*** Biru tak pernah menunjukkan gairah sejak beberapa menit yang lalu. Wajahnya ditekuk tak enak dipandang mata. Bagaimana tidak? Perempuan yang sedang memangkunya ini membawanya pergi dengan kendaraan yang tak pernah ia bayangkan sebelumnya. Panas, pengap, dan sempit Biru rasakan tanpa dapat dihindari. Ia tidak nyaman sama sekali meski sejak tadi ia duduk di atas pangkuan Aruna. Ketidaknyamanan itu rupanya disadari oleh Opi, pengasuhnya. Opi mendekatkan mulutnya ke depan telinga Una. “Mbak, kayaknya den Biru nggak nyaman naik angkot,” bisiknya. Iya, saat ini mereka tengah duduk sempit-sempitan di dalam angkot. Una mengerti ketidaknyamanan yang Biru rasakan, tetapi ia tidak memiliki pilihan. Hanya kendaraan ini yang bisa ia naiki bersama Opi dan Biru. Uangnya tidak cukup untuk mere

