Marry Me, Single Daddy! – Chapter 7

1043 Words
*** Segelas vodka masuk ke dalam mulut Arsen tanpa hambatan. Lelaki itu meneguknya dalam sekali teguk meski rasanya agak pahit. “Sialan!” Lagi-lagi makian ia embuskan dari bibirnya. Tidak ada yang lebih membuatnya kesal daripada sikap Ilia yang setiap harinya semakin menyebalkan saja. Terkadang Arsen benar-benar menyesal telah mengenal perempuan itu. Arsen merasa Ilia sudah banyak berubah. Tidak seperti dulu yang selalu mengerti dirinya. Kini Ilia sudah tidak sama lagi. Seenaknya saja. Padahal tidak ada yang berubah dari Arsen. Ia masih sama seperti saat pertama kali mereka berjumpa. Selama berada dekat dengan Ilia pun Arsen merasa ia tak pernah berbuat jahat pada perempuan itu. Ia selalu berusaha bersikap baik tanpa menyakiti atau mengekang sama sekali. Entahlah, mungkin ini yang namanya roda terus berputar. Dulu Arsen merasa Ilia memperhatikannya dengan cara yang benar, tetapi sekarang rasanya cara Ilia sangat salah. Ilia tidak peduli pada perasaannya sama sekali. Menyadari itu membuat Arsen kembali meneguk minumannya. Entah sudah berapa gelas ia membiarkan cairan yang mengandung zat yang bisa membuat peminumnya mabuk tersebut masuk ke dalam lambungnya di siang bolong seperti ini. Namun, tidak perlu khawatir karena Arsen mampu mengatasinya. Ia bukan lelaki yang gampang teller setelah minum alkohol beberapa gelas saja. Jangan heran bila lelaki seperti Arsen yang memimpin banyak bawahan tiba-tiba ada di tempat seperti ini karena Arsen membutuhkan pelampiasan. Seperti yang Ilia katakan, Arsen membutuhkan tempat untuk mengeluarkan semua amarahnya meski dalam diam. Tak mungkin lelaki itu melampiaskannya pada Ilia karena Arsen memiliki sebuah alasan yang tidak bisa dirinya katakan demi Ilia sendiri. Cukup lama Arsen meninggalkan kantor sebelum akhirnya ia kembali lagi ke tempat kerjanya itu. Sudah pernah disebutkan bukan? Bahwa Arsen adalah lelaki yang tidak mudah terpengaruh oleh minuman beralkohol. Arsen baik-baik saja meski beberapa gelas telah masuk ke mulutnya. Bahkan Arsen menyetir mobilnya tanpa sedikitpun merasakan pening. Namun, perbuatannya ini tidak untuk ditiru oleh orang-orang yang mudah terpengaruh oleh vodka. Syukurlah, selama dalam perjalanan menuju kantornya, Arsen tidak dicegat oleh polisi lalu lintas. Karena kalau tidak, ia pasti sudah digiring sekarang. Arsen sampai di kantornya dengan selamat. Lelaki itu memasuki ruang kerjanya tanpa mengindahkan keberadaan Ilia. “Udahan kesalnya, Pak?” tegur Ilia bermaksud menyindir. Ia memang seberani itu karena Arsen tak bisa berkutik untuk memberinya peringatan. Masih mengabaikan Ilia, Arsen mendudukan diri di kursi kebanggaannya. Ditatapnya Ilia dengan garang. Namun, perlahan amarahnya redam karena lagi-lagi senyum Ilia mampu membuatnya melupakan kesalahan sekretarisnya itu. Arsen berkali-kali mengingatkan diri bahwa Ilia sungguh memiliki peran yang penting dalam hidupnya. Ia tidak berhak marah pada perempuan itu, meskipun kadang Ilia sudah sangat keterlaluan. “Kamu nggak waras, Ilia,” balas Arsen. Tck! Ilia mendecakan lidahnya. “Memang! Kalau aku waras nanti kamu nggak akan pernah bisa pergi dari masa lalu. Lebih baik aku segila ini demi kamu dan Biru,” ucapnya. Arsen hanya bisa menggelengkan kepala. Tak percaya pada apa yang Ilia katakan. Ini bukan demi dirinya dan Biru, tetapi demi Ilia sendiri. Arsen tahu itu, ia tahu Ilia tidak sebaik yang dirinya pikirkan, tetapi sekali lagi Arsen tidak bisa membenci Ilia sebanyak yang dirinya inginkan. Ilia berharga, itu yang Arsen tahu. “Terserah!” ujar Arsen mencoba mengabaikan