Bab 8 A Devil That Born From Angels

1998 Words
Ketika Adel menjemput Awan jam enam petang itu, pria itu muncul dari kosnya dengan stelan yang rapi. Pun ketika dia masuk ke mobil Adel, ia memakai parfum yang tadi diberikan Adel. “Besok aku kirim lebih banyak parfum ke rumahmu,” kata Adel sembari melajukan mobil. “Aku bisa beli sendiri,” jawab Awan dingin. “Aku juga udah punya uang sekarang.” “Okay, terserah.” Adel mengedik cuek. “Ada beberapa hal yang perlu kamu tahu tentang aku. Aku tadi lupa mau ngasih tahu kamu.” Awan tak menjawab, tapi Adel tahu pria itu mendengarkan. “Kamu udah tahu tanggal lahirku, kan? Well, umurku tiga puluh akhir tahun lalu. Makanan kesukaanku nggak ada. Aku bisa makan apa pun dengan baik, aku bukan pemilih dalam hal makanan. Minuman kesukaan juga nggak ada. Warna favorit dan lainnya yang favorit gitu juga nggak ada. Aku nggak suka hidupku diatur, aku suka kebebasan. “Umur dua puluh tahun, aku kerja sambilan di kafe dan aku ngerasa cocok dengan kerjaan itu. Tiba-tiba ada orang nawarin investasi ke aku buat bikin kafe. Waktu itu aku naif, jadi aku terima dengan senang hati. Tapi, dua tahun setelahnya, aku tahu dari mana uang investasi itu dan aku balikin semuanya. Bukan jenis investasi yang aku inginkan. Aku mulai dari nol. “Aku mutusin buat pinjam uang mama sama papaku buat beli kafe pertamaku. Kafe tempat kita ketemu. Dalam dua tahun, aku udah bisa balikin semua uang mereka, termasuk bunga investasinya. Kafeku sukses dan bisa sampai sekarang. Itu yang terjadi selama sepuluh tahun hidupku yang paling penting. Masa kecil atau masa remajaku nggak penting, aku nggak begitu ingat,” cerita Adel. Ketika tak ada tanggapan, Adel menoleh pada Awan. Ternyata pria itu sedang menatapnya. Adel menatap ke depan lagi ketika bertanya, “Ada yang mau kamu tanyain?” “Apa kamu bahagia sama hidupmu sekarang?” tanya Awan. Adel terkejut karena pria itu bertanya tentang hal seperti itu. Namun, ia menjawab, “Ya. Aku bahagia. Karena itu, aku nggak mau ngelepasin kehidupanku yang kayak gini. Aku udah tiga puluh tahun dan keluargaku berusaha ngejodohin aku. Jadi, aku mutusin buat nyari suami sendiri. Suami yang aku pengen. Dan itulah yang terjadi sama kita.” “Kalau gitu, aku akan berusaha buat bikin hidupmu terus bahagia,” sahut Awan. Adel mendengus pelan. “Thank you buat kerjasamanya. Aku juga akan ngasih kompensasi yang memuaskan begitu ini selesai.” “Siapa pacar pertamamu?” tanya Awan tiba-tiba. Adel mengerutkan kening. Ketika mobilnya berhenti di lampu merah, Adel menoleh pada Awan. “Pacar pertama?” Adel berpikir sejenak. “Kalau sekarang anggapannya kamu pacarku, berarti kamu pacar pertamaku.” Awan mendengus. “Nggak mungkin.” “Aku nggak kayak kamu yang butuh pacar buat bertahan hidup,” ledek Adel. Awan terdiam. “Kenapa? Kamu tersinggung? Aku kan, cuma ngomongin fakta,” sebut Adel. “Iya, kamu benar,” jawab Awan, tapi dengan nada dingin. Adel menghela napas. Ia melajukan mobil ketika lampu berganti hijau. “Dengar ya, Bocah, aku nggak punya waktu ngurusin ngambekmu yang terus-terusan itu. Jadi, meskipun kamu ngambek …” “Bocah?” Awan mendengus kasar. “Cuma bocah yang masih ngambekan kayak yang kamu lakuin itu,” singgung Adel. “Kamu mau tahu apa yang bisa dilakuin bocah ini?” tantang Awan sembari mencondongkan tubuh ke arah Adel. Adel menghela napas, lalu membelokkan mobil dengan tajam ke pelataran parkir restoran tempat janji temunya dengan orang tuanya. Di sebelahnya, Awan terlempar ke sisi mobil dengan keras. Pria itu mengaduh sambil mengumpat. “Makanya, duduk yang benar, Bocah,” tegur Adel. “Dan kamu harus ingat satu hal. Nggak ada ngambek di depan umum. Cuma di depanku, oke?” Setelah mengatakan itu, Adel mematikan mesin mobil, melepas seat belt, dan turun lebih dulu dari mobil. Awan turun tak lama kemudian dengan ekspresi cemberut. Namun, ketika Adel menatapnya tajam, pria itu mengubah ekspresinya dengan cepat. Adel mendengus geli. Dasar bocah. *** Awan dan Adel menunggu selama satu jam sebelum akhirnya orang tua Adel datang. Papa Adel segera menghampiri Awan dan menyalami serta memeluknya lebih dulu. “Maaf ya, Om terlambat. Sebenarnya ini hari libur, tapi Om mendadak dipanggil untuk operasi darurat,” ucap papa Adel sembari melepas pelukannya. Awan, meski agak terkejut karena sambutan hangat itu, tersenyum dan mengangguk. “Kita juga belum lama kok, Om, Tante,” dustanya. “Adel bilang, kalian udah di sini dari sejam yang lalu,” ucap wanita paruh baya yang memiliki mata seperti Adel. Mamanya. Awan menoleh pada Adel yang mengedikkan bahu. Wanita itu bahkan masih bisa berbicara pada papanya, “Bukan salahku ya, Pa, Papa yang telat.” “Nggak masalah kok, Om, Tante,” Awan menengahi. “Silakan duduk dulu, Om, Tante.” Orang tua Adel tersenyum dan duduk di kursi di hadapan Awan dan Adel. Seorang pelayan datang dan bertanya apa makanan sudah bisa mulai disajikan, dan Adel menjawab dengan anggukan. “Oh iya, Adel, kamu nggak kenalin calon suami kamu?” tegur mama Adel. Awan berdiri dan membungkuk hormat pada mereka. “Saya Awan Cakrawala, Om, Tante. Panggilnya Awan aja.” “Namamu bagus,” puji mama Adel. Awan tersenyum. “Makasih, Tante. Oh iya, Adel bilang, mama sama papanya dokter. Keren, ya? Saya selalu kagum sama orang-orang yang bekerja untuk kemanusiaan,” singgungnya. Mama dan papa Adel tersenyum bangga. “Kalau Nak Awan, kesibukannya apa?” tanya papa Adel. “Oh, saya sih, pengangguran, Om. Saya lagi ngejar impian saya. Doain ya, Om, Tante,” pinta Awan sopan. Mama dan papa Adel kembali tersenyum padanya. Bahkan, mama Adel mengulurkan tangan untuk menepuk lengan Awan, menyemangatinya. “Memangnya impian kamu apa?” tanya papa Adel. “Saya pengen jadi komikus, Om. Yang bikin komik gitu,” terang Awan. “Dulu waktu kecil, Adel suka baca komik,” cerita mama Adel. “Oh ya?” Awan agak kaget mendapat informasi itu. “Adel nggak pernah cerita.” “Itu kan, masa lalu,” tukas Adel. “Tuh, dia pasti malu, makanya nggak cerita,” timpal mama Adel. Awan tersenyum geli. “Kalau kamu terus berusaha dan nggak menyerah, kamu pasti bisa,” ucap papa Adel. “Om dukung kamu, Awan.” Awan mengangguk kuat. “Makasih, Om.” Awan tak tahu, orang tua Adel ternyata sebaik ini. Mereka bagai malaikat. Namun, bagaimana bisa dua orang malaikat ini punya seorang anak seperti iblis? Ketika hidangan pembuka mulai disajikan, percakapan mereka terhenti sebentar. Awan memperhatikan orang tua Adel yang memasang serbet mereka di pangkuan. Awan mengambil serbetnya, tapi Adel mengambil alih serbet putih itu, lalu membukanya dan meletakkannya di pangkuan Awan. Awan juga bingung ketika melihat berbagai macam sendok, garpu dan piring di meja. Hingga kemudian, ia mendengar Adel membisikkan padanya, kegunaan masing-masing sendok, garpu dan pisau. Di akhir penjelasannya, Adel menyentuh rambut Awan di belakang telinga, tangannya sempat menyentuh telinga Awan, membuat Awan berjengit kecil. Awan berusaha mengendalikan ekspresinya ketika di depannya, kedua orang tua Adel memperhatikan mereka. “Mama nggak pernah lihat kamu kayak gini, Del,” ucap mama Adel. “Mama bilang, cinta bisa mengubah seseorang,” balas Adel. Mama Adel tersenyum, mengangguk. “Oh ya, Del, kamu kapan mau ajak Awan ketemu kakekmu? Kemarin waktu Mama ngabarin kakekmu, kakekmu nanyain itu.” Awan menoleh pada Adel. Kakek? Adel berdehem. “Sebenarnya … Adel belum cerita tentang Kakek ke Awan.” Orang tua Adel terkejut. Mereka saling menatap cemas, lalu menatap Awan hati-hati. Papa Adel yang akhirnya berbicara, “Awan, berarti kamu belum tahu sama sekali tentang kakeknya Adel?” “Belum, Om. Adel … belum pernah cerita.” Awan meringis. “Kami juga baru kenal dan langsung jatuh cinta pada pandangan pertama, jadi ada banyak hal yang belum saya tahu tentang Adel. Tapi, saya akan terus belajar tentang Adel dan membuat Adel bahagia,” janjinya. Orang tua Adel menatapnya haru. “Om tahu, karena Om dulu juga seperti kamu,” ucap papa Adel. “Tapi, kakeknya Adel sangat bertentangan dengan Om.” Awan mengerutkan kening. Mama Adel yang kali ini menjelaskan, “Kakeknya sebenarnya berencana menjodohkan Adel dengan laki-laki pilihannya. Tapi, untungnya Adel udah ketemu kamu dan jatuh cinta. Jadi, sekarang Tante nggak perlu khawatir. Karena Tante tahu, Adel akan bahagia dengan orang yang dia cinta.” Pantas saja ini begitu mudah. Orang tua Adel menyambut Awan semudah ini, tapi ternyata rintangannya bukan mereka. Kakek Adel. Kakeknya yang harus Awan waspadai. “Tapi, kamu nggak usah khawatir, Awan. Tante pasti akan belain kalian,” ucap mama Adel. “Pokoknya, apa pun yang dilakuin kakeknya Adel, kamu jangan takut, ya?” Oke, itu terdengar mengerikan. Jangan-jangan, kakeknya ini semacam mafia. Apa ada kemungkinan Awan akan dicincang hidup-hidup? Menikah dengan Adel ternyata tidak hanya Awan terjun ke mulut singa betina ini, tapi sekaligus juga terjun ke kandang macan. Bagus. Ia akan dicabik-cabik sampai mati. *** “Apa? Tony Wiratmadja? Yang punya Grup Wiratmadja itu?” Wiki melotot kaget. Bola matanya nyaris keluar ketika Awan memberitahunya nama kakek Adel. Awan menghela napas. “Gue pikir, kakeknya semacam mafia atau apa gitu. Eh, nggak tahunya malah pemilik grup gede itu. Mampus gue. Mana gue miskin tujuh turunan gini. Bisa dihujat habis-habisan gue.” “Ntar lo pasti ditawarin uang berkoper-koper, Bro. Ambil, nggak?” Nugie antusias. “Gila, lo! Kalau gue ambil, bisa habis gue dimutilasi Adel,” sembur Awan. “Gila, gue nggak kepikiran calon bini lo setajir itu,” gumam Wiki. “Mana tahun lalu sempat ramai tuh, perebutan kekuasaan pas Tony Wiratmadja sakit.” “Tapi, Adel sih, tadi bilangnya mamanya keluar dari rumah kakeknya karena mau nikah sama papanya. Intinya, mamanya nggak mau dijodohin dan udah punya orang yang dia cinta, tapi kakeknya Adel nggak setuju. Jadi, mamanya pergi dari rumah dan nikah sama papanya Adel. Trus, mereka punya Adel. “Eh, kakeknya balik lagi nyari mereka. Ngaku-ngakuin si Adel cucu gitu, pewarisnya. Tapi, Adel nggak mau. Tapi ya itu, kakek sama cucu sama-sama keras kepalanya. Nggak ada yang mau nyerah. Adel bilang, kakeknya masih berusaha ngasih perusahaan ke Adel. Apalagi setelah tahu Adel sukses punya kafe yang cabangnya ada di mana-mana. “Intinya, meski Adel masih nolak pulang ke Grup Wiratmadja, kakeknya itu tetap keluarganya. Jadi, kakeknya bakal hadir di pernikahannya, dan tamu-tamunya juga … yah, kalian bisa bayangin siapa aja yang bakal hadir nanti. Anjir, padahal gue mah apa, cuma onggokan debu, Man! Double mampus gue!” Awan mengacak rambutnya frustrasi. Di depannya, ketiga temannya cengo. “Kasih saran kek, apa kek, malah pada bengong!” bentak Awan kesal. “Gue masih shock dengan silsilah keluarga calon bini lo, Bro. Mungkin di kehidupan sebelumnya lo udah nyelamatin negara ya, sampai bisa dapat bini kayak gitu?” Wiki nyengir. “Pala lo nyelamatin negara, yang ada menuh-menuhin doang gue,” sebal Awan. “Argh, belum lagi besok pakai pindahan segala.” Awan mengerang frustrasi. “Pindahan ke mana, Bro?” tanya Ramli. “Rumah baru. Apartemen, sih. Besok kalian ikut gue, ya?” pinta Awan. Bukannya menjawab, ketiga temannya itu kembali cengo. Awan menoyor Ramli. “Lo kan juga tajir, mau beli apart tinggal beli aja, kan?” singgung Awan. “Ya nggak gitu konsepnya, Wan. Lo tahu gue nggak pintar, jadi susah dapat duit gede buat beli apart.” Ramli merengut. “Seenggaknya, lo nggak pernah bingung kalau nggak punya duit sepeser pun buat makan,” tandas Awan. Nugie menghela napas. “Seenggaknya, sekarang lo nggak perlu melas-melas lagi minta makan, Bro. Perjuangan dikit nggak pa-pa, lah. Berenang-renang dahulu …” “Bersakit-sakit kemudian,” sambung Ramli. “Pantas lo nggak dikasih duit buat beli apart,” sembur Wiki pada Ramli. “Lo juga salah ngasih opening, Gie!” Wiki menoyor Nugie. “Tapi sejujurnya, itu lebih cocok buat ngegambarin keadaan gue sekarang. Renang dulu, sakit kemudian. Gue nggak tahu kapan siksaan ini berakhir, Bro. Pasrah aja gue kalau mendadak mati. Entah itu dibunuh Adel atau kakeknya. Yah, seenggaknya, kalian tahu lah, siapa tersangkanya. Jadi saksi kasus pembunuhan gue, ya?” Ketiga teman kampretnya itu kompak mengangguk, seolah yakin jika Awan benar-benar akan mati. Meski ya, Awan pun berpikir seperti itu. ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD