*** Una tercengang kala melihat Bagus dan yang lainnya tengah menunggunya di dapur saat ia akhirnya sampai di kafe. Matanya dipenuhi dengan tanda tanya. Bagaimana tidak? Tak hanya Bagus yang menunjukkan wajah seriusnya di sana, dan kenapa mereka semua berkumpul? Jantung Una mulai berdetak tidak menentu. Perasaannya tidak enak sekarang. Terlebih saat matanya bersitatap dengan manejer lama kafe Bagus. Pasti ada yang tidak beres. Senyum sinis si Ibu membuat Una semakin curiga. “Na, cepat kemari,” bisik Sisil menyadarkan Una dari keterkejutannya. “Ahh, iya,” Una pun berlari kecil mendekat ke arah teman-temannya. Melewati Bagus yang sejak melihat wajahnya tak pernah memalingkan penglihatannya. Benar-benar ingin menjadi sasaran ghibah Bagus ini. “Lo lama banget sih, Na, astaga! Gue terce

