Perkenalan

1622 Words
Pada saat aku pulang kerja, aku dapat mendengar sebagian besar dari mereka sudah berkumpul di rumah yang akan menjadi tempat tinggalku selama sebulan ini. Aku mulai melangkahkan kakiku memasuki sebuah ruangan kecil yang menjadi tempat untuk kami bertukar sandal rumah dan meletakkan sepatu yang telah kupakai ke kabinet sepatu. Setelah selesai, aku menuju ke living rumah ini yang terhubung langsung dengan ruang makan dan dapur. Dari tempatku berada, aku bisa melihat beberapa dari antara mereka melambaikan tangannya dari balik railing kaca lantai dua itu, tempat mereka sedang duduk dan berbincang-bincang. Desain rumah ini sangat menarik, terutama lantai duanya yang berbentuk seperti huruf U, kesan modern dengan ceiling yang tinggi bisa kami rasakan sejak pertama kali memasukki rumah ini. Aku berjalan menuju dapur, di sana terdapat dua orang pria sedang membuat makanan bersama dua wanita lainnya. Aku berjalan menghampiri mereka, dan seketika itu langkahku terhenti, aku melihat wanita itu merangkul pria yang berada di sebelahnya. Aku sedikit terkejut dengan apa yang baru saja kulihat, namun aku pun menyadari bahwa tidak ada seorang pun di tempat ini yang terikat hubungan percintaan. Belum. Wanita itu dan pria itu bebas untuk melakukan pendekatan apapun di ruang publik, di rumah ini. Aku menyapa mereka sebentar dan menyadari bahwa mereka sedang menyiapkan cemilan malam untuk perkumpulan malam ini. Aku pun melanjutkan langkahku menuju kamarku di lantai 2. Di ruang duduk lantai 2, empat penghuni lainnya sedang duduk dan berbicara sambil sesekali menyeruput minuman di hadapannya. Aku yakin mereka menunggu orang-orang di bawah tadi untuk membawakan cemilan bagi mereka. Yoong-Jae, salah satu pria paling ramah di rumah ini menyapaku dan mengajakku untuk bergabung bersama mereka. Aku-pun mengiyakannya sembari izin untuk menaruh sebentar barang-barangku di kamar. Aku duduk di antara Bora dan Yoong-Jae. Tak lama, sebagian orang yang ada di bawah pun bergabung dengan kami. Setelah berbicara beberapa lama, aku merasa lapar sehingga aku memilih untuk berjalan ke bawah untuk mencari makanan di dapur. Aku berharap ada makanan yang lebih berat yang bisa aku makan. "kamu belum makan?", tanya seorang pria tinggi yang tiba-tiba sudah berada di dapur itu sembari memegang gelas air minum. "belum.." jawabku sambil lalu, dan mencari makanan di setiap kabinet lemari "kamu mau mie ?" tanya-nya padaku. "boleh... " jawabku setengah ragu dengan jawabanku karena di tengah malam begini, dan aku memilih makan mie yang dapat menyebabkan wajahku membengkak. Namun tidak ada pilihan lain. "duduklah, atau kamu bisa kembali ke atas sambil menunggu makanan mu jadi.. " jawab nya dengan nada cuek seperti biasanya. 'Seperti biasanya' karena selama tiga hari ini, aku sudah terlatih untuk melihatnya berbicara dengan gaya dan nada-nya yang cuek. Mengingat aku satu-satunya perempuan introvert di rumah ini, aku memilih untuk diam di meja makan sambil menunggu makananku jadi. Sebelum ia mulai memasak, ia mengecek semua home appliance di rumah itu. Aku kembali memperhatikan pria yang sedang membuat makananku itu, dia, pria kurus, tinggi, berkulit cenderung cokelat, dengan panjang rambut yang mencapai matanya. "ini makananmu, makanlah" nyatanya sambil menaruh semangkuk mie yang telah ia buat di hadapanku. "oh" jawabku terkejut dengan mie lengkap yang disajikannya "terima kasih".. Ia berusaha mendorong masuk kursi di sebrang mejaku dan bermaksud membalikan badannya sebelum kupotong, "apakah kamu tidak menemaniku makan?" "apa kamu mau ditemani?" Pertanyaan konyol menurutku, tapi aku memberikan anggukanku untuk menjawabnya, lalu dia menarik kembali kursi yang telah ia coba masukkan sebelumnya... "ini enak..." ujarku "apa iya?" jawabnya sambil mendorong poni rambutnya ke belakang. Jawabannya selalu singkat, jelas, dan terkadang tidak berguna... "oh ya?" Sera, wanita yang sedari tadi aku pulang sudah ada di lantai bawah, bergerak mendekatiku dan bergestur mau mencoba makananku, tanpa banyak bicara, aku-pun membiarkannya menyeruput mie itu. Dengan senyumnya, Sera melemparkan jempol kepada pria cuek itu.. Seperti biasa pria cuek itu hanya tersenyum dan menundukkan kepalanya... Lagi-lagi terkesan dingin. Sera kembali berkeliling rumah, entah apa yang dilakukannya, sehingga aku diam berdua bersama pria itu... "jam berapa besok kau akan pegi kerja?" tanyanya... "jam 9 mungkin" "kita bisa pergi bersama" "baiklah" aku tidak menolak ajakkan pria itu, yang menghemat energi-ku untuk berjalan sediri atau menyetir sendiri ke tempat kerjaku. Setelah makananku habis, kami kembali ke atas untuk berkumpul bersama yang lainnya. Untuk pertama kalinya setelah 3 hari, kami menerima sebuah "surat". "Silakan memperkenalkan diri kalian masing-masing, usia dan pekerjaan kalian." Surat itu adalah petunjuk-petunjuk atau tugas yang diberikan panitia pada kami, tentunya untuk membuat kami semakin dekat antara yang satu dengan yang lainnya. Semoga saja begitu. Kami 10 orang dengan latar yang berbeda, terdiri dari 5 pria dan 5 wanita dikumpulkan dalam 1 rumah untuk saling mengenal satu sama lain dalam waktu satu bulan. Karena tidak ada satupun orang yang hendak menjadi volunteer untuk memperkenalkan diri, maka aku terpilih untuk memperkenalkan diri pertama kali, alasannya karena aku orang terakhir yang pulang hari ini. 'Padahal ada 1 orang lagi yang belum pulang, kalau tau begitu aku akan pulang lebih larut' pikirku. "usiaku, 29 tahun, aku seorang analis (riset) pasar" ungkapku. Namaku Rael, mendekati usiaku yang akan genap 30 tahun pada tahun depan, aku memilih untuk mengikuti program unik ini, yang membuatku harus menghadapi 9 orang dengan karakter yang sangat beragam. "wow'' respon Sera "usiaku 31 tahun, aku seorang analis keuangan" jelas Yoong-Jae. Aku tak menyangka orang disebelahku memiliki pekerjaan yang mirip denganku. Yoong-Jae merupakan salah satu dari dua pria yang sering menggunakan kacamata di rumah ini. Yoong-Jae memiliki tubuh yang bagus dan bugar, bagi wanita yang menyukai pria atletis, ia akan masuk dalam daftar wanita tersebut. "Usiaku 33 tahun, aku seorang barista juga pemilik café," jelas seseorang tinggi yang tadi membuatkanku makan malam, Yohan. "Usiaku 34 tahun, aku seorang dokter" ungkap Kang-Min, pria paling pendiam di rumah ini. Ia ramah dan hangat, namun berbicara sangat sedikit, ia hanya berbicara saat kau bertanya padanya. Namun, jika kau bertanya mengenai sesuatu yang ia ketahui, ia akan menjabarkannya dengan sangat mendetil dan jelas. Ia adalah pria kedua yang beberapa kali kulihat menggunakan kacamata. "aku 30 tahun, aku gym instructor.." Hae-il memiliki badan yang besar dan tinggi, yang menunjukkan minatnya pada olahraga. Walaupun sama-sama memiliki tubuh yang atletis dan tinggi, namun tubuh Hae-il terlihat lebih besar dan berisi dibandingkan dengan Yoong-Jae. "usiaku 29 tahun, pekerjaanku adalah seorang make-up artist.." kalau kugambarkan selama 3 hari aku di rumah ini, Yuri adalah wanita tercuek di rumah ini. Ia seperti wanita yang sangat mandiri, ia tidak terlalu peduli dengan pendapat di sekitarnya, dan ia juga sangat berani mengutarakan pendapatnya dengan jelas. Secara wajah, Yuri sangat cantik dengan rambut yang terurai panjang, ditambah ia adalah seorang MUA menyebabkan penampilannya sangat mempesona. "apa kau merias artis?" tanya Sera. "tidak, biasanya aku merias calon pengantin…" jawab Yuri diikuti anggukkan