Rayya mematut tubuhnya di cermin kamar. Dress berbahan brukat warna maroon tanpa lengan dan potongan d**a rendah dengan panjang menyapu lantai walaupun belahannya pun tak kalah tinggi, dirasa cocok untuk pesta malam ini.
Nathan yang sedari tadi mengomel di balik pintu akhirnya menggeram setelah melihat apa yang akan dipakai Rayya malam ini.
"Apa-apaan sih? Ganti ga?! Kalo ga ganti kita ga usah berangkat! Baju kurang bahan gini dipake!"
Rayya mendengus kesal. Bukan apa, dia sudah menyiapkan dress ini jauh-jauh hari. Meski terkesan agak seksi, tapi yakinlah ini dress yang sangat simpel. Rayya yakin akan ada banyak perempuan yang berpakaian lebih terbuka darinya nanti.
"Nate, kita udah telat loh! Masa nungguin aku ganti baju lagi sih?! Lagian apa salahnya baju ini coba? Aku juga masih pake bra sama gstring!"
Kemarahan Nathan sudah di ubun-ubun. Bisa-bisanya Rayya dengan santainya menganggap masalah dress selesai hanya karena dia memakai bra dan apa itu? G-string?! Oh Gosh!
"Ganti ga?!"
"Ga!"
"Ganti!!!"
"Nggak! Apaan sih?!"
"Oke, ga ada pesta malam ini!"
Nathan dengan santainya melepas jas dan juga kancing kemejanya kemudian menghempaskan badannya di sofa.
"Ya udah aku berangkat sendiri!"
"Coba aja kalo berani! Keluar dari sini tanpa aku, jangan salahin kalo Om Sadewo udah disini besok pagi!"
"Nathan!!!! Arghhhh!!!!"
Rayya membanting pintu kamarnya. Kesal dengan aturan yang dibuat Nathan. Tapi lagi-lagi dia menurut. Sekarang dia sedang menelusuri gaun dan mengeluarkannya satu persatu. Kira-kira mana yang bisa membebaskan dia dari omelan Nathan.
"Gila aja ke pesta pake baju begitu! Mau ngundang buaya apa! Oon apa gimana sih tu anak!" Nathan masih juga bergumam dengan omelannya.
Keheningan menggelayuti perjalanan ke pernikahan Nadine malam ini. Rayya masih kesal dengan ancaman-ancaman Nathan yang selalu melibatkan ayahnya.
Nathan langsung bersiap setelah melihat apa yang dipakai Rayya dirasa cocok. Dia mengulum senyumnya ditengah kekesalan Rayya.
Nathan pikir dress ini lebih cocok dipakai olehnya. Gaun warna hitam yang memang panjangnya hanya dibawah lutut, berlengan pendek yang sedikit memperlihatkan pundak Rayya, dengan aksesoris pita besar pada lingkaran pinggang bagian belakang.
"Masih aja cemberut sih, babe? Padahal udah cantik." Nathan mencoba menggoda Rayya dengan mencubit-cubit pipinya. Rayya segera menepis tangannya tanpa menjawab.
"Kamu ga tau kan aku nyiapin baju itu buat malam ini? Akutu pengen banget pake, Nate!"
"Pake aja pas tidur nanti kalo kita udah pulang." Jawab Nathan santai. Dan Rayya merasa obrolan memang harus dihentikan saat ini juga.
*****
Perjalanan selama kurang lebih tiga puluh menit membawa Nathan dan Rayya di pesta pernikahan sang mantan. Mantan Nathan. Yang sampai saat ini Rayya belum paham kenapa mereka putus. Dan setelah putus ajaibnya, mereka langsung baik-baik saja.
Rayya sempat menanyakan hal ini pada Nathan dan Nadine. Jawaban mereka sama 'Kami sudah benar-benar putus dan memutuskan untuk berteman.' Itu benar-benar mereka praktekkan semudah membalik telapak tangan. Tak butuh waktu 1x24 jam bagi mereka menjadi teman.
Rayya yang masih kesal terlihat kesulitan melepas seatbeltnya. Nathan yang melihatnya hanya mendengus dan langsung keluar dari mobil.
Tapi Nathan tak sejahat itu, jika kalian pikir dia meninggalkan Rayya. Dia beranjak membuka pintu dari sisi Rayya kemudian membantunya melepas seatbeltnya.
Rayya hanya diam menatap Nathan kesal kemudian keluar dari mobil. Langkahnya terhenti karena cekalan tangan Nathan pada lengannya.
"Bentar... Mau masuk dengan wajah kayak gini?"
"Apa sih, Mas Nathan?" Rayya menirukan cara bicara Inggit yang selalu memanggil Nathan dengan suara yang mendayu-dayu. Melihat raut wajah Nathan yang berubah Rayya tergelak.
"Kok jadi aku yang bete ya?!"
"Udah ah yuk masuk, trus cepet pulang.. Aku ga sabar pake gaun tadi buat tidur." Rayya menarik tangan Nathan yang masih melongo dengan pernyataan Rayya barusan.
"Segitu cintanya sama baju kurang bahan!"
Tamu undangan Nadine dan Brian jelas tidak main-main. Pengamanan acara ini sangat ketat. Papa Brian yang kebetulan pejabat dan Papa Nadine yang bisa di bilang pengusaha sukses, membuat pesta ini lebih dari kata meriah.
"Woww Denzel!!!" Suara pria setengah berteriak mendekati Nathan.
"Nord???!!! Apa kabar lo??? Wah makin keren aja!"
"Sepertinya karisma gue ga bisa menang dari seorang Nathan Denzel.." masih dengan posisi berpelukan dan tertawa "Nate? Who? Pacar?" Pertanyaan si Nord-Nord itu mengarah kepada Rayya yang berusaha tersenyum manis ke arah mereka.
"Ah, dia Rayya.. Ray ini Nord temenku sekaligus sepupu Nadine.. Dan Nord ini Rayya my one and only.. Aaaaaaa.. Sakit, Ray.. Sakittt.." Nathan memegangi pinggangnya kesakitan.
"Hai Nord, aku Rayya.. Sahabat Nadine dan Si Denzel satu ini!"
"Hai Rayya.. Sepertinya Denzel satu ini sering membuatmu repot?!"
"Exactly! Hanya dia satu-satunya Denzel yang menyebalkan!"
"Heiiii.. Aku memang satu-satunya Denzel kan?"
"The old Denzel looks more handsome and fun, Nate!" Rayya menggedikkan bahunya menanggapi omelan yang lebih mirip dengan komat kamit sumpah serapah Nathan.
"Wahhh, good chemistry! Kalian dekat sekali sepertinya.. Kok gue baru tau Rayya sih, Nate?! Kita kenal udah lama kan?"
"Rayya ini harus disembunyikan di pojok apartemen! Kalo ada yang tau bisa ngamuk dia!"
"Really, Ray?!" Nord masih dengan gelak tawanya.
"Aku ga suka ngumpul-ngumpul, Nord! Hanya beberapa saja teman Nate yang aku kenal.."
"Jadi dia Rayya-Rayya yang di sosial media?" Tanya Nord yang dibalas anggukan mantap Nathan.
"Oh, Goshhh!!! Nate!!! Seriously? Kamu belum hapus???"
"Why should i?"
Rayya lebih baik mulai mencicipi makanan yang sudah dihidangkan daripada harus berdebat seharian dengan Nathan. Entah kenapa hari ini Nathan benar-benar menyebalkan. Apa karena mantannya menikah? Oh yang benar saja!
*****
"So.. Gimana, Nate? Denger-denger 'Denzel Ad' lagi meroket?"
"Yaaa masih ecek-eceklah daripada usaha bokap. Lo sendiri gimana? Masih nerusin Wijaya Group?"
"Ya sebagian punya Papa gue yang handle sekarang.. Papa udah sering sakit.. Ga tega gue."
Nathan paham betul kondisi seperti itu. Saat Ayahnya dulu memaksa dia untuk turun ke perusahaan disaat perusahaan yang dirintisnya berkembang dan sangat mustahil ditinggalkan. Akhirnya Om Sadewo yang menyarankan Ayahnya untuk memilih Om Raga untuk membantu Ayahnya.
"Lo temenan sama Rayya udah lama?" Nathan mengernyit curiga.
"Kenapa nanya-nanya lo?"
"Dih curigaan!"
"Jangan macem-macem!"
"Dih posesif! Bukan pacar lo juga!"
"Emang!"
"Gue pacarin aja brarti.."
"Ga usah cari gara-gara sama gue, Nord!"
"Jangan macem-macem, Nord! Kecuali lo mau berurusan sama orang-orangnya Denzel!" Suara cantik menginterupsi percakapan Nord dan Nathan.
"Haiii mantan! Doain gue bahagia yaaa sama Brian!"
"Haiii juga mantan! Doa yang baik buat kalian! Kalo Brian ga cukup baik ntar balik ke gue, gue cariin yang lain!" Nadine mendengus kesal. Kemudian mereka berpelukan melepas rindu.
"Ck. Ck. Ck. Ada yaaaa hubungan mantan begini, Nord!" Seru Brian heran.
"Ga wajar sih, takutnya ga waras mereka!"
"Enak aja lo.. Eh Rayya mana?"
"Mengisi perut. Lagi ngambek sama gue!"
"Lo ngomel lagi?"
"Gimana ga ngomel.. Lo tau apa yang mau dia pake kesini? Duh ceritain detailnya aja gue ga sanggup. Ga tau apa yang di otak dia bisa-bisanya kepikiran bikin baju kurang bahan gitu!"
"Maap ya, Mas Nathan.. Itu baju mahal.. Aku pesen udah dari kapan tau buat aku pake dateng kesini.. Eh kamunya malah dengan enaknya nyuruh aku tidur pake itu!" Rayya kembali dengan sepiring buah yang akhirnya dia serahkan ke Nathan. "Nadnad.. Happy wedding, sweety! Brian beruntung banget dapetin lo, ga kayak seseorang yang nurut aja lo putusin!"
"Thank you, Ray! Lo terbaik! Semoga lo cepet nyusul ya?!" Nadine dan Rayya berpelukan erat.
"Sama aku ya, Ray.. Nyusul Nadine-nya." Nathan memicingkan matanya saat mendengar Nord dengan kata-kata absurdnya itu.
"Semoga kita berjodoh ya, Nord!"
"Sembarangan!" Nathan menjitak kepala Rayya.
*****
"Nate.. Nate..!"
Sebuah tudung saji yang tertempel diatasnya sticky note bertuliskan
'
Sarapan sendiri ya!
Aku ada janji jogging sama Nord
Abisin sebelum aku dateng
'
Sepasang tuna sandwich yang tidak ada serasi-serasinya dengan udang goreng tepung, sayur bening bayam dan sambal terasi. Sangat Nathan sekali! Tahu pasti moody nya Rayya soal sarapan. Sesekali Rayya ingin sandwich di pagi hari, tapi terkadang nasi dan lauk pauk menjadi pilihannya.
'Okay.. Sandwich for today!'
Rayya membuka kulkas saat membaca sticky note kedua bertuliskan
'
Ice Americano ready!
'
Dan benar saja segelas ice americano sudah siap menyambut pagi Rayya.
Dering ponsel Rayya sedikit mengalihkan perhatiannya. Ah telpon dari Ayahnya.
"Hai, Yah."
"Sehat, Ray?"
"Sehat donk.. Ayah juga kan?"
"Sehat.. Cuma kangen kamu.. Kapan ke Jogja?"
"Nunggu Nathan agak kosong ya, Yah.."
"Iya.. Mana itu anak kok ga ada suaranya?"
"Nathan lagi janjian jogging sama temennya."
"Kamu ga ikutan?"
"Rayya cukup nunggu sambil nikmatin sarapan buatan Nathan aja."
"Kamu tuh, Ayah minta Nathan buat jagain kamu.. Bukan ngurusin kamu.."
"Apa bedanya coba? Lagian Rayya ngurusin Nathan juga kok kadang-kadang."
"Nanti kalo Nathan nikah kamu gimana? Mau manja sama siapa?"
"Nathan nikah ya Rayya nikah juga lah! Enak aja dia nikah duluan!"
"Aneh-aneh kamu tu.. Ya udah ntar Ayah telpon Nathan aja nanya kapan bisa ke Jogja ya.. Kamu jaga diri ya, Ray.."
"Iya, Yah.. Daaa Ayah!"
Rayya sejenak berpikir sesaat setelah menutup telpon Ayahnya.
'Nanti kalo Nathan nikah kamu gimana?'
Kata-kata Ayahnya ini cukup membuat dia berpikir keras.
'Iya-ya.. Kalo Nathan nikah aku diusir donk dari sini.. Trus harus tinggal di workshop gitu? Bareng Bayu sama Toni?'
Rayya menggelengkan kepalanya dengan cepat. Benar kata Ayahnya..
Rayya bahkan belum bisa membayangkan hidup tanpa Nathan.
Ting
Notifikasi sosial medianya berbunyi.
Sebuah foto dengan langit biru yang cerah dengan capture
.
@callmenate *Even it's far.. At least we are under the same sky.. Semesta Rayya*
.
Rayya menatap foto itu jengah. Tak lama senyumnya mengembang. Membaca semua notifikasi yang menurutnya terkadang lucu, menyenangkan tapi juga menyakitkan.
'Tukang bikin onar beraksi'
Arghhh! Dasar Nathan!
Rayya memilih untuk segera menyelesaikan sarapannya dan beranjak untuk membersihkan diri. Sebaiknya dia ke workshop hari ini. Dia butuh hiburan bersama Inggit, Lea, Hani dan Citra. Knit a long together. Project mereka kali ini sweater pria dengan benang rajut import keluaran baru.
Setelah bersiap dan mengirimi pesan ke Nathan tentunya, Rayya segera memesan taksi online. Jarak apartemen Nathan ke workshop hanya sekitar dua puluh menit. Cukup dekat untuk ukuran Jakarta.
"Pagiii, The Gantengs! Yang cantik-cantik mana? Di atas?"
"Eh, Mbak Rayya.. Pantes langit hari ini cerah, Semesta Rayya nya pindah kesini." Celetuk Boy dengan santai.
"Boy.. Kamu stop stalking in sosmednya Nathan! Ga guna!"
"Mbak Rayya marah tuh, Boy.. Tapi walopun marah langit tetep cerah!"
"Toniii.. Kamu juga! Bay.. kamu ga usah ikutan mereka jadi sableng ya.."
The Gantengs pun terkekeh karena sukses mengerjai bosnya sepagi ini. Rayya memilih untuk naik dan berkumpul dengan yang lumayan waras. Terlihat mereka sedang berkumpul tanpa suara, serius dengan dua kayu ditangannya. Meliuk-liuk merajut tiap helai benang.
"Serius banget.. Sampe aku dateng ga ada yang nyapa.."
"Wahhh, Mbak Rayya.. Tumben minggu pagi udah nongol.. Sama Mas Nathan ga mbak?" Inggit selalu antusias apapun yang berhubungan dengan Nathan.
"Masmu itu lagi jogging, Git.. Kok kamu dianggurin malah suruh kerja.." goda Rayya.
"Ih, Mbak Rayya mah jahadddd.."
Rayya kemudian mengambil apa yang sudah dikerjakannya dari dalam laci dan mulai berkumpul dengan mereka.
"Mbak Rayya kok udah hampir jadi sih?" Citra iri melihat tangan bosnya yang bak mesin. Selalu menjadi paling cepat menyelesaikan project.
"Ulang tahunnya udah deket.. Kalo ga jadi-jadi gimana donk?!"
"Mas Nathan, mbak?" Lagi-lagi Inggit kepo.
"Emang siapa lagi? Mbak Rayya kan ya cuma punya Mas Nathan.." Hanipun ikut bersuara.
"Kayak apa aja 'punya'!" Ralat Rayya.
"Oh ya lupa.. Kemarin ada yang nyariin Mbak Rayya kesini.." sahut Lea yang dari tadi memilih untuk mendengarkan.
"Siapa, Le? Cowok ato cewek?"
"Cowok, Mbak.. Ganteng juga kayak Mas Nathan.. Hehe.."
"Nama.. Namanya siapa?"
"Uhmmm.. Siapa Git kemarin? Lupa.. Adon.. Eden apa siapa Git?"
"Eiden apa ya.. Aku juga lupa"
"Aidan?" Tanya Rayya penasaran.
"Naaahhh iya, Mbak.. Aidan!" Seru Inggit dan Lea bersamaan.
Seketika Rayya membeku. Semuanya tak lepas dari pandangan Inggit, Lea dan Citra.
'Baiklah.. Mungkin sudah saatnya bertemu lagi..'