Bab 6: Kembali

1249 Words
Ketika kami kembali semua telah berubah, semuanya telah lenyap. *** Yerina tidak berani melihat ke arah jendela dia menyibukkan diri dengan membaca sama seperti Rai, dan perlahan satu persatu dari mereka terlelap tidur karena kelelahan. Sesampainya di rumah mereka dibangunkan dan segera bersih-bersih juga berwudhu untuk melaksanakan sholat berjamaah. "Kok kejadian hari ini aneh banget ya terutama di gua itu," tutur Amira saat semua sudah berada di tempat tidur. Di kamar sebelah tempat tidur para anak laki-laki juga menceritakan hal yang sama. "Eh, kamu tadi kesurupan ghost gak si Vin. Kok ketawa kamu serem banget malah ada hawa dinginnya lagi?" tanya Fina kepo. "Hihihi, bisa jadi," jawab Vina sambil cekikikan seperti biasa. Bulu kuduk Fina tiba-tiba berdiri mendengar suara tawa Vina biasanya dia abaikan saja tapi mulai hari mungkin akan berbeda. Yerina selalu menutup kupingnya saat mendengar tawa itu, sedangkan Amira hanya cuek saja. "Udah, udah gak usah dipikirkan lagi deh, jadi serem. Kita tidur aja." Amira mematikan lampu kamar kemudian kembali ke ranjangnya dan tidur. "Eh, jangan dimatiin lampunya dong, Kak Amira." Amira yang mendengar protes dari Yerina menghidupkan lampu kembali, "Kenapa emang?" tanya Amira heran. "biasanya juga kita tidur matiin lampu," lanjutnya. "Aku takut gelap, Kak," ujar Yerina. "Owalah, yaudah, turn on aja lampunya aku gak keberatan kok." Fina ikut bersuara walaupun tadinya dia sudah terlelap. "Kalau Vina pasti gak mau karena dia suka gelap, ya kan Vin?" Amira melihat ke arah Vina yang juga ikut terbangun. Vina mengangguk. Benar juga Yerina baru beberapa minggu ada di sini, dia tidak seharusnya egois dan seenaknya sendiri. "Tapi gapapa deh, aku tidur di bawah ranjang aja. Hihihi." "Eh, gak gak. Aneh-aneh aja nanti dimarahin Bunda tau." Amira mstnolak mentah-mentah ide aneh yang Vina lontarkan. Wajah Vina menjadi murung, membuatnya semakin seram saja. "Yaudah nyalain, aku gak akan tidur di bawah ranjang," kata Vina akhirnya. "Bener, ya awas aja loe tidur di bawah ranjang aku aduin Bunda," ancam Amira. "Maaf, ya semuanya aku egois jadinya." Yerina jadi merasa bersalah. "Santai aja, loe kan keluarga kita juga." Mereka akhirnya kembali tidur. Walau sudah terang tapi Yerina merasa tidak enak, dia menyelimuti seluruh tubuhnya. Di dalam selimut Yerina masih terbangun, dia tidak bisa tidur memikirkan bagaimana sebuah bola mata bisa ada di gua itu, terlebih lagi ada tengkorak manusia. Yerina yakin itu bukan imajinasinya, pengalamannya selama ini sudah cukup membuktikan itu nyata, Yerina tidak menemukan jawaban apapun sampai akhirnya dia ikut terlelap. Amira juga memikirkan kejadian yang sama, dia juga menyelimuti seluruh tubuhnya agar tidak terlalu terang. *** Keesokan paginya semua yang awalnya ceria mendadak jadi pendiam, keributan yang biasa terdengar di pagi hari menjadi sangat sunyi. Aisyah ingin bertanya tapi takut mengaggu, Aisyah tau mereka masih anak-anak tapi pengalaman kelam mereka di masa lalu membuat mereka lebih cepat dewasa dan pastinya mereka membutuhkan ruang dimana mereka harus memikirkan masalah mereka sendiri tanpa campur tangan orang lain termasuk dirinya. Aisyah hanya menduga bahwa anak-anak itu masih memikirkan kejadian di gua yang Aisyah sendiri tidak tau bagaimana detailnya, dan benar saja delapan s*****n memang masih memikirkan hal itu. Di perjalanan menuju ke sekolah mereka juga masih memikirkan hal yang sama, sesekali Amira melirik Vina. Fina, Raka, Rangga, dan Revan juga begitu. "Ah, gue mau mastiin bahwa di gua itu gak ada apa-apanya!" seru Amira akhirnya buka suara. "Iya, aku juga," timpal Yerina. "Oke kalau gitu sepulang sekolah kita jangan langsung pulang tapi kita kumpul di halte bus terus kita ke air terjun itu, gimana?" Amira menatap satu persatu delapan s*****n lainnya dan mereka mengagguk setuju kecuali Vina yang hanya diam saja. "Tapi mau naik apa kita kan di sana lumayan jauh?" tanya Revan. "Iya, ya naik apa ya?" Amira baru terpikirkan hal itu. "kalau kita minta Ayah sama Bunda anteri kita lagi mau gak ya?" Amira terlihat berpikir keras. "Kalau reasonnya kuat si pasti mau." Fina ikut bersuara. "Aha, bilang aja kalung kenang-kenangan orang tua Yerina hilang di sana, kan itu barang penting," usul Raka. "Wah, iya bener juga si. Tapi kan itu artinya bohong," kata Revan menanggapi usulan Raka. "Iya si emang, tapi gue harus mastiin sesuatu di sana." Amira tetap bersikeras. "Aku juga," timpal Yerina. "Yaudahlah sekali ini aja tapi, ya," ucap Revan mengingatkan. Semuanya mengangguk kecuali Vina. *** Sepulang sekolah delapan s*****n menemui Aisyah dan meminta mereka mengantarkan mereka ke air terjun tempo hari dengan alasan yang sudah disepakati tadi pagi. "Yaudah kita anterin tapi cuma bisa sebentar soalnya Ayah ada kerjaan," jelas Ayah kepada semuanya. "Aku gak ikut mau jaga rumah aja," tutur Vina kemudian menuju ke kamar. Setelah semuanya makan siang, Aisyah mempersiapkan bekal lagi. Walau mereka tidak lama berada di sana tapi bekal yang Aisyah siapkan untuk dimakan diperjalanan. Setelah sampai di air terjun semuanya turun dengan cepat seperti sudah tidak sabar, mereka masih ingat betul lokasi gua itu dan segera menuju ke sana. "Kalian yakin gak mau Bunda dan Ayah temani?" tany Aisyah memastikan sekali lagi karena mereka menolak untuk ditemani. "Iya, Bunda yakin," jawab Amira. "Tapi Bunda sama Ayah khawatir takutnya kalian kenapa-kenapa." Kali ini Yusuf yang bersuara. "Kita kan gak masuk ke dalam, Yah cuma cari di luar gua aja kok," jelas Raka lagi untuk meyakinkan Yusuf dan Aisyah. "Yasudah, Bunda dan Ayah hanya kasih kalian tiga puluh menit. Jika dalam tiga puluh menit tidak ketemu cepat kembali." Aisyah melihat jam tangan yang melingkar di tangan kanannya. "Siap, Bunda." Amira memberi hormat setelahnya mereka pergi, tapi langkah mereka terhenti kembali. "Salamnya mana?" tanya Aisyah. "Assalamualaikum, Bunda," ucap semuanya serentak kecuali Revan. "Wa'alaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh." jawab Aisyah dan Yusuf bersamaan. "Pergi, ya Bunda, Ayah." Revan berpamitan kemudian menyusul yang lainnya. Sesampainya di sana mereka tercengang tidak ada gua sama sekali seperti apa yang mereka lihat hanya ada tebing tinggi, tanaman rambat, dan semak belukar. "Eh, kok guanya gak ada?" Dahi Amira berkerut. "Iya, ya kok gak ada." Revan dan lainnya juga terlihat kebingungan. "Bener di sini kan?" Amira bertanya kepada semuanya. "iya bener kok di sini," jawab Raka yakin. "Iya, aku juga yakin di sini." Yerina ikut menimpali. "Yaudah kita cari siapa tau ketutupan tanaman rambat, tapi hati-hati ya." Akhirnya semua mencari pintu masuk gua dengan membersihkan tanaman rambat yang berada di tebing. "Gimana?" tanya Amira setelah lima belas menit berlalu. "Gak ada," jawab Revan. "Di sini juga," timpal Raka. "Here, too," ujar Fina. Yerina menggeleng begitu juga dengan Rai. Amira menghembuskan napas kecewa, dia melihat ke arah jam tangannya. "Waktu kita tinggal lima belas menit lagi," tutur Amira memberitahukan. "kok jadi tambah aneh si." Amira duduk di tanah semuanya mengikuti. "Iya, terasa kaya mimpi," kata Revan. Semua menghela napas. Setelah istirahat lima menit sekali lagi mereka mencari, tapi tetap saja hasilnya nihil. Akhirnya mereka kembali ke tempat Aisyah dan juga Yusuf. "Gimana?" tanya Asiyah saat melihat mereka kembali. Semuanya menggeleng lesu. "Yasudah mungkin itu belum rezeki." Yusuf mengelus rambut mereka satu persatu. "kita pulang, ya. Soalnya Ayah harus kerja." Semuanya mengangguk lesu. Di perjalanan semua hanya diam, mereka memikirkan kenapa gua itu tidak ada. Atau ada kemungkinan lain, dan tempat lain yang belum mereka cari sehingga mereka tidak menemukan gua itu. "Tapi semua tempat udah ditelusuri," kata Amira dalam hati. "Capek-capek ke sini gak ada hasil," gerutu Raka dalam hati. "Padahal kita nyarinya udah teliti," ucap Yerina dalam hati. Mereka menghela napas secara bersamaan. Aisyah dan Yusuf yang melihat itu hanya bisa melihat dan terdiam. "Gimana kalau Ayah belikan kalung baru buat Yerina?" tanya Yusuf memecah keheningan. Yerina tersenyum senang atas niat Yusuf, padahal mereka berbohong. "Gak usah Ayah, Yerina mau belajar ikhlas," kata Yerina. Yusuf hanya bisa mengangguk. Sampai jumpa di bab selanjutnya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD