17| Kagum

1031 Words
Flo menghentak-hentakan kaki ke bumi. Pipinya mengembung dengan mata menyipit kesal. Seharusnya ia tidak mengikuti saran dari Sandy. "Kenapa lo ngomel, sih?" Sandy melangkah lebar berusaha menyamai langkahnya dengan Flo yang berjalan cepat. "Masih nanya kenapa, liat nih, gara-gara ngikutin saran lo, gue kesiangan!" sulut Flo. Cewek itu membungkuk dan memungut sampah di jalanan. Kemudian ia memasukkannya ke dalam plastik hitam yang barusan diberikan oleh guru BK-nya. Saat ini Flo tengah menjalani hukuman yaitu membuang sampah yang ada di lingkungan sekolah. Sandy menggaruk kepalanya yang tak gatal. "Ya, daripada lo sama sekali nggak dapet keuntungan? Gue yakin kakak lo nggak bakal mau nganterin lo." "Tau dari mana?" tukas cewek itu. "Kalau gue ngerengek minta dianterin juga dia mau nggak mau bakal nganterin gue." "Tapi dia mau berangkat bareng pacarnya, gue denger tadi malem dia lagi telponan ama ceweknya." Ternyata dugaan Flo benar, kakaknya itu hanya beralasan saja. Masih dengan wajah ketusnya Flo kembali memungut sampah. Ia diberi tugas untuk memungut sampah sampai setidaknya terisi setengah dari kantong yang diberikan gurunya itu. Flo membuka plastik hitam miliknya, memeriksa apakah sudah terisi sesuai perintah. Karena merasa akan lama lagi untuk mengumpulkan sampah sebuah ide licik muncul di kepalanya. Cewek itu berjongkok. Menaruh tasnya ke depan dan membuka ritsletingnya. Tangannya merogoh ke dalam, mengeluarkan buku coretan miliknya. "Wah, curang lo," tunjuk Sandy saat melihat Flo menyobek kertas dan memasukkannya ke dalam plastik hitam. Sekolah Flo memiliki tukang bersih-bersih yang sudah beroperasi dari jam enam pagi. Jadi, kalau masih pagi seperti ini Flo akan kesulitan mendapat banyak sampah yang berserakan di lingkungan sekolah. Dengan kata lain, sekolah Flo cukup bersih. "Ya apa yang mau gue masukin. Lo liat tuh sampah dari tadi gue jalan dari kelas A sampe F cuma dapet segini." Flo membela diri, menunjukkan isi sampah yang berhasil ia kumpulkan belum memenuhi target dari Pak Asep. Setelah meremas kertas itu hingga membentuk gumpalan ia memasukkannya ke dalam plastik hitam itu. Flo kembali beranjak berdiri kala plastiknya sudah terisi penuh dengan sampah. Ia melirik Sandy sambil tersenyum miring. "Ini namanya cerdik," katanya, lalu berlalu melewati jiwa Sandy. *** Pada akhirnya, Flo berhasil melewati hukuman Pak Asep. Ia kini sudah duduk manis di kursinya. Sandy sendiri hanya menahan dongkol melihat kelakuan cewek itu. Dari situ Sandy bisa menduga kalau dirinya dulu pasti tipe anak murid yang teladan. Yang tidak pernah berbuat pelanggaran dan kecurangan. Rasanya Sandy ingin memasuki tubuh Pak Asep saja dan kembali menghukum cewek itu. Sedari tadi Flo terus-terusan meledeknya. Cewek itu pun menyadari ketidaksukaan Sandy itu mungkin saja adalah sifat asli cowok itu. "Pasti dulu lu anak taat peraturan, jadi lo ngeliat yang kayak gini gerah," kelakar Flo sambil cekikikan. "Kayaknya kalau kita sekelas gue bakal ngejauhin orang kayak lo," balas Sandy. "Sayangnya, lo justru sekarang ini membutuhkan siswa teladan ini untuk membantu lo." Flo menepuk dadanya bangga dengan mengatakan hal yang justru berkebalikan dengan dirinya. Sandy mendecih tak terima dengan Flo yang mengatakan diri cewek itu siswa teladan. Perdebatan mereka terus berlangsung hingga Bu Mega memasuki kelas. Saat itulah Flo dan Sandy menghentikan perdebatannya. Flo dengan fokus mendengarkan gurunya, dan Sandy yang lebih memilih keluar kelas untuk berkeliling di sekolah. *** Flo memeluk laptopnya dengan erat, ia menggigit bibir bawahnya karena gugup. Beberapa kali ia mengatakan kepada Sandy dan Tiara untuk membatalkan rencananya. "Dih, lo udah se-effort ini buat begituan. Masa mau batal aja." "Ya, gue malu, Ra. Bayangin aja gue nggak tau sama sekali masalah pentas seni itu masa ujug-ujug ngedatengin dia." "Kan gue bilang, alesannya lo denger rumor terus tanpa nanya dulu iseng-iseng buat poster itu, barang kali Kakak membutuhkan," tutur Sandy dengan nada bicara dibuat-buat. Flo mendelik tak suka. Pasalnya, jangan sampai nantinya ia kena interogasi mendadak yang membuatnya bingung mencari alasan. "Kalau misal nggak ada yang percaya?" Sebuah pukul ringan mendarat di lengannya. Flo mengaduh. "Nggak usah kebanyakan kalo-kalo. Mending lo langsung samperin Kak Bagas. Nggak usah di depan Kak Alia kalau lo ngerasa terintimidasi sama dia," Tiara berucap kesal. Kalau bukan karena sahabat, Tiara juga ogah ikut mendorong cewek itu yang tengah merasakan ragu-ragu. Karena yang Tiara pikirkan saat ini bagaimana Flo bisa lepas dari makhluk halus yang masih menggentayanginya. Dengan semua keyakinan dan kepercayaan dari Sandy dan Tiara akhirnya Flo merasa berani juga. Cewek itu menunjuk Sandy dengan dua jarinya, jari telunjuk dan tengah. "Lo jangan kabur, tetap di dekat gue. Kalau gue gugup, bantuin gue ngomong," kata Flo berjaga-jaga. Sandy mengibaskan tangannya santai. "Nggak bakal kabur," ucapnya lalu berjalan ke arah Bagas. Flo ikut mengayunkan kakinya menuju kelas Bagas. Bertanya kepada salah satu temannya tentang keberadaan cowok itu. Salah satu temannya mengatakan Bagas sedang ke perpustakaan. Flo pun berjalan menuju perpustakaan. Flo sesekali menoleh ke samping hanya untuk memastikan Sandy masih berada di sampingnya. Sandy di sampingnya masuk ke dalam perpustakaan hanya dengan menembus pintu sedangkan Flo mendorong pintu kaca itu untuk masuk. Matanya bagai scan yang menyapu isi ruangan itu dengan teliti. Sandy yang melihat duluan langsung menunjuk heboh. "Itu tuh, di sana!" tunjuknya. Flo menghirup udara sekitarnya dalam-dalam, lalu mengembuskannya perlahan. Cewek itu pelan melangkahkan kakinya menuju Bagas. "Misi, Kak," sapa Flo. Bagas perlahan mendongak. Menarik perhatiannya dari buku ke arahnya. Flo menarik tipis dua sudut bibirnya. "Eh, Flo, ada apa?" Flo menarik kursi di depan cowok itu. Duduk di sana sambil menaruh laptopnya. "Gini, Kak. Aku sebenernya bingung mau ngomong dari mana," Flo menggaruk tengkuknya yang tak gatal. "Jadi aku beberapa hari lalu sempet denger rumor kalau ekskul kita diizinin ngadain pentas seni dua minggu lagi, ya? Dan aku denger kalau kita butuh sponsor. Tadi malem aku iseng-iseng aja buat ini." Flo membuka layar laptopnya. Menyodorkan layarnya ke arah Bagas. Bagas sendiri bingung bagaimana Flo bisa tahu tentang rumor itu padahal yang baru tahu ini hanya jajaran kepengurusan ekskul seni musik saja. Namun, pertanyaan Bagas itu urung kala matanya menatap desain yang dibuat Flo. Ia lebih tertarik untuk membahas desain itu dan rencana Flo untuk mencari sponsor. "Selain dari internet juga kita bisa sebarin hard copy dari poster ini dengan ngeprint dan ditempelin di tempat-tempat pusat bisnis. Maksudnya di kota, barangkali ada yang tertarik juga," tutur Flo. Bagas membatu dengan semua yang dilakukan dan dibicarakan cewek di depannya itu. Pertama kalinya, ia merasa kagum dengan seorang perempuan yang lebih muda darinya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD