Teringat kejadian kemarin, Nathan yang ditinggal Rayya begitu saja setelah kecupan di pipi, merasa tercerahkan oleh kedua janji Rayya.
Aidan dan Seth.
Bagaimana caranya Nathan memastikan itu benar-benar pertemuan biasa. Segera Nathan menelpon Bayu untuk sekedar mengawasi dari jauh gesture keduanya. Sedangkan untuk makan malam, dia yakin Seth tidak akan bertindak jauh. Bagaimanapun mereka baru saja kenal.
Mendengar laporan Bayu yang mana Rayya dan Aidan berpisah hanya dengan lambaian tangan, tak urung membuat hati Nathan lega. Hanya tentang Seth yang masih sedikit mengkhawatirkan hati Nathan.
Dilanda kegalauan seharian, Nathan memutuskan untuk pulang lebih cepat dan menunggu Rayya di apartemen. Selama dua jam menunggu, Rayya tak kunjung pulang. Nathan mencoba menelponnya berkali-kali tetapi tidak ada jawaban.
Sampai akhirnya dia melihat sosok Rayya datang. Nathan tidak bisa menutupi kekesalannya. Dia akhirnya memutuskan untuk memperjelas semuanya.
"Love you, Ray.."
"I know.."
Masih saling merengkuh satu sama lain. Rayya bahkan belum pernah membayangkan kapan saat ini terjadi. Meski kadang tersakiti, disisi lain Rayya merasa situasi antara mereka sudah lebih dari cukup.
"How was your day, Nate? Banyak kerjaan ya.. Keliatan kuyu banget." Tanya Rayya sambil memainkan pipi Nathan dengan jarinya.
"Really bad!"
"Wanna talk?"
"Seharian aku uring-uringan mikirin kamu."
Rayya masih menunggu penjelasan.
"Aku nggak konsen kerja. Males nyemil. Males makan. Tiduran aja seharian di sofa kantor."
Cemilan adalah hal yang wajib bagi Nathan. Jika Nathan sama sekali tidak mengudap apapun bisa dipastikan pikirannya sedang buntu.
"Trus udah makan belum sekarang?"
Nathan menggeleng.
"Ihhh, suka ngomelin aku kalau susah makan tapi kamunya sendiri gini. Sekarang, ayo makan! Aku angetin dulu yang kemarin sempat aku masak. Mau nasi apa pasta?"
Rayya menarik tangan Nathan untuk bangkit dari sofa. Dengan langkah gontai Nathan mengikuti Rayya menuju pantri. Masih dengan posisi memeluknya dari belakang.
"Kok jadi manja gini sih? Susah nih jalannya!"
Saat itupun Nathan memeluk Rayya erat, sehingga satu langkahpun juga terasa berat untuk Rayya. Mereka berdiam diri cukup lama. Pelukan Nathan terasa hangat. Hembusan napas di sekitar kepala pun terasa begitu nyaman. Rayya memejamkan mata, merasakan segalanya. Rayya membawa tangannya untuk mengusap lengan Nathan.
"Nggak ada alasan lagi untuk pergi makan sama cowok lain!" Sergah Nathan.
"Ehm.. Aku tetap berangkat kalau itu hanya sekedar makan, Nate.. Mereka teman aku."
"Ck.."
"Sebelum ini juga aku selalu cerita kan? Jadi apa yang dikhawatirkan?"
Nathan melepaskan pelukannya, memutar tubuh Rayya agar bisa menatapnya. Membelai pipinya lembut.
"Rasanya tambah nggak rela liat kamu hahahihi sama cowok lain."
"Ah udah ah, jadi makan nggak?"
"Mmm.." Tangan kanan Nathan yang masih membelai pipi Rayya turun kemudian membelai kedua bibir Rayya dengan ibu jarinya. Sementara tangan kirinya memeluk pinggang Rayya posesif, tangan kanannya beralih ke belakang tengkuk Rayya, menariknya lembut, kemudian dikecupnya bibir itu sekali lagi. Rayya hanya terdiam mengeratkan remasan tangannya di kaos Nathan.
Tahu dengan diamnya Rayya, Nathan menambah kecupannya, membelai bibir atas Rayya kemudian pindah ke bibir bawahnya. Mengecupnya lagi. Dan lagi.
Rayya yang terbuai dengan perilaku Nathan saat ini, tanpa sadar membuka bibirnya. Menerima segala pagutan yang dipastikan menjadi candunya.
Nathan terhenti dan memandang Rayya. Melihat Rayya yang masih terpaku dan memandangnya ingin, Nathan bergegas membawa Rayya dengan satu hentakan ke gendongannya. Tangan Rayya melingkar di leher, kemudian terkikik pelan.
"Aku berat ya?"
"Hm.. Berat banget!" Nathan mendudukkan Rayya di kursi. "Kamu tunggu disini aja, biar aku urus makanku sendiri." Nathan mengecup sekali lagi bibir Rayya kemudian berlalu ke arah kulkas. Mengeluarkan satu loyang pasta dan memasukkannya ke microwave. Setelah itu kembali lagi ke arah Rayya, menariknya berdiri, kemudian duduk di kursi dan menarik Rayya kembali ke pangkuannya.
"Harus banget ya, gini posisinya?"
"Iya.. Aku nggak mau jauh-jauh." Nathan memeluk Rayya dan membenamkan kepalanya di curuk leher Rayya. "I really love this!"
******
Hari ini akan jadi hari yang super lelah untuk Nathan. Pagi-pagi sekali Nathan sudah menyiapkan sarapan dengan pakaian yang rapi. Rayya menyapanya disambut dengan senyuman. Nathan kemudian mendekat ke arah Rayya dan memeluknya.
"Morning hug! Biar ada bedanya kalau pas pacaran."
Rayya yang mendengar hanya tertawa ringan sambil membalas pelukan Nathan tak kalah erat. Nathan menggandeng Rayya menuju pantri yang sudah lengkap dengan menu sarapan sederhana. Hot dog kebab dan segelas americano. Mereka makan dalam diam. Hanya saling pandang dan saling membalas senyuman. Tak ada lagi kata-kata yang bisa menggambarkan kebahagiaan mereka.
Setelah sarapan selesai, barulah Rayya sadar bahwa Nathan sudah rapi dengan kaos hitam dan kemeja kotak-kotak flanelnya, dipadu dengan celana jeans.
"Pagi banget? Ada foto?"
"Iya" Nathan merangkul Rayya dan mengajaknya untuk duduk di sofa. "Kayaknya sampai malam. Nggak usah nungguin ya." Nathan menjeda sejenak. Rayya masih menunggu. "Fotonya sama Stef. Nggak ada masalah kan?"
Rayya menggeleng mantap. "Yang masalah kalau kamu abis itu nggak pulang dan ternyata nginap di apartemennya." Sindir Rayya. Nathan mendengus kesal.
"Yang kemarin kan beda kasus, Ray.."
"Whatever!" Rayya mengedikan bahunya.
Nathan hanya mencebik dan melanjutkan untuk bersiap. Rayya mengikutinya ke arah pintu. Tak lupa kecupan ringan di kening, Nathan berikan. Rayya yang masih terkejut tetap bergeming. Sampai akhirnya Nathan meraih daun pintu, dia pun berbalik.
"Ray.. Kamu tahu nggak?"
"Hah?"
"Naluri kamu udah cocok jadi istri yang melepas suaminya kerja."
Mata Rayya membulat mendengar kata-kata Nathan yang diiringi dengan gelak tawanya. "Nathaaaannnnnnnn!!!"
Nathan yang tergelak kembali berjalan ke arah Rayya dan mendekapnya sekali lagi.
"Take care.. Pulang yaaa.." Nathan mengangguk mantap.
Setelah melakukan beberapa kegiatan domestik, Rayya memutuskan untuk menelpon Nadine. Rasanya hari ini tidak akan cukup bahagia tanpa Nadine tahu. Nadine adalah seseorang yang sangat Rayya sayang. Walaupun pertemuan pertama mereka adalah hari patah hati untuk Rayya. Ya! Perkenalan dan pertemuan mereka adalah ketika Nathan mengenalkan Nadine dengan jelas sejelas-jelasnya bahwa dia adalah pacar Nathan. Seseorang yang dalam definisi Rayya saat itu memiliki seluruh hati Nathan. Memiliki seluruh cinta Nathan. Dan pastinya memiliki seluruh perhatian Nathan yang sebelumnya tertuju hanya kepada Rayya.
Tapi tidak untuk Nadine. Nathan menyayangi Nadine itu benar. Tapi Nathan mencintai Nadine itu salah besar. Terlihat bagaimana Nathan sangat-sangat kacau saat akhirnya Rayya membawa Aidan ke hadapan mereka. Nathan berubah menjadi semakin posesif, over protektif, dan sering labil kepada Rayya. Nadine menyadari itu.
Rasa kesal, cemburu dan marah Nadine seketika menguap saat Nadine sadar betapa Rayya dan Nathan adalah orang-orang tersayang. Nadine menyayangi Rayya. Sangat. Yang mana rasa sayang itu memicu Nadine membuat satu keputusan, yaitu melepas Nathan. Tak hanya itu, Nadine pula yang menyadarkan Nathan tentang perasaannya yang sebeneranya.
Rayya bersyukur. Dan ini saatnya untuk memberitahu Nadine bahwa pengorbanannya tidak sia-sia.
"Halo, Ray...!"
"Nadnad.. Udah mau berangkat kerja ya?"
"Nggak! Bolos gue. Seharian pusing."
"Yah Bu Bos mah beda ya. Trus lo sama siapa di rumah? Gue kesana ya?"
"Emangnya lo bukan bos?! Nggak usah. Bri di rumah kok. Remote office. Liat gue nggak tega dia."
"Ya udah lo istirahat deh ya.. Cepet sembuh.. Besok gue mampir ya?"
"Nggak apa-apa, Ray.. Gue sambil tiduran kok. Lo kenapa telpon? Ada masalah?"
"Ehmmm.. Tebak deh!"
"Gue pusing, ogah tebak-tebakan!"
"Cih!" Rayya menjeda. "Gue kemarin kencan sama dua cowok!"
"Hah? Kalau itu Seth gue tahu, dia cerita ke Brian mau ajak lo dinner. Yang satu siapa?"
"Aidan!"
"Hmmm.. Trus lo galau milih siapa?"
"Bukaaannn! Itu baru appertizer."
"Main course-nya?"
"Main course nya Nathan ngambek dan ngomong panjang lebar!"
"Trus trus.. Dessert nya?" Rayya terdiam. Nadine semakin tidak sabar. "Rayyy.. Lo jangan bikin gue penasaran deh. Trus gimana???"
"Hahahaha.. Dessertnya.. Uhm.. Jadi gini.. Mmmm.."
"Ah Rayya ngeselin bener sih lo! Cepetan!"
"Gue jadian!"
"What? Serius? Nathan bego ngomong juga? Ray lo nggak lagi menghayal kan?"
"Enak aja lo! Serius!"
"Ya Tuhannn!!! Akhirnyaaa.. Insecure juga tuh anak! Seharusnya lo ulur lagi sih, Ray.. Biar tahu rasa dia!"
"Hahaha.. Kalau gue ngulur dia. Gue juga yang tersiksa, Nad.."
"Sooo.. Udah lega?"
"Kinda.."
"Kenapa lagi sih? Kirain udah sampe sini happy ending."
"Berharapnya sampe tua happy ending, Nad.. Tapi gue harus gimana ya sama Stef? Lo tau kan doi bakal stay lumayan lama di Jakarta. Inget nggak dulu waktu lo ngomel-ngomel ke gue soal Nathan di sabotase seminggu. Jaman kalian masih pacaran?"
"Inget banget lah, Ray.. Lo tau gue keselnya kayak apa! Lo kudu tegas ke Nathan soal Stef!"
"Iyaaa.. Iyaaa.. Ya udah lo istirahat ya, Nadnadku sayang.. Ntar lo sehat kita ketemuan ya. Salam buat Brian!"
*****
Nathan bersedekap sembari memantau jalannya pemotretan hari ini. Sudah pukul sepuluh dan kegiatan ini tak kunjung selesai. Entah mood sang model yang kurang baik atau justru sang fotografer. Setelah berkali-kali tidak ada satupun foto yang hasilnya memuaskan.
"Nate.. Ga bisa lanjut hari ini gue. Stef moodnya ga oke banget. Mau dipaksain juga susah buat dapet angle yang sip."
Nathan mendesah lelah, "Ya udah deh Jod.. Break aja kali ya? Lanjut besok?"
"Mending gitu sih, Nate.. Kita susah dapetin Stef tapi dianya swing mood gini."
"Okelah. Semuanya lanjut besok ya.."
Nathan berjalan mendekati Stephanie yang sedang duduk menikmati beberapa kudapan yang telah disiapkan. Nathan berpikir keras tentang Stef yang mendadak badmood. Seharian ini mereka memang tidak terlibat banyak obrolan. Bahkan saat istirahat, Stef yang biasanya mendatanginya dan mengajaknya bercengkrama tidak juga terjadi.
"Stef.. Kamu kenapa?"
"Nothing. Cuma lagi capek aja."
"Ya udah kamu abis ini pulang. Istirahat yang cukup. Besok kita ulang photoshootnya bisa?"
"Reschedule bisa ga? Lusa gitu."
Nathan menghela napas panjang. Lelah? Jelas. Kesal? Pasti. "Nggak bisa gitu donk, Stef.. Aku pastikan bakal jaga mood kamu besok, okay?!"
Stephanie bergeming. Setidaknya dia sedikit menunjukkan bahwa sedang berpikir. Atau mungkin mempertimbangkan. "Oke! Aku mau pulang sama kamu."
"Kamu pulang sama Mbak Santi dulu ya? Aku ga bisa antar kamu sekarang."
"Kamu sekarang susah banget ya diajak hangout. Selama aku di Jakarta kita belum pernah qtime loh."
"Kita sama-sama sibuk, Stef. Mending sekarang kamu pulang terus istirahat. Persiapan besok kita reshoot."
"Oke. In order to keep my mood, besok kamu jemput aku."
Percuma saja menolak. Percuma juga membantah. Atas nama pekerjaan, Nathan akhirnya meng-iya-kan permintaan itu. Peluh. Lelah. Jenuh. Yang Nathan inginkan sekarang hanya satu. Pulang.
"I am home!" Nathan meletakkan tas dan juga merebahkan diri ke sofa. "Baby.. Semesta.. Kamu dimana sih?"
Tak ada sautan sama sekali dari Rayya semenjak Nathan datang. Beberapa saat lalu Rayya mengabarkan bahwa dia sudah ada di apartemen sedari pukul sembilan. Dan sekarang baru pukul sebelas. Mengingat Rayya selalu tidur jam dua belas malam, maka aneh jika saat ini tak ada suara atau bekas kegiatan Rayya. Nathan banglit dari sofa ke arah kamar Rayya. Diketuknya perlahan masih saja tak ada jawaban. Kemudian diketuknya lagi berulang-ulang. Nihil.
Nathan mencoba membuka kenop pintu yang ternyata tidak dikunci. Rayya ada disana. Duduk di beanbag balkon sembari memangku laptop. Sekilas terlihat kabel earphone menjuntai. Dalam sekejap ditariknya kabel tersebut.
"Kalo ada penyusup masuk gimana coba?"
"Ihhh.. Nathan! Bikin kaget aja sih! Abisnya nunggu kamu lama jadi mending disini."
"Ya tapi ga pakai puter musik kenceng gini donk! Daritadi dipanggil nggak jawab."
Rayya tersenyum. "Maaf ya." Diamatinya wajah Nathan yang kuyu. Rayya meletakkan laptopnya ke samping dan menepuk-nepuk beanbag memberikan instruksi Nathan untuk duduk disampingnya. Nathan dengan senang hati menyambut. Dia berbaring dan langsung memeluk pinggang Rayya erat.
"Bad day, huh?"
Nathan memposisikan kepala di ceruk leher Rayya kemudian mengangguk. "Tapi sekarang better. Udah peluk obat capeknya."
"Kamu jadi manja banget sih sekarang?"
"Nggak boleh manja sama pacar sendiri?"
Rayya terkikik mendengar kata 'pacar'. Disambutnya pelukan Nathan tak kalah erat.
"Mau cerita?"
Nathan menggeleng. "Nggak sekarang." Rayya pun mengangguk pelan. Jika Nathan sudah bicara seperti itu entah kapan dia pasti akan bercerita.
"Aku tidur sini ya?"
"Hah?"
Nathan merajuk, "Kenapa? Nggak boleh juga? Biasanya juga kalau AC kamarku bocor aku tidur sini."
"Ya kan duluuuu!"
"Emang sekarang kenapa?"
Rayya mendadak salah tingkah. Nathan menahan tawanya. "Pokoknya aku mau tidur dipeluk kamu. Terserah tidur dimana. Di beanbag juga nggak apa-apa."
Rayya yang mendengar itu mau tidak mau menyunggingkan senyumnya "Okay!"
"Okay apa? Okay tidur bareng kan? Bukan okay tidur di beanbag?"
Mau tak mau Rayya tertawa disusul Nathan yang juga tak kuasa menahan tawanya. Tawa riang. Tawa canggung. Tawa yang meluruhkan kekesalan.
"Ah, i'm happy! Aku bener-bener happy, Ray.."
"Aku juga.. Happy banget!"
*****