Marry Me, Single Daddy! – Chapter 5

1540 Words
*** Keluar dari café di mana Una bekerja adalah sesuatu yang melegakan bagi seorang Arseno Abimanyu. Arsen tidak sedang menyetir mobil. Ia membawa supir pribadi sebab nanti akan menjemput Biru dari TK bersama pengasuhnya. Di sampingnya ada Ilia. Perempuan itu memangku Biru seperti biasa. Kadang Arsen masih tidak percaya. Ilia mengambil keputusan yang tidak seharusnya. Perempuan yang dirinya percayai setengah mati itu pada akhirnya ikut menorehkan luka di dalam hatinya. Tak hanya Satu keputusan konyol yang Ilia ambil, tetapi Dua. Tanpa perasaan Ilia menjodohkannya dengan perempuan bernama Una, seorang pelayan cafe yang kastanya sungguh jauh berbeda. Padahal Ilia tahu persis seperti apa perasaannya saat ini. Seharusnya Ilia tahu betapa Arsen belum bisa melupakan masa lalu. Arsen masih berharap pernikahan yang pernah kandas dapat bersatu kembali. Selain itu Una sungguh rendahan di mata Arsen. Lelaki itu merasa Una tidak pantas untuk menjadi istranya dan Ibu baru untuk anaknya. Mulai dari penampilan hingga pendidikan, Una sungguh bukan apa-apa. Arsen benar-benar menyayangkan sikap Ilia. Ia kecewa, tetapi tak bisa marah begitu saja. Arsen takut Ilia menjauh darinya. “La,” Seperti kebanyakan orang-orang memanggil Ilia, Arsen pun terbiasa memanggil Ilia sesingkat itu. “Kamu serius jodohin aku sama teman kamu itu?” tanya Arsen membuka obrolan di antara mereka setelah menutup telinga Biru menggunakan tangannya. Arsen tidak ingin Biru terkejut dan mempertanyakan maksudnya. Ilia menolehkan kepala. Ia menatap Arsen dengan binar bahagia. Sungguh, tak seharusnya binar itu ada di sana. Ilia benar-benar tidak memiliki hati nurani. “Iya! Una orang yang baik dan cocok untuk kalian berdua.” Arsen mengerti yang Ilia maksud. Namun, tetap saja baginya Una bukan perempuan baik-baik yang mau saja dijodohkan dengan duda mantan dari orang yang dirinya kenal. Bagi Arsen, Una hanya perempuan matre yang mengejar harta dan ketentraman hidup. Apa lagi yang pelayan kafe itu inginkan selain menjadi nyonya muda kaya raya di rumahnya nanti? Arsen tak bisa memikirkan hal lain selain itu. “Dia jelas bukan perempuan yang baik, Ilia,” desah Arsen. Wajahnya yang biasa tegas kini memelas dan pasrah. Entah bagaimana lagi caranya untuk meyakinkan Ilia. Sudah habis sabar Arsen menghadapi perempuan di depannya ini. “Seenggaknya pikirin perasaan Biru. Kamu nggak peduli sama aku ya nggak apa-apa, tapi Biru? Tolong Ilia, jangan egois terus,” pintanya. “Sen! Kamu juga jangan egois. Aku hanya mau kalian berdua menemukan kebahagian baru!” “Dan kamu akan merasa bebas setelah itu. Iya?” Arsen membalas dengan suara yang cukup tinggi. Hal itu membuat Biru menoleh padanya. Mungkin Biru mendengarnya hingga memaksa untuk melepaskan telapak tangannya yang sejak tadi menutupi telinga Biru. Terpaksa Arsen menahan gejolak amarah yang melingkupi diri. Ia tak ingin Biru tahu seberapa besar kekesalannya saat ini. Namun, Ilia tidak seperti Arsen. Ia tampak tidak peduli bila akhirnya Biru menyadari seperti apa hubungannya dengan Arsen selama ini. “Iya. Aku mau bebas, Arsen! Aku nggak mau merasa terikat dan terbebani lagi sama kalian. Jangan paksa aku, Arsen!” ujar Ilia dengan suara yang tak kalah tinggi. Sampai-sampai supir pribadi Arsen meliriknya sedikit ngeri. Sementara itu, Biru terlihat semakin penasaran. Kembali ia mencoba melepaskan tangan papanya dari telinganya. “Pa, lepasin!” pintanya. Pada akhirnya, Arsen pun melepaskan tangannya dari kedua telinga Biru. Arsen membiarkan Biru menatapnya heran. Juga, menatap Ilia tak kalah heran. “Kenapa … ” pertanyaan Biru terpaksa terhenti karena tiba-tiba saja Ilia meminta supir untuk berhenti. Tanpa perasaan, Ilia memindahkan Biru ke pangkuan Arsen. “Aku turun di sini. Makasih tumpangannya!” ujarnya. Begitu mobil berhenti, Ilia pun keluar dari mobil tanpa mengindahkan panggilan dari Arsen. Decakan kesal tak bisa Arsen hentikan ketika Ilia benar-benar tampak hanya memprioritaskan dirinya saja. Arsen tahu mereka hanya teman, tetapi bagaimanapun juga Ilis paham betul seperti apa situasi dan kondisi mereka saat ini. Arsen hanya ingin Ilia mengerti bahwa tak selamanya apa yang Ilia inginkan bisa terwujud. Setidaknya Ilia sadar ada Biru yang harus dipikirkan. “Papa … ” Panggilan Biru membuat Arsen memejamkan mata sejenak sebelum menoleh padanya. “Nggak apa-apa, Biru. Kamu Papa antar sekalian ke sekolah ya. Lupain yang tadi, okay?” Biru menurut. Ia tak lagi banyak bertanya meskipun benaknya dipenuhi oleh keinginan tahuan. Mobil akhirnya kembali bergerak setelah Arsen memerintah supirnya untuk menginjak gas, meninggalkan Ilia yang sibuk mencari taksi. Arsen tak ingin mengejar Ilia karena Ilia sendiri yang memutuskan untuk keluar dari kendaraan roda empat miliknya ini. Sementara itu, Ilia juga tidak peduli ketika mobil Arsen meninggalkannya sendirian. Jangankan keluar dari mobil Arsen, dari hidup lelaki itu saja Ilia lakukan. Ia bisa sendiri. Dirinya bukan remaja yang tidak tahu apa-apa. Cukup lama Ilia menanti sebuah taksi hingga akhirnya bisa ia dapatkan. Perempuan berparas cantik dengan tinggi badan sekitar Seratus Enam puluh itu pun masuk ke dalam taksi tanpa beban. Sudah bukan urusannya lagi mengenai sikap Arsen yang tampak marah. Ia tidak peduli karena memang dirinya dan lelaki itu hanya memiliki hubungan sebatas teman dan bos saja. Kini, Ilia menuju kantor. Tak perlu ia bertanya apakah Arsen yang akhirnya mengantar Biru ke sekolah atau bukan. Sungguh itu bukan urusannya lagi. Biarlah Arsen yang melakukan semuanya sendiri. Tugasnya kini hanya satu yaitu menyatukan Arsen dan Aruna secepatnya. “Semua juga demi Biru. Jika Arsen dan Una menikah, maka Biru ada yang urus. Niat gue bagus, tapi dasar Arsen saja yang nggak bisa berterima kasih!” Ilia menggerutu sesaat setelah taksi mengantarkannya ke alamat yang dituju yaitu gedung pencakar langit milik keluarga Arseno Abimanyu. Sudah lah! Ilia mengedikkan bahu. Percuma saja menggerutu. Arsen tetap harus setuju dijodohkan dengan Aruna. Lelaki itu tidak bisa menolak karena Ilia akan memaksanya apapun yang terjadi. Ilia melangkah masuk. Matanya mencari-cari keberadaan Arsen, tetapi lelaki itu tidak terlihat di mana-mana. Ilia menduga Arsen belum sampai di kantor karena mengantar Biru ke sekolahnya terlebih dahulu. Mengedikan bahu sekali lagi, Ilia pun menuju meja kerjanya. Setengah jam kemudian Arsen baru sampai. Sejenak Arsen melirik Ilia, lalu mengabaikannya. Masih kesal Arsen pada sikap Ilia yang seenaknya meninggalkan mobilnya tanpa memikirkan perasaan Biru. Ilia juga tidak segan-segan menunjukkan kekesalannya tadi. Tidak peduli pada banyaknya pertanyaan di benak Biru akan sikapnya itu. “Selamat pagi, Pak,” Arsen mendengus saat mendengar Ilia menyapanya. Ilia tidak peduli, yang penting baginya adalah ia telah melakukan kewajibannya sebagi seorang sekretaris. Terserah bila Arsen tidak mengindahkan sapaannya. Tidak rugi pula bagi Ilia. Keheningan benar-benar membelenggu keduanya hingga jam makan siang berlangsung. Ilia sama sekali tidak menawari Arsen makan siang bersama. Perempuan itu hanya pamit pada Arsen untuk makan siang lebih dulu karena perutnya terasa perih. Ketika Arsen ingin menemani, Ilia dengan tegas melarangnya. Meski menganggukkan kepala menuruti larangan Ilia, tetapi Arsen tetap saja mengikutinya. Arsen khawatir terjadi sesuatu pada Ilia. Arsen sudah tidak peduli pada kejadian pagi tadi. Baginya Ilia harus selalu baik-baik saja. Meninggalkan pekerjaan pentingnya, Arsen pun mengikut langkah kaki Ilia. Perempuan itu tampak tergesa-gesa, membuat Arsen semakin mengkhawatirkannya. Arsen tentu tidak lupa dengan sakit perut yang selalu Ilia rasakan dikala telat makan dan juga setres. Arsen jadi menyesal karena telah mendiamkan Ilia seharian ini. Andai ia tidak bersikap kekanakan, mungkin sejak tadi Ilis juga sudah mengisi perutnya. Biasanya Arsen selalu mengingatkannya bila jam makan siang telah tiba. Namun, khusus hari ini, Arsen sengaja mengabaikannya karena masih marah. Namun, sekarang ia menyesal melakukan itu. Arsen terus mengikuti Ilia hingga akhirnya ia tahu ke mana tujuan Ilia pergi. Restoran yang tak jauh dari kantor menjadi tempat terakhir kakinya melangkah. Iya, Ilia tidak membawa mobilnya. “Ka … ” Baru saja Arsen ingin bertanya mengenai keadaan Ilia karena ia menduga Ilia terburu-buru karena sangat lapar. Namun, ternyata dirinya salah. Tiba-tiba saja mood Arsen jungkir balik. Kekhawatirannya mengenai Ilia pun sirna begitu melihat senyum di wajah perempuan itu. Bukan sakit perut karena telat makan yang membuat Ilia melangkah cepat menuju restoran ini, tetapi karena Ilia ingin menemui Una. “Dia lagi, dia lagi.” Kesal juga Arsen melihat wajah perempuan itu di mana-mana. Sia-sia pula ia mengkhawatirkan Ilia jika pada akhirnya yang Ilia ingin temui adalah Aruna lagi. “Kenapa perempuan itu ada di mana-mana?” geramnya. Jika bukan Ilia yang menemui, maka Aruna yang datang ke sini. Sungguh hal itu menyebalkan bagi Arsen. Ia benar-benar tidak menyukai Una karena Una sungguh mengganggu ketentraman hidupnya. Bahkan Ilia sekarang semakin berani berbohong demi perempuan tidak tahu malu itu. “Sialan!” Arsen mengepalkan tangannya. Menyesal sudah ia mengkhawatirkan Ilia karena pada akhirnya Ilia tidak apa-apa. Arsen memang bersyukur ketika keram perut itu tidak menyerang Ilia lagi, tetapi tetap saja dirinya kesal karena merasa dipermainkan. Arsen pikir ia sudah tidak ada urusan lagi di sini. Perutnya juga tidak merasa lapar hingga harus makan siang sekarang juga. Gara-gara Ilia menemui Una, mood Arsen benar-benar tak terselamatkan. Wajahnya dipenuhi awan mendung yang setiap saat sanggup meruntuhkan hujan. Namun, bukan hujan kesedihan, melainkan hujan kemarahan. Hanya Arsen yang memiliki itu. Tak lagi peduli pada Ilia, Arsen bermaksud kembali ke kantornya. Namun, tiba-tiba saja seseorang meneriakan namanya. Bukan Ilia, tetapi Arsen yakin suara itu berasal dari sana. Mata Arsen terpejam saat yakin milik siapa suara tersebut. Kembali Arsen membuka mata, lalu berbalik dan menatap si pemilik suara dengan tatapan tajamnya. Arsen menunjukkan kebenciannya dalam tatapan itu. Arsen sungguh bersyukur bila si pemilik suara yang tadi memanggilnya itu merasa terintimidasi. Tidak peduli pula ia bila yang ditatap meringis ngeri. Justru semakin besar saja keinginan Arsen untuk menunjukkan ketidaksukaannya ini. *** To be continued. 
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD