18| Keberhasilan Rencana Pertama

2066 Words
Setelah mengirim hasil desainnya kepada Bagas melalui email, Flo mematikan laptop dan menutupnya. "Dah terkirim, Kak. Bisa langsung dicek di emailnya," ucap Flo. Bagas lantas membuka email di ponselnya. Mengecek kotak masuk di email dan menyimpan file yang dikirim Flo. "Terima kasih, ya, sekali lagi." Flo mengangguk mantap. Poninya ikut berayun mengikuti anggukan kepalanya. "Sama-sama, Kak. Semoga cepet dapet sponsornya, ya." Setelah itu Flo memasukkan laptopnya ke dalam tas laptop. Bagas menautkan kedua tangannya. Kakinya bergerak gelisah di bawah meja. Cowok itu seperti ingin mengatakan sesuatu kepada Flo. Baru saja Flo hendak berdiri, Bagas kembali menahannya. "Tadinya acara ini mau diisi sama penampilan anak-anak yang udah nyiapin dari tahun lalu." Flo terdiam. Menyimak setiap kata yang keluar dari mulut kakak kelasnya itu. "Tapi karena lo juga udah bantu gini. Gue berniat mau buat lo ikut partisipasi." Butuh waktu beberapa detik untuk Flo mencerna ucapan Bagas. Ia hanya mematung sambil mengerjapkan matanya. "Ya? Eh? Maksudnya gimana?" Flo gelagapan. Berusaha memperjelas maksud dari ucapan Bagas. "Aku ikut tampil? Sedangkan acaranya dua minggu lagi. Kayaknya enggak, deh, Kak." Kening Bagas mengerut. "Kenapa?" "Soalnya aku, kan, belum latihan dan buat aku latihan cuma dua minggu nggak akan bisa deh." Bagas terkekeh sambil menggoyangkan tangannya ke kanan dan ke kiri. "Iya, tapi kita kan masih belum tau juga acaranya bakalan berjalan lancar atau enggak. Kita tunggu nanti aja kalau kita bisa dapet sponsor, nanti kita bahas masalah penampilan lo itu. Intinya gue berharap banget lo ikut." Flo tersenyum garing, lalu izin pergi dari sana. Saat sudah luar perpustakaan ia baru mengeluarkan semua unek-uneknya. "Gila!" maki Flo. "Ini beneran gila! Gimana bisa gue tampil tanpa latihan maksimal." Cewek itu mengurut pangkal hidungnya. Mendramatisir keadaan. "Gue tau gue hebat, tapi ini dia terlalu percaya banget sama gue." Sandy berdehem keras. Membuat Flo mengangkat wajahnya. Melihat tatapan tajam dari Sandy, Flo hanya cengengesan. "Iya, gue nggak salah, kan, emang yang kemaren main piano gue?" Flo menunduk sambil menggaruk hidungnya yang tak gatal. "Dibantu, yang gerakin badan gue elo." Sandy berdecih, membuang wajahnya ke arah depan dengan tangan ia masukkan ke dalam saku celana. "Bisa-bisanya lo ngaku-ngaku," kata Sandy tak terima. "Bukan ngaku-ngaku, itu gue cuma menghayati peran," kilah Flo. Selanjutnya, sepanjang jalan menuju kelas Flo hanya komat-kamit berceloteh tentang keberatannya jika harus ditunjuk ikut serta dalam pertunjukan pentas seni itu. *** Setelah makan malam bersama dengan keluarganya. Flo tak lupa membantu Mama merapikan meja makan dan dapur. Mamanya Flo sama sekali tidak membahas tentang kejadian beberapa hari lalu. Bukan karena lupa, tetapi mamanya pikir kalau makhluk itu sudah menghilang. Padahal makhluk itu kini tengah duduk di atas kulkas kesayangannya. Hal yang tidak disukai oleh mamanya Flo. "Terima kasih, Cantik," puji Mama saat melihat anak gadisnya selesai mencuci piring. Flo membuka sarung tangan karet dan menggantungnya di tempat yang sudah disediakan. "Sama-sama, Ma," balas Flo sambil mencium pipi mamanya itu. Kemudian Flo melangkah ke lantai dua, tempat kamarnya berada. "Tumben nggak rebutan tivi sama abang?" Flo menghentikan langkahnya di tangga. Tangannya memegang pembatas di tangga itu, kepalanya menoleh ke