Kencan Pertama

1062 Words
Pagi hari aku bersiap-siap, aku berdandan di kamar wanita lantai 2. Aku memilih untuk berpakaian se-netral mungkin, se-kasual mungkin. Aku sudah mempersiapkan turtleneck berwarna broken white, celana jeans, dan coat cokelat untuk mengantisipasi angin dingin yang mungkin aku temui saat aku keluar dari rumah hari ini. Pk 11.00 siang aku sudah berada di depan café yang terletak di dalam gang. Aku memasukinya dan melihat seorang yang aku kenali ada di dalamnya. 'Kang-Min' "apa kamu kaget melihat aku yang ada di hadapanmu?" tanyanya sambil tertawa. "sejujurnya, siapapun yang akan ada di hadapanku, aku akan tetap kaget" jawabku sambil tertawa. "pesanlah, apa yang kau sukai" Kang-Min pria yang ramah, hangat, dia salah satu pria yang paling tidak banyak berbicara namun selalu memberikan perhatian yang hangat pada penghuni rumah. "aku pesan capucinno".. "kue di sini enak", setelah aku menyicipi sepotong kue yang dipilihkan Kang-Min untukku. "bagaimana pekerjaanmu" tanya Kang-Min "pekerjaanku seperti biasa, membosankan bagi sebagian besar orang, tidak banyak orang yang mau melakukan riset sepertiku, mengolah data itu hal yang membosankan" "menurutku itu hal yg menarik" timpal Kang-Min. Kalau dilihat secara fisik, wajah Kang-Min cenderung bulat, kecil, dengan rambut rapi, mata sipit dengan lipatan mata. "lalu, bagaimana denganmu, pekerjaanmu" "pekerjaanku mengobati orang " "aku membawa snowball darimu.. " "hahaha…. Tas-mu cukup besar untuk membawa snowball seperti itu.. Aku harap kau akan selalu mengingatku setiap kau melihat snowball itu" aku mengangguk dengan mendengar pernyataannya. "Kamu menyukai binatang??" tanyanya lagi. "Aku menyukai semua binatang yang berbulu, mamalia… "aku juga menyukainya… semua binatang, apalagi mamalia.. Kita harus menyempatkan waktu untuk pergi ke kebun binatang bersama… "aku merasa itu ide yang menarik" "aku tak menyangka kau akan menyukainya…" Kami diminta untuk kembali pada waktu yang telah ditentukan, agar tidak ada yang mengetahui kencan yang satu dengan yang lain. 'sejujurnya aku penasaran bagaimana kencan penghuni lainnya. "bagaimana kencanmu", tiba-tiba Yohan sudah ada di belakangku sewaktu aku hendak duduk di sofa lantai 2. "apa aku boleh memberitahukannya padamu", aku balik bertanya membuatnya sedikit jengkel, ia mengikutiku dan duduk di sebelahku. "apapun…", maksudnya jika tidak memberitahunya-pun itu tak apa.. Untuk sekian kalinya, kami terdiam. Melihat jam sudah menunjukkan waktu untuk makan malam , aku meninggalkannya dan turun ke lantai satu untuk memasak. "apa yang sedang kamu siapkan?" tanya Seok-Hoon "makan malam,…" "maksudku, makanan apa… "ow, aku mau buat bulgogi, sup kimchi, bagaimana menurutmu" "biarku bantu,, dengan siapa seharusnya kau membuatnya? "denganmu…. "sungguh?" tawanya… "lalu, mengapa kamu disini kalau kau tidak tahu… "aku hanya becanda… berikan bahan makanannya padaku…. Kamu seharusnya dapat memanggilku jika kamu hendak membuatnya…" "Aku berencana untuk memasak lebih awal sehingga aku pikir, jika aku memanggilmu lebih awal aku akan menganggumu. Dia menggelengkan kepalanya, "sebaiknya kau memberi tahu-ku jika kau ingin memasaknya lebih awal…. "sejujurnya, aku memastikan perutku terisi hari ini…. Untuk mencegahkan mengamuk" aku memberikannya alasan mengapa aku memasak lebih awal "kau akan mengamuk jika kau tidak makan tepat waktu?" "bisa jadi" jawabku sambil mengangguk "apa kau tidak senang dengan teman kencanmu" "apa aku terlihat tidak senang? "aku yakin makanmu akan lahap jika kau menyukai teman kencanmu "apa kau makan dengan baik di kencanmu hari ini? "aku rasa begitu.. kau belum menjawab pertanyaanku…" "aku bukan merasa tidak senang, tapi rasa nya aneh untuk kencan pertama, berduaan, dan makan itu… "aku tahu maksudmu… kita bisa menyelesaikan ini dengan cepat dan kau bisa coba untuk memakannya. " Aku tak menyangka keahlian masak Seok-Hoon sangat hebat, makanan untuk makan malam selesai lebih cepat dari dugaanku. Kami bersama-sama menyantap makan malam kami di ruang makan yang berposisi dekat dengan kitchen-nya. "besok kita akan ada kencan ke-2, acara ini sungguh memaksimalkan waktu weekend kita untuk berkencan" nyata Sera. 'mengapa dy selalu tau segalanya lebih cepat dariku' "apa kita sudah tau teman kencan kita untuk besok?" tanya Yohan "sepertinya tidak, kali ini penyelenggara yang akan menentukan teman kencan kita." Sera "penentuan tempat akan ditentukan oleh penyelenggara ?" Yoong-Jae, Sera mengangguk. Surat: "Kalian akan melakukan perjalanan kencan kedua yang akan ditentukan secara random oleh panitia" Dari kencan pertama kami, aku tidak melihat ada perubahan yang berarti pada para penghuni rumah ini. Sepertinya, hadiah yang disiapkan para penghuni pria itu tidak semuanya sesuai dengan tujuan, dan kami menemui teman kencan yang seharusnya tidak kami temui. Namun, memang beberapa dari mereka terlihat lebih bahagia dari 3 hari kemarin seperti Bora, Hana, Sera, aku tidak dapat meprediksi tanggapan/ perasaan para pria. Apa mereka sudah menemukan yang mereka taksir dalam waktu 4 hari? Atau banyak diantara mereka yang naksir sepihak? Atau aku yg salah memprediksi. Di antara para penghuni wanita, aku akui aku paling dekat dengan Sera, kami tidak sekamar tapi segala perilaku dan pemikirannya, seakan cocok denganku. "apa kamu menyukai teman kencanmu hari ini?" tanya Sera "aku tidak yakin menyukai-nya" jawabku, kami berada di kamar Sera dan Bora. Entah mengapa langkah kaki-ku setelah makan menuntunku untuk mengikuti mereka, berusaha untuk menjalin hubungan dengan mereka termasuk melihat kondisi kamar mereka. "secara karakter, pekerjaan, ia sesuai dengan karakterku… "namun? Mengapa kau tidak yakin? "entahlah…. "kamu terlihat senang hari ini…." nyata Bora pada Sera. Sera tersenyum dan menjawab "iya, dia pria yang menyenangkan" "ceritakan bagaimana kencanmu" lanjut Bora bersemangat. "aku rasa dia pria yang sangat hangat. Ia tampan dan sangat ringan tangan " "apa dengan pernyataanya kamu dapat menebak teman kencan nya?" tanya Bora padaku, tentunya kugelengkan kepala. "aku rasa, aku baru mengenal 3 pria di rumah ini, dan yg baru disebutkan oleh Sera, bukan 3 orang yang ada di otak ku saat ini" jawabku "hahahaa… aku pun demikian" Bora menimpali "aku rasa, mulai minggu depan kita akan dapat menebak dengan akurat" Sera , aku hanya mengangguk. "Bagaimana denganmu Bora?" "Aku menyukainya, penampilannya tidak menggambarkan karakternya. Aku rasa penampilannya berlawanan dengan karakternya..." Bora "jadi hanya aku yang merasa biasa saja", tiba-tiba kalimat itu keluar dari mulutku. Sera menepuk punggungku seraya menyemangatiku "tenanglah, ini baru hari ke-4. Besok mungkin menjadi hari keberuntunganmu…" Sera pemilik kata-kata positif itu, sangat cocok dengan pekerjaannya sebagai training consultant. Bora pemilik energi terbesar di rumah ini, bergerak bak cheerleader menyemangati-ku. "aku kembali ke kamarku" timpalku… "fighting!" teriak Bora sambil melirik kepergianku. Sejujurnya, sebagian dari otakku, penasaran dengan apa yang terjadi subuh kemarin sewaktu para pria itu mengutarakan pikirannya. 'Bagaimana jika aku berakhir dengan pria yang hanya berorientasi pada uang?' "bagaimana semalam?" tanyakku pada Hana saat aku melihatnya di kamar kami. "sangat menarik… "dari sana kau mengetahui mereka lebih baik?" tanyaku, diikuti anggukannya. "seseorang menarik perhatianmu? "aku rasa begitu… Question. Apa seharusnya aku tetap berada di sana malam itu?
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD