Malamnya mereka kembali ke kamar. Darren dengan canggung memulai percakapan antara mereka, "Kamu... mau mandi duluan?" Kevin : "Boleh."
Darren : "Apa perlu bantuan?"
Lalu Kevin mengamati Darren sambil berkata, "Bagaimana kamu mau membantuku?" Seketika wajah Darren merona. Kevin tersenyum kecil dan melanjutkan ucapannya, "Di kamar mandi ada pegangan besi untuk orang cacat. Tidak masalah, aku bisa. Kamu pikir selama di rumah sakit apa aku gak mandi sendiri?"
Darren : "Ah! Ada cara seperti itu yah... aku baru tahu... ya sudah, kalo ada perlu apa-apa panggil aku."
Kevin : "Iya. Cerewet!" Jawab Kevin sambil berlalu.
Darren merasa ada yang salah dengan kondisi mereka, perasaan canggung dan tidak leluasa. Berbeda dari sebelum kecelakaan, kalau Darren sendiri karena salah tingkah setelah mengetahui perasaan Kevin. Tapi apa yang terjadi pada Kevin? Kenapa dia seperti menjaga jarak? Saat Darren sedang terhanyut dalam lamunannya, tiba-tiba terdengar suara keras dari dalam kamar mandi.
Darren segera menerjang masuk, tetapi baru membuka pintu, dia melihat Kevin berada di balik tirai mandi, lalu terdengar teriakan. Kevin : "Stop di sana!!! Aku tidak apa-apa! Aku hanya tak sengaja menjatuhkan botol sabun. Handuknya kejauhan, bisa tolong ambilin?" Terlihat tangan kurus Kevin terjulur dari balik tirai.
Mata Darren pedas, dia menyerahkan handuk dalam keadaan diam lalu berlari keluar.
Di dalam kamar mandi, Kevin masih duduk di lantai. Dia terjatuh ketika ingin mengambil handuk. Untung ada tirai, jadi Darren tak perlu melihat keadaannya yang menyedihkan saat ini. Untuk berdiri saja dia tak sanggup, apalagi yang bisa dilakukannya untuk Darren.
Sementara Darren langsung menangis setelah keluar dari kamar mandi.
Darren berpikir : "Kevin adalah orang dengan gengsi tinggi, dia pasti tidak ingin aku melihat keadaannya yang menyedihkan! Saat kehidupan Kevin mulai tertata, kenapa Tuhan malah memberi ujian sebesar itu padanya?"
..........
Tidak lama kemudian Kevin keluar dari kamar mandi seolah barusan tak terjadi apa-apa. Lalu dengan suara lembut dia berkata : "Darren mandi saja dulu." Darren menuju kamar mandi tanpa menoleh sedikitpun. Kevin merasa aneh dengan sikap Darren yang dingin, tetapi rasa perih di tangan membuatnya susah berpikir.
Setelah keluar dari kamar mandi, Darren melihat Kevin terburu-buru menutupi tangannya.
Darren : "Tanganmu kenapa?"
Kevin : "Ah... gak apa-apa kok.. cuma luka kecil." Jawabnya sambil nyegir. Darren dengan sigap menarik tangannya, lalu mengamati luka goresan di telapak tangan Kevin. Kevin hendak menarik tangannya, "Ini tadi cuma tergores kecil, aku gak sengaja jatuh di kamar mandi.Gak apa-apa kok, kamu keringkan rambut dulu. Nanti masuk angin loh!" Wajah Darren menjadi muram, dia membuka lemari dalam diam. Lalu mengeluarkan kotak P3K. Dengan hati-hati dia mengoleskan betadine pada luka Kevin.
"Darren cuma luka kecil gini, gak masalah..." Kevin belum selesai bicara kalimatnya sudah dipotong dengan suara teriakan Darren, "Jatuh di kamar mandi gak masalah,cuma luka kecil. Jatuh dari gedung tinggi gak masalah, cuma kecelakaan biasa. Kevin kenapa sih hidupmu banyak sekali kecelakaannya?!" Kevin terkejut mendengar ucapan Darren, "Apa maksud ucapanmu?"
Darren : "Kamu! Kenapa kamu harus sok kuat, sok tegar, kamu sedang terluka! Apa salahnya minta bantuan orang lain?! Kamu hebat? Jatuh dari gedung setinggi itu, untung gak mati. Jadi cuma masalah kecil! Apa harus beneran mati baru jadi masalah besar?!"
Suara bentakkan Darren mengejutkan Kevin, dia berbicara dengan nada tidak berdaya, "Apa kamu perlu bicara sekejam itu pada orang sakit?"
Darren tidak lagi menggubrisnya, dia mengeringkan rambut dalam diam lalu mengambil bantal dan selimut. Kemudian mematikan lampu dan tidur di sofa besar dalam kamar mereka. Saat menutupi dirinya dengan selimut, air matanya pecah tak tertahan. Sementara Kevin sudah berbaring di ranjang, dengan tatapan sedih melihat Darren yang meringkuk di sofa.
Kata orang Darren bersifat lembut dan patuh, saat marah saja masih bicara dengan sopan. Tetapi terhadap Kevin tidak begitu, dia selalu emosional dan meledak-ledak. Saat Kevin baru kembali dan pekerjaan di kantor tidak lancar, Darren juga membentaknya seperti malam ini. "Kenapa tidak cerita jika dia orang kantor banyak yang memojokkan mu? Menahan semuanya sendiri gunanya apa?!" Kata Darren.
Kata orang Kevin bersifat emosional dan pemarah. Ada hal yang tidak sesuai keinginannya maka bisa membuat dia ngamuk seharian. Tetapi terhadap Darren tidak begitu, dia selalu lembut dan menuruti keinginan Darren. Apapun yang Darren minta atau inginkan, maka dia akan selalu menurutinya.
"Maaf" "Maaf" .
Suara Darren terdengar bergetar. Lalu mereka terdiam untuk beberapa saat sampai Kevin berbicara, "Sudah larut malam. Tidurlah."
..............
"Darren... Jangan pergi!" Tetapi sosok Darren tetap berlalu tanpa menoleh. Dan sekali lagi, Kevin merasakan sensasi terjatuh. Bagai melayang dan sesak. Napasnya memburu ketakutan sambil terus meneriakkan nama "Darren".
"Kevin... Vin... sadar Vin... aku di sini!" Darren menggenggam tangan Kevin sambil terus memanggilnya. Tak lama kemudian, mata Kevin terbuka. Dia tampak ketakutan dan keringat dingin membasahi seluruh wajahnya. "Aku ingin minum..." Ucap Kevin dengan suara serak. "Baik, tunggu sebentar." Darren menyalakan lampu meja lalu berlari keluar mengambil air hangat. "Ini minum dulu." Kata Darren, lalu dia segera mengambilkan baju ganti untuk Kevin dan mengelap keringat di wajahnya dengan tissue.
"Jam berapa sekarang?" Tanya Kevin setelah merasa agak tenang. Darren melihat jam di ponsel Kevin , "Jam 4 lebih sedikit..." Lalu keduanya terdiam.
"Darren, apa menurutmu tubuh kita memiliki ingatan biologis?" Tanya Kevin dengan suara pelan. Darren menghela napas, lalu mengambil bantal dan selimut dari sofa. Kevin melihatnya dengan pandangan heran. "Jangan terlalu banyak mikir, kamu ini cuma tidak terbiasa dengan kamar baru saja." Jawab Darren sambil menggenggam tangan Kevin. Sebenarnya ada banyak yang ingin mereka ungkapkan, tetapi malam gelap dan sunyi membuat mereka hanya ingin melaluinya dengan tenang.
Darren tahu keadaan Kevin saat ini tidak ada bedanya dengan malam gelap, tetapi malam pasti berakhir. Selama mereka masih bersama-sama, pagi pasti akan segera tiba.