***
Sejak Ilia datang menghampiri, sejak saat itu pula Una diam-diam mengetahui Arsen bersembunyi tak jauh dari mereka. Una penasaran kenapa Arsen berada di sana. Setahunya Ilia hanya memintanya untuk makan siang bersama tanpa adanya Arsen. Ilia mengatakan mereka akan membahas bagaimana cara memenangkan hati Arsen.
Una menggerakan tangan Ilia berkali-kali, meminta penjelasan kenapa tiba-tiba Arsen ada di sana. “Ada Arsen,” bisiknya.
Ilia pun ikut menolehkan kepala. Benar, di sana ada Arsen. Tengah berdiri menatap ke arah mereka. Ilia berdecak sebal. Arsen pasti sengaja mengikutinya. Lelaki itu benar-benar keras kepala rupanya. Susah sekali meuruti keinginannya.
“Tunggu di sini,” ucap Ilia meminta Una. Tanpa dapat menolak, Una pun menuruti Ilia. Ia memperhatikan kepergian Ilia menghampiri Arsen. Mereka meninggalkan café.
Dalam kesendiriannya, Una menghela napas dengan berat. Entah kenapa semakin lama semakin aneh saja sikap Arsen kepada Ilia. Una khawatir ia salah mencari target. Bagaimana jika ternyata Arsen sebenarnya menyukai Ilia? Tidak ada yang tidak mungkin sebab keduanya sudah berteman lama menurut pengakuan Ilia.
Entahlah, Una hanya bisa menunggu apa yang akan Ilia katakan mengenai masalah ini. Bagaimanapun juga, nanti akan Una tanyakan seperti apa perasaan Arsen sebenarnya. Bukan karena Una sudah jatuh cinta pada lelaki itu dan merasa cemburu, tetapi akan sangat tidak nyaman bila lelaki yang akan dirinya nikahi tenyata mencintai temannya sendiri.
Perhatian Aruna teralihkan begitu pintu kafe kembali terbuka. Ilia muncul dari sana dengan wajah marahnya. Una merasa tak enak hati karena sepertinya kehadirannya telah membuat Ilia dan Arsen bertengkar. “Ada apa, La?” tanyanya.
Ilia menggelengkan kepala, enggan menjelaskan apapun pada Una. Ia hanya tersenyum singkat sebelum mengalihkan pembicaraan. “Gue udah bilang kan hari ini akan bantu lo untuk luluhin hati Arsen?” tanyanya.
“Iya,” jawab Una singkat. Jujur saja, sikap Ilia yang seolah menutupi masalahnya bersama Arsen membuat Una tidak nyaman. Tak ingin ia curiga semakin dalam, tetapi kenapa semuanya terkesan semakin rumit saja?
Mendengar bagaimana Una menjawab pertanyaannya, Ilia sadar Aruna tak suka pada sikapnya yang menutupi masalahnya bersama Arsen. Una pasti penasaran kenapa Arsen datang ke tempat ini, padahal ia tidak berjanji mengajak Arsen datang bersama.
“Na, lo pasti masih penasaran sama sikap Arsen, kan? Sekarang lo pasti lagi curiga dan berpikir yang enggak tentang gue karena Arsen datang secara tiba-tiba,”
Tak ingin munafik, Una pun mengiyakan itu dengan anggukkan kepala. Dirinya memang sangat menginginkan hidup bahagia bergelimang harta. Menjadi ratu yang apapun keinginannya bisa terpenuhi, tetapi ia tidak bisa melanjutkan perjodohan ini bila Arsen memiliki suatu hubungan dengan Ilia.
“Gini, Na … ” Ilia menarika napasnya, lalu mengembuskannya secara perlahan. “Kebiasaan makan siang bareng bikin Arsen nggak terima saat tiba-tiba gue bilang mau makan siang sama lo. Makanya dia ngikutin gue sampai ke sini,” jelasnya. Una tidak akan tahu bahwa itu hanya sebuah kebohongan.
“Lo yakin hanya karena itu, La? Gue pikir Arsen sebenarnya suka sama lo,” ucap Una menanggapi penjelasan Ilia.
Pupil mata Ilia membesar. Ia menggelengkan kepalanya berkali-kali. “Astaga! Nggak gitu, Aruna! Gue sama Arsen udah temanan dari lama. Kita nggak ada hubungan seperti yang lo bayangin,” pekiknya.
Tidak ada yang Una katakan setelah itu. Ia terdiam, masih mencerna penjelasan Ilia. Entah jujur atau bohong Una tidak tahu.
“Lo harus percaya sama gue, Na,” Ilia meraih tangan Una setelah menunggu Una untuk bicara cukup lama. “Gue dan Arsen real hanya sebatas teman. Kita emang dekat karena sudah kenal dari lama,” terangnya tanpa mengatakan bahwa Arsen tidak memiliki perasaan apapun untuknya.
Hal itu membuat Una merasakan keanehan yang semakin nyata.
“Lo mungkin nggak ada rasa sama dia, La, tapi sepertinya Arsen suka sama lo. Buktinya dia selalu bersikap lunak sama lo,”
“No! Itu nggak benar. Lo percaya sama gue. Arsen hanya belum move on aja sama mantan istrinya. Lo tahu kan? Dia pasti sulit percaya lagi sama perempuan lain, apalagi perempuan itu baru dia kenal,”
“Nanti juga dia bakalan lunak sama lo, Una. Tentu setelah lo berhasil mencuri hatinya yang dingin,” ucap Ilia panjang lebar. Ia berusaha sekuat tenaga untuk meyakinkan Aruna.
“Tapi … ”
“Sssttt! Sumpah demi apapun gue nggak ada hubungan apa-apa sama Arsen. Kita pure temanan,” Ilia memotong ucapan Una dengan cepat. “Percaya sama gue. Nggak mungkin gue sekeras ini bantuin lo kalau gue ada hubungan sama Arsen, Na. Please jangan mencurigai gue sedikitpun,” pintanya memelas.
Wajah Ilia yang tampak sangat memohon membuat Aruna akhirnya luluh. Ia melupakan rasa curiganya dan memilih untuk percaya pada Ilia. Lagi pula ia mengejar Arsen bukan untuk mendapatkan cintanya, tetapi ingin mendapatkan kemewahannya. Lupakan saja soal perasaan Arsen yang mungkin saja memang ada untuk Ilia.
“Baiklah, gue percaya sama lo. Tapi, jangan pernah bohongin gue, La, karena gue nggak suka,” ucap Una.
Dalam hati Ilia tertawa sinis. Ingin menjadi istri seorang konglomerat dengan jalan pintas saja Una terdengar belagu. Kalau bukan karena mendambakan kebebasan, Ilia juga sebenarnya tak terlalu suka pada Una meskipun mereka berteman sejak kecil.
“Lo fokus aja luluhin hati Arsen, Na. Nggak usah mikirin yang lain. Katanya lo mau hidup normal? Kaya dan memiliki sumber uang yang tiada putusnya. Ini Na, jalan lo udah terbuka. Lo nggak boleh nyerah hanya karena kecurigaan lo yang enggak penting itu, okay?”
Una mengangguk singkat. Dia setuju pada apa yang Ilia katakan. “Jadi, apa yang mau lo sampaikan ke gue, La?” tanyanya.
Diskusi pun dimulai. Ilia memperhatikan sekitar, ia mendekat kepada Una agar suaranya lebih terdengar. “Lo harus deketin anaknya Arsen. Gue yakin setelah lo ambil hati anaknya, lo juga akan dengan mudah mencuri hati bapaknya,” jelasnya.
Sesungguhnya Una juga berpikir demikian. Namun, ke mana ia harus melangkah agar bisa mendekati Biru? Una belum mengenal Biru dan Arsen sebaik Ilia. “Gue harus ngapain supaya bisa mengenal Biru, La?” tanyanya.
Ini pertanyaan yang Ilia tunggu-tunggu. Senyum kemenangan tercetak jelas di antara kedua sudut bibirnya. “Gampang! Biar gue yang atur. Lo tinggal tungguin kabar dari gue aja,” katanya.
Kalau begitu Una bisa tenang. Tak hanya soal bantuan yang Ilia tawarkan untuk mendekati Biru, tetapi juga tentang hubungan Arsen dan Ilia yang sudah menemukan titik terang. Una menanamkan dalam benaknya bahwa kecurigaan itu bukan apa-apa. Ia tak perlu terlalu memikirkannya.
“Thanks, La. Kabarin gue secepatnya. Sekarang gue harus balik ke café lagi. Tadi gue izin bentaran doing. Itu pun gue bohong mau ke dokter karena mendadak sakit perut,” ucap Una kepada Ilia.
“Okay! Lo hati-hati. Nanti gue kabarin kapan waktu yang tepat untuk bisa deketin si Biru.” Ilia menyahuti. Ia melambaikan tangan ketika Una akhirnya meninggalkan tempat itu. Dirinya sendiri masih di sana, mengingat lagi sikap Arsen beberapa saat yang lalu.
Tangan Ilia tekepal erat. Kesal pada sikap Arsen yang menurutnya sangat kekanakan. Padahal, di sini dia hanya ingin membantu lelaki itu untuk menemukan cintanya yang baru. “Harus apa lagi gue supaya Arsen terima keputusan yang dulu udah gue ambil itu? Kalau begini terus Arsen nggak akan pernah lepas dari masa lalu,” lirihnya.
Ilia menghela napasnya dengan berat. Sejujurnya ia ikut perihatin terhadap perasaan Arsen yang belum juga bisa melupakan cinta masa lalunya itu. Ilia tak ingin memaksa Arsen lebih dari ini, tetapi ia mendambakan kebebasan. Dirinya tak mungkin bisa berada dalam posisi seperti ini secara terus menerus. Arsen harus menemukan pengganti yang bersedia hidup bersamanya untuk selama-lamanya.
“Dan, Una adalah perempuan yang tepat. Una nggak butuh cinta, tetapi membutuhkan harta. Meski begitu gue yakin Una akan menyayangi Biru dan menjaga Biru layaknya seorang Ibu,” ucap Ilia pada dirinya sendiri.
Ilia mengangguk singkat, menegaskan keyakinannya itu. Berdiri dari duduknya, Ilia pun meninggalkan café tanpa meneguk minuman yang tadi sempat dirinya pesan setelah Una pergi. Meski begitu, ia meninggalkan uang Lima Puluh Ribuan di atas meja sebagai bayaran. Ilia memutuskan untuk kembali ke kantornya tanpa makan siang. Entahlah, Ilia merasa tidak berselera makan.
***
Sejak Ilia membawanya keluar dari café, sejak itu pula Arsen merasakan kegelisahan yang semakin sulit untuk dirinya kendalikan. Ilia semakin tidak masuk akal di matanya. Perempuan itu benar-benar menguji banyak kesabarannya.
“Sialan!” maki Arsen saat mengingat seperti apa sikap Ilia saat menariknya keluar dari café. Ilia menghempaskan tangannya dengan kasar di depan beberapa banyak mata. Perempuan itu tidak peduli pada perasaannya sama sekali.
Makian pun meluncur tanpa dapat dicegah dari mulut Ilia. Banyak kata yang akhirnya membuat Arsen sakit hati. Arsen ingin marah, tetapi dirinya tidak bisa karena ia masih sangat membutuhkan Ilia.
“Duda kesepian, katanya?” Arsen mengulang ucapan Ilia yang mengatainya sebagai seorang single dady yang kesepian dan membutuhkan belaian agar tidak mengganggunya terus.
Ilia memang gila! Sungguh wajar bila ia masih dibutuhkan hingga kini. Demi apa, Ilia semakin egosi saja.
“Sialan! Kamu benar-benar ingin aku nikah sama perempuan itu, Ilia? Jangan harap! Aku nggak akan pernah menikahinya.” Meskipun hanya dirinya sendiri yang dapat mendengar kata demi kata yang keluar dari mulutnya itu, tetapi Arsen berjanji akan menepatinya. Ia tidak akan pernah menikahi Una dan menuruti keinginan Ilia.
Ilia sudah terlalu banyak menyakitinya dan memaksakan kehendak. Kini, Arsen tidak akan membiarkan Ilia merasa menang. Apapun yang tejadi ke depannya, ia tidak akan pernah menikah dengan perempuan seperti Una.
Kesal dengan semua ini, Arsen akhirnya meninggalkan kantornya. Lelaki itu mencari bar terdekat yang buka Dua Puluh Empat jam untuk setidaknya menenangkan pikiran. Kebanyakan pria kaya single di luar sana, Arsen pun suka meneguk alkohol untuk melampiaskan amarahnya. Namun, lelaki itu tahu batasan. Ia tidak akan merugikan dirinya sendiri karena cairan yang mengandung zat yang membuat mabuk tersebut.
Arsen bahkan mengabaikan Ilia kala ia berpas-pasan dengannya di loby kantor. Lelaki itu seolah tak menemukan Ilia yang berdiri mematung menatapinya. Mungkin penasaran akan kepergiannya.
“Mau ke mana kamu, Arsen?” geram Ilia setelah berhasil meraih tangan Arsen dan menahannya.
Arsen berdecih sebal. Tidak suka pada sikap Ilia yang seolah sangat peduli padanya itu. Nyatanya, Ilia rela menjodohkannya dengan perempuan lain yang sama sekali tidak dirinya kenali. “Lepaskan!” balasnya dengan suara yang terdengar sangat dingin.
“Mau ke mana kamu?” ulang Ilia tanpa takut pada peringatan yang Arsen berikan. Andai sedang tidak berada di area kantor, rasanya ingin sekali Arsen mendorong Ilia ke arah dinding dan menghimpitnya. Kadang Ilia harus diberi sedikit ancaman agar tahu di mana posisinya seharusnya.
“Bukan urusanmu, Ilia!” bisik Arsen tepat di telinga Ilia. Terdengar tajam meski hanya sebuah bisikan. Mungkin karena Arsen mengatakannya dengan ketegasan.
Ilia berdecak sebal. “Jelas ini menjadi urusanku, Arsen!” balasnya tidak berbisik seperti Arsen. Ia tegas mengatakan itu, tetapi suaranya tak sampai terdengar oleh orang lain selain Arsen.
“Apa katamu? Nggak salah, Ilia? Memangnya kamu siapa? Perempuan yang telah menjadi asing bagiku dan seenaknya menjodohkanku dengan orang lain, begitu?” sindir Arsen. Kali ini ia juga tidak berbisik. Suara terdengar jelas di telinga Ilia.
Ilia bingung. Sempat tidak tahu harus menjawab apa saat Arsen tiba-tiba saja menyindirnya. Namun, kebingungan itu hanya sementara karena Ilia dapat dengan cepat menemukan jawabannya.
“Apa yang kamu lakukan masih akan menjadi urusanku, Arsen, selama aku masih berada di sekitarmu. Kamu tentu paham maksud ucapanku,”
Kini, Arsen yang terdiam kaku. Ia tahu maksud Ilia. Inginnya perempuan itu sejak dulu adalah menghilang dari pandangannya dan memiliki hidup baru yang jauh akan jangkauannya. Namun, Ilia tidak bisa melakukan itu karena masih memiliki tanggung jawab pada sesuatu yang sebenarnya sangat tidak ingin ia pedulikan.
Arsen terkekeh. Dilupakannya perasaan terkejut yang baru saja menghampirinya tersebut. “Kalau begitu selamanya kamu akan ikut campur dalam urusanku, Ilia, karena selamanya aku nggak akan pernah menikah lagi dengan perempuan lain, terlebih pada perempuan yang kamu sodorkan itu,” ucapnya.
Tatapan tajam Ilia berikan begitu mendengar balasan dari Arsen. Kekesalannya bertambah berkali lipat akibat ucapan lelaki itu. Sungguh menyebalkan! Namun, Ilia tidak bisa menunjukkan kemarahannya lagi. Arsen akan semakin menjadi begitu ia mengeluarkan amarahnya.
Ilia menarik napasnya dalam, lalu mengeluarkannya secara perlahan. Ia tersenyum simpul kepada Arsen. Kemudian berlalu dari hadapan lelaki itu setelah melepaskan tangan Arsen yang tadi dirinya tahan. Percuma saja meladeni Arsen. Tidak akan ada hilangnya sikap kekanakan lelaki itu.
“Ilia!” ujar Arsen hingga Ilia kembali menoleh padanya. Arsen menatap perempuan itu dengan tajam, menunjukkan bahwa apa yang tadi dirinya ucapkan tidak pernah main-main.
“Lihat saja nanti, Arsen. Aku yakin Aruna bisa membuatmu jatuh cinta.” Ilia tersenyum penuh keyakinan dan tantangan sebelum akhirnya membalikan tubuh dan meninggalkan Arsen begitu saja. Percuma menahan Arsen untuk tetap di kantornya. Lelaki itu pasti membutuhkan pelampiasan atas apa yang terjadi akhir-akhir ini.
***
To be continued.