"Kok belum tidur juga?"
Rayya menatap Nathan yang masih tenang dalam pelukannya. Nathan menatap tirai yang tertiup angin. Mereka membiarkan pintu balkon terbuka. Nathan hanya terdiam sembari merapatkan rengkuhannya.
"Nate.."
"Ya, baby!"
"Lagi mikirin apa?"
Nathan memindahkan pandangannya ke arah Rayya. Kemudian tersenyum.
"Kira-kira workshop kamu selesai kapan? Aku bisa cuti beberapa hari setelah photoshoot selesai. Kita ke Jogja ya?"
"Hah? Ke Jogja lagi? Ngapain?"
"Papa mama kan juga masih disana, Ray.. Kita kasih tahu ke mereka ya?"
Memberi tahu kepada para orang tua tentang hubungan mereka adalah langkah besar. Rayya belum menyadari sepenuhnya tentang efek yang akan terjadi jika hubungan mereka tidak berhasil. Masih terlalu dini memang untuk membayangkan ketidakberhasilan hubungan mereka. Apalagi mereka baru meresmikannya dalam hitungan hari. Rayya memandang Nathan lembut. Sejenak rasa percaya diri Rayya naik drastis. Toh selama ini mereka melewati segala pertikaian dengan baik. Pasti tidak akan ada yang berubah.
"Soal kita?"
Nathan mengangguk pasti. Yang ada di pikirannya saat ini hanyalah membiarkan semua orang tahu tentang mereka. Tidak peduli apa yang akan didapatnya. Nathan hanya ingin mereka tahu bahwa Rayya milik Nathan.
"Kenapa? Toh cepat atau lambat juga pasti akan kita beri tahu kan?" sambung Nathan.
"Okay. Aku udah cerita ke Nadine juga."
"Sama donk. Aku juga cerita ke Nord." Nathan terkekeh. Nathan memandang Rayya meragu. "Kenapa, Ray?"
"Stef.. Kamu mau kasih tahu juga?"
Nathan terkejut dengan pertanyaan Rayya. Bukannya Nathan buta tentang ketidaksukaan mereka berdua. Tapi kedudukan Rayya dan Stef jelas berbeda. Bagi Nathan, Stef adalah sahabat kecilnya yang menemani perkembangan masa remajanya. Nathan menyayanginya. Sebatas itu. Tapi Rayya bagi Nathan adalah segalanya. Rayya adalah rumah. Rayya adalah dinding kokoh. Rayya juga angin pantai yang menyejukkan.
"Iya. Aku bakal kasih tahu juga. Tapi aku pengennya kita ketemuan bertiga. Aku akan atur makan malam bareng Stef setelah photoshoot berakhir. Besok malam kamu ada waktu?" Rayya masih mencerna ide Nathan. "Oh ya.. Besok pagi aku jemput Stef. Bukan sengaja. Tapi ini demi mood dia selama foto. Tadi semuanya nggak berjalan sesuai harapan. Mood Stef entah kenapa kacau. Hasil foto nggak ada yang oke. Itu satu syarat biar dia bisa jaga mood. Nggak apa-apa kan?"
Rayya mendesah, "Aku bilang nggak oke juga kamu tetep jemput dia kan?"
"Umm.. Iya sih. Tapi akan lebih nyaman buat aku kalau kamu tahu dan bilang 'it's okay, Nate.. i believe you'."
Rayya yang sedari tadi hanya diam mendekat ke wajah Nathan dan mengecup pipinya ringan.
"Okay. Silakan jemput Stef. Aku juga akan sediakan waktu buat kalian besok malam."
Nathan tersenyum girang dan mengecup puncak kepala Rayya. Kemudian dibalasnya lagi oleh Rayya dengan mengecup bibirnya ringan. Nathan melebarkan matanya kaget.
"Ray.. Kalau mau selamat malam ini, hentikan! Kamu mau tidur tenang kan?!"
Rayya bergidik mendengarkan Nathan dan segera berbaring memunggungi Nathan. Nathan yang melihatnya terkekeh kemudian melingkarkan tangannya ke pinggang Rayya. Mengecup pundaknya ringan.
"Good night, Baby.. Sleep tight!"
******
Pintu apartemen terbuka. Menampilkan sosok tinggi semampai dan tersenyum lepas.
"Udah siap? Bisa berangkat sekarang?"
"Udah. Kamu nggak mau masuk dulu, Nate?"
Nathan melihat jam yang melingkar di pergelangan tangannya. "Kita breakfast di luar aja. Kalau mampir dulu waktunya nggak terkejar."
Stephanie mengangguk kemudian melenggang masuk mengambil beberapa barang. "Ya udah, yuk!"
Jalanan Jakarta yang mulai padat merayap membuat keduanya memutuskan untuk membeli fast food secara drive tru. Keduanya terdiam menikmati sarapan masing-masing. Setelah menghabiskan satu breakfast wrap, Nathan menyesap kopinya dan meletakkannya disamping pintu mobil.
"Nanti kan sekitar jam lima sore, kalau nggak ada kendala, photoshoot selesai. Kita dinner bareng ya?"
"Serius? Dinner?"
"Iya nanti setelah photoshoot. Udah lama juga kita nggak dinner bareng. Sekalian ada yang mau aku omongin."
"Apa? Penting?"
"Nanti aja. Yang penting photoshoot hari ini lancar dulu. Kalau soal penting atau nggaknya itu relatif. Karna buatku itu penting banget." Nathan tersenyum lugas.
"Kayaknya kalau buat kamu penting, buat aku juga penting."
"I hope so, Stef."
Bahagianya pemotretan hari ini berjalan lancar. Mood Stephanie meningkat drastis. Jody, sebagai fotografer, sangat puas melihat hasil-hasil shoot hari ini.
"Good job, Stef.. Nah gini donk.. Mood oke banget."
Jody tak henti-hentinya memuji Nathan yang benar-benar menjaga mood Stephanie hari ini. Mulai dari menjemput dari apartemen ke studio di jam-jam yang sudah menunjukkan hiruk pikuk ibu kota. Kemudian memenuhi apa saja yang sang talent mau. Kalau saja bukan brand produk tersebut meminta secara langsung agar talent atau model dari iklan tersebut adalah Stephanie, Nathan memilih untuk memakai orang lain. Bekerja dengan Stef menyenangkan. Tapi Nathan menyadari batas-batas profesionalitas selalu bisa diterjang oleh Stephanie saat dia hadir. Tim dari produk tersebut yang secara langsung meminta Nathan ikut terjun supervisi pemotretan. Tentu saja dari titah kepala divisi mereka. Mau tak mau semua yang Nathan lakukan memang hanya sebatas profesionalitas. Sedikit porsi tentang persahabatan.
Setelah membelah kemacetan Jakarta di pukul lima sore, mereka akhirnya sampai ke tujuan. Nathan merapatkan mobilnya ke area parkir salah satu restoran timur tengah. Kemudian mereka beranjak ke dalam restoran yang langsung disambut dengan ramah oleh seorang pramusaji.
"Untuk berapa orang?"
"Dua." sahut Stephanie
Nathan yang sedikit lebih lambat masuk mengoreksi pernyataan itu. "No, actually untuk tiga orang, Mbak.. Kalau bisa yang nggak terlalu ramai."
"Tiga?"
Nathan hanya diam dan menginstruksi Stef agar mengikuti pramusaji. Mereka sampai di salah satu gazebo berhiaskan lampu kerlap kerlip di setiap sudutnya.
"Ini menunya. Mau saya tunggu atau nanti?"
"Tinggal aja, Mbak.. Kami pesan kalau sudah fix."
"Baik. Nanti tinggal ketuk layar di samping untuk memanggil kami."
Nathan mengangguk dan memberikan senyum tipisnya. Mereka berdua masih terpekur membuka buku menu dan menimbang-nimbang.
Setelah menemukan menu yang pas, Nathan siap untuk memesan dua porsi nasi briyani kambing, satu porsi nasi kabsah, orange juice, dan dua lechy tea.
"Kamu makan dua porsi? Kalau nggak salah tadi kamu bilang kita makan bertiga? Siapa satunya?"
Nathan menarik napasnya dalam kemudian menghembuskannya pelan. "Uhm. Pacarku." Stephanie yang masih terkejut mendengar pernyataan itu hanya diam memandang Nathan penuh tanda tanya. Belum juga selesai keterkejutannya, Nathan melanjutkan kalimatnya, "Itu dia udah datang."
Stephanie praktis menoleh ke belakang. Seorang wanita dengan dress simple bermotif bunga-bunga berjalan dan tersenyum canggung ke arahnya. Senyum itu menambah keresahan, kegundahan bahkan memunculkan emosi yang beberapa menit lalu berhasil dia kendalikan. Wanita di hadapannya ini adalah opsi terakhir yang tidak diinginkan Stef menjadi seseorang yang berarti untuk Nathan. 'Tidak! Jangan dia!'. Kalimat yang hanya bisa diucapkan di lubuk hatinya. Atau mungkin tak ada satu wanitapun yang dia harapkan menempati ruang di hati Nathan. Hanya dia yang berhak. Hanya Stephanie.
"Hai, Stef.. Apa kabar?"
Satu kalimat sapaan lembut yang ditujukan untuk mencairkan dan menyejukkan suasana justru membuat kondisi memanas. Rayya duduk di samping Nathan, sedangkan Stephanie terlihat jelas menahan amarah dan juga kekesalan.