*** Una masih berada di depan Bagus meski sudah lewat Dua menit pembicaraan terakhir mereka. Sesungguhnya, Una semakin merasa heran pada sikap mantan pacarnya ini. Semakin hari Bagus semakin menjadi orang lain di matanya. Entah kenapa, sudah beberapa hari ini Bagus tak pernah memanggilnya untuk dimarahi lagi. Lelaki itu sangat tenang. Hanya menemuinya untuk urusan seperti ini saja. Una senang, tetapi yang mengusiknya adalah hampir setiap detik Bagus diam-diam memperhatikannya. Lebih intens dari biasanya. Una ingin bertanya, tetapi sekali lagi dirinya takut jawaban Bagus akan menyebabkan rasa tidak nyaman di antara mereka. “Aruna?” Panggilan Bagus membuat Una salah tingkah. Ia mengalihkan tatapannya dari Bagus. “Terima kasih banyak, Pak.” Kembali Una menolehkan kepalanya menatap B

