Our Habbit!

949 Words
"Pagi, Ray!" Nathan masih dengan wajahnya yang kusut, meski tidak mengurangi sama sekali kadar ketampanannya, menghampiri Rayya yang sedang menyiapkan sarapan untuk mereka. "Pagi, Nate! Ini espresso-mu dan ini waffle-mu." "Thank you, Jelek!" Nathan mencubit hidung Rayya yang ditanggapi dengan cibiran. "So, apa kegiatan kita wiken ini? Jalan? Nonton?" Sambung Nathan sambil mengunyah waffle nya. "Jalan? Kemana?" "Terserah." "Tektok apa nginep?" "Dua-duanya boleh." "Senin ga ada meeting emang?" "Kosong." "Oke! Bandung yuk! Nginep. Tapi ke workshop dulu ya bentar." "Deal!" *** Sabtu dan Minggu. Dua hari yang mungkin bisa dibilang khusus untuk Rayya dan Nathan. Sesibuk apapun mereka dari dulu selalu menyempatkan dua hari ini untuk Qtime. Pernah saat kuliah dulu mereka hampir tidak pernah bertemu. Entah Nathan yang pulang larut saat Rayya sudah tidur, kemudian bangun saat Rayya sudah berangkat. Atau sebaliknya. Yang tak pernah mereka lupakan adalah siapapun yang bangun lebih awal merekalah yang menyiapkan sarapan. Tapi hal ini tak pernah membuat mereka sengaja untuk bangun terlambat. Persahabatan mereka memang sekental itu. Mereka sadar bahwa mereka saling membutuhkan. Mobil mereka menyusuri jalan ke arah Cilandak yang masih sepi. Sabtu pagi di Jakarta memang belum ramai, liat saja nanti jam makan siang. Mendadak semua mobil terparkir di jalanan. Macet parah! Meski begitu mereka berdua tidak pernah bisa meninggalkan Jakarta. Banyak kenangan di kota ini. Perjuangan mereka untuk mencari gelar sarjana, kreatifitas yang mereka bentuk, semua ada di kota ini. Orang tua Nathan memilih untuk menetap di Inggris setelah menyatakan pensiun. Meski ini adalah perusahaan pribadi Denzel, yang sekarang di pegang oleh orang kepercayaan Ayah Nathan. Sedangkan Ayah Rayya menetap di Jogja, kota kelahiran Ibu. Sesekali mereka menghabiskan waktu di Jogja jika mereka ingin cuti. Nathan lebih tepatnya. Walaupun dia seorang owner tapi paling tidak perusahaan masih membutuhkan instruksi langsung dari Nathan. Kalau Rayya, kalian tau sendiri ada dan tidaknya Rayya tidak begitu berpengaruh, asal Rayya masih terjangkau sinyal. Kenapa Bandung? Rayya tipe cewek yang suka berpergian tapi irit. Bukan pelit ya?! Dia tidak suka menghabiskan uangnya untuk menginap di hotel, disini kita membahas hotel berbintang minimal tiga. Dia sangat tahu Nathan adalah pribadi yang sulit sekali merasa nyaman. Jadi tidak sembarangan hotel bisa mereka pilih untuk menginap. Di Bandung, Ayah Nathan punya sebuah villa. Ada dua orang kepercayaan yang merawat selama ini. Otomatis mereka tidak butuh mengeluarkan uang untuk penginapan, bukan?! Setelah menempuh waktu sekitar lima jam, dengan istirahat dan makan siang tentunya, mereka sampai di villa Denzel. Rayya langsung merebahkan tubuhnya di sofa diikuti Nathan yang duduk di sebelahnya. "Mas Nathan, Mbak Rayya.. Ini teh panasnya diminum. Di dapur lagi gorengin pisang, tunggu sebentar ya!" Dia adalah Pak Gatot, orang kepercayaan Ayah Nathan yang menjaga villa ini, bersama istri tentunya, yaitu Bu Karti. Mereka orang Jawa tulen. Pindah dari Jogja ke Bandung atas perintah Ayah Rayya yang diamanahi Ayah Nathan untuk mencarikan orang. Kebetulan mereka tidak mempunyai anak. "Eh, Pak Gatot! Sehat, Pak?" "Sehat, Mas Nathan.. Tambah bugar malah." Ujar Pak Gatot seraya mengepalkan tangan membentuk otot lengannya. "Wah saya kalah kuat kayaknya." Merekapun tertawa. "Nginep kan, Mas? Mbak?" "Iya, kamarnya udah disiapin, Pak?!" "Punya Mas Nathan udah siap, punya Mbak Rayya lagi diganti seprei sama Dik Karti. Ya sudah saya ke belakang dulu, nanti pisangnya gosong." "Makasih ya, Pak.." seru mereka bersamaan. Hening. Masih hening. Tambah hening. Mereka berdua menikmati empuknya sofa disertai dinginnya udara dengan secangkir teh yg tadinya panas sekejap menjadi hangat. "Mau kemana kita?" "You know lah, Nate.. Aku cuma pengen suasana baru. Kita di villa aja ga usah kemana-mana." "Deal! Setuju pake banget." "Alah bilang aja capek!" Nathan merubah posisi duduknya miring menghadap Rayya "Pulangnya kamu yang nyetir ya, Ray! Kan Seninnya aku kerja." "Emang aku ga kerja?!" "Kamu kan berangkatnya bebas!" "Kamu juga!" "Ah, ga mau tau. Pokoknya aku pulang di kursi penumpang." "Nate!" "Thank you, sweety! Aku tidur bentar ya!" Nathan mengacak-acak rambut Rayya kemudian berlari kearah kamar meninggalkan Rayya yang masih kesal. *** Rayya melangkahkan kakinya ke halaman belakang villa. Tangannya menggeser pintu kaca yang kemudian menyuguhkan pemandangan yang luar biasa. Dia kemudian turun dan bergerak ke arah kursi santai. Sambil menyelonjorkan kakinya, Rayya masih dengan kekagumannya, mengeluarkan ponselnya dan memotret perkebunan teh yang terhampar di depannya. Segera dia upload foto itu ke sosial media dengan capture  . @semestarayya "❤️Bandung.. Healing❤️* . Tak butuh waktu lama notifikasipun bermunculan setelah seseorang meninggalkan komentar yang menyita perhatian.  . @callmenate "Let's have fun!!!"  . Siapa lagi kalau bukan Nathan yang terlalu senang melihatnya menjadi trending topik atau bahkan bahan gosip teman-teman kampus. Jangan lupa, juga teman SMA! Rayya tahu pasti notifikasi yang memenuhi berandanya adalah followers Nathan. 'Wow! The charm of Nathan Denzel!' Batin Rayya. Rayya jelas menyadari setenar apa Nathan jaman sekolah. Bahkan dia harus mengalami berbagai macam bully karena hanya Rayya lah yang berada di dekat Nathan selama ini. Mereka tidak pernah peduli dengan status persahabatan mereka. Di kuliah pun, saat mereka sudah jelas-jelas beda fakultas, Rayya masih saja menjadi bahan cibiran karena selalu berangkat dan pulang bersama Nathan. Ada di titik sampai Rayya meminta Nathan untuk bungkam tentang kenyataan bahwa mereka tinggal di satu atap yang sama. But, Nathan is Nathan! Yang selalu menuruti semua ide yang mungkin terbodoh, konyol, atau unfaedah. 'Biarkan saja mereka berasumsi, Rayya. Aku tidak peduli apa yang di otak mereka!' Hal ini selalu ditekankan Nathan kepada Rayya. Tapi lagi-lagi Nathan adalah seseorang yang pasti akan mengiyakan semua permintaan Rayya, terlebih jika perempuan mungil ini sudah menunjukkan sikap merajuknya. Tak lama ada sebuah notifikasi yang membuat Rayya geram setengah mati. Yaitu foto selfie Nathan yang menunjukkan hamparan kebun teh dengan capture . @callmenate 'Perfect weekend, with the one and only! Rayya!' . Ah ya! Satu lagi yang unik di foto itu! Terlihat punggung Rayya dengan rambut yang di cepol asal-asalan terpampang disana. "Nateeeee!!!!!!!"
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD