Aku selalu membenci sama seperti dia benci saat melihatku.
***
Semua mengikuti Rangga ke arah got itu, Rangga langsung masuk ke got itu dan menyelamatkan anak kucing berwarna hitam itu, bajunya juga jadi kotor. "Ih, imutnya," ujar Amira. "ayo, kita bawa pulang," tambah Amira lagi dan semuanya setuju. "Eh, bentar how kalau Bunda gak agree?" tanya Fina takut tindakan mereka salah lagi, karena akhir-akhir ini mereka memang melakukan banyak perbuatan yang salah. "Aku yakin gak gitu kok, kan kata Bunda menolong sesama makhluk ciptaan Allah itu perbuatan baik." Kali ini Yerina angkat suara untuk menjawab keraguan Fina. "hmm, i think kamu bener, kan kita help ini cat."
"Kasian dia gak punya orangtua kayak kita," ujar Rangga dengan nada sedih, Rangga masih setia menggendong kucing itu di dalam pelukannya. "Yaudah, ayo pulang nanti Bunda khawatir." Revan memecah suasana sedih yang tiba-tiba datang. Mereka pun bergegas menaiki sepeda masing-masing, kali ini Raka yang membonceng Rangga.
"Liat, tuh SMA yang akan gue dan Rai masuki." Amira menunjuk SMA yang mereka lewati di dekat taman. "Wah, kalau gitu kita all harus masuk itu school," ujar Fina dengan mata berbinar. "iya, harus biar kita sama-sama SMA nya dan itu juga SMA terbaik di daerah kita." Amira tersenyum membayangkan mereka akan bersekolah bersama lagi setelah saat SMP mereka berpisah sekolah. "Semangat!" seru Fina mengangkat kepalan tangannya ke udara, "eeh!" seru Fina panik karena sepedanya bergoyang hampir jatuh, Amira, Raka, Rangga, dan Yerina yang melihat itu tertawa renyah.
Sesampainya di rumah mereka segera memarkirkan sepeda mereka di bagasi, "Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh, Bunda." Amira memberikan salam sambil masuk ke dalam disusul yang lainnya. "Wa'alaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh," jawab Aisyah dari dapur. "lho kok Rangga bajunya kotor banget, bau juga." Aiysah menutup hidungnya dan memperhatikan Rangga dari atas ke bawah, kemudian matanya tertuju pada seekor anak kucing hitam yang Rangga peluk. "Iya, Bunda soalnya tadi Rangga help kucing dari got yang di park, Bunda," jawab Fina menjelaskan. Aisyah mengangguk mengerti.
"Yaudah, kalau gitu Rangga mandi dan ganti baju, terus kucingnya juga dibersihkan ya." Rangga mengagguk kemudian langsung menuju ke kamar mandi, "yang lainnya siap-siap buat sholat yang gak sholat Bunda minta tolong belanja ya, Bunda udah buat daftarnya." Aisyah mengambil sebuah buku kecil yang berupa catatan apa saja yang harus dibeli. "Vina, Revan, Bunda minta tolong, ya." Aisyah menyerahkan catatan itu kepada Revan, Revan segera mengangguk dan kembali menuju bagasi untuk mengambil sepeda diikuti Vina. "lho, yang lainnya kok masih di sini? Gak siap-siap mau sholat, bentar lagi adzan dzuhur lho." Aisyah menatap Amira, Yerina, Rai, Raka, dan Fina secara bergantian.
"Itu, Bunda ...." Raka mulai berbicara dengan ragu. Aisyah mengerutkan dahi, berpikir mereka akan mengatakan kesalahn yang mereka perbuat lagi entah kesalahan apa kali ini. "Kita mau ngurus kucing itu, Bunda boleh gak?" akhirnya Amira bertanya pertanyaan yang ada di benak semua anak yang ada dihadapan Aisyah itu. Aisyah tersenyum dia kira mereka membuat kesalahan lagi, "Astagfirullah, Bunda jadi suudzon. Bunda kira kalian buat salah lagi." Aisyah tertawa. "boleh, aja kalau kalian mau pelihara kucing itu. Tapi, ingat harus bertanggung jawab, kasih makan, ajak main, pokoknya disayang," jelas Aisyah. "Siap, Bunda, terimakasih Bunda." Mereka kemudian berlari menuju kamar masing-masing untuk bersiap-siap sholat dzuhur.
Rangga tercengang sejenak saat di menyadari bahwa di dahi kucing itu ada tanda seperti bintang. "Rangga!" Raka menepuk bahu Rangga membuat Rangga berpaling menatapnya, "kata Bunda kita boleh pelihara kucing ini asal kita tanggung jawab, kasih makan, ajak main, pokoknya disayang." Raka menjelaskan persis seperti yang dikatakan Aisyah. Rangga tersenyum senang melihat hal itu, baru hendak Raka ke kamar mandi dia berhenti lagi untuk melihat kucing yang telah bersih dimandikan oleh Rangga itu. "Dahinya ada bentuk bintangnya," celetuk Raka, Rangga hanya mengangguk. Rai ikut mendekat dan memperhatikan dahi kucing itu, "yaudah ayo kita siap-siap buat sholat dzuhur nanti kota kasih makan," tamabah Raka lagi kemudian berlalu. Rai menunggu Raka selesai mandi kemudian bergantian, Rangga menurunkan kucing itu. "Tunggu kita di sini selesai sholat, ya," ujar Rangga kepada si kucing, dia kemudian bersiap memakai baju kokoh dan pecinya.
Selesai sholat depalan s*****n berkumpul di ruang keluarga sambil menunggu Rangga membawa kucing itu, "Wah, ada tanda bintang di dahinya." Amira menyeletukkan hal yang sama, semua mengangguk. "Ayo, kita kasih eat!" seru Fina semangat. "Udah dibeli kan makanan kucingnya, Van?" tanya Amira kepada Revan, "Udah, sebentar aku ambil dulu." Revan menuju ke dapur dan mengambil makanan kucing yang tadi dia beli. Kucing itu makan dengan lahap dan semua memperhatikannya dengan mata berbinar, lain halnya dengan Vina yang sama sekali tidak mau melihat kucing itu.
"Kita kasih name siapa, ya ini cat?" tanya Fina tiba-tiba. "Ceri," celetuk Raka asal. "Dikira hiasan kue apa?" Amira tidak setuju. "Neko," timpal Revan. "yeee, itu mah bahasa jepangnya kucing," balas Amira lagi. "Stabi," celetuk Yerina. "Kenapa?" tanya Amira ingin tau. "karena starblack ya walau gak ada huruf i nya si harusnya, ehe kan di dahi dia ada bintang terus dia warnanya hitam," lanjut Yerina menjelaskan. "Setuju!" seru semuanya tanpa diminta. Jadi, resmilah bahwa nama kucing itu adalah Stabi, Stabi yang semula makan saat diberi nama itu langsung mengeong seperti senang.
***
Vina keluar dari kamar dan tidak sengaja berpapasan dengan Stabi--kucing hitam yang tempo hari mereka pelihara. Vina menatap tajam kucing hitam yang diberi nama Stabi itu, kucing itu juga mengisyaratkan ketidak sukaan dengan bulunya yang naik ke atas semua dan dia mengeluarkan suara seperti mendesis, Amira langsung mengambil kucing itu dari hadapan Vina dan meletakkannya di dapur dengan Aisyah yang sedang menyiapkan sarapan. "Kenapa si Stabi benci banget sama Vina?" tanya Amira dalam hati tanpa adanya jawaban.
Stabi ikut sarapan bersama mereka, tentu saja tidak berhadapan dengan Vina. "Eat yang banyak ya Stabi." Fani mengelus bulu hitam lembut milik Stabi. "Eh, iya gue lupa nanya loe gak dicakar Ngga pas mandiin si Satabi?" tanya Amira pada Rangga yang memang bertugas memandikan Stabi, Rangga hanya menggeleng singkat. Stabi tidak pernah menolak untuk dimandikan, malah kadang dia langsung ke kamar mandi dan masuk ke bak saat bulunya ada yang kotor membuat Rangga dan lainnya terkadang was-was.
Amira hanya mengangguk singkat pertanda dia mengerti dan tidak ada masalah, kasian juga jika Rangga sering kena cakar karena memandikan si Stabi seperti kucing pada umumnya. "Yang penting jangan pernah deketin dia sama aku," ujar Vina bersuara sambil menatap Stabi tajam, Stabi juga ikut menatap tajam Vina dengan bulu yang berdiri dan cakar yang dikeluarkan. Vina langsung berdiri dan pergi lebih dulu tanpa suara, suasana jadi tidak enak. Asiyah yang sedari tadi melihat hal itu juga bingung harus berbuat apa, mungkin memang Vina tidak suka hewan peliharaan ataupun kucing.
"Bunda, kita berangkat dulu. Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh," ujar Amira sambil mencium tangan Aisyah. Yang lainnya juga mengikuti sambil mengucap salam, "Pergi, Bunda." Revan yang terakhir ikut menyalami. "Wa'alaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh, hati-hati." Aisyah mengantari sampai depan pintu dan menunggu mereka tidak terlihat lagi saat menaiki sepeda.
Sepulang sekolah Vina langsung masuk ke dalam tanpa bersuara, dia melihat keadaan sekitar sepertinya Aisyah sedang ada di kebun belakang. Vina masuk ke dalam kamar, dia sengaja bolos hari ini karena dia ingin melakukan sesuatu. Dia mencari Stabi dan ternyata Stabi ada di ruang keluarga sedang tidur dengan pulasnya, Vina langsung memasukkan Stabi ke karung. Stabi meronta-ronta dan mencakar karung itu membuatnya bolong di sana-sini, "Aku benci kamu, kamu mengusir semua temanku," geram Vina sambil melihat karung itu. Dia kemudian meleparkannya sembarangan dari pagar rumah.
Saat yang lainnya pulang mereka melihat sebuah karung yang berlubang dan bergerak-gerak karena penasaran jadi mereka membuka karung itu dan mereka terkejut karena ada Stabi di sana. "Siapa yang buang Stabi?" tanya Amira kepada semuanya, tidak ada satu pun yang menjawab. "Mungkin Vina, kan dia gak ada juga dia benci sama si Stabi," lontar Raka tiba-tiba. "Hus, gak may suudzon," sahut Fina.
Mereka segera memasuki rumah setelah mengucapkan salam, kemudian menuju ke kamar dan di sana ada Vina yang sedang diam saja sambil menatap lurus ke depan. Vina langsung menatap mereka tajam saat mereka masuk ke dalam kamar, "Kamu buang Stabi ya?" tanya Amira tanpa basa-basi. "Iya," jawab Vina singkat tanpa rasa berdosa. "kenapa?" tanya Amira lagi, "karena aku benci dia." Vina mantap Stabi tajam bulu Stabi langsung berdiri dan cakarnya keluar sampai mengenai Rangga yang membawanya.
"Pokoknya, jangan sentuh Stabi lagi! Kita tuh sayang sama dia. Kalau kamu benci sama dia gak usah dideketi, udah kan! ayo kita obati, luka loe Rangga." Amira langsung pergi diikuti yang lainnya. "Ish." Vina mendesis, "dasar makhluk menjijikkan," gumamnya dengan hati penuh amarah.
Selanjutnya: SMA yang sama