*** Sudah berkali-kali Opi menghubungi Una sepagian ini, tetapi perempuan itu tak juga mengangkat teleponnya. Opi bingung harus bagaimana memberi tahu Una perihal Arsen yang menyadari perbuatan mereka kemarin. Pagi ini, tak mungkin Una ikut merayakan acara tahunan yang diadakan sekolahan Biru karena pasti akan memicu peperangan antara perempuan itu dan majikannya. Sementara itu waktu terus berjalan. Bahkan sekarang sudah pukul setengah Tujuh pagi. Tuan dan majikan kecilnya bahkan sudah bersiap sejak tadi. Tuannya hanya perlu memebri perintah hingga mereka berangkat ke sekolah. “Gawat!” Opi memijit dahinya yang terasa nyeri. “Apa yang gawat, Opi?” Deg! Pertanyaan itu datang dari belakangnya. Sekali dengar saja Opi tahu suara itu milik Pak Arsen, majikannya. Opi pun perlahan berbal

