***
Hari-hari berlalu, tetapi Una tak juga mendengar kabar terbaru dari Ilia. Katanya, Ilia akan membantu Una untuk bertemu dengan Biru. Namun, hingga detik ini Ilia tak juga menampakan batang hidungnya atau hanya sekedar mengiriminya sebuah pesan.
Tidak ada kabar dari Ilia ini membuat Una kebingungan. Ia bertanya-tanya, haruskah mencari Ilia? Atau tetap menunggu sesuai intruksi saja? Ilia pernah mengatakan secepatnya akan menghubunginya bila sudah menemukan waktu yang tepat untuk bertemu dengan Biru.
“Apa mungkin Ilia belum punya kesempatan yang bagus untuk ngajak gue ketemu si Biru? Atau jangan-jangan Ilia berubah pikiran?” tanya Una pada dirinya sendiri.
Di depan kafe tempatnya bekerja, Una berjongkok. Ia tak langsung pulang setelah usai bekerja. Dirinya masih menunggu kabar baik dari Ilia karena jika memang mendekati Arsen membutuhkan waktu yang tidak singkat, Una pikir sebaiknya ia menerima tawaran Bagus terlebih dahulu.
Hanya untuk berjaga-jaga saja. Kelak ketika dirinya berhasil mendekati Arsen dan memikatnya, maka dengan senang hati ia akan meninggalkan kafe ini.
Namun, bila melalui Biru jalannya bisa dipermudah, maka Una benar-benar akan fokus pada Arsen saja. Biarlah ia menjadi seorang pelayan agar tanggung jawabnya tak telalu besar dan Bagus tidak semakin semena-mena.
“Ilia ke mana sih?” Helaan napas berat berembus seiring keluhan mengenai keberadaan Ilia pun terdengar dari mulut Una.
Sesungguhnya, Una sangat menderita. Sesulit ini untuk menjadi seorang nyonya kaya raya. Una malu memohon dan mengemis seperti ini sebenarnya, tetapi ia tidak ingin menghilangkan kesempatan untuk menjadi istri dari seorang konglomerat muda seperti Arsen.
Sejak awal pula Una sadar mendekati Arsen tidak lah mudah, tetapi dirinya terlanjur berharap. Enggan rasanya Una mundur. Langkah kakinya telanjur menapak pada jalur yang sejak dulu dirinya idam-idamkan meski jalanan tampak dipenuhi oleh duri-duri tajam.
Kata siapa mudah untuk menaklukan duda? Una saja sekarang berpikir, Arsen adalah lelaki yang sangat dingin dan sulit untuk dimengerti. Arsen tidak merindukan belaian seperti yang pernah Ilia katakan. Lelaki itu tampak baik-baik saja meski tak ada pendamping di sisinya.
“Apa karena Arsen merasa dia punya Ilia, ya?” tanya Una pada dirinya sendiri. Kembali ia merasakan keraguan, tetapi dengan tegas kepalanya menggeleng. Bukankah waktu itu masalah tentang dirinya yang mencurigai hubungan Ilia dan Arsen sudah kelar? Lalu kenapa sekarang kepalanya berputar-putar lagi tentang itu.
Una merasa bodoh sendiri. Tak seharusnya ia meragukan sumpah Ilia. Mana mungkin Ilia berbohong padanya. Tak mungkin pula Ilia melewatkan seorang Arsen yang memiliki segalanya. Tampang, harta dan tahta ada pada lelaki itu. Begitu kecil kemungkinan bila Ilia menolak Arsen yang sempurna.
Memang, Ilia sekarang terlihat memiliki segalanya, tetapi bukankah hidupnya akan semakin lengkap bila memiliki Arsen yang sempurna di sisinya?
“Jadi, mana mungkin Ilia bohong. Ilia memang nggak punya hubungan apa-apa sama Arsen. gue yakin itu!” ujar Una yang lagi-lagi berbicara pada dirinya sendiri.
Sejak tadi, gadis itu tidak sadar seseorang tengah memperhatikannya tanpa berkedip. Iya, Bagus, bos yang sekaligus pemilik kafe di mana Una bekerja sejak tadi sibuk memperhatikan Una. Layaknya penguntit, Bagus tak henti-hentinya mengikuti ke mana Una pergi. Bahkan, lelaki itu selalu memperhatikan Aruna kala Una tengah bekerja.
Jangan salahkan Bagus karena bersikap seperti itu. Salahkan saja perasaannya yang setiap hari semakin merasa takut kehilang mantan pacarnya itu. Namun, untuk menyatakan cinta, Bagus tak memiliki keberanian.
Tck!
Sebenarnya jauh di dalam hati Bagus berani menyatakan perasaannya, tetapi dirinya takut Una tidak percaya. Una akan menertawakannya, dan paling mengerikan adalah Aruna meninggalkannya.
Membayangkan hal itu saja sudah membuat Bagus bergidik ngeri. Ia belum siap kehilangan Una lagi seperti dulu sekali. Beruntung baginya Tuhan masih memberi kesempatan untuk mempertemukannya lagi dengan Una di kafe ini.
Bagus ingat dulu ia tekejut kala mendapati mantan pacarnya menjadi seorang pelayan di kafenya. Bagus baru tahu ketika Una sudah masuk kerja karena ketika menyeleksi lamaran tersebut bukan tugasnya. Bagus hanya terima beres urusan itu.
Namun, sungguh keberadaan Una membawa angin segar untuk Bagus karena ia akhirnya memiliki kesempatan untuk memperbaiki hubungan mereka di masa lalu.
Bagus memiliki banyak rencana untuk mengejutkan Una kala pertemuan pertama mereka. Waktu itu Bagus merasa yakin Aruna masih mencintainya. Namun, ternyata Bagus salah. Una terkejut ketika yang menjadi bos di tempat perempuan itu bekerja adalah dirinya. Kebencian telihat nyata di mata Aruna. Ia ingin melampiaskan kebencian itu secara langsung, tetapi apalah daya tangan tak sampai.
Sebulan Una tidak banyak bicara. Bahkan menegur seperlunya. Senyum kala mereka berjumpa. Itu pun benar-benar seadanya. Lalu, pada saat menerima gaji pertama, Una pun dengan yakin memberikan surat pengunduran dirinya. Beruntung Bagus berhasil meyakinkan agar Una tetap bertahan sebelum menemukan pekerjaan yang baru.
Bagus pun berjanji untuk membiarkan Una pergi setelah menemukan pekerjaan. Namun, tanpa sepengetahuan Una, Bagus selalu menghalangi perempuan itu untuk pergi. Setiap lamaran pekerjaan yang Una kirimkan ke tempat lain, entah bagaimana caranya Bagus selalu berhasil menyitanya. Hal itu membuat Una tak pernah berhasil menemukan pekerjaan lain dan terpaksa bertahan di kafe ini.
Syukurlah, selalu kata itu yang Bagus ucapkan kala Una kembali bertahan di setiap bulannya.
Namun, kini Bagus merasa terancam. Kehadiran perempuan bernama Ilia dan lelaki bernama Arsen telah membuat Bagus waspada. Entah kenapa Bagus merasa Arsen bepotensi untuk merebut Una darinya.
Demi apapun Bagus tak akan rela. Terlebih menurutnya Arsen dan perempuan yang Una anggap sebagai teman itu memiliki rahasia yang juga pada akhirnya akan melukai perasaan Aruna. Bagus tak bisa membiarkan hati Una terluka sekali lagi. Cukup sudah dulu dirinya menjadi duri dalam hati Una hingga melukainya sampai tak bersisa.
Biar lah Una berpikir ia sudah gila karena tiba-tiba menawarkan sebuah posisi baru untuk Una, yang sebenarnya belum tentu seseorang yang memiliki pendidikan yang lebih tinggi dari Una bisa mendapatkannya.
Bagus sengaja membuat Una terlihat spesial. Tak peduli ia ketika yang lain menggosipkannya. Terpenting Aruna tetap di sisinya. Itu lah kenapa sekarang Bagus menampakan dirinya. Ia tak lagi bersembunyi dalam memperhatikan Una. Sudah saatnya ia mempertanyakan lagi tawaran yang ia berikan untuk perempuan itu.
“Sudah Satu minggu, Aruna. Apa kamu nggak mau memberi saya jawaban?” tanya Bagus.
Betapa Una tekejut mendengar pertanyaan itu. Ia yang tadinya berjongkok kini sigap berdiri tegak lantaran terlalu tekejut. “Pak Bagus?” ucapnya penuh tanya.
“Kenapa Bapak di sini?”
Senyum Bagus muncul di salah satu sudut bibirnya. Bukan senyum sinis, tetapi hanya senyum tipis. “Memangnya kenapa? Ini masih bagian dari kafe saya,” jawabnya.
“Saya ulangi, Una. Bisa kamu berikan jawaban tentang tawaran saya waktu itu sekarang juga?” Bagus sengaja sedikit menekan Una.
Una tahu dirinya harus memberi Bagus jawaban. Bagaimanapun juga Bagus sudah memberinya banyak waktu untuk berpikir. Una memejamkan mata sejenak sebelum kembali membukanya. Kepalanya terangguk demi menjawab pertanyaan Bagus. “Saya akan menerimanya, Pak, tetapi saya nggak bisa di kontrak. Biarkan saya bekerja lepas bila memang Pak Bagus mau membantu saya,” ucapnya.
Bagus mendengarkan. Una tak ingin di kontrak yang artinya tak ingin terikat padanya. Jika Una tak memiliki masa lalu dengannya, dan dia tak memiliki perasaan apa-apa untuk Una, maka tak akan ia biarkan Una mengaturnya seperti ini. Namun, sekali lagi tujuannya meminta Una untuk menjadi manejer di kafenya adalah karena ia ingin Una tetap berada di sisinya.
“Baiklah. Kamu lakukan saja sesukamu, Una,” Bagus berkata tegas. Maka, dengan demikian, mulai bulan depan, setelah Una menerima gajinya di bulan ini, Una resmi menjadi seorang manejer baru di kafe Bagus.
“Besok saya akan memberikan surat perjanjian sebagai ganti surat kontrak untukmu!” ujar Bagus menegaskan. Una tampak terkejut dan keberatan. Sekali lagi ia katakan, ia tak ingin terjebak bersama Bagus lebih dari saat ini.
“Kamu tenang saja! Saya jamin perjanjian ini nggak akan pernah ngerugiin kamu,” ucap Bagus selanjutnya.
Setelah itu, Una pun merasa sedikit lega.
***
To be continued.