Hewan mempunyai indra yang lebih tajam saat mengetahui mereka yang tidak terlihat.
***
"Iya, kita tau kita salah tapi kita ngelakuin ini karena kita pengan bantu Ayah sama Bunda," ujar Amira mulai menjelaskan.
"Membantu apa!?" geram Yusuf.
"Kita cuma mau bayar uang sekolah biar Ayah sama Bunda gak kesusahan, terus juga kita pengen punya hp kayak anak-anak lainnya dan bukan hp bersama. Kita juga gak mau uang jajan kita dikurangin terus sama Bunda, walau niat Bunda baik itu untuk tabungan kita. Tapi kita juga pengen jajan di luar kayak anak-anak lainnya." Akhirnya Amira bisa mengeluarkan unek-unek yang selama ini dia pendam. Yusuf melihat ke arah Aisyah, dia tidak tau bahwa selama ini uang jajan mereka dipotong untuk tabungan. Aisyah juga tidak menyangka banyak unek-unek yang dipendam Amira dan anak-anak lainnya selama ini.
"Bunda, apa maksud ucapan Amira Bunda?" tanya Yusuf pada Aiysah.
Aisyah menundukkan kepalanya, "Iya, Ayah memang benar Bunda ngurangin uang jajan mereka untuk ditabung," jawab Asiyah. Yusuf terduduk, dia mencoba meredam emosinya sambil beristigfar. Memang Yusuf memberikan kepercayaan penuh pada Aisyah untuk mengatur keuangan tanpa menanyakan apapun, tapi tidak dia sangka hal ini akan menimbulkan masalah.
"Baik, kalau gitu berapa uang yang tersisa kita akan kembalikan." Yusuf memijit batang hidungnya dia sangat pusing hari ini. "sisanya akan Ayah cicil," tanda Yusuf sambil berdiri.
"Tapi, Ayah kita gak perlu ganti uang ini karena kan ini uang sumbangan apalagi dari Paman dan Bibi Yerina," cicit Amira tidak berani menatap wajah Yusuf maupun Aisyah, yang lainnya mengangguk tapi sambil tertunduk.
Yusuf berjongkok, dihadapan mereka. "Anak-anak selama masih mampu Ayah dan Bunda gak mau nerima bantuan dari orang lain bukan karena kami sombong tapi kami mau berusaha maksimal dulu. Itu juga salah satu alasan Bunda sama Ayah gak mau nambah anak lain lagi, karena kami mau semua perhatian kasih sayang dan semua yang bisa kami berikan ke kalian," jawab Yusuf sambil tersenyum. "sudah, ya kita akhiri saja perbincangan kita jangan diulangi lagi." Yusuf mengelus rambut mereka secara bergantian satu per satu.
Mereka kemudian bubar dengan keadaan kalut masing-masing, Yusuf memberikan isyarat kepada Aisyah untuk mengikutinya. Mereka kemudian membicarakan sesuatu di dalam kamar mereka, sedangkan delapan s*****n dengan wajah murung duduk di rerumputan halam depan.
Makan malam tiba, semuanya hanya terdiam. Tidak ada suara apapun, hanya sunyi yang menyelimuti, tapi sunyi kali ini sangat berbeda dari biasanya. Selesai makan Amira dan yang lainnya membersihkan meja makan dan juga mencuci piring. "Ke sini sebentar kumpul semua," titah Yusuf memecah keheningan. Semuanya kembali ke meja makan seperti semula.
"Bunda, dan Ayah udah diskusi dan mulai saat ini kami janji gak akan pernah potong uang jajan kalian bahkan untuk alasan menabung tanpa seizin kalian," tutur Yusuf memulai apa yang ingin dia sampaikan terkait permasalahan siang tadi. "dan juga kalau kalian ada merasa keberatan atas suatu keputusan yang Bunda dan Ayah ambil jangan ragu untuk kalian utarakan ya, Ayah gak mau kejadian yang sama terulang lagi," jelas Yusuf dengan tegas. Semua menundukkan kepala semakin dalam.
Senyap kembali, Yusuf memberikan kesempatan pada mereka untuk berbicara. "Ayah, gapapa kok uang jajan Yerina dipotong. Yerina gak akan protes lagi," kata Yerina sambil berdiri. "Iya, Ayah kita salah, Yah dan kita egois," tambah Amira. "Maafin kita, Ayah, Bunda." Raka ikut bersuara.
"Udah, gapapa, lagian ini adalah tanggung jawab kami sebagai orangtua kalian, permasalahan ini Ayah dan Bunda anggap selesai," ujar Yusuf kemudian, dan begitulah akhirnya semua membaik seperti semula dan malah hal itu mempererat hubungan mereka.
***
Hari ini adalah hari minggu dengan semangat Amira bangun dan bersiap-siap, "Wah, semangat sekali hari ini ya Amira, Sayang," ujar Aisyah sembari tersenyum. "Iya, dong Bunda," jawab Amira penuh semangat.
Setelah Amira bersiap dia kemudian membangunkan delapan s*****n lainnya, Amira suka hari minggu karena dia bebas bermalas-malasan seharian setelah mengerjakan pekerjaan rumah. Tapi, untuk hari ini beda ceritanya, Amira dan lainnya tidak akan bermalas-malasan tapi akan pergi ke taman untuk piknik bersama. Tapi, sayangnya Aisyah dan Yusuf tidak bisa ikut karena ada acara hari ini.
Setelah sholat berjamaah bersama, sarapan mereka kemudian menyiapkan semua bekal dan perlatan yang diperlukan, seperti makanan, tikar, dan juga keranjang untuk tempat bekal mereka. "Ayo, kita berangkat!" seru Raka dengan semangat sambil melayangkan tinjunya ke udara.
"Eh, salamnya mana?" tanya Aisyah.
"Oh, iya. Hehe." Raka nyengir sambil menepuk jidatnya.
"Pergi dulu, Bunda, Ayah, Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh," pamit semuanya secara bersamaan. Kemudian mengayuh sepeda mereka.
"Pergi, Ayah, Bunda," pamit Revan juga dan menjadi yang terakhir.
"Wa'alaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh, hati-hati," ujar Aisyah dan Yusuf bersamaan.
Mereka memang berboncengan satu sama lain, sepeda Rai dikaitkan dengan gerobak kecil untuk membawa perlatan piknik mereka hari ini. Amira dengan Yerina, Raka dengan Rangga, Revan dengan Fina, dan tidak ada yang berboncengan dengan Vina. Dia menaiki sepeda sendiri.
Setelah sampai di taman yang agak jauh dari keramaian jalan raya mereka mencari tempat parkir sepeda dan memarkirkan sepeda mereka. Fina langsung berlari mencari tempat untuk mereka. Rai, Revan, dan Amira membawa perlengkapan piknik mereka.
Here, here!" seru Fina sambil melambaikan tangannya setelah menemukan tempat yang cocok untuk mereka. Mereka segera berjalan ke arah Fina dan menggelar tikar, dan meletakkan keranjang bekal di tengah-tengah mereka.
"Nah, kalian boleh main ponsel tapi batas waktunya lima belas menit aja, kalau lebih gak boleh karena itu sama aja kalian mau main ponsel, dan kalau kalian mau main ponsel ...."
"Iya, iya understand kita," kata Fina memotong penjelasan panjang kali lebar milik Amira. Semuanya kemudian bermain ponsel, dan mencari sesuatu yang menarik untuk difoto. Amira mengawasi mereka saat Aisyah dan Yusuf sedang tidak bersama mereka, sedangkan Vina terlihat tidak bersemangat dan hanya memasang wajah lesu. Sedangkan Rai alih-alih dia mengeluarkan ponsel dia malah mengeluarkan sebuah buku untuk menggambar pemandangan sekitar.
"Loe, kenapa si Vin kok kayaknya gak seneng gitu? tanya Amira. "pantesan aja kulit loe pucet kurang kena sinar matahari, ya," sindir Amira yang hanya menerima balasan berupa tatapan tajam dari Vina.
"Ayo, kita foto. Satu, dua tiga." Yerina dan Fina berpose mereka berswafoto berdua.
"Sini, kumpul lagi udah waktunya makan nih," teriak Amira memanggil semuanya. Semuanya langsung kembali dan menyimpan ponsel mereka masing-masing. Amira kemudian menata bekal mereka, dan mereka makan bersama. Di seberang mereka terlihat sebuah keluarga kecil yang sangat bahagia, membuat mereka sedih. Amira yang menyadari itu mengalihkan perhatian mereka, "Mumpung di sini ayo kita foto bareng." Amira mengeluarkan ponsel miliknya.
"Satu, dua, tiga." Amira memberikan aba-aba dan semua berpose kecuali Vina dan Rai yang hanya memasang wajah datar. "Ih, apaan you take gambarnya jelek," komentar Fina setelah melihat hasil jepretan Amira. "Mungkin karena dia pendek kali," ejek Raka sambil tertawa.
"Apa, loe bilang!?" Amira melotot.
"Ampun, bos." Raka menyatukan kedua telapak tangannya di depan d**a.
"Udah, biar aja Kak Rai atau Revan yang take gambarnya kan mereka tinggi," usul Fina. Akhirnya Revan mengambil ulang gambarnya. "Nah, ini baru nice," komentar Fina saat melihat hasil jepretan dari Revan.
"Eh, liat deh gedung yang bertingkat itu." Amira menunjuk sebuah gedung bertingkat yang bisa dilihat dari taman itu. Mereka semua melihat ke arah gedung itu, "Iya, ya itu gedung apa ya?" tanya Raka.
"Itu, gedung SMA Langgar Jaya. SMA yang terkenal di sini, mau gak kita sekolah bareng di sana?" tanya Amira kepada semuanya, semuanya mengangguk dengan semangat.
"Iya, ya kan pas SMP kita gak together sekolahnya," kata Fina.
"Tapi, di sekolah itu ujian seleksi masuknya ketat banget. Jadi kalian harus berusaha keras, nah mulai liburan nanti kita bakalan belajar," celetuk Amira memberikan gambaran. "ayo, kita pulang bentar lagi dzuhur nih dan kita sholat bareng berjamaah di rumah aja," ujar Amira sembari memasukkan tempat makanan yang sudah kosong ke dalam keranjang. Semuanya berdiri dan ikut merapikan.
Mereka kemudian menuju ke parkiran, tidak lama Rangga berhenti berjalan membuat Raka juga ikut berhenti berjalan. "Kenapa, Ngga?" tanya Raka. Yang lainnya juga ikut berhenti saat Raka menanyakan hal itu. "Kalian denger gak kayak ada suara anak kucing?" tanya Rangga pada semuanya. Semua mencoba menajamkan telinga mereka, "Gue gak denger apapun," jawab Amira.
"Me, too," timpal Fina. "Aku juga gak denger apapun," jawab Raka juga, Yerina hanya menggeleng pertanda dia tidak mendengarnya juga. Rangga kemudian langsung menuju ke arah depan taman yang di mana di situ ada got.
Selanjutnya: Bab 13: Vina vs kucing hitam