Ilia. Namun, Ilia tak ingin pembicaraan ini berhenti begitu saja. “Jangan marah-marah terus, Arseno Abimanyu! Ambil sisi positifnya aja, jangan pikirin yang negativenya atas apa yang sedang aku usahakan ini,” ucapnya. Terdengar Arsen menghela napasnya dengan berat. Tidak ada yang positif bagi Arsen karena ia tidak menyukai apa yang Ilia lakukan saat ini. Ilia selalu begini, memintanya untuk tidak marah-marah setelah apa yang perempuan itu lakukan padanya. “Percayalah Arsen, Una perempuan baik-baik,” ucap Ilia. “Meskipun dia setuju menikah denganku karena harta?” sahut Arsen. Ilia terdiam. Entah dari mana Arsen tahu Una bersedia dijodohkan hanya karena ingin hidup bergelimang harta? Selama ini ia tidak pernah menyebutkannya. “Jangan asal bicara, Arsen!” ujarnya membela Una, padahal memang kenyataannya seperti itu. Una setuju dijodohkan dengan Arsen hanya karena harta. “Aku tahu semuanya Ilia. Jangan membodohiku. Perempuan itu nggak benar! Dia hanya ingin hidup enak setelah menikah dengan duda kaya raya!” Astaga! Ilia tidak menyangka Arsen mengetahui semuanya. Jika seperti ini terus, Ilia tidak tahu kapan Una bisa meluluhkan perasaan Arsen. Bisa-bisa rencananya akan berantakan. “Gimana mungkin perempuan yang gila harta itu bisa menyayangi Biru setelah kami menikah nanti, Ilia? Dia orang asing yang hanya ingin menikmati hasil jerih payah orang lain,” Ilia menggelengkan kepalanya. “Nggak gitu, Arsen! Una pasti bisa menyayangi Biru. Dia perhatian dan suka anak-anak,” balasnya. Arsen berdecih. “Perempuan itu? Menyayangi Biru? Ibu kandung putraku saja bermaksud menelantarkannya, gimana mungkin perempuan lain yang baru kami kenal bisa mencurahkan kasih sayangnya untuk kami terutama Biru!” ujarnya tak ingin kalah. Ilia kembali terdiam, tetapi bukan berarti ia setuju dengan apa yang baru saja Arsen katakan. “Una bisa menyayangi kalian, Arsen! Percayalah, aku nggak mungkin membiarkan wanita tidal benar masuk ke dalam kehidupan kamu dan Biru. Aku juga menyayangi kalian, Sen,” ucapnya. Diujung kalimat itu suara Ilia terdengar lirih. Memang benar ia menyayangi Arsen dan Biru. Dirinya tidak bohong soal itu. Namun, Arsen menggelengkan kepalanya. Menolak mentah-metah pernyataan Ilia. “Egois! Kamu tidak menyayangi kami, Ilia. Kalau memang sayang, semua ini tidak mungkin tejadi.” Arsen mengangkat tangannya saat Ilia ingin bicara. “Mari sudahi perdebatan hari ini. Aku kembali ke kantor bukan untuk berdebat denganmu, tetapi karena ingin menyelesaikan pekerjaanku,” tegasnya. Kali ini Ilia benar-benar tidak membalas ucapan Arsen lagi. Bagaimanapun juga posisi mereka saat ini masih di kantor, sehingga tugasnya adalah membantu Arsen sebagai bosnya. Ilia akhirnya ikut menyibukan diri dengan tumpukan dokumen seperti yang Arsen lakukan meski tidak bisa berkonsentrasi sama sekali. Terkadang, sesekali, Ilia memikirkan ucapan Arsen. Mungkin Arsen benar adanya. Ia sungguh egois, tetapi Ilia merasa pengabdiannya selama ini sudah sangat cukup. Mendampingi Arsen bukan perkara yang mudah. Banyak hal yang harus Ilia lalui tanpa Arsen ketahui. Berada didekat Arsen berkali-kali membuat Ilia tidak nyaman. Itu lah kenapa ia memilih untuk membebaskan diri dari semua ini. Ia membutuhkan kenyamanan. Dan, Arsen hanya tahu ia ingin menjauh karena tidak menyayanginya dan Biru. Sungguh, Ilia menyayangi keduanya. Tak mungkin mereka memiliki kisah sepanjang ini bila perasaan sayang itu tidak ada. Namun, biar lah Arsen berpikir dirinya egois. Terpenting sekarang adalah dia menemukan kebebasannya. *** To be continued. 
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD