Jangan sendirian atau berjumlah ganjil ke tempat yang penuh dengan kegelapan dan rahasia yang tidak kamu ketahui, karena dipercaya mereka akan mengancam jiwa salah satu diantaranya.
***
Pagi ini Amira ada piket saat liburan, ya walaupun libur sekolah tapi mereka tetap harus membersihkan kelas mereka bersama teman-teman piket lainnya. Hal ini dilakukan agar walaupun liburan kelas tetap bersih dan terawat, Amira bersiap menuju ke sekolah di kala delapan s*****n lainnya bermain bersama karena hari ini mereka libur belajar dan akan diteruskan besok. "Bunda, Ayah, semuanya Amira berangkat dulu ya. Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh," pamit Amira menyelesaikan sarapannya lebih dulu.
"Wa'alaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh," jawab lainnya serentak. Delapan s*****n lainnya ikut mengantar Amira sampai pagar rumah, walaupun sarapan mereka belum selesai. Aisyah tidak bisa mencegah mereka karena mereka sudah terlanjur ada di sana, "Hati-hati ya, Kak," ujar Yerina sambil melambaikan tangan. "Iya, kalian juga jangan main yang seru-seru sebelum aku pulang." Amira melambaikan tangan juga kemudian mengayuh sepedanya. Setelah Amira tidak terlihat lagi mereka melanjutkan sarapan mereka, "Lain kali habiskan dulu sarapannya," omel Aisyah ketika mereka kembali ke meja makan. "Hehe, maaf Bunda," jawab Raka mewakili semuanya, Aisyah hanya geleng-geleng kepala.
***
Amira turun dari sepedanya sesampainya di depan gerbang, setelah itu dia membuka pintu pagar dan meletakkan sepedanya di dekat pos satpam yang berada tepat setelah memasuki gerbang jeruji itu. Amira melihat jam tangannya, "Untung gak telat," gumamnya sambil bersiap pergi ke kelasnya.
"Lha, belum pada dateng." Amira melihat kelas yang masih kosong, "ish, pasti pada ngaret nih," gerutu Amira. Daripada bosan Amira memutuskan untuk bermain ponsel saja, karena di sekolah ada wi-fi gratisnya lumayan kan bisa menghemat data internet tapi juga bisa mengunduh film yang dia mau. Tidak terasa sudah lima belas menit Amira bermain ponsel, semua film yang dia inginkan hampir semunya terunduh. "Lama banget si mereka." Amira melihat jam tangannya lagi yang sudah menunjukkan pukul delapan pagi.
Kemudian tidak lama suara langkah kaki yang gaduh terdengar mendekat, "Ish, telat kalian! Lima belas menit!" protes Amira dengan wajah cemberut, dia meletakkan lipatan tangan di depan d**a sambil menghentak-hentakkan kaki ke ubin lantai. "Ya, sori. Habis gue jemput mereka satu-satu," jawab Ratna--salah satu teman sekelas Amira yang berambut pendek. "Lagian, loe si gercep amat datengnya," timpal Sela. "Ya, penting gak ngaret kayak kalian!"
"Udah-udah, ngapa pada begado enakan makan gado-gado," lerai Rahlan. "Garing, candaan loe," sahut Ridho. "udah cepetan ayo kita beresin ni kelas terus pulang, gue mau cari cewek lagi," timpal Ridho lagi. Setelahnya semua bergegas membagi tugas, Ridho dan Rahlan mengangkat semua kursi ke atas meja, kemudian mengambil air dan membuang sampah. Sedangkan Amira, Sela, dan Ratna menyapu, dan mengepel seluruh kelas.
Setelah selesai mereka bergegas mengunci pintu kelas. Amira malah berbelok ke toilet "Gue mau pipis dulu, ya dah kebelet ni," ujar Amira. "oh, iya titip tas." Amira memberikan tas kepada Ratna kemudian pergi berlalu. Amira menuju toilet yang ada di dekat kelasnya tapi ternyata toilet itu sedang dalam perbaikan, terpaksa Amira menuju toilet yang berada di lantai dua dan jarang dipakai. Saat mau memasuki pintu toilet Amira melihat sekelebat bayangan hitam dan seperti rambut yang di kibaskan ke arah wajahnya. "Gak mungkin pagi-pagi ada hantu," ujar Amira dalam hati meyakinkan dirinya sendiri.
Sesudah selesai Amira berkaca dan tidak sengaja melihat seseorang berpakaian putih, saat Amira membuka kenop pintu, pintu itu tidak bisa dibuka. "Ish, apalagi si ini, oh iya hp, hp." Amira mencari ponsel di kantung celananya tapi kemudian dia menepuk jidatnya sendiri dan baru teringat bahwa ponselnya dia letakkan ke dalam tasnya dan tasnya dia titipkan ke Ratna. Amira menghembuskan napas kesal. Dia mencari cara keluar dari toilet.
***
"Lama bener si Amira ke toilet," gerutu Sela yang menemani Ratna menunggu Amira, tidak lama Amira keluar dan menemui Ratna juga Sela. "Lama, bener. Nih tas loe." Sela langsung memberikan tas Amira kemudian pergi sambil merangkul Ratna. Setelah mereka pergi tas itu jatuh dengan sendirinya dan sosok Amira hilang begitu saja.
Akhirnya Amira mencoba merusak pintu sekolah dengan sapu dan alat pel yang ada di sana, tapi niat itu dia urungkan dia takut kalau harus disuruh ganti rugi dan menyusahkan Yusuf, Aiysah juga lainnya. Akhirnya Amira hanya menunggu dengan pasrah sampai satpam mengecek semua ruangan sore nanti.
Waktu begitu lama berlalu, Amira bagaikan di penjara. Dia sangat lapar dan haus, kemudian dia melihat sebuah jendela kecil untuk ventilasi dan mencoba keluar lewat sana, tapi niat itu lagi-lagi dia urungkan badannya terlalu gemuk untuk melewati ventilasi. "Tolong hambamu, Ya Allah." Amira mengadahkan tangannya meminta pertolongan pada sang pencipta semesta alam.
"Astagfirullah." Aisyah melihat jarinya yang teriris pisau, dia kemudian mengambil perban luka dan menempelkannya. "kenapa perasaan aku gak enak ya?" tanya Aisyah pada dirinya sendiri. "Bunda, Kak Amira kok belum pulang, ya?" Tiba-tiba Yerina masuk ke dalam rumah sambil bertanya, "perasaan Yerina gak enak, Bunda," kata Yerina jujur. Aisyah mengelus rambut Yerina, "Sama, Sayang. Perasaan Bunda juga gak enak," sahut Aisyah.
"Apa gak sebaiknya kita jemput Kak Amira di sekolah Bunda takutnya ada masalah," ujar Raka yang mendengar percakapan Yerina dan Aisyah. "Tadi Rangga lihat teman-teman Kak Amira udah pada pulang, Bunda," timpal Rangga. "kamu yakin, Ngga?" tanya Raka memastikan, Rangga mengangguk. "Tapi kayaknya tadi aku gak liat apapun." Raka mencoba mengingat. "aku lihat kok mereka pas ngambil bola tadi di jalan raya seberang sana." Rangga berkata lagi mencoba meyakinkan.
"Kalau gitu, Raka sama Rangga susulin ya, Bunda." Raka melihat ke arah Aisyah yang terlihat sangat gelisah, Raka tau Aisyah tidak bisa pergi karena harus menyiapkan makan malam dan dia juga tidak bisa menaiki mobil atau sepeda motor. "Aku ikut," ujar Rangga mengikuti Raka. "Kita pergi, Bunda Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh," pamit Raka dari halaman rumah dan sudah bersiap mengayuh sepedanya. "Wa'alaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh," sahut Aisyah dan Yerina bersamaan. "hati-hati, ya. Kalau ada apa-apa jangan lupa telepon!" teriak Aisyah saat mereka sudah melewati pagar rumah. "Siap, Bunda!" teriak Raka yang sedang dibonceng Rangga, Raka melihat ke belakang sambil melambaikan tangannya.
***
Sesampainya di depan gerbang, mereka langsung membuka gerbang yang tidak dikunci itu. "Lha, ke mana Pak satpamnya?" heran Raka sambil masuk ke dalam. "lho, ini kan sepeda Kak Amira." Raka memegang sepeda Amira dan mengamatinya dengan teliti. Rangga berlari dan mengambil tas Amira yang tergeletak di tanah, "Ini tasnya." Rangga menunjukkan tas Amira pada Raka, Raka hanya mengangguk. "Ayo, kita masuk, kamu bawa tas Kak Amira." Mereka kemudian masuk ke dalam, Rangga menyelempangkan tas itu ke bahunya.
"Kita, cari aja di sekitaran kelas sebelas," cetus Raka memberikan instruksi, Rangga mengangguk kemudian mereka berdua memeriksa semua kelas tapi semuanya dikunci, dan mereka hanya melihat dari balik jendela tapi tidak ada siapa pun. "kita ke lantai atas." Raka menunjuk ke arah atas. "Memang ngapain Kak Amira ke lantai Atas?" tanya Rangga heran. "Ya kan siapa tau dia ada di sana," jawab Raka sembari menaiki satu per satu anak tangga.
Sesampainya di atas mereka celingak-celinguk, "Eh, bentar." Rangga berhenti berjalan begitu juga degan Raka. Rangga seperti mendengar sesuatu dari rooftop dan kamar mandi "Kamu periksa kamar mandi aku periksa rooftop soalnya aku denger suara dari keduanya," jelas Rangga mereka kemudian berpencar.
Sesampainya di rooftop Rangga tidak melihat ada siapa pun hanya angin kencang saja, mungkin dia salah lihat. Tapi, baru saja dia ingin turun tubuhnya seperti dihempas sesuatu sampai dia hampir jatuh dari pagar pembatas yang ada di rooftop itu, Rangga berdiri dengan agak sempoyongan sepertinya dia menghantam pagar besi itu cukup keras dan membuat pelipisnya berdarah. Mata Rangga terbelalak melihat sesosok makhluk tanpa mata yang ada di depannya, sosok itu meraba-raba sekitar karena tidak bisa melihat. Rangga menutup mulutnya dengan kedua telapak tangan agar tidak bersuara, dia berjalan perlahan menuju pintu keluar, tapi dia menendang sebuah kaleng kosong membuat sosok itu pergi ke arah Rangga dan mencekiknya.
"Rangga!" Amira memeluk Rangga yang tubuhnya sudah melayang di bawa makhluk itu, dibantu Raka akhirnya Rangga jatuh ke bawah. Sosok itu kemudian pergi begitu saja setelah melewati dinding, "Untunglah kita gak terlambat." Raka mengelap keringat dengan punggung tangannya. "Kakak, kenapa kok penampilannya gitu?" tanya Rangga yang melihat Amira basah kuyup. "udah ceritanya nanti aja, yang penting sekarang kita keluar dari sekolah ini dulu." Mereka kemudian berlari dengan sisa tenaga yang ada dan dengan cepat menyambar sepeda, menaikinya, kemudian mengayuhnya menjauhi sekolah itu.
Selanjutnya: Sepuluh Misteri