Kesalahpahaman

2669 Words
Pandangan Rayya kosong tertuju pada langit biru yang dipandanginya lewat jendela kecil. Disinilah dia sekarang berada, di dalam pesawat menuju Jogja. Rayya memutuskan untuk berangkat dua hari setelah papa dan mama Nathan tiba di Jakarta. Di sebelahnya ada Tante Mirna, mama Nathan, yang sedang memandangnya penuh tanya. "Kamu berantem sama Nathan?" "Nggak, Tante.. Rayya sama Nathan baik-baik aja kok." "Tadi Nathan di tanya juga sama jawabannya. Tapi gelagat kalian aneh." "Nanti sampai Jogja deh, Rayya cerita." Mirna tersenyum mengerti. Sejak tidak ada Ibu, Mirna ada sebagai sosok Ibu untuk Rayya. Meski jarak memisahkan mereka tapi perhatian dan kasih sayang Mirna tetap tercurahkan. Bahkan saat dulu masih sama-sama tinggal di Jakarta, Mirna selalu menyempatkan untuk sekedar jalan-jalan berduaan dengan Rayya. Di sisi lain, Mirna juga tidak memiliki anak perempuan dan Rayya butuh sosok Ibu. Tak membutuhkan waktu lama, mereka sudah dalam perjalanan dari bandara ke rumah Rayya. Sesampainya disana Rayya memeluk erat Ayah yang sangat dia rindukan, pasalnya sudah hampir tiga bulan ini Rayya tidak pulang. "Gimana perjalanan lancar?" Sapa Sadewo. "Lancar, Yah.." "Iya tapi anak gadis ini lagi bete kayaknya Nathan ga ikut." Timpal Alex. "Rayya biasa aja, Om.. Rayya istirahat dulu ya, kalau mau jalan-jalan nanti malem aja ya Om, Tante.." "Iya udah sana tidur dulu.. Jalan-jalan bisa besok." Rayya tersenyum kemudian berjalan menuju kamarnya. Ah, semua masih sama. Rayya sempat tinggal beberapa tahun di Jogja. Rayya membaringkan tubuhnya di kasur yang hanya bisa menampung dirinya. Pandanganya fokus ke langit-langit kamar. 'Bu.. Rayya pulang.' Ucapnya lirih. Tak lama kemudian dia sudah terbawa ke alam mimpi. Saat matanya terbuka tak terasa senja sudah tiba. Dipandanginya matahari yang akan terbenam dari jendela kamarnya. Suara ketukan pintu membuyarkan lamunannya. "Tante.. Masuk.. Rayya baru aja bangun. Maaf." "Iya gapapa, makan dulu yuk!" "Nanti aja deh, Tante.. Rayya belum laper." Mirna menghela nafas kemudian ikut duduk di pinggir tempat tidur bersama Rayya. Tangannya terangkat menangkup pipi Rayya. Diamatinya wajah Rayya yang penuh dengan kebimbangan. "Kamu kenapa?" Tanya Mirna mencoba untuk membuka obrolan. Rayya hanya tersenyum miring menanggapi pertanyaan itu. "Ada masalah? Sama Nathan?" Di helanya nafas panjang. "Rayya ga tau ini masalah atau bukan.. Rayya ga tau apa yang ada di pikiran Nathan sekarang. Jauh tapi dekat, dekat tapi jauh. Itu yang Rayya rasakan. Terkadang Nathan bisa menganggap Rayya satu-satunya, tapi di sisi lain Nathan bisa dengan santainya melepas Rayya. Rayya ngerti sih, Rayya cuma sahabat Nathan.. Ga berhak untuk minta ini itu, tapi Rayya suka ga terima sama sikap Nathan yang terkesan plin plan." "Tante ga ngerti kalian kenapa. Yang pasti tante tau kalian saling sayang saling peduli. Jangan sampai perasaan lain ganggu mending terbuka dan dibicarakan. Oke?" Rayya mengangguk. Dia rasa memang banyak hal yang perlu dibicarakan diantara mereka. Rayya hanya khawatir, jika kejujuran muncul justru akan merusak segalanya. ***** "Hai, Ai! Aku lagi di Jogja jenguk Ayah." "Oh ya, sampai kapan?" "Aku rasa mungkin seminggu. Tapi lihat moodku nanti bagaimana. Kamu tahu Jogja sangat menarik. Bisa-bisa aku ga mau pulang lagi ke Jakarta." Rayya terkekeh pelan. Aidan menelponnya sesaat setelah makan malam tadi. "Kalau gitu, aku coba liat besok. Kalau kosong aku susul ke Jogja, sudah lama ga ketemu Ayah." Begitulah percakapan yang terjadi antara Rayya dan Aidan. Balikan? Tidak. Mereka hanya berusaha untuk tetap berteman. Rayya yang masih nyaman dengan kesendiriannya, walaupun Aidan nampak masih mengusahakan hubungan mereka terjalin kembali. Malam ini Rayya tertidur cukup nyenyak. Hawa yang kamar Rayya bawa benar-benar membuatnya nyaman. Rayya merasa selalu ditemani sosok Ibunya jika sedang berada di Jogja. Pagi ini seperti biasa, ada Ayah Sadewo, Om Alex dan Tante Mirna berkumpul untuk sekedar sarapan bersama dan menghabiskan waktu untuk mengobrol. Di wajah Ayah Sadewo terlihat pancaran kebahagiaan saat mengobrol dengan Om Alex. Sedangkan Rayya berkutat dengan ponselnya, sesekali berbicara dengan Tante Mirna. "Ray.. Serius banget liatin ponselnya?" "Eh? Hehe.. Iya Tante.. Aidan mau kesini, masih di bandara. Lagi cari taksi." "Aidan yang -" Rayya menggangguk tersenyum. Setelah menunggu sekitar empat puluh menit. Aidan sampai di kediaman Ayah Sadewo yang tentunya disambut hangat. Rayya sudah menceritakan semua kejadiannya kepada Ayahnya, meski sang ayah pun berpesan untuk berpikir ulang jika harus kembali berpacaran. Dan disinilah sekarang Aidan dan Rayya. Menelusuri ramainya malioboro. Aidan harus pulang ke jakarta malam ini, jadi kesempatan untuk jalan-jalan di kota Jogja hanya saat ini. Mereka tengah menikmati semangkok soto di pinggiran diselingi dengan percakapan ringan. "Jadi kamu seminggu lagi balik Aussie?" Aidan mengangguk, "Disana dua bulan lah biasanya, nanti balik kesini lagi sebulan." "Kamu ga capek bolak balik gitu, Ai?" "Ya gimana lagi, pengennya sih di Jakarta aja, jadi ngapelin kamu nya deket." Kode-kode yang Aidan lontarkan merupakan hal yang biasa. Rayya sudah mulai terbiasa setelah mereka memutuskan untuk berbaikan, sebagai teman pastinya. Tak terasa waktu sudah semakin sore. Waktu Aidan untuk tetap tinggal di Jogja sudah hampir habis. Mereka memutuskan untuk kembali ke kediaman Ayah Sadewo. Kali ini Aidan hanya mengantarkan sampai pintu depan rumah. Mengingat tadi pesan Tante Mirna, bahwa beliau, Ayahnya dan Om Alex ingin mengunjungi salah satu kerabat. "Ya udah aku balik dulu ya, Ray.." "Iyaaa, hati-hati ya..!" "See you in Jakarta, the next two months?!" Aidan tersenyum di sela-sela perkataannya. "Okay!" Setelah saling melepaskan pelukan-sebagai teman-tentunya, Rayya melambaikan tangannya setelah Aidan mobil Aidan mulai melaju. Kakinya melangkah masuk, sempat terlihat pintu balkon kamarnya terbuka. Ada seseorang menunggunya. Rayya hanya terpaku, begitupun dia. Nathan. ***** "Nate.. Kapan dateng?" "Tadi siang." Rayya segera berlari ke kamar sesaat dia menemukan Nathan sedang berdiri di balkon. Setelah menjawab pertanyaan Rayya, Nathan memilih untuk keluar dari kamar dan turun. Dia butuh udara segar, ruangan terbuka untuk menetralisir kegundahan hatinya. Rindu, marah, bingung, tapi tidak bisa bertindak apapun. "Kamu udah ga sibuk?" Cecar Rayya sambil mengikuti Nathan yang sedang menuruni tangga. "Meeting aku undur dua pekan lagi." "Kenapa? Ada masalah?" Sejenak Nathan menghentikan langkahnya. Memejamkan mata dan menghembuskan nafasnya kesal. Rayya benar-benar menguji kesabarannya. Clueless! Rayya yang tidak siap pun akhirnya menabrak Nathan dan limbung. Kedua kakinya terbelit dan pasti akan berakhir jatuh jika tidak ada tangan yang merengkuh tubuhnya. Terdiam sesaat. Tanpa aba-aba, Rayya memeluk Nathan erat. Menyalurkan semua kegelisahan hatinya beberapa hati terakhir. Sama dengan Nathan. Dia marah, kesal, jengkel, tapi rindu. "Kangeeeennn! Hiks." Rayya menangis lagi. Untuk kesekian kali. Nathan hanya bisa diam dan membalas pelukannya. Kemarahan saat melihat Aidan bersama Rayya tadi menguap seketika. Hanya dengan satu pelukan. Hanya pelukan Rayya yang dia butuhkan. "Kok nangis sih? Udah donk! Baru juga pisah sehari!" Rayya hanya diam dan terisak di pundak Nathan. Nathan berusaha menjauhkan tubuh mereka. Nathan hanya ingin menatap Rayya saat ini. Usahanya tertahan. "Biarin gini dulu. Jangan di lepas. Masih pengen peluk." Nathan hanya terkekeh. Di saat seperti ini masih saja Rayya manja. Tapi Nathan benar-benar merindu dan semakin mempererat rengkuhannya. Nathan menikmati aroma rambut Rayya yang seperti bayi. Tidak berubah. Dia masih Rayya-nya. Rayya akhirnya menjauhkan diri dari Nathan. Dengan sigap menyeret Nathan ke gazebo di taman depan. "Kok ga kabarin aku mau kesini? Masih marah?" "Ga kebalik? Yang marah siapa?" "Ya kan aku-" "Kalau kasih kabar juga bakal ganggu acara nge-date kan?!" Ucap Nathan sinis. Ya! Nathan tidak bisa menutupi lagi. "Aidan kesini juga mendadak, lagian apa salahnya jalan sama teman?!" "Teman??? Bullshit!" "Language, please!!!" Keduanya terdiam. Tenggelam dalam pikiran masing-masing. Saling menerka. Tanpa mau bicara. Nathan tak habis pikir kenapa dia harus bersikap seolah-olah melihat kekasihnya kencan dengan pria lain. Rayya pun tak habis pikir kenapa harus menjelaskan semua ke Nathan. Dan semua pikiran itu berakhir ketika Nathan merebahkan kepalanya ke pangkuan Rayya. "Ngantuk!" Hal sekecil ini bisa langsung mencairkan suasana mereka. "Tidur di kamar sana!" "Ga mau, enak gini.. Lebih nyaman!" "Aku yang pegel!" "Sepuluh menit ya, aku rindu Semesta!" ***** "Kalian jadi jalan?" "Iya, Ma.. Mumpung disini, Nathan mau cari prop sekalian buat foto." "Ya udah jagain anak Mama ya?! Jangan dibikin kesel, apalagi nangis!" "Anak Mama itu Nathan, kan?! Ma?!" Rayya dan yang lainnya sedang menikmati sarapan langsung tergelak. "Kamu itu anak pungut, anak Mama itu Rayya, sampai besok-besok juga Rayya!" "Dih, Mama tega banget sih! Pa.. Bantuin Nathan donk!" Alex yang sedari tadi fokus menikmati sarapannya hanya tersenyum simpul. "Ya udah sana keburu siang, panas! Pulang jangan malem-malem ya.. Kasian anak mama dari kemarin belum istirahat." "Iyaaaa.. Iyaaaa!" Setelah berdiskusi mereka menuju ke salah satu mall di Jogja hanya untuk window shopping. Outlet demi outlet mereka kunjungi. Sesekali dirasa cocok akan mereka beli. Sampai akhirnya di sebuah toko buku mereka menghabiskan waktu lebih banyak disana. "Mas.. Mas Nathan!" Seseorang yang Nathan kenali suaranya memanggil. "Eh, Ve.. Kok lo disini?" "Iya, maaf ya mas.. Kemarin gue ngajuin cutinya ke Mas Jody, katanya Mas Nathan ada keperluan mendadak keluar kota." "Iya gue kesini. Ga nyangka ketemu disini. Lo ngapain disini? Liburan?" "Ada urusan mas.. Urusan orang tua sih, tapi suruh ikut. Hehe.. Mas Nathan sendiri?" "Nggak. Sama-" "Nate, yang seri ini kamu belum punya kan? Aku ambil satu ato du- eh?" "Nah gue sama dia kesini. Kenalin Ray, ini Velia AE baru di kantor." "Oh.. Gue Rayya." "Velia, Mbak. Ini tho Mbak Rayya nya Mas Nathan? Yang banyak di medsos itu, mas?" Nathan terkekeh mengangguk. "Ish! Ga usah percaya medsosnya Nathan. Pencitraan seorang jomlo itu sih!" Nathan mendengus kesal. "Kita ngobrol sambil ngopi aja yuk, lo ga ada acara kan Ve?" "Boleh, kalo ga ganggu acara sih." "Nggak kok, gue sama Nathan santai. Kita bayar dulu ya, Nate!" Setelah membayar beberapa item yang dibeli, mereka langsung menuju ke coffee shop terdekat memesan minuman dan beberapa kudapan. Saat pesanan lengkap, mereka mulai bercakap-cakap. Mulai dari kapan Velia masuk ke kantor, lulusan mana, asli mana, dan lain-lain. Itu karena Rayya hampir mengenal semua pegawai Nathan. Sangat wajar untuk seorang Rayya tahu akan pegawai Nathan. Rayya pun dekat dengan Jody, partner kerja Nathan dan juga sebagai fotografer Billy, Kiky, Ibaz yang memegang kendali digital imaging. Lala, Santi yang memegang finance. Dan masih banyak lagi. "Jadi Mas Nathan sampai kapan disini?" "Tergantung tuan puteri, Ve.." jawab Nathan masih dengan kunyahan pastry di mulutnya. Rayya meliriknya sesaat. "Nunggu Mbak Rayya maksudnya, Mas?" Nathan mengangguk. "Kok nunggu aku? Emangnya meeting kamu itu diundur kapan, Nate? Udah ah aku balik juga sama Om Tante. Kamu balik sendiri aja bareng Velia." "Mama Papa tuh mau lama disini. Kemarin bilang dua bulan. Workshop kamu apakabar? Kasian si Lea kecapekan dari kemarin ngurusin cowok-cowok rusuh." "Ya udahsih aku balik sendiri!" "Nggak! Sama aku!" "Nggak usah!" "Emang mau pulang sama siapa?!" "Ga sama siapa-siapa!" "Dijemput orang?! Oh aku tau-" Entah kenapa pikiran Nathan melayang kepada Aidan. "Ga usah hobi nyimpulin! Bikin kesel aja! Ve.. Gue duluan ya! Masih banyak yang harus dicari. Lanjutin ngobrolnya. Bye!" Rayya melenggang tanpa persetujuan Nathan. Nathan yang melihat itu hanya pasrah. Untuk kesekian kalinya mereka ribut karena masalah yang tidak penting. Nathan masih asik dengan ice americano di depannya. Jangan pikir kalau dia sesantai itu. Pikirannya berkecamuk. Khawatir akan Rayya yang pergi dengan kekesalannya. Nathan juga tidak mungkin meninggalkan Velia dengan keadaan seperti ini. "Mas Nathan ga nyusul Mbak Rayya? Maaf ya Mas, pertanyaan gue malah bikin gini.." "Nggak apa-apa. Rayya tau jalan Jogja kok." Kemudian obrolan-obrolan ringan berlanjut. Nathan memang belum sepenuhnya mengenal Velia. Velia masih terhitung baru di kantornya. Mungkin sekitar empat bulan. Dan Nathan jarang berurusan langsung dengannya. Kesempatan ini Nathan pergunakan untuk lebih tahu pribadi Velia. Sebagai pegawainya. Hari menjelang petang. Nathan memutuskan untuk mengantar Velia ke hotel tempat dia menginap sebelum akhirnya pulang. Sesampainya dia di rumah. Semua sudah berkumpul untuk bersiap makan malam. Kecuali Rayya. Setelah keributan kecil tadi, baik Rayya maupun Nathan tidak saling berkabar. Nathan kira Rayya akan langsung pulang ke rumah. Mengingat perginya mereka hari ini adalah murni mengantar Nathan. "Rayya mana, Ma?" "Loh kok tanya mama sih? Kalian kan pergi bareng?! Gimana sih!" "Jadi Rayya belum pulang juga?" Semua menatap heran ke arah Nathan. Nathan yang seketika panik langsung menghubungi Rayya. Tidak ada jawaban. Berkali-kali. "Nate, kamu gimana sih! Bisa-bisanya pisah gitu pulangnya! Kalian ribut lagi?" Mirna masih kesal dengan Nathan yang sedari tadi sibuk menghubungi Rayya. "Nathan, udah gapapa ditunggu aja Rayya. Paling dia jalan-jalan sebentar. Suka gitu kok anaknya." Sadewo yang sedari tadi menangkap kekhawatiran Nathan dan kekesalan Mirna mencoba menengahi. Pintu masuk yang terbuat dari kayu itu terbuka. Menampakkan Rayya dengan beberapa belanjaan yang ditentengnya. Dia melenggang santai, tak menangkap adanya raut khawatir, cemas, kesal ataupun yang lain. "Wihhh udah siap aja makan malamnya. Rayya tepat waktu pulangnya" Rayya takjub memandangi berjejer masakan yang pastinya karya Mirna di meja makan saat ini. Tanpa menghiraukan Nathan yang sedari tadi menatapnya dengan segala emosi. "Dari mana aja? Kenapa telpon ga diangkat?" Rayya hanya mengabaikan pertanyaan Nathan. Sejurus kemudian mengeluarkan beberapa belanjaan yang di belinya tadi. "Ini buat Om Alex sama Ayah. Couple an batiknya. Hahaha.. Ini buat Tante Mirna. Cakep ga?" "Ih dressnya cantik. Kamu emang ga pernah salah pilih." "Pernah, Tante." Iya, pernah. Dalam konteks lain. "Eh?" "Hahaha.. Udah ga usah dibahas." Rayya tertawa kikuk atas jawaban spontannya tadi. Rayya masih pada sikapnya dari awal. Mengabaikan Nathan. "Ya udah yuk mulai makan aja." Mirna kemudian menyarankan mereka untuk langsung menyantap hidangannya. Sadewo, Alex dan Mirna yang menyadari sikap Nathan dan Rayya sekejap mencari alasan untuk meninggalkan meja makan. Tersisa Rayya yang masih asik dengan sayur lodeh dan udang goreng tepungnya. Sementara Nathan sama sekali tidak menyentuh makanannya. "Darimana aja?" "Belanja" "Kenapa ga angkat telpon?" "Lowbat" Kemudian hening. Rayya yang sedari tadi ingin bertanya mengumpulkan segala keberanian dan pengendalian emosinya. "Nathan.." jika sudah ada panggilan seperti ini Nathan yakin Rayya sedang benar-benar serius. Panggilan itu hanya Nathan jawab dengan dehaman. "Ada apa sih sama Aidan?" Nathan yang tak mengerti maksud dari pertanyaan Rayya langsung mengernyitkan dahinya. "Kenapa tiba-tiba bahas Aidan?" "Ini aku rasa nggak tiba-tiba. Emang sudah harus dibahas dari dulu kan? Dari saat aku pacaran sama Aidan, kemudian putus, kemudian ketemu lagi sebagai teman. Bahkan saat statusku dengan Aidan berubah-ubah, tapi sikap kamu ga pernah berubah. Kamu kenapa ga suka sama Aidan?" "Aku ga ada urusan sama Aidan. Urusanku sama kamu." "Trus kenapa selalu Aidan yang kena? Aidan bahkan saking menghargai kamu sampai minta ijin buat nemuin aku. Padahal itu ga perlu kan? Mengingat 'status' kita?" Rayya menekankan kata status disini. Nathan tertegun. Mendengar Rayya mengucapkan kata itu membuatnya geram. "Aku ga suka dia deket kamu, Ray. Dia udah nyakitin kamu!" "Dia udah jelasin semua, ga sepenuhnya salah dia." "Tetep aja sama!" "Sama apa? Sama aja pernah nyakitin aku? Trus apa bedanya sama kamu sekarang? Akhir-akhir ini justru kamu yang sering nyakitin aku?!" Nathan terdiam mendengar Rayya yang tidak pernah berbicara setinggi ini. "Jadi intinya kamu lagi dalam mode membela mantan pacar?!" "Kalo kamu menyimpulkan seperti itu aku bisa apa? Apa pernah aku menang sama kesimpulan kamu? Belum pernah seingatku." Rayya mencoba meredam apa yang sekarang dia rasakan. Rayya tidak boleh goyah lagi. "Bahkan saat kamu diemin aku berhari-hari, aku diem. Mencoba ngerti kekhawatiran kamu. Tapi apa? Ga ada percaya-percayanya sama aku. Saat aku bilang Aidan teman dibilang bullshit. Trus kamu bakal ngomong sekasar apa saat aku bilang mau balikan sama Aidan?!" "Balikan???!!!" "Nah kan! Dari omongan panjang lebar barusan yang kamu tangkap hanya itu?! Udah cukup! Sebaiknya kamu pulang besok, ga baik buat kita ribut terus di depan orang tua." Rayya meninggalkan Nathan sendiri di meja makan. Entah kenapa akhir-akhir ini pertengkaran mereka menjadi sebuah rutinitas. Pertengkaran dengan topik yang tidak jelas. Rayya benar. Mungkin memang sebaiknya Nathan pulang ke Jakarta. Mereka sama-sama butuh waktu. ***** Pagi ini Rayya sengaja untuk keluar kamar terlambat. Berkumpul dengan Nathan dalam satu meja makan membuatnya malas bahkan untuk membayangkannya. Sekarang menunjukkan pukul delapan. Rayya yakin mereka masih bersama mengobrol di ruang tengah. Setelah membersihkan diri, Rayya memilih untuk turun bergabung. Dilihatnya Tante Mirna yang sedang mengupas jeruk untuk ayahnya dan Om Alex di sofa depan tv. "Pagiii semua" "Pagiii.. Baru bangun, Ray? Tumben." "Iya, Yah.." Rayya mendudukkan diri di samping ayahnya. Memeluk lengannya kemudian bersandar. Dilihatnya ke halaman depan rumah, mobil ayahnya masih terparkir rapi. Sebelum turun, Rayya sempat melihat kamar Nathan terbuka dan tidak ada siapa-siapa disana. "Nathan mana?" "Loh, Nathan pulang, Ray.. Tadi pagi pesawat jam tujuh. Emangnya ga ngasih tahu kamu?" Jawab Mirna curiga. "Oh, ngasih tau sih, Tante.. Tapi Rayya pikir ga sepagi ini. He.." Nathan marah. Iya.. Nathan-nya pasti marah.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD