16| Ide

1047 Words
Flo menekan tombol di gagang payung itu hingga kembali terbuka. Sedikit ipratan air mengenai wajah dan bajunya. Flo masih tak menyangka, Bagas akan meminjamkannya payung. Seandainya Sesil tahu, bisa dipastikan cewek itu akan menggelar sparing tinju lagi di kelas. Flo menaruh payung yang sudah ia buka itu di depan pintu kamar mandi di dalam kamarnya. "Ngapain lo taro di kamar, sih?" protes Sandy. "Biar nggak ilang," jawab Flo santai sambil berlalu menuju lemari bajunya. "Jas hujan yang harganya lebih mahal lo taro di luar, sedangkan payung kecil ini lo masukin ke dalam?" Sandy benar-benar tak habis pikir dengan pemikiran Flo. "Ssh!" Flo menempatkan telunjuknya di depan bibir. "Bedanya, payung itu punya orang. Sedangkan, jas hujan punya gue. Gue nggak masalah jas hujan hilang, tapi jangan sampe payung orang yang hilang." Kemudian Flo berlalu masuk ke dalam kamar mandi. Sandy paham sekarang. Sekali lagi ia mendapat pelajaran baru dari cewek itu. Bagaimana menjadi orang yang bertanggung jawab sangat penting. Sebenarnya Sandy sendiri tidak tahu bagaimana sikapnya dulu. Apakah memiliki jiwa bertanggungjawab yang tinggi seperti Flo atau tidak. Namun, melihat hal positif di depan matanya membuat Sandy bertekad akan melakukan hal yang sama juga. *** Flo mengeringkan rambut panjangnya yang masih basah dengan handuk. Duduk di pinggir kasur dengan mata menatap payung bermotif polkadot putih dengan warna dasar biru dongker. Ia tak menyangka Bagas sebaik dan seperhatian ia dengan adik kelasnya. Padahal kalau dipikir-pikir Flo tadi hanya berdiam diri di tengah lapangan dengan jas hujan yang menutup rapat tubuhnya. Bukan anak kecil yang berlari bermain hujan-hujanan. Namun, tatapan dan nada Kak Bagas tadi seakan tengah memarahi anak kecil. Sebuah jentikkan jari muncul di depan matanya. Flo tersadar dari lamunannya. Ia mendongak dan menatap bingung dengan mata cokelat beningnya. "Apa?" "Nggak jadi buat poster?" Sandy menunjuk jam di dinding dengan bibirnya yang ia manyunkan. Mata sabit yang sedikit tertutup poni itu melihat jam. Jarum pendek sudah menunjukkan pukul enam. "Kita ngerjainnya hari ini?" "Ya, lo mau kapan, jir? Acaranya aja udah dua minggu lagi." Entah kenapa perasaan menggebu itu selalu adanya di awal. Saat seperti ini, Flo lebih memilih merebahkan dan meregangkan tubuhnya di atas kasurnya yang empuk dan nyaman. "Cepet, ayo, ayo!" Sandy bertepuk tangan untuk memberikan energi semangat kepada Flo. Namun, energi itu seperti mental begitu saja alias Flo masih tetap merasakan kemalasan. Dengan amat sangat terpaksa Flo duduk di kursi depan meja belajarnya. Membuka layar laptopnya dan menunggu laptopnya selesai loading dan bisa digunain. "Kalau desain gue jelek gimana?" tanya Flo sambil mengarahkan kursornya ke aplikasi edit gambar. "Coba dulu lagian ini gue, kan, bantu ngedesainnya." Ia memilih kanva berukuran tiga banding empat. Layer pertama Flo memberikan warna biru muda sebagai latar belakangnya. Flo menambahkan judul dari sponsor itu. Kemudian ia menambahkan prestasi yang dimiliki ekskul seni musiknya. "Bentuk font untuk judulnya flat banget itu," komentar Sandy. "Yang mana dong?" Flo mencari bentuk font yang bisa ia pakai. Hingga pilihannya jatuh pada bentuk yang lebih tegas dan besar. "Nah, iya itu aja," setuju Sandy. "Udah gitu aja? Terus tambahin apa lagi?" Sandy menunjuk kata di bawah kalimat Looking for Sponsorship. "Yang ini dibuat lebih kecil lagi fontnya, terus jangan pakai warna putih. Coba ganti warna hitam." Jemari Flo lincah menari di atas keyboard. Dengan instruksi yang diberikan Sandy, tangan Flo terus bergerak. Netranya ikut bergerak memerhatikan layar laptop. Desainnya sudah selesai lima puluh persen lagi. Sesekali Flo menguap tanda matanya ingin sekali dimanja dengan tidur. "Coba taruh not baloknya di ujung sini aja." Sandy menunjuk di ujung bawah kiri. "Alat musiknya jangan kebanyakan gini, jadi keliatan rame banget posternya. Ini alat musik daerah emang di ekskul lu ada?" Flo menggelengkan kepalanya. Ia menghapus beberapa gambar alat musik yang membuat posternya terlihat sangat ramai. "Sekarang gimana?" Flo menjauhkan badannya dari layar laptop. Ia mengarah laptopnya juga kepada Sandy. Sandy menatap layar itu, ia bergumam. "Kayak masih belum pas," katanya sambil mencari apa yang kurang dari hasil desainnya. "Coba warna dasarnya diturunin lagi cahayanya, warna fontnya lebih ditebelin lagi." Flo kembali menarik laptopnya. Ia menjalankan jemarinya di keyboard. "Gini?" tanya Flo sambil menyodorkan layar itu lagi. Sandy mengangguk cepat. "Iya, bener. Udah pas gini." Setelah memastikan tidak ada lagi yang perlu direvisi, Flo menyimpan file itu. Kemudian ia mematikan layar ponselnya. Cewek itu meregangkan tubuhnya yang terasa pegal-pegal. Akhirnya satu pekerjaannya sudah selesai. Flo langsung melempar tubuhnya ke atas kasur. Menggesekkan bagian kulitnya yang terbuka dengan sprei lembut di kasurnya. Hingga tak lama kelopak itu menutup sempurna. Helaan napas teratur juga menandakan cewek itu sudah benar-benar pulas. Andaikan Sandy bisa menyentuhnya, ia akan menarik selimut yang tersibak itu agar kembali menyelimuti tubuh mungil itu. Namun, yang bisa ia lakukan adalah menyentuhnya tanpa terasa. Seakan ingin mengucapkan selamat tidur. "Terima kasih, udah bantuin gue." *** "Bener nggak bisa," kata Dicky meyakinkan Flo kalau dirinya memang tidak bisa mengantarnya ke sekolah hari ini. "Hari ini gue berangkat bareng temen." Jelas, Flo tidak mau tahu. Mereka sudah memiliki perjanjian kalau Dicky tidak bisa mengantarnya, Dicky harus memberitahunya saat malam hari. Bukan apa-apa, angkutan umum tidak secepat menggunakan kendaraan pribadi. Kalau mendadak seperti ini, bisa dipastikan Flo akan terlambat. "Apa salahnya, sih, Flo, berangkat sendiri," bela Mama kepada Dicky. Flo jelas tambah sewot mendengar itu. "Flo sama Bang Dicky udah buat perjanjian, Ma. Kalau Bang Dicky nggak bisa nganter, kasih taunya saat malam hari ini. Jadi nggak mendadak kayak gini. Mama, kan, tau sendiri angkot suka ngetem lama banget," keluh Flo panjang lebar. Lagi pula Flo memiliki firasat 'teman' yang dimaksud abangnya adalah seorang kekasih. Ada rasa tidak terima dalam hatinya kalau sampai ia terpaksa naik angkutan umum sedangkan orang lain yang tidak ada hubungan sedarah lebih dibela abangnya. "Gue kasih tambahan jajan, deh? Gimana?" bujuk Dicky. Sayangnya Flo tidak semudah itu untuk dibujuk. "Gue hari ini bawa laptop, Bang, berat kalau gue hari ini harus jalan kaki. Lo tega banget sama adeknya," sarkas Flo. Ia harus menguatkan hatinya agar tetap mendapatkan haknya. Lantas Flo mengambil kaus kaki di rak tempat penyimpanan kaus kaki, lalu mengambil sepatu hitamnya di rak sepatu. Dihiraukannya ocehan Bang Dicky yang kini tengah mengungkit hal-hal yang sudah lewat. "Gue selama ini udah ngebelain nganterin lo. Kali ini aja gue nggak nganter." "Enggak, pokoknya gue mau dianter!" tandas Flo. "Eungh, Flo, kalau Dicky masih keukeuh nggak mau nganter lo, gue punya ide," bisik Sandy yang duduk di samping Flo.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD