Hari ke-5 yang merupakan hari kencan kedua yang di setting oleh penyelenggara membuatku bangun terburu-buru. ‘Aku terlambat’ tinggal aku sendiri di kamarku, yang lain sepertinya sudah berangkat.
"kamu bangun terlambat." tiba-tiba ada suara yang menyapaku dari luar ruangan. Sepertinya, ia tidak menyangka masih ada penguni di rumah ini.
"kamu belum berangkat ke tempat kencanmu," tanya Kang-Min melanjuti pernyataanya sebelumnya.
"belum, aku terlambat" jawabku singkat, terburu-buru dan sedikit panik, sambil setengah berlari berjalan melewatinya dan menuju pintu keluar.
"bersenang-senanglah dengan teman kencanmu" teriaknya bersamaan denganku yang menutup pintu depan rumah kami.
Aku masuk ke salah satu restaurant BBQ. Aku tidak begitu terlambat mengingat kami hanya kencan sebentar untuk makan siang kali ini, mungkin dengan snack sore.
"Rael.." panggilnya, ketika aku masih sibuk melirik ke sana kemari.
"oh.. " aku melambaikan tangan, berjalan menghampirinya, dan duduk di seberangnya.
"maapkan aku terlambat...
"tidakk apa-apa, kau sengaja menghindari kencan ini? kau takut tidak bisa makan dengan tenang? " tanya Seok-Hoon berurutan padaku.
"aku tidak tahu bahwa itu akan dirimu, aku cukup lega bahwa kencan kedua ini bersama-mu..
"jadi, memang sebenarnya kau menghindari kencan kedua ini karena kau trauma pada kencan pertamamu?
"Aku tidak merasa bahwa kencan pertama-ku sangat buruk, tidak seperti itu. Tapi aku merasa sangat sangat canggung dengannya.
"Jadi, canggung yang kau masukkan karena kau menyukai pria itu yang membuatmu gugup atau karena kau tidak nyaman bersamanya ?" tanya Seok-Hoon mengintrogasiku lagi sambil menunggu makanan kami datang.
"Aku tidak tahu apa yang sebenarnya kurasakan. BIsa jadi aku gugup karena itu adalah kencan pertamaku di acara ini, bisa jadi aku gugup karena personali nya..." jawabku, sejujurnya ada hal lain yang ingin kusampaikan tapi karena kami tidak boleh menyebutkan teman kencan kami sebelumnya aku menjaga mulutku dengan rapat. Personality Kang-Min yang sangat tenang terkadang membuatku sangat gugup dan canggung, terkadang saat berdua dengan seseorang aku merasa tidak nyaman jika kami terlalu banyak diam, dan itu yang terjadi ketika ku bersama Kang-Min.
"jadi , kau bisa makan lebih baik hari ini?" tanyanya, tidak menyelidiki lebih lanjut kencan pertamaku.
"seperrtinya begitu…" sejumlah makanan disajikan , potongan-potongan daging, beserta sayuran (selada), kimchi, juga tauco berada di sekeliling tempat pembakaran siap untuk dipanggang.
"sebaiknya kita mulai makan," lanjutnya, sambil mengeluarkan sumpit, sendok, mengelapnya dan memberikannya padaku. Ia memang pria yang cukup detail melihat kebiasaanya makan saat ini bahkan sewaktu memasak kemarin. Sembari makan, kami pun melanjutkan obrolan.
"apa pekerjaanmu?" tanyaku
"manajer hotel," jawabnya sambil memasukkan sejumlah selada dan daging ke mulutnya.
"tapi kau sangat fasih memasak, kupikir kau pemilik restaurant…
"aku lulusan culinary, namun pada akhirnya aku memilih untuk menjadi manajer hotel… lalu, kau?"
"kau tidak mengetahuinya karena kau tidak hadir di malam kami menceritakan pekerjaan dan usia kami"
"jadi kau tidak mau memberitahuku?"
"tidak.." jawabku, sambil menggelengkan kepala yang mungkin terkesan angkuh. Dia terlihat kaget mendengar jawabanku "aku seorang peneliti"
"kau terlihat seperti penampilanmu… "
"maksudmu penampilanku terlalu kaku?"
"ya, salah satunya.."
"terima kasih….
"aku tidak menganggap itu sebagai hal yang tidak menarik, kalau kau berpikir aku mengejek-mu barusan…
"aku mengerti, tidak usah kau lanjutkan…. Apa kau menyukai teman kencanmu kemarin?
"dia wanita yang cantik menarik, awalnya aku ragu tapi pembicaraan kami cukup lancar"
"menyenangkan…" jawabku singkat sembari memasukkan sesendok nasi ke mulutku.
"makanmu banyak" lanjutnya
"tenanglah, aku bukan wanita yang akan terganggu dengan pernyataan seperti itu"
"aku tahu itu…
"akan kemana kita sehabis ini?" tanyaku setelah kami berhasil menghabiskan seluruh makanan kami.
"kau akan mengetahuinya ..
"apa kau merahasiakannya? Apa kau yang merencanakannya?
"tidak keduanya.. Tapi biar kau lihat nanti…
Setelah makan, kami menuju ke mobil nya yg terparkir. Kami melanjutkan pembicaraan kami di mobilnya.
"pria seperti apa yang kau sukai?
"hmmm.. Sepertinya aku tidak mempunyai spesifikasi khusus untuk itu, hanya yang dapat berbicara nyambung, bertanggung jawab, dan menarik perhatianku.. Bagaimana denganmu?
"wanita cantik, independent..
"jarang pria menyatakan mencari wanita independent? Bukankah sebagian besar pria mengharapkan wanita yang bergantung padanya?
"mungkin aku bukan salah satu dari pria itu…
"alasannya?
"sebagai manajer hotel, aku sering melakukan perjalanan dinas, aku tahu aku cukup sibuk sehingga aku merasa kasihan apabila wanita itu tidak cukup mandiri. Aku pikir wanita itu harus memiliki pekerjaan yang baik, di mana ia dapat menikmati pekerjaannya tanpa terlalu banyak memikirkan aku….
"apa kau akan bekerja di pekerjaanmu ini untuk waktu yang lama? Selamanya?
"aku tidak tahu, aku hanya menyatakan apa yang aku rasakan saat ini… bukankah pekerjaanmu juga menuntutmu untuk banyak menghabiskan waktu di kantor?
"aku rasa aku-pun begitu, tapi aku tetap berusaha meluangkan waktu untuk bersama orang yang kusukai. Mungkin pekerjaan bukan nomor yang pertama bagiku"
"aku harap aku bisa begitu.. "
Kami tiba di salah satu café dengan dekorasi dan ornament klasik seperti di tahun 90’an.
"tempat ini memutarkan musik dari piringan hitam" jelasnya
"oh yaa..
"mereka masih memajang piringan-piringan hitam itu," lanjutnya sambil sibuk menunjuk beberapa piringan hitam di hadapannya.
"entah bagaimana mereka mempertahankan alat pemutar itu… " kami duduk di salah satu meja dekat jendela besar di lantai atas tempat itu… Pelayan menyajikan dua buah gelas kopi yang sudah kami pesan sebelumnya sewaktu masuk gedung ini.
"bagaimana perasaanmu mengikuti acara ini?"
"aku tidak terbiasa tinggal dengan banyak orang, tidak terbiasa diawasi, apalagi setelah kencan pertama, aku rasa beberapa orang sudah memilih posisinya… "maksudmu?
"aku merasa beberapa orang sudah mulai menyukai orang tertentu dan berusaha untuk dekat dengan orang yang mereka taksir dan memantau apakah orang lain menyukai orang yang sama dengan mereka
"itu hal wajar untuk diacara seperti ini bukan?
"kamu benar… hanya saja aku belum memikirkan bagaimana jika aku berteman sekaligus bersaing dengan orang yang sama. Aku rasa itu akan sangat menyulikan.
Aku pulang ke rumah lebih dulu dari Seok-Hoon, teman kencan kedua-ku.
"bagaimana perasaanmu saat ini? Apa kau menyukai teman kencanmu hari ini?" teman bawelku, Sera sudah ada di samping-ku di kamar-ku. Kamarku yang terletak di lantai 2 ini berbentuk persegi. Berhadapan dengan pintu masuk berjajar dengan bentuk L (L-Shape), meja rias yang biasa digunakan oleh aku, Yuri dan Hana untuk berdandan. di sisi kiri pintu masuk, sejajar dengan pintu masuk, tersedia satu ranjang yang biasa digunakan oleh Hana. Sedangkan di sisi kiri dari pintu masuk, terdapat 2 ranjang yang digunakan oleh Yuri dan aku. Letak ranjangku lebih dalam tepat di sebelah perbatasan antara kamar ini dengan walk-in closet. Di ujung kanan kamar ini terdapat kamar mandi yang biasa kami gunakan, adapun untuk menuju kamar mandi tersebut kami perlu memasuki walk-in-closet dan mengarah ke sebelah kanan.
"aku menyukainya lebih dari kencan pertamaku, pembicaraan kami cukup lancar, walau aku tidak yakin apakah kami akan cocok, pandangan kami sedikit berbeda," aku masih duduk di meja rias ku yang juga bersebelahan tepat dengan palang walk-in-closet, sambil membereskan sedikit rambutku yang berantakan dan memakai beberapa cream untuk mencegah tanganku menjadi kering.
"apa kalian sudah membicarakan hal yang mendetil di awal kencan kalian?" Sera bertanya dengan membelakkan matanya, tidak percaya pada apa yang aku alami..
"aku rasa begitu.. Kami tidak bermaksud membicarakan hal secara mendetil, tapi beberapa pertanyaan dan jawaban kami memberikan gambaran atas cara pandang kami"
"mungkin kamu terlalu banyak berpikir, ayolah, kamu tidak sedang melakukan penelitian mu di acara ini Rael, nikmatilah.. coba rasakan perasaanmu saat ini
"aku yakin, pria yang aku kencani tadi memiliki pesona yang menarik bagi wanita di rumah ini…
"kamu pikir aku akan menyukainya juga," aku mengangguk mendengar pertanyaanya…
"hmmm… hampir seluruh pria di rumah ini sudah berbicara denganku tapi aku rasa, apa yang menurutmu menarik belum tentu menarik untukku, apa kamu pikir wanita lain ada yang menyukainya? Teman kencan keduamu ini?” cecaran pertanyaan Sera menghujaniku.
"aku rasa ia menyukai teman kencan pertamanya…" nyataku lagi pada Sera.
“apa itu membuatmu khawatir ?” tanyanya lagi dan aku hanya menggelengkan kepalaku.
“kami baru memulai pembicaraan kami hari ini, aku belum tahu apakah aku hanya menyukai karena first impressionnya bagiku, atau ia memang benar-benar menarik untukku.” ungkapku.
Question: Apa aku lebih menyukai kencan keduaku daripada kencan pertamaku?