bawah tempat mamanya berdiri. "Enggak, Flo mau nonton drakor lewat laptop aja." Lantas cewek itu kembali melangkahkan kakinya. Flo melempar badannya ke atas kasur. Menghiraukan Sandy yang tengah menguping percakapan abangnya di kamar sebelah. Tubuh cowok itu masih berada di dalam kamar Flo, sedangkan kepalanya sudah menyembul lewat dinding pembatas antara kamar Flo dan Dicky. "Manggilnya Ici ama Ayi." Sandy berteriak. "Ha? Ici siapa? Ayi?" Flo mengerutkan dahinya. Gerakan tangannya yang tengah membuka laptop terhenti. "Ici tuh abang lo Dicky dipanggil Ici. Sedangkan Ayi itu nama pacarnya Tari." Flo bergidik, merinding sendiri dengan panggilan buat abangnya itu. Pasalnya Dicky tidak pernah memperlihatkan sikap helo kitty-nya itu kepadanya. Flo terus mendengar semua info yang Sandy katakan. Sampai pada info kalau abangnya itu tidak akan mengantarnya besok. Hal itu membuat Flo akhirnya mengambil ponsel dan mengirim pesan kepada abangnya menggunakan pesan suara. "Lo udah dapetin sponsor buat gue belum? Kalau belum dapet, lo harus anter gue titik." Dadanya naik turun menahan emosi. "Gue tadi telat gara-gara lo. Sampe besok telat juga, gue obrak-abrik kamar lo itu!" ancam Flo. Sandy berdecak kagum. Ternyata nyali Flo sebesar itu untuk mengancam abangnya. "Keren." Sandy mengangkat dua jempolnya. "Kusebut kamu cantik dan berani." Flo tersenyum miring sambil mengibaskan rambutnya. "Bisa-bisanya dia mengabaikan gue dan lebih milih cewek lain." Suara dering ponsel menarik perhatiannya. Flo melihat notifikasi, terdapat satu pesan masuk dari nomor Bagas. Flo membuka pesan itu. Matanya membulat, ia sontak berdiri dengan mulut teriak tertahan. "Ada apa, sih?" Sandy berjalan mendekat. Berdiri di belakang Flo dan membaca isi pesan itu. "Udah dapet sponsor!" *** Flo mengambil duduk di bangku paling belakang, Bagas secara resmi mengumumkan kepada anggota ekskul kalau tiga minggu lagi mereka akan tampil. Bagas mengajukan permohonan kepada sekolah untuk mengundur tanggal pertunjukan itu. Untungnya, sekolah menyetujui. "Untuk line up-nya yang akan tampil nanti adalah ini!" Bagas memperlihatkan nama-nama anak yang akan tampil beserta bentuk penampilannya di layar putih. Flo dan yang lain hanya menyimak saja. Belum ada yang memberi tanggapan. Hingga di slide selanjutnya Bagas mengatakan hal yang membuat keheningan itu menjadi pecah. "Penampilan tambahannya adalah gue dan Flo juga akan menampilkan sesuatu di sana. Gue butuh waktu kotor lima menit aja." Alia angkat bicara. "Tapi dia, kan, anggota baru. Anak kelas sepuluh yang lain juga nggak ada yang tampil. Meskipun Flo kelas sebelas, tapi kedudukan dia sama seperti anak kelas sepuluh. Dia itu anggota baru." "Al, tapi lo liat sendiri penampilan Flo kemaren. Dia udah bisa dikatakan senior juga. Cuma karena dia daftarnya telat." "Loh, kalau ngomongin senior dalam bermain, itu kelas sepuluh juga udah ada yang expert bahkan ada yang udah tembus tingkat nasional. Tapi mereka nggak lo tampilin?" Alia masih menentang keras keputusan Bagas. Seketika ruangan menjadi tegang. Flo sendiri tidak berani berkata-kata. Ia sedikit merunduk agar orang-orang sekitar tidak ada yang meliriknya. Flo sendiri paling malas kalau disuruh berdebat di depan umum seperti itu. Lagi pula dari awal dia memang menolak posisi itu. Jadi, tidak ada alasan Alia untuk menindasnya. Seharusnya seperti itu. Hingga pada akhirnya hal yang ditakuti Flo terjadi. Alia memanggil dirinya untuk ke depan. Flo menepuk dahinya. Bokongnya terasa berat untuk di angkat. Bahkan kakinya terasa sulit untuk diayun. "Saya udah bilang kemaren nggak akan ikut kok, Kak." Flo sudah berucap sebelum mendapat semprotan dari Alia. Alia menolehkan kepala ke arah Bagas. "Liat, anaknya sendiri juga nggak mau. Dia sadar diri juga nggak mungkin dia mau gabung di saat orang-orang yang ada di tingkatannya saat ini nggak ikut." Sejujurnya, Flo merasa tersinggung dengan perkataan Alia itu. Seakan-akan dirinya sangatlah rendah dan tidak pantas. Namun, Flo tidak akan mau merespon ucapan Alia itu. Ia masih memiliki kewarasan untuk berpikir kalau masalah ini akan memanjang kalau ia melawan. Bagas sendiri tetap berada pada keputusannya. Melihat perdebatan itu, salah satu anggota seni musik lain mengangkat tangan dan memberi usul. "Coba tanya Kak Stef aja. Kemaren dia ikut nilai Flo, kan? Nah, coba tanya pendapat dia gimana kalau Flo ikut partisipasi. Dengan syarat apa pun pendapat yang dikeluarkan sama Kak Stef harus diterima dengan ikhlas." Bagas sendiri mengangguk setuju. Ia tidak akan bersikap egois, untuk itu ia bersedia bertanya kepada pelatih seni musiknya Kak Steff. Alia pun ikut setuju. Setelah perdebatan sengit itu mereda, barulah Bagas menutup pertemuan itu. Flo memakai jaket yang ia gantung di sandaran kursi. Kemudian ia mencangkelkan tasnya di bahu. Cewek itu beranjak keluar dari ruangan dengan santai. "Serem juga Alia kalau marah," komentar Sandy saat mereka tengah berjalan menuju halte. "Banget. Makanya gue langsung nolak aja pas disuruh ke depan tadi. Gue udah keringet dingin." Flo merapatkan jaketnya. "Lo nggak sakit hati pas direndahin kayak tadi?" tanya Sandy. Flo terdiam, ia duduk di kursi panjang di halte. Menunggu angkutan umum ke arah rumahnya datang. "Sakit, sih, tapi mau gimana lagi. Nggak mungkin gue ladenin juga, kan?" Sandy sedikit paham. Ia lalu ikut duduk di samping Flo. Tak lama seorang ibu dengan anak bayi yang berada di kereta bayi datang. Sang ibu duduk di samping Flo. Sandy yang merasa iseng mendekati anak bayi itu. Ia penasaran apakah anak bayi itu bisa melihatnya atau tidak. Tak disangka, bayi itu melihatnya. Ia tertawa sambil bertepuk tangan. Kemudian Sandy kembali duduk di sisi sebelah Flo yang lain. "Dia bisa liat gue!" seru Sandy excited. Flo kembali menyuruh Sandy dengan tegas untuk tidak macam-macam. Tak lama sebuah kendaraan berhenti di depan halte. Bukan angkutan umum melainkan sebuah motor matic milik seorang lelaki. Cowok itu membuka helmnya. "Eh, Kak Bagas!" sapa Flo. "Flo!" Bagas memarkirkan motornya kemudian ia mendekati Flo. "Gue mau ajak lo makan siang." "Ha?!" Flo sontak terkejut. Ia tak menyangka kalau Bagas segesit ini. "Em jangan pikir yang aneh-aneh. Anggap ini ucapan terima kasih gue atas ide dan hasil desain lo itu. Kemaren gue sempet ngobrol juga sama Kak Steff tentang ide lo dan desain lo itu. Kak Steff bilang desain lo bagus, kalau dijual bisa mahal. Nah, anggep makan siang ini adalah upah desain lo itu," terang Bagas. Flo baru tahu kalau hasil karya tangannya bisa dijual. Daripada makan untuk kondisi Flo saat ini kayaknya ia lebih senang kalau dikasih mentahnya alias uang. Namun, cewek itu tidak mungkin berani mengatakan itu. Maka untuk memanfaatkan hasil kemampuannya itu Flo menyetujui ajakan makan siang itu. *** Bagas menghentikan motornya di depan salah satu restoran ikan bakar. "Gue nggak pernah tau ada restoran ini di daerah ini." Bagas membuka helmnya, menyisir rambutnya ke belakang. "Iya, rumah makan baru buka." Flo menahan napas beberapa detik karena pemandangan indah yang diberikan cowok itu. "Oh, baru, ya." "Yuk, masuk." Bagas menggamit tangan Flo dan menuntunnya ke dalam, reflek Flo melepas gamitan itu. "Sorry, Kak." Mendapat tatapan keheranan dari Bagas, Flo berusaha mencari alasan yang tepat. "Takut ada yang lihat, nanti kena gosip aneh-aneh." "Tuh tangan satset banget," celetuk Sandy yang tiba-tiba sudah muncul di samping Flo. Bagas mengendurkan ekspresi wajahnya menjadi lebih santai. "Ya elah gitu aja. Ya udah senyamannya lo aja." Flo memaksakan senyumnya, kemudian matanya beralih ke Sandy untuk memperingatinya agar tidak macam-macam. Flo dan Bagas masuk ke dalamnya. Restauran ini terdapat beberapa saung untuk yang ingin lesehan, kolam ikan, serta kerajinan anyaman yang terpasang di dinding, khas Restauran daerah. Bagas dan Flo mengambil duduk yang berada dekat dengan kolam dengan air terjun buatan. Suasana yang cocok untuk mencari ketenangan dan melepas kepenatan. "Flo." Bagas menghentikan penjelajahan mata Flo terhadap suasana di sekitarnya. "Ya?" Bola matanya berbinar terlihat takjub dengan tempat ini. Bagas berdehem untuk mengurangi rasa geroginya. "Seneng, ya?" Flo mengangguk antusias. "Iya. Kayaknya gue harus ngasih tau Tiara buat dateng ke sini." Laki-laki itu terkekeh kemudian mengambil buku menu dan membukanya. Cowok itu mengangkat tangan memanggil pelayan restoran. Menyebutkan menu makanan yang akan dipesan. Setelah pelayan itu pergi, Bagas kembali menggeser tubuhnya menghadap ke Flo "Gue tau. Lo masih kepikiran sama perdebatan tadi, kan." Bagas berusaha menebak. "Nggak usah dipikirin, ya, Flo. Itu semua bukan salah lo kok. Toh itu gue yang mau." Mata Flo mengarah pada tempat tusuk gigi di atas meja itu, tak ingin membalas tatapan lekat cowok di depannya. "Iya, Kak. Santai aja. Gue ngga apa-apa kok. Bener deh," kata Flo meyakinkan. "Syukur kalau gitu." Setelah itu keduanya sama-sama terdiam. Hanya ada suara gemericik air dari air terjun buatan di ujung ruangan. Sampai akhirnya makanan datang dan keduanya sama-sama menyantap makanan itu dalam keheningan. *** "Gue yakin banget kalau Bagas beneran suka sama lo. Pasti masalah bayaran desain itu cuma alesan doang!" kata Sandy yang tengah duduk di atas meja belajar Flo. Flo sendiri tak memusingkan itu, lebih memilih fokus pada layar laptopnya yang tengah menampilkan Kim Soo Hyun. "Gue enggak masalah kalau lo sama Bagas pacaran, tapi lo harus ngutamain nasib gue dulu. Inget tujuan awal lo ngedeketin dia," oceh Sandy. Flo menekan tombol pause di laptopnya. Decakan besar lolos dari mulutnya. Dengan kesal perempuan itu bangun dari rebahannya. "Bisa diem nggak? Gue lagi fokus nonton alien ganteng." Sandy mengangkat satu jarinya dan menggoyangkan ke kanan dan ke kiri. "Gue harus mastiin dulu kalau nasib gue nggak akan lo lupain," kata Sandy sambil loncat dari meja Flo ke kasur cewek itu. Flo sedikit terkesiap karena loncatan jauh makhluk halus itu. "Iya, gue janji lo yang utama dan nggak akan lupa sama misi kita. Dah, sekarang gue mau nonton drakor lagi. Jangan ganggu." Baru saja Flo ingin memencet tombol start, sebuah dering berbunyi. Membuat Flo menggeram kesal dan dengan terpaksa mengangkat panggilan dari sahabatnya itu. "Apa sih, Ra. Gue mau ngedrakor aja susah banget." "Flo, lo kena gosip. Udah liat grup kelas?"
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD