Yang gaib membuat yang rasional terasa tidak rasional sama sekali.
***
"Kita masuk SMP ini aja," cetus Raka menunjukkan gambar dari selembaran yang dia bawa.
"No, no, no, sekolah ini lebih butter," sahut Fina menunjuk selembaran yang dia bawa.
"Lha kok butter si Fin? Yang bener itu better Fina better," ucap Amira gemas.
"Ah, biarin pokoknya yang ini, yang ini. Amira dan Kak Rai must must SMP ini biar kita bisa ikutan," lanjut Fina masih ngotot.
"Gak pokoknya yang ini." Raka tidak mau kalah.
"Yaudah cap cip cup aja," ujar Rangga lelah mendengar perdebatan Raka dan Fina.
"Stop, stop, gue sama Rai yang mau masuk SMP kenapa jadi kalian yang berdebat." Amira menengahi. Yerina dan lainnya yang tidak terlibat hanya jadi penonton. Raka dan Fina berhenti berdebat dengan raut wajah ditekuk.
***
"Memangnya kenapa loe pengen gue masuk sekolah itu Fin?" tanya Amira yang penasaran setelah sampai di kamar mereka.
"Karena much prince yang gantengnya," jawab Fina sambil terkekeh.
"Yeee!" Amira melempar Fina dengan bantal.
"Memang Kak Amira gak punya sekolah impian?" tanya Yerina akhirnya.
Amira jadi berpikir sejenak dan merenung. Dia tidak pernah memikirkan hal itu, sampai Yerina dan lainnya tertidur pun Amira belum menemukan jawabannya.
***
"Bangun semua, bangun!" seruan dari Amira dengan toanya membuat semua orang terbangun karena kaget. Amira meminta toa itu dari barang-barang Pak RT yang sudah tidak digunakan lagi, dan sering menjadi pemanggil bagi delapan s*****n lainnya jika dia sedang malas berteriak-teriak.
"Astagfirullah, Kak Amira bisa short umurku ni." Fina mengelus dadanya.
"Hehe, sori. Habisnya gue semangat banget ni soalnya kan kita mau piknik dalam rangka liburan semester." Amira hanya nyegir kuda. Mendengar itu semua langsung mengantri di kamar mandi untuk bersiap-siap.
Delapan s*****n bernyanyi ria di mobil menuju ke jalanan piknik kecualis Rai dan Yerina. Yerina sibuk memperhatikan jalanan, saat Asyik memperhatikan jalanan Yerina terlonjak kaget. Badannya mundur ke belakang membuat badannya terhimpit dengan Vina. Dengan mata berbinar Vina menatap jendela yang membuat Yerina terlonjak kaget, ada bekas telapak tangan dengan noda berwarna merah di sana. Kemudian menghilang tanpa bekas, Yerina bergidik dan memutuskan untuk berdzikir dalam hati.
"Wah, sampai juga. Keren!" ucap Raka terkagum ketika sampai di air terjun yang mereka tuju.
"Jangan bermain terlalu jauh ya, anak-anak nanti tersesat," teriak Aisyah.
"Baik Bunda," sahut mereka serentak.
Semua bermain sepuasnya diawasi oleh Aisyah dan Yusuf, tapi kemudian mereka tertidur karena hawa yang sejuk.
"Hei, hei lihat ada gua." Tunjuk Vina. "ayo kita telusuri siapa tau ada harta karunnya."
"Gak ah, Yerina takut gelap," tolak Yerina.
"Gapapa, kan ada Amira noh yang berani sama semua anak laki-laki, ayolah bakal seru ni." Vina terus memaksa sampai akhirnya semuanya setuju. Mereka menyiapkan senter dari ponsel satu-satunya yang mereka punya dan masuk ke dalam dengan berbaris.
"Gelap amat," ucap Revan ketakutan.
"Ah cemen badan doang berotot tapi kucur, hihihi," ejek Vina yang berada di paling depan. Setelah menelusuri gua agak lama ada sebuah cahaya yang berada di depan mereka.
"Berasa cahaya from surga, ya." Fina mencoba melucu tapi gagal.
"Setelah sampai cahaya itu kita balik," ujar Amira semua mengangguk walau tidak terlihat karena gelap. Hampir mereka menuju ke gua itu, tapi kemudian mereka terkena perangkap berupa jaring. Semua berteriak panik. Yerina di dorong Amira dan sempat menghindar sehingga dia bisa lolos.
Yerina melihat ke arah Vina, dia tampak tersenyum lebar. Senyumnya menyeramkan seperti joker. Yerina mundur beberapa langkah karena takut melihat wajah Vina. Yerina melihat ke arah kakinya karena dia merasa seperti menendang sesuatu. "Aaaaa!!!" teriak Yerina histeris saat dia melihat tengkorak manusia di dekat kakinya. Yerina tanpa sadar berlari ketakutan, di dekat pintu masuk dia melihat satu bola mata yang bergerak, dia tergeletak pingsan.
***
Aisyah dan Yusuf terbangun dari tidur mereka. "Lho, kok gak ada suara anak-anak Yah pada kemana ya mereka?" heran Aiysah. "ayo kita cari, Yah." Aisyah kemudian berdiri disusul Yusuf dan mulai mencari delapan s*****n.
"Amira, Revan, Fina, Raka, Rangga, Vina, Rai, Yerina, kalian di mana?!" Aisyah menjerit memanggil nama delapan s*****n itu.
"Bunda lihat ada gua di dekat air terjun, apa jangan-jangan mereka pergi ke sana Bun." Yusuf menunjuk gua yang dia lihat.
"Bisa jadi, Yah. Kita periksa aja ke sana, ayo." Aisyah dan Yusuf bergegas menuju ke gua itu, dan benar saja di depan pintu masuk gua ada Yerina yang pingsan. Aisyah segera mengampiri Yerina.
"Bunda tunggu sini aja jagai Yerina biar Ayah yang masuk ke dalam." Setelah menerima anggukan dari Aisyah Yusuf langsung masuk ke dalam gua menggunakan senter yang ada di ponselnya. "Amira, Revan, Fina, Raka, Rangga, Vina, Rai, jawab Ayah kalau kalian dengar suara Ayah!"
"Eh, kalian denger gak itu ada suara Ayah?" tanya Rangga.
"Hah suara apaan gue gak denger apa-apa," jawab Amira. Fina mencoba menajamkan kupingnya tapi tidak mendengar apapun juga.
"Eh, itukan Ayah!" seru Raka heboh sambil menunjuk ke depan tempat di mana Yusuf berada.
"Iya bener, ayo kita panggil Ayah," ujar Amira. "Ayah, Ayah kami di sini Yah!" teriak Amira diikuti yang lainnya.
"Kok Ayah kaya gak denger sama sekali sih?" heran Raka.
Di bawah Vina malah cekikikan seperti orang kesurupan. "Hii, creepy amat si Vina. Dia kenapa coba kesurupan apa ya bukannya nolongin kita." Seketika bulu kuduk Fina berdiri.
Hawa dingin mulai menyelemuti mereka seiring semakin kencangnya tawa Vina. Mereka seketika menggigil. Setelah beberapa saat Vina berhenti tertawa dan hawa dingin itu juga lenyap, lalu setelahnya Vina mencari batu runcing di sekitar gua untuk memotong jaring yang menangkap teman-temannya. "Akhirnya kita free juga," ujar Fina dengan perasaan lega, walaupun masih ada rasa merinding ketika kejadian hawa dingin dan suara tawa Vina tadi.
Mereka segera berlari menuju ke luar dari gua itu. "Ayah, Bunda!" Amira dan yang lainnya langsung menghampiri Yusuf dan Aisyah di pintu masuk gua. Mereka berpelukan. "Kalian ke mana aja jangan buat Bunda dan Ayah cemas dong."
"Maaf, Bunda," ucap Amira merasa bersalah.
"Vina yang salah kok karena ajak mereka ke sini, hihihi."
"Udah, udah jangan saling menyalahkan yang penting kalian selamat, yaudah ayo kita kembali ke tempat tadi dan makan siang." Mereka semua kembali ke tempat semula, Yerina juga sudah sadar. Amira melotot dan wajahnya menjadi pucat melihat ada sebuah mata yang bergerak di pintu masuk gua.
"Ayah kok tadi gak denger kita teriak-teriak panggil Ayah padahal jaraknya gak jauh?" tanya Raka penasaran pada Yusuf.
Yusuf menaikkan alisnya merasa heran, "Ayah gak denger apapun kok," jelasnya.
"Tapi kita lihat jelas ada Ayah kok, dan kita denger suara Ayah," sambung Rangga.
"Yaudah gak usah dipikirkan yang penting kan kalian selamat." Yusuf menepuk bahu Raka dan Rangga bergantian.
***
Saat sore menjelang mereka semua membereskan barang bawaan mereka dan pulang. Di perjalanan pulang, Amira masih memikirkan bola mata yang tadi dia lihat, wajahnya kembali pucat. "Kenapa wajah Kakak kok pucat gitu, mabuk ya?" tanya Raka.
"Enggak kok, cuma kedinginan aja," ujar Amira berbohong. "itu hanya imajinasi, imajinasi, iya gak mungkin nyata," ujar Amira lagi dalam hati meyakinkan dirinya sendiri.
Bersambung lagi ....