Mereka bergandengan sepanjang sisa malam. Hingga pukul 8 pagi, Kevin terbangun lalu menatap Darren yang masih tertidur lelap. Wajah Darren tidak bisa dibilang wajah tampan pada umumnya, bibirnya tebal, mata agak sipit, dengan hidung yang mancung. Tetapi Darren memiliki pipi yang sangat menggemaskan, apalagi dengan kulitnya yang putih membuat pipinya merona merah saat merasa malu. Kevin paling suka membelai pipinya, setiap saat dan dimana saja. Seperti saat ini, tangannya sudah tak tahan untuk membelai lembut pipi Darren.
"Ngapain?" Suara Darren terdengar serak khas orang baru bangun. Kevin tersenyum kecil, "Pipimu sepertinya agak kurusan." Darren menggenggam tangan Kevin, lalu masuk dalam pelukannya dengan manja. Tubuh Kevin tertegun, dia tidak tahu harus merespon seperti apa. Biasanya dia akan langsung memeluk Darren, hal ini telah menjadi kebiasaan mereka selama satu tahun ke belakang. Tapi sekarang.....
Darren merasa aneh karena Kevin hanya diam, lalu dia membuka matanya dengan malas sambil melihat wajah Kevin yang kaku. "Kevin... kamu kenapa?" Tanya Darren singkat. Untuk sesaat Kevin tak tahu harus menjawab apa, dia hanya dapat membelai lembut punggung Darren sambil menggeleng pelan.
"Kata Mami nanti kamu akan pergi terapi ke rumah sakit, aku dapat libur 1 minggu dari Pak Bos karena telah berhasil menyelesaikan kerjaan di Bali. Nanti aku yang akan mengantarmu ke rumah sakit." Darren melanjutkan ucapannya. Kevin menghela napas lalu berkata, "Tidak perlu, aku bisa pergi dengan supir." Tetapi Darren mempererat pelukannya. "Hari ini aku sedang senggang, jadi aku ingin melakukan sesuatu untukmu. Apapun yang terjadi sebagai keluarga aku ingin hadir dan menemanimu melewati masa yang tersulit. Aku mungkin tak bisa selalu menemanimu, tapi selama aku mampu aku ingin ada untukmu." Suara Darren bergetar. Kevin mana mungkin tidak paham dengan maksud Darren, tetapi dia takut dan tidak percaya diri. Hanya saja Darren sudah menggunakan kata "keluarga" , dia tak dapat menolak lagi. Karena dalam keluarga tak perlu ada rasa malu dan gengsi. Keluarga dapat menunjukkan sisi terlemah dan terburuk nya pada satu sama lain. "Baiklah." Jawab Kevin pelan.
....
Pukul 10 mereka tiba di rumah sakit. Darren menunggu di luar ruang fisioterapi. Dia melihat Kevin berusaha berdiri dari kursi rodanya sambil memegang tiang penyanggah. Hanya dari duduk ke berdiri, tanpa berjalan. Itu saja membuat wajah Kevin sudah tampak kesakitan dan membuat hati Darren ikut terasa sakit. Kemudian saat mencoba untuk berjalan, tampak kaki Kevin sangat sulit diangkat bahkan dia nyaris terjatuh.
Fisioterapi seminggu tiga kali, sebelum pulang dokter berpesan agar Kevin berlatih sendiri di rumah. Tidak perlu lama-lama, secukupnya saja. Dan jangan terlalu memaksakan diri.
...
Di perjalanan pulang Kevin hanya terdiam. Dia merasa tidak berguna di hadapan Darren, hanya untuk berjalan saja tidak bisa. Apa dia harus selamanya duduk di atas kursi roda? Sedangkan Darren sendiri dapat memahami suasana hati Kevin yang suram, dengan kondisinya sekarang wajar saja jika dia merasa tidak berdaya. "Semua akan baik-baik saja." Kata Darren sambil menggandeng tangan Kevin. Tetapi Kevin hanya menatap ke luar jendela tanpa ekspresi. Perasaannya terhadap Darren masih sama tetapi saat ini dia tidak sanggup menikmati kehangatan yang diberikan Darren. Dia takut kalau perasaan Darren hanya karena rasa bersalah atau simpati.
....
Satu minggu liburan Darren berlalu dengan cepat, dan selama seminggu Darren hanya ke kampus lalu pulang untuk menemani Kevin. Tetapi selama seminggu pula, Darren merasa sikap Kevin semakin dingin padanya. Ciuman mesra sebelum tidur, selalu Darren yang memulai duluan. Pelukan pagi pun, nyaris tidak ada. Entah kenapa, Kevin selalu bangun lebih telat dari dia. Lalu saat ingin berpelukan atau bermesraan, Kevin akan mengingatkannya sudah telat ke kampus.
Asal tahu saja, selama satu tahun mereka berhubungan, Kevin selalu menjadi pihak yang agresif. Darren sendiri bukan tipe yang agresif, karena kurang pengalaman soal percintaan membuatnya jadi pasif dan pemalu. Kadang Darren merasa mereka harus bicara, tetapi apa yang mau dibicarakan? Sejak setahun yang lalu hubungan mereka tidak ada status, lalu sekarang tiba-tiba mau minta tanggung jawab Kevin... Darren sendiri merasa gak masuk akal, apalagi Kevin. Sudah sakit masih dimintai tanggung jawab!
Tapi daripada penasaran dan kesal dengan sikap dingin Kevin, lebih baik mereka bicara secara terbuka! Malam liburan terakhir Darren, begitu selesai makan malam dia mengajak Kevin kembali ke kamar. Entah konslet apa yang terjadi pada Kevin, sudah satu minggu ini juga sehabis makan malam dia jadi rajin ngobrol dengan Kakaknya yang tak lain adalah Maminya Darren. Darren yang sibuk dengan tugas kuliah memilih untuk menghindar, apalagi topik pembicaraan mereka tentang 1001 perasaan ibu hamil.
"Besok aku mulai kerja, jadi malam ini aku mau tidur lebih cepat. Ayo Kevin, kamu juga masuk. Aku gak mau nanti saat aku sudah tidur, kamu baru masuk! Aku bisa kebangun." Darren mulai menunjukkan kemampuan membual cerewetnya. Mami Melin hanya mengiyakan lalu menyuruh Kevin tidur. Sementara Kevin, dia sudah tahu pasti ada sesuatu yang ingin dibicarakan Darren. Jujur, selama satu minggu ini Kevin memang menjaga jarak dari Darren dan sekarang dia tidak ingin membahas apapun. Dia tidak sanggup memberi jawaban yang Darren inginkan. Tetapi dia tahu sifat ponakannya itu, dia tidak akan lega jika mereka tidak bicara sampai tuntas.
Sampai di kamar, Kevin langsung tidur. Darren tidak percaya kalau pria itu sungguh-sungguh tidur. "Vin... aku mau bicara." Kata Darren pelan. Kevin menghela napas perlahan lalu bicara dengan nada menyindir, "Bukannya kamu mau tidur cepat? Kok sekarang gak jadi tidur?". Darren seolah makan petasan, seminggu dicuekin, sekarang disindir! Tuan Muda Candra ini kenapa susah sekali di hadapi!
"Kamu! Bangun! Aku cuma cari alasan bilang mau tidur. Aku rasa kita butuh bicara!" Nada Darren terdengar tegas, tidak terima penolakan. Kevin membuka matanya lalu melihat wajah Darren yang emosi sedang duduk di sampingnya. "Katakanlah, aku mendengarkan." Kata Kevin dengan tenang dan pelan tetapi masih dalam posisi tidur. Kelihatan jelas kalau Kevin sedang memancing emosi Darren, bagaimana mungkin Kevin tidak tahu jika tindakannya itu dapat membuat Darren ngamuk? Darren tidak akan terpancing, entah apa alasannya tetapi Darren memiliki firasat. Tujuan dari tindakan Kevin semingguan ini adalah menjauhinya. Menyelesaikan hubungan mereka yang sudah berjalan setahun lebih. "Aku ingin bicara, tolong bangun dulu." Ucap Darren perlahan. Kevin tahu kali ini dia tidak dapat menghindar lagi. Sebenarnya dia hanya ingin menghindari Darren sampai kondisi mereka semakin jauh dan semua kembali pada keadaan semula. Tapi mana mungkin... Hati yang sudah pernah mencicipi kenikmatan, mana mungkin dapat dengan mudah melepaskan.