Sudah sebulan lebih kepulangan Rayya dari Jogja. Selama itu lah Rayya tidak bertemu Nathan. Bahkan tidak menghubunginya. Rayya memilih untuk menginap di workshop.
Entah apa yang ada di pikiran mereka masing-masing. Bertengkar yang sebenarnya tidak diketahui sebabnya. Hanya saling menerka. Saling prasangka.
Rayya tahu pasti ini sangat kekanak-kanakan. Mereka bukan lagi dalam fase abege yang bertengkar hanya masalah sepele. Atau malah bisa di bilang tidak ada masalah?
Semua kebimbangan selama sebulan ini Rayya nikmati dalam diam. Menyibukkan diri. Paling tidak saat dia terjaga tidak ada Nathan di pikirannya. Walaupun saat langit menggelap, Nathan selalu hadir mengusik angannya. Rayya benci situasi ini. Ini adalah pertengkaran terparah. Ini adalah pertengkaran teraneh. Pertengkaran tanpa sebab. Alasan terkuat hanya satu.
Jenuh.
"Mbak.. Mbak.. Mbak Rayya!!!" Inggit berteriak.
"Ihh, Git.. Pelan donk panggilnya. Kaget tau!"
"Ya daritadi dipanggil diem aja.. Mbak Rayya mikir apa sih? Kata Boy udah sebulan Mbak Rayya ga pulang ya?!"
"Pulang kemana? Ini juga rumahku, Git!"
"Ya ke apartemen lah.. Kemana lagi.. Udah sebulan juga Inggit ga liat Mas Nathan.. Ada apalagi sih, Mbak?"
"Ish.. Keponya kumat! Kenapa cariin aku?"
"Eh iya. Itu ada yang cari di bawah. Mas Nord."
"Hah? Nord? Ah iya.. Suruh naik aja deh, Git. Sama coba kamu pesenin 1 ice americano trus tanya Nord mau apa, cemilan jangan lupa.. Cheesecake sama croissant gitu lah pokoknya.. Kalo udah abis pesen aja yang kamu kira aku suka."
"Oh. Oke, Mbak. Siap!"
Rayya kemudian membereskan beberapa faktur yang berserakan di meja kerjanya. Pintu ruangan Rayya terbuka lebar, seakan mengijinkan siapa saja untuk masuk.
"Ray!"
"Ah. Nord! Masuk.. Tumben?! Duduk sini!"
"Katanya boleh mampir?"
"Iya, boleh lah. Lagi ada meeting deket sini?" Nord mengangguk.
"Workshop lo asik ya konsepnya. Kok kepikiran sih Ray? Soal gudang terutama." Rayya terkekeh. Sudah banyak orang mengomentari hal itu. Mengapa gudang ada di lantai dua. Padahal akses akan lebih mudah jika berada di lantai dasar. Ah ya! Rayya dan Nord memutuskan untuk memakai gue-lo atas nama keakraban.
"Semua orang komentarin itu, Nord! Pertama Nadine yang heran. Katanya gue aneh. Hahaha.."
"Tapi emang bener sih. Unik loh."
"Waktu itu gue cuma mikir, toko kan enaknya di taruh di lantai dasar juga. Jadi orang-orang lewat tuh bisa liat dari kaca kan? Nah kalo gudang di taruh di bawah juga pasti berantakan. Ruangannya ga luas. Akhirnya karena lantai dua itu herannya lebih luas daripada lantai dasar, jadilah ide kasih akses jalan ke lantai dua. Finally, lantai dua separuh gudang separuh workshop. Dan lantai tiga bisa aman tentram buat gue seorang."
Nord yang masih memperhatikan penjelasan Rayya hanya bergumam. "Tapi beneran keren, Ray! Lo pake arsitek?"
"Pastinya, gue ga bakat gambar. Mending bayar orang buat gambar."
Tak ada yang istimewa dari kunjungan Nord hari ini. Murni pembicaraan seorang teman. Rayya suka dengan cara Nord mengakrabkan diri. Pembicaraan tentang pekerjaan, hobi, bahkan topik Nadine menjadi hal yang seru untuk dibicarakan. Tapi saat menyinggung satu topik ini, Rayya hanya bisa diam. Tidak bisa menutupi apapun atau mengelak.
"Kemarin gue jogging sama Nathan. Sabtu kemarin." Cerita Nord kali ini hanya di 'oh' kan oleh Rayya. Rayya tidak tahu harus bereaksi seperti apa. Kondisinya dan Nathan saat ini sangat rapuh. Bahkan Rayya tidak pernah membayangkan akan seperti ini.
"Hm, lo ada masalah sama Nathan?" Rayya menggeleng pelan.
"Tapi kemarin Nathan cerita, Ray.."
"Hah? Cerita apa? Dia bilang apa aja? Dia baik-baik aja kan? Ah ya pasti baik-baik aja. Kenapa dia ga harus baik-baik aja. Dia sibuk banget ya? Kerjaan lagi banyak?"
Nord hanya terngaga dengan rentetan pertanyaan dari Rayya. Kemudian tergelak. Menyisakan Rayya yang masih bingung dengan reaksi Nord saat ini.
"Nord.."
"Nord!!!"
"Ah-hahaha-iya iya kenapa?-hahaha-"
"Jawab!"
"Yang mana? Lo nanya banyak banget."
"Semua"
"Nathan baik-baik aja. Sedikit kurus, sedikit lebih hitam, kayaknya kurang tidur. Emang lagi sibuk. Dia cuma cerita udah sebulan lebih kalian ga ketemu. Kenapa sih, Ray?"
"Nggak.. Nggak apa-apa."
"Lo kenapa ga balik apartemen? Nathan nungguin lo."
"Nggak mungkin lah. Dia aja ga hubungin gue. Ngapain!"
"Gue ga tau ya masalah kalian apa. Tapi paling ga turunin gengsi. Kalian udah tua, marahan cuma buat anak abege." Rayya mendelik kesal "Gue ngomong gini juga ke Nathan. Ga cuma ke lo!"
"Lo sekarang berperan jadi Nadine versi cowok ya? Emang keluarga Wijaya itu gen kepo nya dominan kayaknya."
Nord terkekeh mengiyakan. Sifat Nord dan Nadine memang mirip. Bahkan bisa dibilang sama. Sama-sama membuat Rayya dan Nathan nyaman bersamaan.
"Pulang lah, Ray.. Omongin baik-baik. Nathan ga bakal hubungin lo. Gue yakin. Karena disini, dia yang ngerasa bersalah banget. Dia ga berani hubungin lo. Dia balik ke Jakarta juga nurutin lo. Biar kalian ga ribut terus. Kalian sebenernya kenapa sih, Ray?"
"Nggak tau juga kenapa. Akhir-akhir ini kami sering ribut urusan ga penting sebenernya. Yang Nathan tiba-tiba sering ngomong ga jelas tentang Aidan. Marah-marah. Diem. Terlalu baik. Saking terlalu baiknya gue di oper ke Aidan. Emang gue apaan!"
"Aidan tuh siapa sih?"
"Temen."
"Ga mungkin Nathan begini kalo cuma temen. Naksir lo kalik!"
"Mantan"
"Nah, masa lalu yang berbayang-hahaha."
Rayya mendengus kesal dengan kelakuan Nord yang seakan kejadian ini patut ditertawakan.
Tok tok
"Eh, masuk Git!"
"Ini pesenannya Mbak Rayya. Ini Mas Nord."
"Thanks Git!" sahut mereka bersamaan.
"Ga ada yang gratis, Mbak!"
"Kamu mau apa? Beli sendiri sana.. Ini uangnya."
"Dih emang Inggit matre!"
"Lah trus?"
"Inggit maunya 1 macem aja ga pake duit."
"Apa?"
"Inggit mau Mas Nathan!"
Lemparan bantal dari Rayya melayang diiringi tawa Inggit yang mulai hilang. Nord pun tidak bisa untuk tidak tergelak melihatnya.
"Emang gelo tu bocah!"
*****
Sesorean ini Rayya menghabiskan waktu bersama Nord. Nord sangat mudah berbaur. Dia menyempatkan diri untuk turun ke lantai dua dimana ibu-ibu sudah berkumpul untuk mengikuti workshop. Bahkan Nord pun mencoba teknik dasar knit yang selama ini hanya dia lihat di film-film.
Nord orang yang menyenangkan. Itulah kesan yang Rayya dan orang-orang sekitar dapat. Dengan cepat dia mengakrabkan diri dengan Boy yang notabene tidak terlalu mudah berbincang dengan orang asing. Hani yang biasanya diam pun bisa mengimbangi obrolannya.
Asyik.
Itu satu kata jika mereka ditanya tentang Nord. Sejenak Rayya lupa akan masalahnya bersama Nathan. Ah ya! Memang sebaiknya semua segera dibicarakan.
Rayya berencana pulang ke apartemen malam ini. Yang perlu dilakukannya sekarang adalah membereskan beberapa pekerjaannya. Waktu menunjukkan pukul tujuh, jika bergegas Rayya bisa menyempatkan makan malam bersama Nathan.
Rayya bergegas turun, menurutnya tidak mengapa meninggalkan kopernya di workshop. Toh akhir-akhir ini dia sering menghabiskan waktunya disini.
"Bay.. Bayuuu!" Rayya berencana untuk off besok. Dia butuh Bayu menggantikannya mengecek stok yang dijadwalkan datang.
"Ya mbaaakk.. Aku di bawah!"
Derapan sneakernya terdengar. Sesampainya di lantai satu Rayya mematung. Dilihatnya sosok yang hampir dua bulan ini tidak dia temui. Seseorang yang membuatnya marah tapi juga rindu.
"Hai! Pulang, yuk!"
Hanya tiga kata. Tenggorokan Rayya tercekat. Dia ingin berbicara banyak, tapi tidak mampu. Mereka hanya saling memandang. Dalam tatapan sendu. Mereka sama-sama tahu bahwa satu sama lain saling merindu.
Hanya anggukan sebagai jawaban.
"Bay.. Aku balik dulu ya!" Pamit Rayya tanpa melepaskan pandangannya terhadap Nathan walau sejenak.
"Ya, Mbak! Besok load barang biar aku yang handle. Mbak Rayya istirahat aja." Lanjut Bayu seolah benar-benar paham apa yang Rayya inginkan.
******
"Uhm.. Mau makan dulu ga?" Nathan mencoba memecah kesunyian.
Rayya mengangguk, "Aku udah laper dari tadi"
Nathan tersenyum simpul. Tersirat kebahagian disana. Kerinduannya bermuara pada iris coklat Rayya.
"Oke. Kita makan dulu. Dimana?"
"Take away aja. Aku pengen makan di apartemen." Rayya menjeda sejenak kalimatnya. Ditatapnya lampu-lampu yang menghiasi Jakarta malam ini. "Kangen."
Nathan menatap Rayya sejenak. Kemudian kembali memperhatikan jalan raya.
"Iya, aku juga kangen."
"Kangen banget." 'Kangen kamu.'