Benar saja tebakan Darren, ayahnya tidak bisa mengurus perusahaan seorang diri dan meminta bantuannya. Apalagi muncul beberapa masalah dengan bisnis perhotelan mereka di Bali, Darren mau tak mau harus berangkat dan tinggal di sana untuk sementara waktu.
Darren memiliki asisten kepercayaan bernama Adi Hendrawan, Adi dulunya adalah tangan kanan kepercayaan ayahnya. Manager keuangan dari Kantor Pusat, banyak yang bilang menjadi Asisten Pribadi Darren sama saja dengan turun jabatan. Darren memang CEO muda, tetapi terlalu muda. Hanya Adi yang tahu kalau dia sebenarnya sudah naik pangkat. Kemampuan Darren tidak kalah dari ayahnya, bahkan mungkin bisa lebih hebat.
Mereka tinggal di Bali selama satu bulan lebih, dan selama itu pula dia hanya mendapat kabat tentang Kevin dari orang lain. Dia sendiri belum pernah menghubunginya secara langsung, dia takut mengganggu istirahat Kevin tetapi dia sebenarnya lebih takut dengan sikap apa dia harus menghadapi Kevin.
Setelah mengetahui isi hati Kevin, dia malah semakin bingung. Kadang dia berharap hanya dia yang memiliki perasaan mendalam, dengan begitu Kevin tidak perlu merasa serba salah. Tetapi kini, mereka memiliki perasaan yang sama... Artinya mereka harus berpikir dengan baik mengenai masa depan mereka, dan itu semua tidak mudah.
Besok kebetulan Kevin akan pulang dari rumah sakit dan dia juga akan kembali ke Jakarta. Lihat keadaan besok saja!
....
Kevin sendiri merasa sedih, karena sampai hari kepulangannya Darren tidak pernah lagi datang menjenguknya. Tetapi tidak masalah juga, kondisinya saat terapi di rumah sakit sangat memprihatinkan! Dia tidak mau Darren melihat dirinya yang begitu lemah dan tak berdaya. Apa besok mereka akan bertemu? Setelah berjumpa, apa yang akan mereka bicarakan? Kevin yang dulu saja tidak pantas untuk Darren, apalagi yang sekarang pikirnya.
...
Darren, Tom, Aska, dan Adi berdiri di pintu gerbang untuk menyambut kepulangan Kevin. Mobil yang menjemput Kevin baru tiba pukul 2 siang. Lalu Kevin keluar dari mobil sambil dipapah oleh Putra, setelah itu Putra mendudukkannya di atas kursi roda. Mata Darren agak perih melihat Kevin yang duduk di kursi roda, tetapi ada yang berbeda dari aura Kevin saat ini. Seluruh dirinya seperti dicuci bersih dari jeratan duniawi, tampak bersinar di bawah mentari siang. Lalu Tom tiba-tiba berbisik pada Darren : "Sepertinya ada yang berbeda dari Kevin. Apa yaaa?" Darren hanya menjawab seadanya : "Mungkin tambah putih dan gemuk, perawatan di rumah sakit cocok untuknya." Tom : "Bukan gemuk kurus, tetapi auranya! Seperti ada yang berubah pada auranya."
.....
Kemudian mereka semua masuk ke dalam, Kevin melirik sekilas ke arah Darren lalu tersenyum kecil.
Saat berkumpul, mereka yang berada di sana terus mengungkapkan rasa kagum pada Kevin yang berhasil lolos dari maut. Tetapi Kevin sendiri lebih banyak diam dan mendengarkan. Satu bulan berada di rumah sakit membuatnya merasa asing dengan keramaian. Meski tidak bicara dia selalu tersenyum lembut menanggapi candaan mereka. Darren memperhatikan itu semua, dia duduk bersebrangan dari Kevin jadi dia dapat melihat jelas kalau pria itu sudah berubah.
"Sudah cukup bercandanya, Kevin masih perlu istirahat." Kata Melin memotong keriuhan di ruang tamu. "Kevin, mulai sekarang kamu tidur sekamar dengan Darren. Jadi tidak perlu susah-susah naik ke lantai atas. Dan kalau malam ada orang yang menemanimu. Darren bawa dia kembali beristirahat di kamar dulu." Lanjut Melin.
Kevin tersentak dari lamunannya : "Ah! Aku bisa tidur sendiri.. Aku bisa tidur di bawah, dan Darren tidur di atas."
Tom yang hobi bercanda miring segera memotong ucapannya : "Atas bawah..... siapa atas, siapa bawah!" Sontak ruangan itu di penuhi oleh tawa para pria yang langsung paham dengan candaan itu.
Wajah Darren malah terasa panas dan merona. Darren : "Dasar Bocah! Apa saja isi otakmu selama ini... candaan mu selalu gak jauh dari urusan ranjang!" Lalu Darren segera mendorong kursi roda Kevin dan meninggalkan ruang tamu yang masih diisi tawa riuh mereka.
.......
Di dalam kamar, keadaan menjadi agak canggung. "Aku tidur sendiri saja saat malam, kamu bisa tidur di lantai atas." Kevin yang memulai pembicaraan mereka. Darren menghela napas lalu menjawab "Aku tidur dimana saja gak masalah, tapi sebelum kamu keluar rumah sakit, Mami sudah berpesan agar aku menemanimu. Aku hanya menuruti perintah Mami." Kevin sudah tidak enak untuk menolak lagi, dia melihat sinar mentari sore menerobos masuk dari celah gorden, "Cuacanya cerah sekali, selama sebulan aku hanya berada di rumah sakit... bagaimana kalau kita keliling kompleks?" Darren menjawab dengan cepat : "Ide yang bagus! Sebuah kehormatan bisa menemani Paman berjalan-jalan." Kevin tertawa melihat gaya Darren yang sok melucu di depannya, "Ayo cepat! Gak usa kebanyakan basa-basi."
Mereka berjalan-jalan ke taman kompleks, lalu berhenti di dekat bangku taman. Tubuh Kevin yang bersinar di bawah mentari sore seolah berkilauan, bukan hanya tubuhnya saja tetapi matanya juga bersinar indah. Darren menyadari perubahan apa yang terjadi pada Kevin, sekarang dia tampak seperti malaikat! Cerah, bersinar, bersih, dan hangat. Persis seperti pertama kali Darren berjumpa dengannya, meski seorang pria tetapi ada aura kecantikan yang dipancarkan. Darren merasa Pamannya yang dulu sempat hilang, kini kembali lagi.
Kecelakaan itu seolah menyapu bersih rasa takut dan tidak aman dari hidup Kevin. Dia seolah mendapatkan rasa percaya diri dan keberaniannya lagi. Darren terlena pada pria di hadapannya, semakin terlena dari sebelumnya. "Darren... Hei... Kamu ngelamun apa?" Panggil Kevin. Darren tersadar dari lamunannya, lalu duduk di kursi taman sambil menjawab, "Gak... cuma cuacanya indah sekali."
Kevin : "Iya, bukan hanya cuacanya saja yang indah. Tapi aku baru sadar kalau kompleks rumah kita indah sekali, coba lihat taman pinus di belakang kita... cantik sekali."
Darren : "Wajar aja kalau kamu gak sadar keindahan kompleks ini, tiap hari pergi pagi, pulang malam. Area kompleks ini juga gak sempat mengenali keindahanmu."
Keduanya tertegun mendengar ucapan Darren, suasana jadi agak canggung.
"Woy! Kalian berdua ngapain di sana?" Suara teriakan ngebass Tom terdengar dari kejauhan.
Darren : "Umur berapa kamu masih suka teriak-teriakan?"
Tom : "Eits, kebetulan 18 tahun. Seumuran dengan Anda yang suka sok tua! hahaha"
Darren sudah berdiri hendak memukul Tom.
Tom : "Stop! Aku datang mencari kalian. Tante Melin suda kebingungan Kevin hilang kemana."
Kevin : "Kalau begitu ayo segera kembali."
Tom : "Tunggu..... Ijinkan hamba duduk dulu ya dua tuan muda.. cape lari keliling kompleks nyari kalian!" Lalu Tom melanjutkan ucapannya dengan nada bergosip.
Tom : "Dare.. katanya kamu mau dijodoin ya pas di Bali kemaren? Sama cucu dari teman Nenekmu?"
Darren segera menatap ke arah Kevin yang kelihatan sibuk dengan ponselnya, lalu menjawab : "Gossippp! Aku masih umur berapa udah cari jodoh! Lagian selama di Bali aku saking sibuknya sampai tidur aja gak sempet, mau kenalan sama siapa!"
Tom : "Nah... Nah... ! Wajar aja kamu mau dijodoin, tiap hari kalo gak rumah, kantor, ya kampus. Itupun gak bersosialita! Gimana mau dapet pacar."
Darren : "Ck! Emang cari cewe itu gampang apa, tinggal pungut di jalan bisa ketemu."
Tom : "Iya kaliii diem di rumah doang bisa ketemu jodo."
Darren : "Namanya juga jodo, siapa tau emang cukup diem di rumah bisa dapet..." Detik berikutnya Darren sangat menyesal dengan ucapannya! Saat melirik Kevin, dia bisa melihat seulas senyum tipis di bibir pria itu.
Kevin : "Sudah... sudah... kalian di depan orang sakit berisik sekali sih? Ayo pulang... Aku mau istirahat aja."