Semua terasa membingungkan apakah ini nyata, mimpi atau imajinasi saja?
***
Walau sudah berjanji tapi dia tidak akan menepatinya, bukan Vina namanya kalau tidak membuat suasana horor dan kejahilan lainnya, memang Vina sudah tidak mengikuti Yerina tapi ide jahil selalu muncul di kepalanya. Kali ini Vina melakukan hal yang sama seperti kemarin, dia melihat wajah Yerina dengan sangat dekat sampai rambutnya menempel di wajah Vina.
"Gak terhubung," gerutu Vina dalam hati karena tidak bisa menyambungkan dirinya dengan mimpi Yerina. Tentu saja hal itu tidak mungkin, memang ada orang yang pernah masuk ke mimpi orang lain? Kalau pun ada pastilah orang itu bukan Vina. Dengan kecewa Vina kembali ke ranjangnya, kemudian dia melakukan aksi jahilnya dengan mematikan lampu kamar tidur. Yerina yang sudah setengah mati dari tadi menahan untuk tidak bangun walau dia tau rambut Vina ada di wajahnya akhirnya terbangun juga karena gelap. Saat Yerina terbangun Vina sudah tidak ada di sana dia sudah kembali ke tempat tidurnya. Yerina melihat semuanya sudah terlelap termasuk Vina, dia menghidupkan lampu kembali, saat Yerina kembali ke tempat tidur lampu kamar kembali mati, tapi kali ini tidak hanya lampu kamar saja tetapi seluruh rumah.
Yerina mematung dia masih belum bisa mencerna apa yang terjadi, di tengah kegelapan dia merasakan hembusan angin, Yerina sangat ketakutan. Dia ingin memanggil siapa pun, tapi lidahnya terasa keluh.
Dum, dum, dum.
Langkah suara kaki besar seperti raksasa terdengar sangat jelas di telinga Yerina. Keringat dingin mengalir deras, Yerina menutup mata "Satu, dua, tiga, ini hanya mimpi. Kalau bukan mimpi ini hanya imajinasi," gumamnya kemudian kembali membuka matanya.
Dum, dum, dum.
Suara itu semakin mendekat, kemudian 'wus' angin kencang menerpa wajah Yerina, jendela kamar terbuka karena angin yang begitu kecang. Dengan gerakan kaku Yerina melihat ke arah jendela, sebuah mata besar mengintip dibaliknya membuat wajah Yerina semakin pucat dan ketakutan setengah mati. Tidak sampai di situ beberapa detik kemudian satu tangan raksasa itu mencopot atap rumah layaknya sebuah rumah mainan, dan tangan lainnya meraih tubuh Yerina. Saat tubuh Yerina diangkat dia melihat ke arah bawah dan di sana dia melihat tubuhnya juga yang sedang tertidur dengan wajah pucat.
Mata Yerina terbelalak melihat raksasa yang sama persis seperti di mimpinya, detik berikutnya dia sudah berada di dalam perut raksasa itu. Kemudian sebuah cahaya putih yang menyilaukan melintas di depan wajah Yerina membuatnya terpejam sebentar, saat dia membuka matanya kembali dia sudah berada di ruangan serba merah dengan bau anyir yang menyengat.
"Ampun, ampun!" teriakan itu membuat Yerina segera berlari menuju arah sumber suara, suara itu sangat Yerina kenal. Yerina berlari sampai menemukan sebuah tikungan yang merupakan jalan akhir bagi ruangan itu, di sana terlihat ada sebuah penjara berjeruji besi. "Ayah, Mama!" teriak Yerina yang melihat kedua orangtuanya diikat di tembok panjara dan dicambuk sampai berdarah-darah, yang mencambuk kedua orangtua Yerina adalah si penjaga sambit maut yang membunuh kedua orangtua Yerina. Yerina menuju ke arah penjara itu, dan saat Yerina hampir saja memegang jeruji besi mama Yerina--Jazanah berteriak "Jangan sentuh, Sayang nanti makhluk ini bisa mengejar kamu!" Tangan Yerina terhenti.
Tidak lama muncul cahaya putih yang menyilaukan, "Kamu mau mereka bebas?" tanya cahaya putih itu, Yerina mengagguk dengan berlinang air mata. "Kalau begitu selesaikanlah, selesaikanlah," ujarnya lagi. Yerina sangat bingung baru saja dia mau membuka mulutnya untuk bertanya apa maksud cahaya putih itu Mardana--ayah Yerina melarangnya "Jangan bersuara!"
Sedetik kemudian seluruh ruangan menjadi hampa kemudian muncullah hitam dan putih, orangtua Yerina sudah tidak ada lagi. Yerina berada di tengah antara hitam dan putih menjadi seperti pembatas. "Korbankan saja dirimu dan akan aku kembalikan orangtuamu." Suara bariton seorang laki-laki berasal dari si hitam berkata demikian. "akan aku hidupkan kembali mereka," lanjutnya lagi.
"Kalau kamu setuju menujulah ke arah hitam." Yerina hendak melangkah tapi si putih mencegahnya "Jangan!" Suara perempuan muda mewakili si putih. "jangan dengarkan hasutannya, mana mungkin orang yang sudah mati dapat dihidupkan kembali." Benar, Yerina tersadar bahwa selangkah saja dia melangkah dia akan terjebak. Tanpa ragu Yerina menuju ke arah si putih. Yerina terbangun dibanjiri oleh keringat, dia berada di kamar dengan lampu yang menyala. Anehnya Yerina tidak bisa mengingat apa yang baru saja dia alami, yang dia ingat hanyalah kata 'selesaikanlah.'
"Apa itu tadi? Kenapa sepertinya aku mengalami hal yang menyeramkan, tapi aku tidak bisa mengingatnya." Yerina berkata dalam hati sambil mengingat apa yang baru saja terjadi. "hanya satu kata yang aku ingat, kata selesaikanlah. Apa maksudnya itu?" Yerina mengacak-ngacak rambutnya frustasi tidak menemukan jawaban atas pertanyaannya.
"Aaa!!!" Amira menjerit membuat Yerina kaget, dia melihat ke ranjang atas. Amira ternyata sedang mengigau sampai dia melayangkan tinjunya ke udara. Yerina naik ke atas dan menggoyangkan tubuh Amira, "Kak, Kak bangun Kak, Kak." Amira langsung terlonjak kaget dengan keringat yang membasahi sekujur tubunya, wajah Amira pucat.
"Kakak kenapa?" tanya Yerina cemas. "kakak mimpi apa kok sampai pucet gitu?"
"Hah, gue mimpi apa ya? Kok gue lupa," jawab Amira merasa aneh.
"Lho, aku juga sama Kak, berasa mimpi yang nyeremin tapi gak inget mimpi apa," tutur Yerina.
"Aaa!!!" kali ini teriakan itu terdengar dari Fina. Fina langsung terbangun kemudian memegang jantungnya.
"Kenapa, Fin?" tanya Amira.
"Gak tau, aku berasa nightmare cuma gak inget apaan."
"Lha, gue juga." Amira menunjuk dirinya sendiri.
"Aku juga," timpal Yerina. "terus yang aku inget cuma kata selesaikanlah aja," ujar Yerina lagi.
"Nah, iya tuh!" seru Amira dan Fina serentak.
"Tunggu, kok ada bau gosong." Amira mengendus-endus tubuhnya dan Yerina. Kemudian melihat ke arah Vina, Amira langsung melotot karena kaget. "kok Vina kejang-kejang." Semua langsung turun dan berdiri di samping ranjang Vina. Tubuh Vina kejang-kejang sambil mengeluarkan bau gosong, tidak lama dia bangun.
"Aaa!" semua berteriak kaget.
"Kalian ngapain?" tanya Vina dengan sorot mata mengisyaratkan tidak suka.
"Itu tadi ...." Belum sempat Amira menjawab Vina sudah menyelimuti dirinya dan menghadap ke arah tembok.
***
Keesokan paginya saat berjalan menuju ke sekolah Amira menceritakan apa yang dia, Yerina dan Fina alami yaitu tidak mengingat mimpi mereka dan hanya mengingat satu kata saja. Amira tidak menceritakan soal kejadian Vina takut Vina menjadi marah.
"Lha sama dong berarti kita bertempat juga ngalamin hal itu," tutur Raka buka suara.
"Setiap hari kok semakin aneh aja, ya." Amira jadi merasa gelisah sendiri.
"Mungkin karena kita masih mikirin kejadian tempo hari kali tentang gua itu." Revan juga ikut buka suara.
"Semoga aja itu benar," ucap Amira berharap.
"Semuanya terasa membingungkan seperti nyata, tapi juga mimpi dan kita merasa itu hanya dari imajinasi kita saja karena memikirkan hal yang sama," gumam Yerina yang masih bisa di dengar semuanya dengan jelas.
Bersambung eak :v (Authornya gaje) ....