Neither Aidan nor Seth

2036 Words
'Not really' Kata yang sangat luas maknanya untuk Rayya. Setelah mendapatkan jawaban singkat penuh makna itu, Rayya hanya terdiam menatap Nathan yang masih fokus dengan keriuhan lalu lintas Jakarta. Jangan tanyakan apa yang ada di pikiran Rayya sekarang. Karena semua kemungkinan terkumpul di otaknya. Apa makna kecemburuan Nathan? Apa makna 'not really friend' Nathan sama dengan definisi Rayya? Apa makna keposesifan Nathan selama ini dalam jalur yang sama seperti Rayya? Apa makna perhatian penuh Nathan selama ini kepada Rayya, mengabaikan beberapa perempuan yang jelas-jelas lebih menarik, sama dengan apa yang diartikan Rayya? Menurut Nadine, mereka sama. Sama-sama sok mengerti perasaan satu sama lain. Sama-sama sok aman dengan status yang mereka sandang saat ini. Sama-sama sok santai dan terlalu nyaman dengan perasaan yang ada. Tapi lagi menurut Nadine. Mereka sama sekali tidak mengerti satu sama lain. Mereka hanya sama-sama menenangkan diri sendiri. Mencari perasaan aman yang tidak ada peluang menyakiti. Tapi justru dengan semua ini. Masing-masing dari Rayya dan Nathan sedikit demi sedikit mulai tersakiti. Rayya ingin Nathan lah yang memperjelas semua. Sedangkan Nathan, merasa mereka sudah sangat mengerti satu sama lain. Tidak butuh ungkapan verbal. Tidak butuh status. Dan lagi-lagi menurut Nadine, ditambah dengan Nord -sepupu rasa kembaran-. Bahwa Rayya dan Nathan sudah keterlaluan dengan diri mereka sendiri. Lambat laun saling menyakiti. Hanya karena satu masalah. Ketidakjelasan status yang mereka sandang. Tinggal bersama tapi masih terpatok 'sahabat'. Saling mengungkapkan rasa sayang, dengan sweetheart-baby-honey-sunshine nya Nathan diiringi dengan semburat merah di pipi Rayya, tapi masih terpatok 'sahabat'. Thanks to Nadine Sang Mantan Nathan. Yang paling tidak membuat Rayya mulai berani mempertanyakan dengan jelas tentang perihal status. Thanks to Aidan. Yang hari pagi buta ini mengirim pesan kepada Rayya, ingin momen sarapan pagi karena ada kabar gembira yang dibawanya. Thanks to Seth. Yang juga pagi buta ini mengirim pesan kepada Rayya, bahwa dia ingin momen dinner mengasyikkan kemarin terulang. Dan Rayya mengucapkan terimakasih untuk dirinya sendiri atas keberaniannya mengambil langkah ini. Meng-iya-kan kedua ajakan Aidan dan Seth. Pagi ini sapaan mesra Nathan masih membelai telinga Rayya. Semburat merah di pipi Rayya masih menjadi pemandangan favorit Nathan di pagi hari. Rayya menyiapkan keperluan perut Nathan, sudah berpakaian rapi. Nathan yang agak aneh melihat kebiasaan ini menunjukkan wajah yang asing. Rayya memutuskan untuk menjelaskan sebelum ditanya. "Aku mau breakfast bareng Aidan di kafe depan workshop. Aku temani kamu makan. Setelah itu aku langsung berangkat, ya?!" Nathan yang masih kaget dengan penjelasan beruntun Rayya, tidak tahu harus menanggapi apa. Jelas dia kesal akan kehadiran Aidan lagi. Tapi dia juga menghargai sikap Rayya yang seperti ini. "Aku antar kamu ke workshop." "Nate.. In case kalau kamu lupa." Rayya menggoyang-goyangkan kunci mobilnya di depan Nathan. Nathan mendengus kesal menyadari bahwa Rayya bisa kemana-mana tanpa dirinya sekarang. "Ck.." "Sssttt, kamu nggak pantes ngambek." Rayya mendekat ke arah Nathan dan memeluknya dari belakang. Nathan hanya bisa duduk terdiam. Sedetik Rayya melepaskan pelukannya dan pamit. Nathan memutar kursinya, menangkap pergelangan tangan Rayya dan menariknya mendekat. Rayya hanya terpaku saat wajahnya dan wajah Nathan hampir tak berjarak. Rayya yang reflek memundurkan tubuhnya langsung tertahan oleh kaki Nathan yang mengalung di kedua pahanya. Nathan mendongak dan merapikan rambut Rayya. Menyelipkan beberapa helai yang menutupi matanya ke belakang telinga. "Hati-hati ya bawa mobilnya. Jangan lama-lama ketemu Aidan. Kamu tahu aku nggak suka. Setelah ketemu Aidan langsung telpon aku, cerita semua obrolan kalian. Kalau perlu direkam biar aku tahu." Rayya yang masih kaget dengan sikap Nathan hanya mengangguk kikuk. "Uhm.. Nanti aku kayaknya juga pulang agak telat." "Kenapa? KAL ada masalah?" Rayya menggeleng. "Ada janji dinner sama Seth." Mulut Nathan membulat mendengar penjelasan Rayya. Tepatnya, seperti lemparan kerikil yang bertubi-tubi. Belum selesai kekesalannya harus tahu Rayya sarapan dengan Aidan, sekarang Nathan harus mendengar Rayya akan makan malam lagi dengan Seth. Kalungan kaki Nathan otomatis terlepas. Rayya sukses mundur dari Nathan. You have no idea, betapa sulitnya menjaga wajahnya tetap santai. Padahal jantungnya bertalu-talu. Menyadari Nathan yang tak lagi antusias. Rayya hanya bisa tersenyum. "Dont worry, Nate.. Ucapan terimakasih aku karena Seth udah meluangkan waktu untuk temani cari mobil." Tak melihat perubahan raut wajah Nathan, Rayya gemas. Ditangkupnya pipi Nathan. Dipaksa untuk menatap ke arahnya. "Nanti aku rekam semua obrolan. Either Aidan or Seth. Terus aku kirim ke kamu. Kamu benar-benar nggak cocok punya wajah ngambek gini, Nate.." Nathan akhirnya menatap Rayya. "Aku berangkat dulu ya.." Rayya dalam sekejap mengecup pipi Nathan dan melenggang pergi, meninggalkan Nathan dengan kebekuannya. ***** "Sooo.. What's your good news, Ai?" Rayya merapatkan diri ke meja dan siap mendengarkan dengan seksama. "Akuuu.. Stay disini." Melihat wajah Rayya yang masih menyiratkan ketidakpahaman, Aidan melanjutkan. "Aku dipindah kesini. Nggak selamanya juga sih. Mungkin sekitar tiga sampai empat tahun ke depan. Aku bakalan tinggal di Indo." "Are you happy?" Rayya tersenyum menanyakan hal ini kepada Aidan. Jelas-jelas Rayya sudah tahu bahwa pria yang di depannya saat ini dalam kadar kebahagiaan yang melampaui batas. "Kamu serius nanya itu ke aku? Ya happy lah, Rayya.. Aku bisa ajak kamu breakfast, lunch, dinner, nonton, tanpa harus nunggu beberapa bulan sekali." Rayya tergelak mendengar kejujuran Aidan. "Kamu nggak senang ya aku stay?" "Senang lah. Kita bisa perbaiki hubungan pertemanan kita. Ya kan?" "Huft.. Sepertinya aku mentok di level teman ya, Ray? Nggak bisa balik ke pangkat semula?" Aidan dengan santai memasang wajah kecewanya. Rayya yang melihat ini jelas tertawa. "Sayangnya kamu udah mentok di pangkat itu, Ai.. Bahkan ini tawaran pangkat terbaik yang aku kasih." "Baiklah. Aku terima dengan ikhlas." Perbincangan pagi ini menjelaskan dengan sejelas-jelasnya posisi Aidan di hati Rayya. Aidan pun mengerti itu. Baginya, inilah label bahagia. Bisa dekat dengan Rayya tanpa merasa canggung walaupun mentok di pangkat pertemanan. Bahkan untuk naik menjadi sahabat saja Rayya perlu mempertimbangkan matang-matang. Setelah berpisah dengan Aidan, Rayya menyebrang jalan untuk segera ke workshop. Satu hal yang membuatnya ingin cepat-cepat sampai. Rayya ingin menelpon Nathan. Hal ini sebenarnya bukan hal yang aneh. Tapi entah topik hari ini bukan lagi topik 'sudah makan belum?', 'pulang jam berapa?', 'nitip croissant kafe depan ya!', atau yang lainnya. Rayya masuk diiringi sambutan para lelaki setia. Dilihatnya Boy, Bayu dan Toni sedang berbincang asik. Kehadiran Rayya membuat senyuman di wajah-wajah mereka merekah. "Mbak.. Itu Mas Aidan, kan? Hayo loh laporin Mas Nathan nih.." "Apasih Boy! Laporin aja sana! Kamu tuh nggak ada rasa bersalah gitu ya? Ngusir aku dari workshop?!" "Kok jadi aku sih, Mbak.. Kan Mas Nathan yang minta. Aku cuma nurut." "Kamu kerja sama Nathan apa aku?" "Aku cuma pengen Mbak Rayya bahagia. Dan yang bisa bikin happy Mas Nathan. Jadi aku kerja sama Mbak Rayya tapi nurutnya sama Mas Nathan." Jawab Boy disertai cengiran dan gelakan tawa dari Bayu dan Toni. Rayya tak lagi mau membahas panjang dengan mereka. Rayya langsung naik ke lantai dua dan menyapa para gadis yang sedang sibuk. Kemudian melenggang ke ruangannya untuk sekedar melapor ke Nathan. Seharian ini Rayya disibukkan dengan semua urusan workshop. Sesekali berbalas pesan dasar dengan Nathan. Dan sekarang saatnya dia harus bersiap dinner bersama Seth. Rayya memanuver mobilnya ke arah restoran yang sudah disepakati bersama. Tak butuh waktu lama, karena mereka sepakat untuk bertemu ditengah. Tak jauh dari tempat Rayya dan Seth. Tak ada obrolan penting bersama Seth. Semua mengalir. Obrolan ringan yang bukan bersifat pribadi, tapi cukup meninggalkan kesan bahwa pria yang sedang makan di hadapannya saat ini menunjukkan ketertarikannya. Buktinya, Seth selalu menggiring Rayya untuk mengiyakan janji-janji ringan selanjutnya. Seperti makan siang bersama. Pukul sepuluh malam Rayya tiba di unit. Disambut dengan wajah Nathan yang gelap, suram tanpa ada sedikit guratan senyum. Rayya bukannya ngeri melihat itu semua. Tapi justru tertawa. "Udah aku bilang kamu nggak cocok kalau ngambek." "Aku telpon kenapa nggak aktif?" "Mati hapenya, Nate." Rayya yang masih cuek dengan sikap Nathan segera menuju ke dapur untuk minum. Nathan masih bergeming di sofa. "Ray.. Sini deh aku mau ngomong." Rayya mendekat dan duduk di samping Nathan. Memasang kedua telinganya untuk mendengar. Jarang-jarang Nathan dengan wajah seriusnya seperti ini. "Jangan serius gitu donk, Nate.. Aku malah ngeri." Nathan mencoba menetralkan segala ulah organnya yang tak kenal waktu berdegup lebih kencang. Inhale exhale. Inhale exhale. "Nge-game yuk!" "Hah?" "Aku kasih kamu dua pilihan. Kamu harus jawab cepat. Contoh ya.. Uhm.. Pantai atau gunung?" "Uhm.. Apa ya? Pantai deh." "Yang cepet jawabnya, Rayya.." "Oke! Tapi aneh deh.. Nggak biasanya.. Tiba-tiba ngajak game" "Udah! Nurut aja!" Nathan berpikir sejenak. "Jogja atau Jakarta?" "Jogja" Disitu Rayya merasa ibunya masih hidup. "Masa kuliah atau masa SMA?" "Kuliah" Di masa ini Rayya merasa memiliki sepenuhnya perhatian Nathan. "Apartemen atau workshop?" "Uhm.. Apartemen for now." Karena Rayya bisa bareng-bareng Nathan. "Nadine or Nord?" "Nadine donkkk!" Karena hanya Nadine yang paham Rayya dan Nathan secara bersamaan. Nathan tersenyum aneh mendengar jawaban Rayya. "Kalau salah satu ada yang ngajak pacaran.. Aidan or Seth?" Rayya terdiam sejenak. Nathan terlihat gelisah. "Neither Aidan nor Seth!" "Kenapa?" "Kenapa apanya? Kan suruh jawab cepat. Aku nggak mau maksain donk kalau nggak ada yang harus dipilih." "Trus kamu pilih siapa?" "Apanya?" "Arghhh.. Kalau ada yang ngajak pacaran. Kamu mau siapa?" Rayya menatap Nathan dalam diam. Menelisik lebih jauh maksud Nathan. "Aku nggak mau berandai-andai. Aku mau yang jelas aja." Rayya beranjak ke arah televisi. Mengobrak abrik rak dvd untuk mencari sesuatu yang bisa mengalihkan perasaan aneh. "Udah game nya? Trus kamu mau ngomong apa?" Rayya kembali duduk setelah memencet tombol on pada dvd dan televisi. "Kita." "Kita? Kenapa?" "Kita bukan teman." "Aku berencana mau nanya itu ke kamu. Apa maksudnya 'not really friend' versi kamu?" "Nggak ada teman atau sahabat seperhatian aku kan? Bullshit kalau ada. Pasti ada udang di balik batu." "Kamu berarti ada udang di balik batu?" "Iyalah! Mana ada sahabat bilang 'i love you' hampir tiap hari. Panggil sweetheart, baby, sunshine." Rayya menahan senyumnya mendengar penuturan Nathan. "Wajar kan kalau memang saling sayang, care?" Rayya masih saja menekan perasaannya untuk tetap di tempatnya. Dia tidak mau terbang terlalu tinggi lalu jatuh. "Kalau aku bilangnya 'I'm in love with you' gimana?" Nathan masih menatap ke depan. Sadar bahwa Rayya sedang memandangnya. Nathan hanya belum siap jika yang diterima adalah penolakan. "Tapi kamu nggak bilang gitu, kan? Aku udah bilang malas berandai-andai, Nate.." "Oke! Kalau gitu aku bilang sekarang! Aku cinta sama kamu! Bukan sekedar sayang. Bukan sekedar suka. Aku mau naik status. Aku mau jadi pacar kamu yang bisa jadi teman hangout sekaligus sahabat buat kamu. Biar kamu nggak ada alasan lain buat jalan sama cowok lain! Aku sebenarnya ngerasa hal kayak gini nggak harus diomongin. Tapi aku butuh status sekarang. Biar aku punya hak ngelarang kamu jalan sama cowok lain" Rayya mengerjapkan matanya berkali-kali. Meneguk salivanya. Meyakinkan kata-kata yang dia dengar baru saja benar-benar keluar dari mulut Nathan. Meskipun Rayya dan Nathan sama-sama tahu bagaimana perasaan mereka bermuara. "Ray.." Rayya masih diam. "Rayya!!!" "Semesta Rayya!!! Jangan bikin aku kayak orang bloon deh. Ngomong donk sesuatu!" "Eh? Ngomong? Ngomong apa?" "Ya apa kek! Tanggapi omonganku. Kalau nggak setuju bilang nggak juga nggak apa-apa. Aku udah pasrah. Udah capek menerka-nerka. Udah capek bayangin kamu ngomongin apa aja kalau nggak ada aku. Senyum ke siapa aja. Bersikap manis. Sama Aidan. Sama Seth. Atau siapapun yang naksir kamu di luar sana. Seharian ini aku mikir. Siapapun punya kesempatan di posisi itu. Aku pengen tahu kamu maunya sama aku juga atau nggak?!" Rayya gemas! Benar-benar gemas melihat Nathan bisa sefrustasi ini. Inginnya tertawa. Tapi seketika tidak tega dengan raut wajah yang sedang dipandangnya lekat saat ini. Rayya menggeser duduknya lebih dekat. Nathan yang merasa aneh ikut bergeser ketepian. Rayya bergeser lagi dan diikuti oleh Nathan. Begitu seterusnya sampai akhirnya Nathan tidak bisa lagi bergeser. Rayya yang melihat Nathan kikuk tak ayal tertawa terbahak-bahak. "Maunya apa sih ini cewek!" Nathan yang jengkel dan kesal merasa dipermainkan langsung menarik tengkuk Rayya dan menjatuhkan bibir Nathan di bibir Rayya. Sedikit lama. Hanya kecupan. Lembut. Manis. Indah. Kemudian Nathan menarik bibirnya menjauh. Masih memandangi Rayya. Mencoba memahami apa yang tersirat di bola mata Rayya. Rayya terdiam menatap Nathan. Kemudian tersenyum. Nathan mau tidak mau ikut tersenyum. Sedetik kemudian Nathan kembali mengecup bibir Rayya gemas. "So?" Tanya Nathan. Rayya mengangguk pasti. "Iya." "Iya apa?" "Maunya apa?" Nathan gemas. "Kalau jadi pacar aku mau?" "Mau!" Rayya reflek memeluk Nathan erat. Menyurukkan wajahnya di d**a Nathan. Merasakan debar jantung Nathan. Nathan membalas rengkuhannya tak kalah erat. Nathan merasa cukup untuk hari ini. Seseorang yang direngkuhnya sekarang memeluknya sama erat. Nathan needs this forever! "Love you, Ray.." "I know.."
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD