Pertemuan Tengah Malam

1031 Words
Setelah para penghuni wanita selesai menentukan hadiah yang telah disiapkan penghuni pria, sebagian dari kami memilih beristirahat. Aku yang terbiasa tidur larut tidak bisa tidur dan memilih untuk berjalan berkeliling di rumah ini. Aku melihat Seok-Hoon sedang duduk di meja makan, membuatku ingin bersinggah sebentar di ruang makan itu. Entah apa yang akan kulakukan, atau kubicarakan dengannya, aku hanya merasa bosan untuk kembali ke kamarku di lantai 2. Aku merasa malas ditanyai mengenai bagaimana perasaanku, atau aku curiga para wanita akan menanyakan itu padaku. "Jam berapa besok kita harus pergi?" tanya Seok-Hoon, mengacu pada waktu kencan besok. "Setahuku jam 11… " jawabku sambil mengingat surat dan informasi yang diberikan penyelenggara acara. "jam berapa biasanya kau tidur? "sengantuknya…. " bukankah jawabanku sangat apatis? Aku merasa bersalah atas jawabanku, tapi bertemu dengan orang asing, membuatku tidak bisa berbicara dengan baik. Di samping itu, aku yang mendekatinya dengan duduk di sampingnya, namun aku juga yang mengabaikannya. Selama 3 hari ini aku belum pernah berbicara dengan Seok-Hoon, jadi ini adalah kali pertama bagiku, membuatku merasakan rasa canggung yang luar biasa. "kau tidak tidur?" tanyaku balik. "belum…" "dan kau akan minum ?" aku melihat sudah ada tiga botol alkohol di hadapannya. Ia mengangguk. Aku melihat beberapa pria lain keluar dari kamarnya dan bergabung di meja makan ini, aku cukup merasa risih berada di sini, sepertinya mereka sudah janjian untuk minum bersama malam ini dan aku, tamu tak diundang mereka. "kita akan bermain kejam malam ini, sebelum kencan besok… kau mau bergabung ?" tanya Yoong-Jae padaku. Sebelum aku menjawab, Hana muncul entah dari mana, dan berkata… "aku siap untuk bergabung.. "nyatanya sambil duduk di sebelahku dan menutupi punggunnya dengan syal yang dibawanya. Aku gagal untuk menjawab dan berakhir bergabung bersama mereka. Kami bertujuh saling menyelidiki satu sama lain dan yang kalah akan minum alkohol itu, alkohol yang aku tunjuk diawal pertemuaan saat aku berduaan bersama Seok-Hoon. Aku duduk di posisi lain di meja makan di mana belakang-ku ada tembok rumah, di sebelah kiri-ku ada Hana dan di sebelah kanan ku ada Hae-il. Tepat di seberangku yang mengarah pada ruang tamu dan tangga menuju ke lantai 2 terdapat Kang-Min dengan Seok-Hoon di sebelah kanannya, Yoong-jae di sebelah kirinya dan Yohan di ujung kiri. "kita akan gunakan botol kosong ini, untuk menentukan orang yang menjadi penjawab" terang Hae-il sambil membawa botol yang ditemukannya di island dapur. Aku sungguh-sungguh berharap keberuntungan berpihak padaku kali ini, agar aku tidak perlu meminum satu sloki-pun. Aku memilih gelas terkecil, sloki tentunya untuk memastikan aku meminum sedikit mungkin. Aku tidak suka mabuk dan juga tidak suka juga minuman beralkohol, apapun itu. Putaran pertama botol itu mengarah pada Kang-Min, dan setelah perundingan sebelumnya Hana yang memiliki kesempatan bertanya. "Ada berapa wanita yang membuatmu tertarik di tempat ini ?" tanya Hana. "Bukankah pertanyaanmu terlalu sederhana ?" omel Yoong-Jae, yang berkata hendak 'bermain kejam' hari ini tapi tak dihiraukan oleh yang lainnya. "Saat ini ?" Kang-Min kembali bertanya pada Hana diikuti tatapan mata para pria lain menyelidiki Kang-Min, Hana mengangguk. "Untuk saat ini aku rasa hanya 1..." Setelah berhasil menjawab pertanyaan Hana, Kang-Min memiliki kesempatan untuk memutar botol itu, dan seakan berbalik, botol itu kembali mengarah ke Hana. Tentunya Kang-Min yang memiliki kesempatan bertanya kali ini. "Jika pada saat pilihan terakhir kau mengetahui bahwa orang yang lebih kau sukai akan memilih orang lain, sedangkan kau juga mengetahui bahwa ada orang lain yang akan memilihmu di pilihan terakhir, siapa yang akan kau pilih pada akhirnya ?" pertanyaan Kang-Min jelas jauh lebih berat dari pertanyaan Hana sebelumnya. Hana menggunakan beberapa waktu memikirkan jawaban yang tepat sebelum benar-benar menjawab Kang-Min "Aku akan memilih yang kedua, aku merasa lebih aman dan nyaman dengan pilihan yang kedua" jawab Hana pada akhirnya. Hana kembali memutar botol itu dan kali ini kami sungguh berharap botol itu tidak mengarah pada Kang-Min lagi. Kali ini botol itu mengarah padaku, aku sungguh berharap pertanyaannya tidak sesulit para pria itu. "Jika kau menyukai seseorang apakah orang-orang disekelilingmu akan segera menyadari siapa yang kau sukai ?" tanya Hana, membuatku bisa bernapas lega setelah selama beberapa detik aku seperti tidak bernapas. "Sepertinya orang lain tidak pernah mengetahui seseorang yang kusukai sampai aku menyatakannya." jawabku, aku mengambil botol yang dihadapanku dan memutarnya kembali. Aku memutar botol itu dan botol itu mengarah pada Yohan. "Siapa diantara para penghuni pria yang kau rasa menjadi saingan tersulit-mu dan apa alasannya ?" tanyaku pada Yohan. "Bagiku, Yoong-Jae.. Aku merasa ia pria yang ramah yang akan membuatnya mudah disukai wanita... "jawab Yohan cukup cepat pikirku "Bukankah yang menyukainya ?" ejek Hae-il pada Yohan "Jika aku menyukai wanita, mungkin aku akan menyukai..." nyata Yohan menanggapi Hae-il sambil memutar botol untuk menentukan penjawab selanjutnya, Yoong-Jae. "Kau memang mengarahkannya padaku ?" respon Yoong-Jae saat melihat botol itu mengarah padanya. "Botol itu bisa tepat sekali berenti di depan Yoong-Jae...." komentar Hana sambil sedikit tertawa. "Apa strategi yang kau terapkan untuk mendekati penghuni wanita di rumah ini? Apa kau akan berfokus pada wanita yang sejak pertama kau sukai? atau kau akan mencoba mengenal semua wanita terlebih dahulu, atau seperti apa? " tanya Yohan dengan sangat mendetil sampai aku cukup kaget dengan pertanyaannya yang panjang itu. "hmmm... aku belum pernah memikirkan itu sebelumnya, dan pertanyaan itu seperti banyak sekali " jawab Yoong-Jae sambil tertawa. Ia menenguk alkohol itu, aku rasa dengan atau tanpa menjawab pertanyaan para penghuni pria tetap akan meminum alkohol itu. "jika aku menyukai seseorang biasanya aku akan fokus pada orang itu, sampai aku merasa bahwa aku memang tidak mungkin bersama orang itu... Putaran kelima botol itu, menyasar pada Seok-Hoon, "mengapa harus aku?" tanyanya sambil menertawakan dirinya yang tidak beruntung, walau ia akan menikmati minuman itu. "apa alasanmu bergabung dalam acara ini…" tanya Yoong-Jae. "alasan awal? karena honor yang diberikan…." jawabnya berusaha sejujur mungkin, walau ia terlihat ragu untuk menyatakannya. Aku merasa seharusnya kami (aku dan Hana) tidak ada di sini, mereka akan lebih bebas untuk mengungkapkan pikiran mereka. Aku memilih untuk beranjak meninggalkan tempat ini. "kau tidak menyesal meninggalkan ini, ini baru pertanyaan pertama…" kata Yoong-Jae cukup iseng, entah karena minuman yang ia minum, atau memang ia hanya jahil padaku. Aku tetap berjalan meninggalkan mereka tanpa berkata apapun. Questions - Apakah aku cukup syok dengan pernyataan Seok-Hoon? Berapa banyak pria di tempat ini yang hanya berorientasi pada honor itu?
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD