Bab 7: Mimpi

1363 Words
Salah satu perantara menuju dunia gaib adalah mimpi. *** Semua diselimuti kegelapan, dahan pohon yang tidak mempunyai daun terlihat dimana-mana. Burung gagak bertengger menjadi satu dengan semua dahan pohon tanpa daun yang ada, kaki hanya bisa merasakan tanah yang lembab dengan diselimuti dedaunan kering. Kabut tipis juga menjadi salah satu unsur yang membuat tempat itu lebih menyeramkan lagi. Suara kaki besar seperti raksasa mulai terdengar diiringi suara kepakan burung gagak yang terbang dari dahan pohon, seorang gadis mendongak menyaksikan sesosok tinggi besar berada di atasnya. Wajahnya menjadi pucat dia sangat ketakutan, makhluk besar itu menangkap si gadis kecil dengan tangannya yang besar kemudian memasukkannya ke dalam mulut. Yerina membuka matanya sekarang dia berada di ruangan serba putih kosong dengan berbagai macam pintu disekelilingnya, dia memilih pintu berwarna cokelat tua yang telah usang. Yerina memasuki ruangan itu, dia kembali ke tempat semula disambut tiga sosok yang dua diantaranya sangat dia kenal. Kedua sosok itu adalah ayah dan ibunya, wanita di tengah mereka berjalan mendekat menuju Yerina dengan melayang. "Selesaikan, selesaikanlah!" serunya dengan suara mengerikan yang pelan tepat di kuping Yerina. Yerina terbangun dengan keringat yang di pelipisnya, ini sudah seminggu di mana dia memimpin hal yang sama. Yerina melihat ke arah jam kemudian bersiap sholat subuh bersama-sama. Dalam perjalanan ke sekolah Yerina hanya melamun memikirkan mimpi yang sama terus-menerus sampai dia hampir menabrak tembok, untung dengan sigapnya Rai meletakkan telapak tangannya di jidat Yerina alhasil tangan Rai menjadi bantalan saat jidat Yerina menabrak tembok. Yerina tidak menyadari hal itu dan Rai pun seperti enggan menegurnya, akhirnya mereka terdiam dalam posisi itu selama beberapa menit membuat orang yang berjalan di lorong memperhatikan mereka. "Jiwa jomloku meronta-ronta aku merasa cemburu, i no terima." Akhirnya Fina bersuara hendak menegur Yerina dan Rai. "Dasar ratu alay." Amira hanya geleng-geleng kepala. Yang lainnya berniat menjadi penonton saja. "Ehem, ehem, ehem." Fina berdehem dengan keras membuyarkan lamunan Yerina. Lalu ketika dia sadar jidatnya sudah berada di anatara tembok dan telapak tangan milik Rai. Fina langsung menarik tangan Yerina. "Jangan cari cowo sebelum aku pokoknya gak may." Fina menghentak-hentakkan kakinya. "Halah masih SD juga, banyakan nonton sinetron sama Bunda loe," kata Amira kemudian meninggalkan mereka. Yerina masih terdiam mencoba mencerna apa yang terjadi, kemudian menyusul teman-temannya yang sudah memasuki kelas masing-masing. Seharian ini Yerina tidak bisa berkonsentrasi baik dipelajaran bahkan berjalan, entah sudah berapa kali Rai mencoba menarik tangan Yerina karena hampir menabrak sesuatu seperti batu, pohon, sampai tiang bendera yang berada di tengah lapangan. "Loe kenapa si kok dari tadi melamun mulu sampai hampir benjol tu kepala loe?" tanya Amira merasa heran mewakili pertanyaan yang terlintas di kepala semuanya. "Soal itu nanti aku ceritain aja di rumah." Yerina meneruskan langkahnya mencoba untuk tidak menabrak apapun lagi. *** Selesai sholat, makan malam, dan mengerjakan pekerjaan rumah mereka, mereka duduk di teras rumah untuk mendengarkan cerita Yerina sesuai janjinya. Aisyah yang melihatnya merasa senang, sedih, kagum dan juga bersimpati. Senang karena mereka bisa akrab. Merasa sedih, kagum, dan simpati karena anak seusia mereka tidak terlihat seperti anak SD lainnya, mereka telah mengalami kejadian yang memaksa mereka menjadi dewasa dari sedini mungkin. Itulah kenapa baik perilaku, gaya bicara dan lainnya seperti bukan anak-anak. Yerina mulai menceritakan bahwa dia mengalami mimpi yang sama selama seminggu penuh, dia menceritakan detail mimpinya. "Kalau menurut gue itu cuma mimpi, bunga tidur gak ada yang spesial," komentar Amira usai Yerina bercerita. "Setuju!" sahut Raka dan Rangga bersamaan. "Hihihi menarik," sambung Vina dengan tertawa khas miliknya. "Hmm, aku think ni ya can aja itu mah bookmark atau gak emang cuma dream." Fina meletakkan tangannya di dagu seperti sedang berpikir. "Bookmark apaan penanda buku?" tanya Amira sambil mengerutkan dahi. "Bukan itu maksud aku tanda." "Tanda itu bahasa inggrisnya sign Fin bukan bookmark jauh amat!" ujar Amira sangat gemas. Fina hanya mengangguk-anggukan kepala seperti burung perkutut. "Makasih mau dengerin aku jadi lega," jujur Yerina. Semuanya tersenyum. "makasih juga Kak Rai buat hari ini." Setelahnya semua beranjak untuk tidur. Semua sudah tidur tapi tidak dengan Vina, dia turun dari tempat tidurnya menuju ke tempat tidur Yerina. Dia melihat wajah Yerina yang tertidur, kemudian mendekatkan wajahnya sampai rambutnya yang lumayan panjang menutupi sisi kiri dan kanan wajah Yerina. Setengah jam Vina masih dalam pose yang sama sampai Yerina terlonjak kaget karena merasakan sesuatu yang aneh dengan wajahnya. "Astagfirullah." Yerina mengelus dadanya, dia sangat terkejut mendapati wajahnya dan Vina sangat dekat sampai rambutnya menyentuh wajahnya. "Ka ... kamu ngapain Vin?" Vina tersenyum mirip joker, "Hanya mencoba terhubung ke mimpimu." Setelah mengatakan itu Vina langsung menuju ranjangnya dan tidur. Jantung Yerina masih berdegup kencang karena kaget dicampur rasa takut, Vina sungguh mengerikan dan juga aneh. *** "Jadi Amira dan Rai sudah memutuskan belum mau masuk ke SMP yang mana? Kan sebentar lagi kalian selesai ujian dan pendaftaran SMP akan dibuka." Aisyah memulai obrolan saat semuanya sedang memakai sepatu mereka di teras rumah. "Kayaknya si Bun kita bakal pisah SMP nya soalnya SMP impian kita beda," jawab Amira. "Gak masalah yang penting kalian sungguh-sungguh masuk sekolah yang kalian impikan." Aisyah tersenyum. "Kita berangkat ya, Bunda." Delapan s*****n berbaris dan menyalami Aisyah kemudian pergi menuju ke sekolah. "Aku not terima, kalian gak mau terima school yang aku pilihin," protes Fina sambil memajukan bibirnya lima senti. "Yaudah nanti loe aja yang masuk di sekolah SMP pilihan loe," sahut Amira. "Kan gak seru kita gak one school lagi." "Pas SMA aja kita one school." Amira mencoba menirukan Fina. "Good idea." Fina menjentikkan jarinya. *** Setelah kejadian tadi malam Vina bertingkah semakin aneh, dia jadi sering mengikuti Yerina kemana pun. Saat di toilet Vina akan menunggunya di depan pintu yang membuat Yerina selalu hampir menabraknya. Saat tidur Vina selalu melihat ke arah Yerina membuat Yerina merasa risih dan semakin takut, tapi Yerina tidak berani memprotes dia sudah cukup takut melihat Vina apalagi ingin protes. Amira yang menyadari ketidaknyamanan Yerina bersuara menyuarakan apa yang Yerina rasakan. "Vina kenapa loe selalu ngikuti Yerina? Loe gak liat dia risih tuh." "Hihihi, karena itu menarik," jawab Vina. "Menarik buat you horor buat Yerina." Fina juga jadi ikut-ikutan. "Kalian mau aku ikuti juga? Hihihi, pasti lebih menarik." "Gak!" jawab Fina dan Amira bersamaan dengan cepat. "Baiklah aku akan berhenti mengikuti Yerina, maaf ya Yerina. Hihihi." Yerina hanya mengangguk menerima permintaan maaf Vina. "Makasih, ya Kak Amira," ujar Yerina. "Jangan makasih sama gue, tuh sama si Fina karena dia yang ngsih tau gue tapi dianya gak berani bilang ke Vina, serem katanya," jelas Amira sambil menunjuk Fina dengan dagunya. Fina yang sedang dibicarakan malah asyik melipat pakaian dan membaca buku bahasa inggris secara bersamaan. "Makasih, ya Fina." Yerina menghampiri Fina. "Hah, apaan? Thanks for what?" tanya Fina heran. "Pokoknya makasih aja," kata Yerina karena dia malas berkata panjang lebar. "Wih, tumben inggrisnya bener." Amira bertepuk tangan. "Oh, jelas dong." Fina mengibaskan rambutnya. Yerina kemudian pergi berlalu berencana membantu Aisyah di dapur. "Dia bilang thanks for what si?" tanya Fina pada Amira. "Itu, lho yang soal Vina ngikutin dia," jawab Amira. "Lha, udah you tell, kapan?" "Tadi, barusan. Emang loe gak denger?" "Denger yang bagian Vina promise gak akan ngikuti Yerina aja, habis itu aku sibuk ambil pakaian dari lemari buat tidy my baju," jelas Fina panjang lebar. Amira hanya mengangguk-ngangguk. Sebenarnya Fina berbohong dia mendengar semuanya dari awal sampai akhir tapi dia malu saja karena takut dianggap penakut. Setelahnya Yerina bisa bernapas lega dan jauh terasa lebih bebas. Tapi entah mengapa saat Vina tidak mengikutinya dia malah merasa ada yang memperhatikan gerak-geriknya, dan saat dia menoleh tidak ada siapa pun. "Kamu kenapa Sayang, kok daritadi noleh ke belakang terus?" tanya Aisyah heran. "Gak kok, Bunda gapapa. Cuma berasa ada serangga aja," jawab Yerina berbohong. Yerina kemudian meletakkan gelas dan piring ke meja makan, disusul dengan sendok. "Bunda, ada yang bisa Amira bantuin gak?" tanya Amira yang baru keluar dari kamar. Aisyah terlihat berpikir sejenak. "Kamu bantui Raka, Rangga, Revan, sama Rai aja di kebun depan dan belakang mereka lagi bersihin kebun Bunda sama nyiram bunga-bunga Bunda." "Oke, Bunda Amira bantui mereka dulu." Amira dengan cepat menuju ke taman belakang. "Vina ke mana ya, Bunda?" tanya Yerina tiba-tiba. "Lagi di kamar mandi belakang tadi Bunda lihat," jawab Aisyah, Yerina hanya mengangguk. "Bunda! Vina aneh dia laugh-laugh sendiri," adu Fina sambil berlari ke belakang Aisyah. Besok up lagi.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD