*** Atap adalah tujuan ketiganya. Arsen yang menjadi penunjuk jalan. Ia bertugas menggendong Biru, sedangkan Una membawa bekal makan siang dan tas kecil yang tadi Biru sandang. Mereka bertiga bagai keluarga bahagia. Arsen tertawa meski obrolannya bukan bersama Una, melainkan Biru. Kesedihan yang tadi disebabkan oleh sikap Ilia pun kini entah hilang ke mana. Arsen terbawa sikap ceria yang Biru tunjukan padanya saat menceritakan apa saja yang putranya itu lakukan bersama Una. “Papa tahu? Tante Una sekarang berteman dengan Akira dan Nana,” kekeh Biru. Arsen mengernyit heran. Ia tidak mengenal kedua nama tersebut. “Siapa mereka?” tanyanya. Biru berdecak sebal. Ia melirik tante Una yang juga sedang menatapnya sembari tersenyum. Lalu kembali menatap papanya. “Mereka teman sekelasku, Pa,”

