Intro

915 Words
Cahaya pagi hari ini terlalu cerah untuk terlewatkan. Langkah kecil diiringi senyuman manis cukup menggambarkan suasana hati seorang Semesta Rayya Pahlevi. Di usianya yang menginjak dua puluh tiga tahun, dia telah berhasil menyelesaikan kuliahnya dengan baik. Bahkan bisa dibilang nilainya hampir sempurna. Hidup mandiri di Jakarta sudah dilaluinya sejak awal kuliah. Sebenarnya hidup Rayya di Jakarta tidak benar-benar sendiri. Dia punya seseorang yang bisa diandalkan paling tidak untuk memasang gas yang habis, mengangkat galon ke atas dispenser, memperbaiki lampu yang mati, dan lainnya. Nathan akan dengan senang hati mengerjakan itu semua. Ya! Nathan Denzel. Sahabat kecil Rayya. Laki-laki keturunan Indonesia-Inggris yang tinggal bersama Rayya. Seseorang yang mungkin bisa di bilang selalu ada di samping Rayya. Di usia yang tak jauh beda dari Rayya, mereka hanya terpaut sekitar 4 bulan, Nathan sudah bisa dibilang mapan. Sebuah perusahaan yang bergerak di bidang periklanan yang ia rintis dari awal masuk kuliah berkembang pesat. Apartemen yang mereka tinggali adalah milik keluarga Denzel. Orang tua Rayya dan Nathan sudah berteman baik dari sebelum mereka lahir. Meski sekarang Rayya hanya memiliki Ayah, karena Ibunya meninggal saat dia duduk di bangku tiga SMP. Apartemen minimalis dengan tiga kamar, living room dan pantry dinilai sangat pas. Empat tahun sudah mereka hidup berdampingan dengan baik. Masalah kecil sudah pasti muncul ditengah mereka. Tapi hanya itu. Sedari dulu Rayya dan Nathan tidak pernah membiarkan masalah menumpuk. Persahabatan mereka terlalu berharga untuk dilalui dengan pertengkaran konyol. Seperti pagi ini, sapaan pagi Nathan sukses membuat mood Rayya stabil. Dengan ice americano dan sepotong sandwich bikinan Nathan, dia siap untuk melewati hari ini. Langkah kakinya berhenti di depan sebuah bangunan tingkat tiga yang bertuliskan Ray's Workshop. Tangan kanannya mendorong pintu agar terbuka. Sapaan dan senyuman beberapa karyawan membuat paginya sempurna. "Pagi, Mba Rayya.." seru mereka bersamaan. "Pagi, Citra.. Hani.. Toni! Mana Inggit, Lea dan Boy? Bayu juga?" "Belum datang, Mbak.. Sepertinya Inggit agak terlambat karna mau ke toko yang di Kemang dulu cek pembukuan. Kalo Lea sama Boy lagi ke pabrik ngecek langsung stok yang kita pesan." Rayya hanya mengangguk. "Ton, pesanan benang dan tools import kita udah dateng belum? Stok untuk workshop menipis, kita ga bisa pake stok toko." "Katanya hari ini reload, Mbak. Pintu gudang atas udah ga aku kunci sih, ada Bayu yang jaga plus bebenah." "Oke kalo gitu aku ke atas dulu. Hari ini jadwal workshop jam brapa, Han?" "Jam 10 mbak, ada sekitar 9 orang yang ikut. Tiga diantaranya bapak-bapak." Setelah mendengar semua penjelasan karyawannya, Rayya naik ke lantai tiga. Bangunan ini hanya memiliki tangga, jadi Rayya tidak pernah sekalipun menggunakan sepatu atau sandal dengan heels yang tinggi. Bahkan sneaker atau sandal jepit sudah cukup untuknya. Toh pekerjaannya tidak memerlukan penampilan yang wah. Bangunan berlantai tiga yang bisa Rayya sebut dengan "kantor" ini adalah perwujudan impiannya. Menekuni keahlian rajut sedari kecil membawanya pada impian ini. Benang-benang berjejer, aksesoris rajut, alat-alat rajut yang menggantung menjadi dekorasi yang khas untuk lantai satu dari bangunan ini. Disanalah orang-orang yang memiliki hobi yang sama dengan Rayya membeli semua kebutuhannya. Dari yang kualitas lokal sampai import. Sedangkan lantai dua dikhususkan untuk peserta workshop yang dimulai dari pukul delapan pagi hingga lima sore. Kebanyakan yang mengikuti ini adalah ibu-ibu rentang usia 40-80tahun. Ada sih beberapa anak muda rentang usia 15-30tahun, tapi itu hanya segelintir saja. Di lantai dua ini juga terdapat gudang stok. Akses untuk mobil-mobil box pengantar barang langsung ke lantai dua. Dan untuk lantai teratas adalah kantor sekaligus ruang istirahat Rayya. Ada satu set meja kerja, sofa, tv, kamar mandi, mini pantry, dan satu tempat tidur berukuran king sangat cukup untuk melepas lelah walau sejenak. *** We live on a mountain Right up the top There's a beautiful view From the top of the mountain Nada dering Mocca mengalun pada ponsel Rayya. Ah ternyata dia tertidur, tanpa melihat jam Rayya langsung mengangkat panggilan itu. "Hei! Jam brapa ini? Kenapa belum pulang?" "Nate? Hoaaamm.." Rayya mengarahkan matanya ke jam di tengah dinding. Jam delapan. "Oh Goshhh, jam delapan???!!!" "Kamu pikir jam berapa, Ray? Tertidur, huh?" "Hmm.. Sebentar lagi aku pulang, biar aku mengumpulkan nyawa sejenak." "Aku jemput! Tunggu baik-baik disitu!" "Tak perlu, Nate.." Tut.. tut.. tut.. "Kebiasaan! Belum selesai ngomong udah di tutup!" Seru Rayya bermonolog. Empat puluh menit sudah Rayya menunggu. Kemudian pesan dari Nathan melangkahkan kakinya untuk turun. Masih ada Bayu dan Toni di bawah. Mereka memang sering menginap disini. "Bay, Ton.. Aku balik ya!" "Ya mbak, hati-hati.. Udah ditunggu Mas Nathan ya?" Rayya mengangguk kemudian melambaikan tangan kepada keduanya. Tanpa basa basi, Rayya membuka pintu belakang mobil dan langsung merebahkan badan. "Ray! Aku bukan sopirmu! Pindah depan!" "Oh, ayolah, Nate.. Aku lelah.. Aku pengen tiduran!" Tak menghiraukan Rayya, Nathan langsung keluar dari mobil dan membuka pintu depan penumpang juga pintu belakang. Ditariknya kaki Rayya tanpa aba-aba. Nathan tak peduli dengan teriakan Rayya ketika dia menggendongnya dan memindahkannya ke kursi depan yang sudah landai. Ya! Apalagi! Agar Rayya nyaman untuk tidur meski duduk di depan. "Duluan ya, Bay.. Ton!" Seru Nathan ketika menyadari Bayu dan Toni memperhatikannya. "Iya, Mas.. Kalo perlu diikat Mbak Rayya-nya biar ga pindah-pindah lagi" mereka tertawa melihat kelakuan Nathan dan Rayya. Rayya masih mendengus kesal dengan kelakuan Nathan. Sementara Nathan terlihat tidak peduli dengan sikap Rayya. "Udah makan?" "Belom." "Aku udah masak kesukaanmu!" "Hmm" "Hanya itu?" "Lalu apa?" "Baiklaaahhh, aku makan sendiri aja kepiting asam manis dengan telur yang hmmm." "Nateeee!!! Kepiting???" Mata Rayya berbinar. "Ekspresi macam apa ini? Dasar bipolar!" "Love u, Nate! Tenang aja, aku akan membayar pengorbananmu dengan menikmatinya sampai habis!" Nathan mencibir, "Oke! Secangkang-cangkangnya kamu harus abisin!" "Nate!!!!"
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD