Impian adalah tujuan yang bisa menjadi kegelapan.
***
Delapan s*****n terlihat sibuk belajar di ruang keluarga, Amira mangajari mana yang tidak mereka pahami sedangkan Rai yang malas bicara menjadi pembagian pengkoreksi soal yang sudah dikerjakan. Mereka berusaha keras agar diterima di SMA yang sama yang selama ini mereka impikan, Amira dan Rai sudah bersekolah di sekolah itu dan sudah kelas dua SMA. Sedangkan yang lainnya tahun ini akan mendaftar ke SMA yang sama agar dapat bersama, sama seperti waktu sekolah dasar dulu.
Aisyah sangat senang melihat kesungguhan mereka, dia sering membuatkan camilan dan s**u cokelat agar semua tambah semangat, tidak jarang dia memberikan hadiah berupa semua kue yang baru dia panggang bagi siapa saja yang bisa menjawab pertanyaan darinya. Tentu saja pertanyaan itu dia buat dan rundingkan dengan Amira dan Rai, terkadang mereka juga dibagi menjadi dua kelompok dan yang menang bisa mendapatkan hadiah berupa kue-kue kering yang telah dibuat. Sungguh sangat menyenangkan belajar dengan cara demikian untuk mereka.
"Break, yuk capek nih," keluh Fina sudah tidak kuat meneruskan sesi belajar kali ini, otaknya seperti sudah dipenuhi asap. Semuanya mengangguk dan setuju untuk istirahat sebentar, "holiday kita hanya diisi dengan study." Fina tidur di lantai sambil merentangkan tangannya. "Jangan ngeluh mulu, emang mau gak satu sekolah sama kita?" tanya Amira. "Ya, maulah," jawab Fina cepat. "si Stabi aja rajin nemenin kita belajar masa kalah si," ejek Amira lagi, Fina hanya memasang wajah cemberut. "ya kali gitu aku sama Stabi same, eh but gapapa si kan si Stabi cute berarti aku juga." Fina memonyongkan bibirnya berpose sok imut. "Iyain aja udah biar seneng," ujar Raka. "Ih, sirik." Fina mengulurkan lidahnya.
"Tapi, iya juga masa kita gak pernah keluar, kita kan juga udah belajar terus-terusan." Kali ini Revan bersuara, sambil mengangkat barbel miliknya. "Gimana kalau kita ke taman lagi?" usul Amira. "Bosen," jawab Fina. "Kalau liat sekolah yang nanti jadi sekolah kita gimana?" tanya Yerina. "good idea, hayuk gaslah." Fina hendak berjalan pergi untuk mengambil sepedanya tapi dengan cepat Revan menahannya.
"Mau ke mana?" tanya Revan.
"Ambil sepeda," jawab Fina polos.
"Beresin dulu sisa makanan kamu yang berserakan dan buat jijik itu, jorok banget," titah Revan si pecinta kebersihan.
"Ehe, iya ready boss," jawab Fina sambil nyengir kuda.
***
"Boleh, tapi perginya bentar aja, ya soalnya udah sore juga," ujar Aisyah saat mereka berpamitan mau melihat SMA Langgar Jaya--SMA impian mereka yang nantinya mau mereka masuki bersama-sama. "Baik, Bunda," jawab Amira sambil menghormat seperti biasanya. Setelah mengucapkan salam dan mencium tangan mereka kemudian pergi, "Gak ada yang ketinggalan di rumah kan? Biar si Stabi gak dibuang lagi," tanya Amira bermaksud menyindir Vina, tapi yang disindir tidak merasa sama sekali. Amira masih jengkel dengan kejadian tempo hari.
"Wah, besar banget," ujar Raka takjub dengan gedung sekolah yang ada di hadapan mereka saat ini. Pagarnya hitam menjulang tinggi, gedungnya juga besar dengan fasilitas lengkap termasuk kolam berenang. "Eeh, wait." Fina langsung mengeluarkan ponselnya, "wah, ada wi-finya!" seru Fina kegirangan. Semua sontak mengambil ponsel mereka juga, dan mereka bersama-sama bermain wi-fi yang tidak ada kata sandinya di sana. Ada yang mengunduh permainan, film, melihat sosial media dan lainnya. Masih asyik bermain ponsel tiba-tiba ada sekelebat bayangan yang terlihat pengelihatan Yerina walau tidak jelas juga, perhatiannya beralih dari ponsel ke halaman sekolah yang bisa dilihat dari pintu gerbang berjeruji itu.
Yerina tersentak kaget tapi tidak ada yang menyadarinya karena semua sibuk bermain ponsel, Yerina melihat banyak asap hitam di sana, tanahnya juga diselimuti oleh kabut hitam pekat. "Pulang, yuk, nanti kita dicariin Bunda," ujar Yerina tidak suka dengan hawa yang ditimbulkan kabut dan asap hitam itu rasanya tidak enak, hal itu membuat hatinya menjadi gelisah. "Bentar, dikit lagi nih film aku selesai diunduh," sahut Vina sambil melirik sekilas ekspresi Yerina yang seperti ketakutan. "Aku, juga," timpal Raka. "Sabar, ya Yerina dikit lagi." Amira juga ikut bersuara sambil membentuk jarinya mengisyaratkan sedikit.
Yerina mengangguk walau merasa takut, kemudian perhatian Yerina teralihkan lagi oleh sesuatu yang bergerak di balik asap dan kabut hitam itu. Hal itu sukses membuat Yerina terjatuh dari sepeda, "Eh, kenapa?" tanya Amira yang juga hampir ikut terjatuh, Yerina hanya menggeleng. "tapi kok kayak ketakutan gitu?" tanya Amira memastikan, lagi-lagi Yerina hanya menggeleng. Lidahnya keluh untuk berbicara apalagi menjelaskan apa yang dia lihat, sosok itu hanya memandangi Yerina.
"Lha, itu bukannya Stabi?" tanya Revan dengan heran sambil menunjuk ke arah sosok yang tadinya dilihat Yerina. "Lha, iya kok dia ada di dalam sekolah si?" Raka ikut bertanya. Rangga langsung turun dari sepeda dan mencoba memancing Stabi agar keluar dari sana, "Stabi, pus, pus, sini keluar." Stabi menurut dan keluar dari celah pagar. Rangga langsung menggendongnya.
"Apa dia ngikuti kita ya?" tanya Revan menduga-duga.
"Bisa jadi sih," sahut Raka.
"Jadi, t*i loe jatuh dari sepeda karena kaget liat si Stabi?" tanya Amira pada Yerina, Yerina hanya mengangguk saja walau bukan Stabi yang dia lihat.
***
"Apa aku salah lihat, ya?" tanya Yerina dalam hati dengan gelisah, dia tidak bisa tidur karena memikirkan apa yang dia lihat di sekolah tadi. "tapi, aku yakin aku gak salah lihat." Dan lagi Yerina meyakinkan dirinya bahwa apa yang dia lihat itu nyata.
Yerina spontan membuka selimut yang menutupi kakinya sambil berdiri, "Apa mungkin ...." Yerina menggeleng-gelenggkan kepalanya, "gak-gak mungkin."
"Tapi ...." Sekarang Yerina mondar-mandir ke sana-ke mari seperti setrikaan. "tapi, kok bisa?" Yerina mengetuk-ngetukkan jari telunjuknya ke dagu sambil berpikir.
"Hmm." Yerina terduduk di ranjangnya, memikirkan apa yang dia pikirkan. Yerina berpikir bahwa Stabi adalah sosok jelmaan makhluk yang Yerina lihat di sekolah, sosok yang dilihat Yerina adalah makhluk yang membunuh orangtua Yerina dulu membuat dirinya terkejut dan jatuh dari sepeda. Tapi, dia tidak yakin karena selama Stabi ada di sini tidak ada yang mengusik mereka bahkan kejadian aneh pun tidak ada, jika benar Stabi adalah sosok makhluk itu pastilah dia akan mengganggu bahkan mau mencelakakan Yerina seperti orangtuanya dulu.
Yerina masih asyik termenung, sampai pandangannya teralihkan ke ranjang Vina. Vina ternyata sedang tersenyum sambil memperhatikan dirinya, segera Yerina menutupi seluruh tubuhnya dengan selimut. Dia sangat merinding melihat senyum Vina yang seperti joker itu.
***
"Aku melihatnya, Tuan. Tidak salah lagi dia yang kita cari," ujar penjaga sabit kepada seorang pria yang duduk di singgasana layaknya raja itu.
"Bagus, sepertinya semua berjalan mulus," ujarnya sambil menyeringai senang.
"Tapi ...." Penjaga sabit hendak melapor lagi, tapi tidak jadi dia langsung menghilang menuju gua pengumpul untuk melihat seberapa banyak kekuatan yang sudah terkumpul.
Selanjutnya: Sendirian