Sera. "usiaku 27 tahun, aku seorang training consultant" ungkap Sera. Sera, pemilik badan mungil, termungil di rumah ini. Ia memiliki mata bulat seperti puppies yang sangat indah, kalau kugambarkan ia seperti Park Bo-Yong, cantik dengan imutnya.. "pekerjaanmu sangat keren, dan sesuai denganmu…" tanggap Yoong-Jae sambil memberikan jempol. "aku 27 tahun, aku seorang influencer." terang Hana. Hana memiliki aura keanggunan yang terpancar dari wajah dan perilakunya. Karena pekerjaannya influencer, ia mampu berkata-kata dengan sangat baik, yang membuat orang terpana dengannya. "kami sudah bisa menebak pekerjaanmu" jelas Hana yang tertuju pada Bora. "aku 25 tahun, aku seorang model…." ungkap Bora. Bora merupakan wanita yang penuh energi, ia tidak juga dapat dinyatakan tomboy tapi ia akan rela untuk melakukan aktivitas yang banyak memerlukan tenaga. Suaranya sangat lantang dan keras, di saat yang sama ia akan memberikan suasana riang pada siapapun yang ia temui. Kami, manusia di atas 25 tahun yang berusaha mencari jodoh melalui acara ini. Setelah acara perkenalah selesai, aku memilih kembali ke kamarku bersama Hana. Kamar kami terletak di ujung lantai 2, dari posisi kami berada sebelumnya kami perlu melewati balkon outdoor di lantai 2, kamar pria di lantai 2, barulah kami sampai di kamar kami. "Adakah seseorang yang menarik perhatianmu", tanya Hana saat kami sampai di kamar dan berjalan menuju ke kasur kami masing-masing. "Aku belum yakin tentang hal itu" jawabku. "Aku-pun demikian, kita baru 3 hari di sini, dan rasanya canggung untuk memulai segala sesuatu", aku mengangguk setuju dengan pernyataannya. Satu orang lagi yang sekamar dengan kami adalah Yuri, sepertinya ia masih di luar saat ini. "Tapi, beberapa penghuni pria memang menarik perhatianku..." nyatanya lagi, pernyataan Hana menunjukkan sisinya yang bertolak belakang denganku. Ia dapat dengan mudah mengungkapkan perasaanya. "Pria seperti apa yang kau sukai, yang menarik perhatianmu sejak kali pertama kau melihatnya ?" tanyaku penasaran. "Pria yang menawan... " jawabnya ringan. Aku memutar otakku, berusaha menemukan sesosok pria yang ia nyatakan 'menawan'. "Menawan seperti apa yang kau maksudkan?" "entahlah, aku rasa seseorang yang sesuai dengan selera menawanku dan berkarisma, ... " jawabnya. Aku kembali keluar karena tumbler-ku tertinggal di ruang duduk tadi. Aku sadari Yohan dan Yuri beradu berpendapat dengan suara yang sangat keras. Aku mengabaikan mereka, mengikuti beberapa orang lain yang menikmati argument mereka, lalu beranjak mengambil tumbler-ku dan berjalan kembali ke kamar. Akan seberapa sengitkah 10 orang berkumpul di satu rumah, tanpa pernah berkenalan sebelumnya, tanpa ada latar belakang yang jelas, apakah kami akan cocok atau tidak. Tiba-tiba Yuri pun berjalan melewati-ku menuju kamar kami, dan ia mulai mengomel. "aku tidak suka dengan dia yang memulai perdebatan dengan-ku…." cerita Yuri "aku lihat dia berusaha untuk dekat denganmu" nyata Hana "entahlah, yang aku rasa, ia hanya mencoba mengajakku bertengkar dengan meributkan hal-hal yang tidak seharusnya" Kupikir Yuri adalah wanita yang sangat cuek, ia terlihat tidak peduli akan pendapat atau perilaku orang lain, tapi ternyata tidak. Atau ini hanya keributan yang disebabkan oleh alkohol? Sewaktu Seok-Hoon pulang, ia memanggil kami untuk keluar karena ia menemukan sepucuk surat (lagi) di pintu masuk rumah kami. Pernyataan surat itu Letter: 'Setiap penghuni pria akan mempersiapkan sebuah hadiah tanpa nama yang ditunjukkan untuk penghuni wanita sedangkan para penghuni wanita akan memilih hadiah tersebut secara acak' 'Sepertinya akan ada hal baru yang akan terjadi besok' pikirku
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD