Undangan Mantan

1446 Words
"Nateee!!! Hapus ga fotonya?!" Rayya segera membalikkan badannya dan berlari menuju Nathan yang sudah tertawa senang. Jika kita amati, persis seperti adegan-adegan drama kejar-kejaran yang sering kita tonton. Tokoh pria dengan ponsel yang diangkat ke atas, yang tak lupa, tokoh wanita berjinjit-jinjit berusaha merebutnya. Tapi tak berhenti disitu, Nathan yang kemudian berlari kencang ke kamarnya langsung mengunci pintu. Diiringi dengan gedoran-gedoran Rayya yang semakin melemah. Rayya yang sudah lelah memutuskan untuk turun dan beranjak ke dapur untuk menikmati pisang goreng yang sudah disiapkan Pak Gatot. Bunyi notifikasi tak kunjung berhenti. Rayya mengabaikannya. Tak lama Nathan turun dan bergabung. Masih dengan wajah kesalnya, mata Rayya tak lepas dari Nathan dan mengikuti kemana arah pria itu, yang kemudian duduk di depanya dengan santai mengunyah pisang goreng. "Nate! Please.. Hapus ya?!" "Oh! Come on, Ray! Itu cuma foto.. Dan disini aku punya hak ya untuk pajang apapun di sosial mediaku." Protes Nathan "I know.. Tapi kamu ngerti banget kan imbasnya ke aku.. So, please.." "Imbasnya banyak notif aja, kan? Kalo ga mau, matiin aja kolom komentar! Beres!" Rayya sudah merasa tak ada gunanya lagi mendebat. "Oke lah terserah kamu. Tapi kamu tanggung jawab kalau aku tertekan physically or mentally!!!" "I always do.." jawab Nathan santai. Ya! Dengan kata-kata santai, tapi tidak dengan matanya. ***** Di meja sudah tersedia sepiring pisang dan tempe goreng, teh panas, dan tak lupa tontonan kesukaan Pak Gatot dan Bu Karti. Apalagi kalau bukan Mr. Bean. Rayya sengaja membawa beberapa dvd film untuk bisa ditonton bersama. Beginilah mereka menghabiskan malam minggu. Masih dengan kepala Nathan yang dengan santainya menyandar di bahu Rayya tak lupa lengan posesifnya yang ia kalungkan pada lengan Rayya. Persis seperti anak kecil yang merajuk karena mengantuk. Rayya terlihat lebih santai dengan kaki selonjor dan punggung menyandar ke sofa. Pak Gatot dan Bu Karti duduk secara lesehan di depan meja, mendekat ke televisi. Terdengar sesekali kekehan kecil dari mereka. Waktu tak terasa menunjukkan pukul sebelas malam. Pak Gatot dan Bu Karti sudah masuk terlebih dulu. Tapi apa daya, Rayya tidak bisa melakukan apa-apa dengan kepala Nathan dipangkuannya. Rayya sudah hafal dengan pasti, di posisi ini, Nathan akan sulit sekali dibangunkan. Sepertinya tidur malam ini akan berakhir di sofa. "Morning, Nate!" Rayya menghampiri Nathan ke dapur masih dengan wajah kusutnya. "Morning, babe! Did you sleep well?" Nathan menjawabnya dengan senyuman pagi, yang mungkin, di damba followers-nya. Rayya menemukan dirinya terbangun di kamarnya. Ia yakin Nathan memindahkannya semalam. "Thanks to you! Kalo ga kayaknya badanku kram semaleman mangku kepala kamu!" Nathan hanya terkekeh kecil. "Nate, kita pulang agak cepet ya! Barang-barang import ternyata mau di load hari ini ke gudang. Aku pengen ngecek sendiri, jangan sampai ada yg skip kayak kemarin." "Sooo, our weekend is really end!" Terdengar hembusan nafas yang berat dari Nathan. "My bad!" Rayya memandang Nathan dengan seksama kemudian berkata, "Tapi aku telpon Bayu sama Toni dulu deh, kupastiin mereka bisa handle sendiri dan kita bisa pulang sore." "Udah kita pulang jam sepuluhan, masih kekejar kan?" Rayya mengangguk antusias, "Nanti aku yang nyet.." "Aku yang nyetir, kamu abis ini masih kerja!" Pernyataan Nathan yang tidak bisa ditolak. Bukan karena senang, tapi lebih kepada ekspresi Nathan yang memang sedang tidak ingin di bantah. Tepat jam sepuluh, mobil Nathan sudah melaju menembus kota Bandung menuju Jakarta. Terlalu pagi untuk pulang, memang. Tapi setidaknya semalam suntuk mereka puas bercengkrama dengan suasana baru. Jalanan tidak macet walaupun sedikit padat. Tujuan mereka langsung ke workshop Rayya di daerah Cilandak. Nathan akan berencana meneruskan tidurnya disana sembari menunggu Rayya bekerja. Setelah sampai di tujuan, tanpa basa-basi mereka langsung keluar dari mobil. Toko rajut Rayya memang buka setiap hari, sedangkan workshopnya hanya di hari Senin sampai Jumat, itupun tidak sepenuhnya Rayya yang handle. Masih ada Lea, Inggit, Bayu, Toni, Boy, Citra dan Hani yang bergantian. Walaupun mostly the boys hanya handle masalah pergudangan dan angkat-angkat. "Aihhhh, yang abis perfect weekend with one and only! Kok pulangnya cepet sih, Mas Nathan?!" Sindir Boy diikuti dengan kerlingan ga jelas milik Lea dan Citra. Rayya yakin mereka sudah buka postingan Nathan kemarin yang sampai sekarang belum juga dihapus. "Kalian sih gangguin aja! My one and only kan jadi mau cepetan balik. Awhhhh.. Sakit, Ray! Kebiasaan deh cubit-cubit! Biru semua nih badan!" "Lebay! Udah sana naik! Tidur! Malah ngeladeni si Boy ngegosip." Omelan Rayya menjadi makan siang yang lengkap untuk Nathan. Sedari tadi di mobil, Rayya hanya sibuk dengan ipadnya, memeriksa keuangan atau entah stok barang. Rayya beneran cuekin Nathan selama perjalanan. "Babe, laper.. Pesenin makan!" Ah iya, Rayya hampir lupa bahwa mereka belum makan siang. Dan jangan pernah membahas kenapa panggilan-panggilan sayang Nathan selalu meluncur untuk Rayya. Itu sudah jadi habbit-nya sejak dulu. Rayya tidak pernah ambil pusing ntah itu babe, honey, sweety, sayang, sweetheart, atau yang lainnya. Toh, mereka sama-sama jomblo. Hening. Rayya berpikir lagi. Ah mereka memang sudah lama jomblo. Mungkin sekitar 3 tahun. Untuk Nathan maksudnya. Sedangkan Rayya? Dia merasa tidak pernah pacaran dengan serius. Sekalinya dia pacaran itupun hanya bertahan beberapa bulan saja. Bukan tipe Rayya. Setelah memesankan makanan untuk Nathan dan juga dirinya sendiri, Rayya bergegas ke lantai dua untuk mengecek pekerjaannya. Waktu sudah berlalu sekitar dua jam semenjak kedatangan mereka dan Rayya masih terpaku dengan microsoft excel untuk memastikan semuanya benar. Saat sedang seriusnya mengetik, tarikan tangan yang kencang mengagetkan Rayya. "Makan, ga?!" "Nanti, Nate.. Nanggung. Kamu makan dulu gih sana.." "Aku udah abis dari tadi Semesta Rayyaaa!!! Ini udah hampir setengah empat dan kamu makan siang aja belum? Jangan-jangan kamu emang selalu gini ya? Belum kapok opname di rumah sakit beberapa bulan yang lalu? Om Sadewo itu nitipin kamu ke aku, Ray.. Dan aku ga mau ya gegara kelalaian kamu, aku yang kena imbas ga di percaya! Sesekali kamu di posi-..." Rayya membungkam mulut Nathan dengan tangannya. Kalau Nathan sudah ngomel seperti ini tidak akan ada habisnya. Mungkin satu atau dua jam lagi baru selesai. Setelah inipun Rayya yakin sampai nanti malam sindiran-sindiran dari mulut Nathan akan terus terucap. "Iya-iya, Nate! Aku makan!" Ujar Rayya sambil berjalan dengan kaki dihentakkan. Konsentrasinya buyar. "Eits, NO IPAD! Makan ya makan! Ga usah bawa kerjaan ke atas." Dan saat itu Rayya hanya bisa merutukkan giginya, menggeram menahan amarah. Tapi, ingat! Nathan is Nathan! Rayya is Rayya! Satu kebiasaan mereka yang tidak pernah hilang. Mereka penurut satu sama lain. Kecuali soal postingan foto di sosial media. Haha Rayya sudah duduk di atas karpet untuk siap menyantap makan siang kesoreannya. Masih dengan mereka yang melempar tatapan kesal satu sama lain. Rayya memilih diam saat Nathan kembali memborbardir dirinya dengan nasihat-nasihat, kekesalan, keputus-asaan (oke ini memang terdengar agak lebay, but it's true! Nathan selalu merasa putus asa tentang kedisiplinan makan Rayya). Tatapan mereka yang sedang beradu terpaksa terputus setelah getaran dari ponsel Rayya. "Hallo." "..." "Nadine? Serius? Ahhh lama banget ga ketemuuu.." "..." "Apa? Lo mau nikah? What? Brian? Sumpah demi apa.. Ihhh kalian sweet sih!" "..." "Iya-iya gue pasti dateng. Hmm, ajak Nathan! Ntar Brian cemburu ga?" "..." "Okay! Bye, Nad.. Love you!" Rayya segera menutup telpon tanpa bercerita apapun. Nathan yang masih dalam keadaan siaga dengan kekepoan tingkat tingginya harus menurunkan ego untuk menanyakan pembicaraan apa barusan antara Rayya dan mantan pacarnya itu. Nadine Audrey Wijaya. The one and only mantan Nathan yang deketnya minta ampun sama Rayya. Mereka pacaran hampir dua tahun. Tapi entah kenapa Nadine memutuskan untuk berpisah di anniversary mereka yang kedua. Hanya Nathan dan Nadine yang paham. Dan mereka sampai saat ini masih baik-baik saja. "Barusan Nadine?" "Hmmm" "Yang mau nikah siapa?" "Kepo!" "Ray! It's not funny!" "Yang ngelucu juga siapa!" "Ray!!!" "Kenapa sih, Nate! Kamu tadi suruh aku makan loh! Sekarang aku lagi konsen makan kamu nerocos terus!" Rayya menjeda untuk menyelesaikan kunyahannya. "Iya! Nadine mau nikah! Sama Brian! Kenapa? Cemburu? Belom move on?!" Nathan tertawa. "Kita harus dateng, ya!" "Semangat banget! Bukan mau hancurin nikahan Nadine kan??? Atau lagi nyesel mutusin Nadine?!" "Aku yang diputusin kalo kamu lupa!" Fiuh. "Dan aku ga cemburu, udah move on dari kapan tau, cuma kamunya aja yang oon!" "Kok jadi aku sih! Oke, kita dateng! Tapi disana as usual kamu ga usah deket-deket aku. Gabung sama temen-temen cowokmu." "Ya ga bisa donk, Ray! Ini udah bukan kuliah lagi! Kamu masih takut di bully?!" Rayya hanya bisa menghela nafas jika sudah diingatkan soal itu. Masa kuliah yang Rayya habiskan di perpustakaan dan kelas, alasan utama karena memang dia gila belajar, alasan yang lain adalah sebisa mungkin tidak terlihat bersama Nathan. Mempunyai Nathan yang selalu bersamanya adalah anugrah dari Tuhan. Disisi lain, itupun ujian untuk Rayya. Sahabatnya yang satu ini, tidak pernah, tidak digandrungi oleh perempuan di tempat mereka menimba ilmu. Dan itu sungguh ujian teramat besar untuk Rayya, sampai saat ini. 'Oh, ayolah, Ray.. Apa kamu bakal terus ga sepeka ini?' Nathan masih memandangnya dalam diam *****
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD