka. "Kenapa? Pagi-pagi dah heboh aja," sahut Amira. "Soal yang loe nelepon gue itu," bisik Ratna. "jangan sampai Sela tau kalau gak mau jadi bahan gosip," tambahnya lagi. "Hah, iya kenapa?" tanya Amira masih tidak mengerti. "Itu, gara-gara kejadian yang loe bilang itu akhirnya gue cari tau soal sekolah ini, dan gue menemukan sepuluh misteri bisa dibilang cerita lama yang menyelimuti sekolah ini." Ratna mulai memberitahukan informasi yang telah dia cari. Jujur Amira sedikit tertarik dengan hal itu. Selanjutnya: 7 Kebenaran
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD