Marry Me, Single Daddy! – Chapter 4

1506 Words
*** Aruna menyajikan pesanan yang Ilia, Arsen dan Biru minta dengan cukup cepat. “Selamat menikmati sarapannya ya,” ucapnya ramah. “Lo nggak bisa makan bareng kita, Na?” tanya Ilia. Una tersenyum lembut. Ia melirik Arsen yang wajahnya sudah menggelap. Una menggelengkan kepala. Selain karena ia sedang bekerja, dirinya pun tak ingin Arsen merasa tidak nyaman. “Gue harus kerja, La. Kalian nikmati aja sarapannya,” jawabnya. Ilia mengerti. Masih cukup pagi bagi Una untuk duduk bersamanya seperti kemarin. “Okay, selamat bekerja ya, Na. Biru lambaiin tangan sama Tante Una!” perintahnya kepada Biru. Bagai kopian Arsen, Biru pun mendengus sebal. Namun, ia menuruti ketika Ilia mendelikan mata. Una jadi bertanya-tanya, sebesar apa pengaruh seorang Ilia pada dua orang lelaki di depannya ini sebenarnya? Mereka terlihat tidak berkutik di depan Ilia. Una mengedikan bahunya. Ia izin untuk melanjutkan pekerjaan setelah mendapati Biru melambaikan tangan padanya. Tak lama setelah itu bosnya yang tak lain dan tak bukan adalah Bagus Alfarezo memasuki café dengan angkuh. Una menghindar agar tidak mendapatkan omelan dari mantan pacarnya itu. Akan sangat memalukan bila tiba-tiba saja Bagus memarahinya di depan Arsen. Tidak masalah bila dirinya memang melakukan kesalahan, tetapi kadang Bagus suka sekali memanggilnya dan memarahinya tanpa sebab. Kadang Una curiga, jangan-jangan Bagus benar-benat ada rasa? Entahlah, lelaki seperti Bagus tak dapat dipercaya. Una juga tidak terlalu peduli bila Bagus memang diam-diam mencintainya. Baginya, lelaki itu hanya masa lalu yang terpaksa ia jumpai lagi karena keadaan. Andai dia tidak terjepit, mungkin hal pertama yang akan dirinya lakukan adalah menghindari Bagus selama-lamanya. Namun, untuk saat ini Una betul-betul tak bisa menghindar. Ia membutuhkan pekerjaan demi menafkahi diri. “Na, Pak Bagus manggil lo. Wajahnya gelap banget gue lihat!” Lagi-lagi Sisil memanggilnya. Baru saja Una berpikir untuk tidak terlihat oleh Bagus, tetapi apa yang terjadi? Lelaki itu lagi-lagi mengganggunya. Una menunjuk dirinya sendiri. “Kok gue, Sil? Ngapain?” bisiknya. Sisil mengedikan bahu. “Pak Bagus kan emang sering nyari lo, Na. Terus tiba-tiba ngomel nggak jelas,” tanggapnya. Nah, Sisil saja tahu bagaimana sikap Bagus? Una tidak bohong soal Bagus yang sering sekali mengganggunya, tetapi tidak pernah memecatnya. Memang mengherankan, tetapi sekali lagi Una tak ingin tahu alasan kenapa Bagus melakukan itu. “Sana pergi, nanti mulutnya Pak Bagus makin panjang ngomelin lo!” ujar Sisil. Una mengembuskan napasnya dengan berat. “Memangnya di mana Pak Bagus sekarang, Sil?” tanyanya. “Kali ini di ruangannya,” jawab Sisil. Memasrahkan diri adalah apa yang Una lakukan selanjutnya. Semua akan dirinya terima apa adanya. Sudah biasa ia mendapatkan perlakuan seperti ini dari Bagus. “Gue ke sana dulu. Doain gue semoga nggak mendadak dimarahin lagi sama Pak Bagus,” pamitnya. Sisil menganggukkan kepala. Ia menyemangati Una setelah itu. Berjalan tergesa Una menghampiri Bagus ke ruangannya. Tak ada jalan melintas, terpaksa Una melewati rombongan Ilia dan Arsen yang tampak seperti keluarga bahagia di matanya sekarang. Bagaimana tidak? Biru terlihat antusias sekali bersama Ilia. Sementara Arsen tersenyum melihat keakraban keduanya. Kenapa Ilia tidak menikah saja dengan Arsen? Mereka tampak sangat cocok di mata Una. Arsen tampan dan Ilia cantik. Una mengerut heran, tetapi akhirnya ia mengedikkan bahu juga. Bukan urusannya bila Ilia dan Biru dekat. Bukan pula urusannya kenapa Ilia tidak menikah dengan Arsen. Dirinya juga tidak ada rasa pada Arsen hingga harus cemburu. Una melanjutkan langkah. Tak ingin membuat Bagus menunggu terlalu lama hingga menimbulkan kemarahan lain dari bosnya itu. Una mengetuk pintu ruangan Bagus, lalu masuk segera setelah Bagus memintanya. “Ada apa Bapak manggil saya, Pak?” tanya Una dengan sopan. Bagus menatap karyawannya itu dengan tatapan tak terbaca. Bagus terdiam tanpa bermaksud ingin cepat menjawab tanya Una. Hal itu membuat Una sedikit tidak nyaman. “Pak Bagus?” tegurnya sebab Bagus tak juga merespon pertanyaannya. Bagus mengembuskan napasnya dengan berat. Sesungguhnya beberapa menit yang lalu ia sempat melihat Una berbicara dengan Ilia. Bagus menebak lelaki yang sedang bersama teman perempuan Una itu adalah duda yang ingin dijodohkan dengan Una. Jika melihat tampang dan setelannya, Bagus merasa lelaki itu memiliki daya tarik yang sulit untuk ditolak kaum perempuan. Namun, bukan itu yang menjadi masalah bagi Bagus. Apa yang dirinya lihat tadi dan saat ini sungguh mengganggunya. Lelaki itu tampak memandang teman perempuan Una dengan cara yang berbeda. Seperti ada sesuatu di antara mereka. Bagus tentu tak rela bila Una tersakiti di kemudian hari. “Pak Bagus kenapa ya manggil saya ke sini? Kalau nggak ada apa-apa saya mau balik kerja, Pak. Kasihan teman-teman saya di depan, pasti sibuk,” ucap Una sembari menunjuk ke arah belakang tubuhnya. Tck! Bagus mendecakan lidahnya. Kesal karena Una terdengar tidak sabar dan tidak nyaman berada dalam Satu ruangan dengannya. “Gimana penawaran saya kemarin? Mau jadi manajer café ini?” tanyanya. “Loh Pak, katanya semalam saya boleh mikir dulu? Saya masih butuh waktu,” balas Una. “Iya, tapi kan lebih cepat lebih baik, Na. Jangan sampai kamu menyesal nantinya.” Bagus membalas tegas. Namun, justru itu yang sedang Una pertimbangkan. Ia tak ingin menyesal. Andai Bagus bukan masa lalunya dan hubungan mereka selama ini baik-baik saja, mungkin Una tak perlu berpikir dua kali untuk menerima tawaran Bagus. Namun, sekali lagi Bagus pernah menjadi seorang lelaki yang sangat menyakitinya di masa lalu. Dan, sekarang hubungan mereka tak pernah benar-benar baik-baik saja meski setiap hari berada di bawah atap yang sama. “Saya masih butuh waktu untuk berpikir, Pak. Saya sangat berterima kasih karena Bapak milih saya, tapi sekali lagi maaf, saya nggak bisa ngasih Bapak jawaban sekarang,” balas Una. Awalnya ia ingin bersikap masa bodoh, tetapi setelah dipikirkan berkali-kali, ia tidak bisa asal menerima. Bagus terkesan terburu-buru mengambil keputusan ini menurutnya. Lagi pula menurut Una tidak ada masalah dengan manajer café yang saat ini masih bekerja di sini. Semua masih dapat di handle dengan sangat baik. Aneh saja bagi Una karena Bagus tiba-tiba menawarinya pekerjaan menjadi seorang manajer. Padahal selama ini lelaki itu tak pernah bersikap demikian. Pelayan saja dianggap Bagus tidak pantas untuk Una. Ini? Manajer cafe. Sungguh mencurigakan. “Saya harap kamu nggak perlu mikir terlalu lama, Na. Ini demi kebaikanmu sendiri. Kamu bisa manfaatin gaji kamu untuk menuhin semua kebutuhanmu. Kamu juga bisa pindah ke tempat kosan yang lebih baik dari sekarang,” ucap Bagus masih merayu Una. Namun, Una masih pada keputusannya. Sikap Bagus yang seakan peduli ini lah yang membuatnya enggan menerima tawaran lelaki itu. Bagus pernah terlihat baik seperti saat ini beberapa tahun yang lalu, tetapi akhirnya justru sangat menyakiti. Una tidak ingin kejadian seperti itu terulang lagi. Ia tak ingin mengambil keputusan secara gegabah. “Baik Pak, terima kasih atas pengertiannya. Kalau gitu saya balik kerja lagi,” “Tunggu dulu!” ujar Bagus. Una mengerut heran. Ia menghentikan pergerakannya dan kembali menatap Bagus, menunggu lelaki itu mengatakan apa yang ingin dia katakan selanjutnya. Bagus terlihat salah tingkah. Ia tidak ingin menanyakan hal ini, tetapi sungguh ia tak bisa menahan rasa penasarannya lagi. “Gimana kencan kamu semalam?” tanyanya sembari berpaling. Enggan membalas tatapan Una. Terang saja pertanyaan itu membuat bola mata Una seakan keluar. Ia tidak salah dengar kan? “Kencan? Maksudnya Bapak tahu kalau semalam saya diajak teman ketemu seseorang?” Bagus berdecak sebal. Ia enggan mengakui bahwa dirinya kemarin sempat menguping. “IYA!” ujarnya. Una tidak percaya ini, tetapi akhirnya ia menjawab pertanyaan Bagus juga. “Lancar. Saya pikir dia lelaki yang baik,” ucapnya penuh kebohongan, dan Bagus sadar akan hal itu. Bagus menyunggingkan senyum pada salah satu sudut bibirnya. Lalu, meminta Una untuk segera kembali bekerja. “Na, aku harap kamu sadar kalau aku udah berubah. Aku mau kamu sama aku lagi. Jangan suka sama lelaki itu, Na, karena aku tahu ada yang nggak beres sama dia,” ucap Bagus setelah memastikan punggung Una tenggelam dibalik daun pintu. Bagus mengembuskan napasnya dengan berat. Ia bertanya-tanya, kapan kiranya ia berani bersikap jujur pada Aruna, cinta masa lalu yang pernah dirinya sia-siakan keberadaannya. *** Una mencebikan bibir saat tak melihat Ilia, Arsen dan balita bernama Biru di meja mereka lagi begitu keluar dari ruang kerja Bagus. “Mereka udah selesai sarapan ya?” tanyanya terdengar kecewa. Namun, kekecewaan itu hanya bertahan sebentar, sebab bagus juga bila mereka sudah pergi. Ia bisa leluasa dalam bekerja. Jujur saja, Una agak malu bila Arsen melihatnya sedang mengenakan pakaian pelayan café seperti ini. Rasanya semakin rendah saja levelnya di depan lelaki itu. Mereka beda kasta, tetapi siapa yang peduli? Ia hanya perlu menjerat Arsen sampai mereka menikah. Lalu setelah itu, dirinya akan menjadi ratu yang tak kekurangan apapun. Seragam pelayan café ini juga tak akan ia kenakan lagi pada saat itu. “Ayo semangat, Na! Kalau perlu kejar Arsen sampai dia nyerah!” Una memberi semangat untuk dirinya sendiri. Pada akhirnya, hari itu ia bekerja dengan semangat. Seharian pula dirinya tidak mendapatkan omelan dari Bagus. Pagi tadi pun bukan omelan. Bagus hanya bertanya mengenai tawarannya. Lelaki itu tidak marah-marah seperti biasa. Una merasa tentram, tetapi juga aneh disaat yang bersamaan. Entah apa yang terjadi pada Bagus. Namun, sesekali Una memergoki lelaki itu diam-diam memperhatikannya, lalu memberi senyum kala kepergok. . . To be continued.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD